
Tyas baru saja tersadar dari pingsan. Ia langsung menutupi tubuhnya dengan selimut dan menangis.
Ningsih dan Gege mendengar suara tangisan Tyas segera berlari ke kamar. Mereka memeluk Tyas.
Tyas masih trauma dengan kejadian semalam. Dan hari ini Ningsih dan Gege tidak bekerja mereka diberikan waktu libur selama 3 hari untuk menjaga Tyas.
"Tyas, tenang ya kamu sudah aman. Tidak akan ada lagi yang mengganggu kamu. Kamu sekarang tinggal di kontrakan aku sama Gege juga."
"Mbak Tyas, ini diminum biar tenang dan enakan." Gege memberikan air minum kepada Tyas.
Tyas segera meminum air di gelas sampai habis.
"Tyas, kamu tenang dan ngga usah takut. Kamu sekarang aman."
Tyas mengangguk dan memeluk Ningsih juga Gege.
"Ning, aku ngga ngerepotin kamu, kalau aku tinggal disini untuk sementara waktu?"
"Tyas, ngga ada sementara, kamu memang harus tinggal disini dan kamu tidak bisa lagi datang ke kontrakan mu yang kemarin".
"Kenapa? Terus baju-bajuku, peralatan dapurku? Tempat tidurku? Perhiasanku? Eh ngga punya perhiasan."
"Tenang, semua barangmu yang kamu sebutkan sedang diangkut dan nanti di taruh di rumah kontrakanmu yang baru."
"Kontrakan baru?"
"Sudah ngga usah banyak pertanyaan. Kamu mau makan tidak? Ayo turun dari tempat tidur, kita makan sama-sama."
"Aku mau pakai baju dulu, aku cuma pakai dalaman."
"Buka selimutnya, kamu sudah pakai baju."
"Udah ayo makan, Gege udah lapar."
Ningsih menggandeng tangan Tyas keluar kamar untuk makan di ruang depan. Mereka makan dengan lahap terutama Gege.
Tyas duduk terdiam di depan TV, Gege sedang keluar dengan pacarnya. Ningsih menemani Tyas yang sedang menonton TV.
Tyas menangis saat mengingat kejadian semalam. Kenapa Mas Ahmad jahat sekali sama aku. Apa karena aku tidak hamil sampai tega berbuat seperti itu.
Ningsih yang melihat Tyas menangis jadi ikut sedih apalagi dengan kondisi Tyas semalam yang badannya di pegang laki-laki lain. Untungnya mereka datang sebelum kejadiannya berlanjut yang bisa membuat Tyas trauma. Sebenarnya Tyas sudah trauma. Kejadian semalam merupakan mimpi terburuk Tyas dalam hidupnya.
Ningsih membuka pintu rumahnya dan Pak Arif serta Pak Joe datang untuk menengok Tyas sambil membawakan mereka makan malam.
__ADS_1
"Malam Ningsih, gimana Tyas?"
"Malam Pak Joe dan Pak Arif. Tyas belum ada kemajuan, dari tadi siang ia hanya duduk melamun dan menangis. Trauma sepertinya Pak."
Ningsih, Pak Joe dan Pak Arif masuk.
Tyas yang masih membayangkan kejadian semalam langsung berteriak histeris melihat mereka masuk
"Mas Ahmad, jangan Mas, jangan Mas. Aku tidak mau, Mas, aku masih istri kamu kenapa kamu tega sama aku. Cukup kejadian semalam Mas, jangan terus menyakiti aku Mas. Semua kalung sudah Mas ambil. Aku ngga punya apa-apa lagi Mas Jangan rusak kehormatan aku sebagai seorang istri Mas. Aku tidak pernah mengganggu kehidupanmu dan istrimu Mas Aku tidak mandul Mas. Aku bisa punya anak dari kamu Mas. Bukan dari laki-laki lain Mas. Tolong.... tolong....aku bukan wanita yang melayani laki-laki Mas Aku bekerja untuk hidup kita Mas.
Ningsih dari tadi memeluk Tyas yang teriak histeris. Ningsih membisikkan ayat-ayat yang Ningsih di telinga Tyas.
"Tyas, istighfar, istighfar, ini aku Ningsih bukan Mas Ahmad."
Ningsih menangis melihat kondisi Tyas yang seperti itu.
Pak Arif segera menelpon dokter keluarga untuk datang ke rumah Ningsih.
Setelah cukup lama di peluk oleh Ningsih, Tyas mulai tenang.
"Tyas, kamu aman sama aku. Ini ada Pak Joe, Manager kamu di bagian QC dan Pak Arif, Bos kita di pabrik."
'Tyas, saya dan Pak Arif bawa makanan untuk kalian. Kita makan sama-sama."
"Maaf Pak Arif dan Pak Joe."
"Tidak papa. Kamu aman Tyas, jangan takut dan tenang ya. Nanti akan ada dokter yang memeriksa kamu."
"Terima kasih Pak Arif. Kata Ningsih dan Gege, untungnya kemarin malam, Ningsih, Gege, Pak Arif dan Pak Joe datang. Jika tidak mungkin akan terjadi hal-hal yang bisa membuat saya gila."
"Allah sayang sama kamu. Tyas. Yang penting sekarang kamu tidak usah pikirkan suamimu untuk sementara waktu. Kamu harus pikirkan dirimu sendiri. Buat dirimu happy baru pikirkan mengenai suamimu."
Dokter keluarga Pak Arif datang dan memeriksa Tyas. Dokter msmberikan resep obat untuk Tyas. Pak Arif memanggil sopirnya untuk membeli obat Tyas di apotek.
"Mbak Tyas, nanti diminum obatnya. Banyak istirahat dan saya sudah berikan surat keterangan sakit."
Pak Arif dan dokter keluar rumah.
"Jadi gimana kondisi Tyas?"
"Itu karyawan kamu?"
"Iya, Tyas dan Ningsih karyawanku."
__ADS_1
"Aku tahu kamu, Arif. Kamu suka sama Tyas kan?"
"Saya tanya gimana kondisi Tyas, kenapa jadi tanya hal lain? Jadi gimana kondisinya?"
"Dia masih trauma dan syok. Aku kasih obat penenang, jika masih berlanjut coba ke psikiater biar traumanya hilang. Dan aku kasih surat sakit untuk seminggu."
"Ok, kita lihat dulu bagaimana kondisinya nanti setelah minum obat."
"Ya sudah, aku permisi pulang."
"Ok, hati-hati dokter."
Pak Arif masuk kembali ke dalam rumah.
"Mari Pak Arif, kita makan sama-sama."
"Ok, loh yang satu mana? Siapa namanya?"
"Gege Pak, dia tadi ada urusan sebentar dan kemungkinan malam ini dia tidur di kostnya. Karena besok dia masuk pagi."
"Telpon Gege, besok dia tidak usah masuk dulu. Baik kamu dan Gege dapat libur dari saya untuk jaga Tyas sampai kondisinya stabil. Dan Tyas, kamu tenangkan diri kanu. Kamu aman disini. Barang-barang kamu sudah dipindahkan ke rumah kamu yang baru. Kalau kamu sudah siap, kamu bisa pindah kesana. Nanti Joe yang antar kamu.
'Baik Pak Arif, terima kasih banyak atas semua pertolongan dan bantuan yang diberikan."
"Sama-sama."
Ningsih masih di dapur menelpon Gege untuk menginap di kontrakan Ningsih lagi dan besok tidak perlu masuk kerja.
"Kenapa Gege, siapa yang menelpon?"
"Mbak Ningsih, ada bos besar dan bosnya Mbak Tyas. Aku harus nginap di tempat Mbak Ningsih lagi sampai kondisinya Mbak Tyas baikan. Dan besok aku tidak usah masuk kerja dulu. Aku harus pulang sekarang, karena Pak Arif dan Pak Joe menunggu aku sampai rumah Mbak Ningsih."
"Ya sudah, ayo kamu antar kamu ke rumah Mbak Ningsih."
"Iya Bang."
Gege langsung naik ke motor dan pulang ke rumah Mbak Ningsih."
Sopir pak Arif datang dan memberikan obat kepada Pak Arif.
Tyas menerima obat yang diberikan oleh Pak Arif dan minum obat tersebut.
"Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih kepada Pak Arif dan Pak Joe.
__ADS_1