
Sudah hari ke empat. Tyas belum sadarkan diri. Ternyata otaknya Tyas mengalami pembengkakan dan pendarahan akibat benturan keras di aspal.
Sementara Ahmad dan Mirna sedang menikmati hari pernikahan mereka. Ya akhirnya Ahmad dan Mirna menikah secara sah. Ahmad berganti status belum menikah.
Maryam menikmati hidupnya dengan uang yang diberikan oleh Ahmad untuk sebulan. Keisha dan Malik sudah membaur dengan anak-anak Maryam. Asep ikut menikmati uang yang diberikan oleh Ahmad. Mereka berdua sejahtera dan Maryam juga sudah menerima Keisha dan Malik sebagai anaknya karena biar bagaimanapun Keisha dan Malik adalah anak dari kakaknya.
"Mas Ahmad, ngomong-ngomong gimana kondisi Tyas, apakah dia masih hidup atau sudah meninggal?"
"Aku berharap dia sudah meninggal jadi aku tidak usah pusing harus menghadiri sidang perceraian."
"Kamu tidak takut kalau ada yang lihat waktu kamu menabrak Tyas?"
"Kondisinya saat itu jalanan lenggang ada pun tukang dongkal dan sedang melayani pembeli. Sudahlah Mirna, jangan merusak kebahagiaanku dengan kamu. Saat ini aku bahagia, karena aku sudah sah secara agama dan KUA. Minggu depan aku harus keluar kota. Tadi temanku telpon katanya ada proyekkan. Dan kemungkinan akan lama sekitar 2-3 minggu. Kamu tidak papa?"
"Aku tidak jadi masalah asalkan penyakitmu jangan kambuh lagi. Dan aku cuma minta ijinkan aku untuk tetap bekerja. Gimana mas?
"Aku sehat Mirna. Aku tidak punya penyakit kambuhan. Apa perlu kita ke dokter untuk memastikan bahwa aku laki-laki sehat yang bisa membuahi kamu."
"Bukan itu, mas. Maksudnya tukang nikah. Itu penyakit kamu."
"Tidak akan Mirna. Karena aku sudah ada kamu yang melengkapi dan kamu adalah istri all in buatku. Apa yang aku mau dari seorang istri sudah ada di kamu semuanya."
"Gombal. Terus aku masih boleh bekerja?"
"Ya untuk saat ini, tapi pada saat aku pulang dari proyekkan, aku minta kamu berhenti bekerja. Karena aku ingin segera punya anak dari kamu. Dan aku tidak mau ditunda lagi. Kita akan segera menempati rumah yang kemarin mau aku jual. Sedangkan rumah yang selama ini ditempati aku, almarhumah Nur, Keisha dan Malik akan aku jual. Aku tidak mau tinggal di apartemen. Karena aku suka mengeksplorasi dirimu di tempat yang besar. Disini hanya bisa di sofa, kamar tidur saja."
"Iiih, mas Ahmad. Apa semalam belum cukup?"
"Belum! Nafsuku tinggi sama kamu, Mirna. Berkali-kali aku masuk tetap susah."
"Ya aku kan perawatan mas. Tidak sekedar muka saja tapi seluruhnya. Biar kamu puas dan tidak mencari sangkar lain."
"Hahahah, kamu ada-ada saja Mirna."
"Mas Ahmad, besok aku masih cuti. Senin baru masuk. Terus kamu rencana berangkat kapan? Kemana sih?"
__ADS_1
"Minggu depan aku berangkat ke Purwakarta, ada perumahan baru yang akan dibangun."
"Apakah tidak bisa pulang tiap hari mas? Jakarta Purwakarta tidak terlalu jauh."
"Hello nyonya Ahmad, Kamu mau aku kecapean di jalan? Sampai rumah sudah capai dan kamu minta apa aku bisa membuat kamu puas. Berrsabarlah. Aku akan menelpon kamu setiap hari."
"Mas, aku ke bawah dulu, mau lihat lokerku takutnya ada surat atau pemberitahuan dari pihak gedung."
Ahmad tidak menjawab, ia langsung mendekati Mirna dan menggendong Mirna ke kamar.
"Mas, kita baru 2 jam yang lalu melakukan, memangnya kamu masih bisa dan kuat."
Ahmad tidak menjawab. Ia langsung me****t bibir Mirna dan meraba 2 gundukan membuat Mirna tidak tahan dan mereka bermain lagi sampai puas.
Mirna masih tergolek lemas di kasur dan Ahmad di sebelahnya masih memainkan 2 gundukan.
"Mas, kamu benar-benar kuat ya. Aku cape dari 3 hari yang lalu kamu buat aku tidak bisa melakukan apapun lagi. Remuk badanku."
"Aku sudah bilang, aku tidak bisa menahan diriku saat melihat dan dekat kamu."
"Terus sekarang?"
"Ngga ah, kamu mandi sendiri, yang ada nanti main lagi. Capek aku, mas."
"Hush... tengah saja, aku dan kamu, kita mandi bersama."
Ahmad tidak menggubris omongan Mirna. Ia segera menggendong Mirna ke kamar mandi.
"Tyas, kamu kenapa belum bangun. Kamu tidak mau bangun. Aku menunggu kamu Tyas. Aku sayang dan cinta sama kamu. Seandainya kamu sudah bercerai dan melewati masa idah mu aku akan segera melamar kamu."
Joe berbicara di samping Tyas yang masih belum sadarkan diri. Joe berani mengungkapkan isi hatinya saat Tyas tidak sadarkan diri. Joe merasa takut apabila mengungkapkan isi hatinya terhadap Tyas selama ini.
Handphone Joe berdering ternyata telpon dari Jerry.
"Joe, masih di rumah sakit? Tyas gimana? Sudah sadar belum?"
__ADS_1
"Iya, masih di rumah sakit. Tyas belum sadarkan diri sampai saat ini. Ada apa? Ada informasi apa?"
"Gue udah masukin gugatan cerai ke pengadilan. Dan ada info yang gue dapat. Si Ahmad baru menikah 3 hari yang lalu dengan cewek yang kita ketemu waktu di rumah makan itu."
"Biar saja. Yang penting urusan cerai dengan Tyas, loe atur supaya cepat selesai. Gue lihat Tyas udah kayak bunga layu. Semangat hidup ada tapi tidak 100 persen."
"Iya, apapun gue lakukan buat loe Joe."
"Ya haruslah secara loe kembaran gue. Loe mesti bantu."
"Sorean gue ke rumah sakit nengokin Tyas. Siapa nanti saat gue bisikin gugatan cerainya sudah masuk pengadilan, dia bisa sadar."
"Amin, amin. Semoga saja Jer."
"Loe yakin Joe, saat Tyas sudah ketok palu, loe akan melamar dia."
"Ya ngga juga selesai ketok. palu. Paling ngga gue mesti nunggu sampai masa idahnya. Gue masih takut ngomong langsung sama Tyas. Gue takut di tolak."
"Hahahaha ternyata seorang Joe takut untuk penolakan. "
Tanpa Joe sadari, Tyas sudah mulai sadar tetapi matanya belum bisa terbuka dan kepalanya masih sakit. Tyas mendengar semua pembicaraan Joe.
"Ya sudah Joe, sampai nanti sore. Loe berdoa minta sama Allah biar calon istri loe segera sadar."
"Iya, ditunggu nanti sore. Sekalian bawain gue makanan."
"Iya nanti gue bawain."
Joe meletakkan handphonenya di meja. Joe mengusap kepala Tyas dengan lembut.
Joe melihat airmata Tyas. Tetapi Tyas belum membuka matanya.
Tyas berusaha untuk membuka matanya, tetapi susah sekali. Kepalanya yang sakit membuat ia menangis dan secara bersamaan Joe mengusap kepala Tyas.
"Tyas, jangan dipaksakan. Aku tahu kamu masih merasakan sakit kepala. Yang membuat kamu menangis. Kesadaranmu belum pulih. Jika kamu bisa menggerakkan jari tanganmu, berarti kamu sudah mulai sadar. Aku tetap menunggu kamu sampai kapanpun. Tyas aku sayang kamu. Aku tidak tahu apakah kanu mendengar suaraku atau tidak."
__ADS_1
Joe melihat air mata Tyas mengalir lagi. Joe mengambil tissue dan mengelap air mata Tyas.
Tyas berusaha untuk menggerakkan tangannya tetapi rasa sakit di kepalanya membuat ia tidak mampu untuk menggerakkan tangannya