
"Joe, saya panggil kamu untuk mengurus kantor saya yang baru. Saya dan kakak saya mempercayakan kantor baru itu kepada kamu. Dan mulai awal bulan, kamu tidak bekerja lagi di pabrik ini."
"Terima kasih banyak pak. Kalau saya boleh tahu alamat kantor itu dimana ya pak?"
"Satu gedung dengan kantor saya. Jadi kakak saya masih bisa untuk mengecek kantor barunya itu. Kalau saya tidak bisa setiap hari datang karena jaraknya."
"Oh baik pak Arif. Terima kasih banyak sudah mempercayai saya untuk mengurus kantor yang baru."
"Besok, kamu datang ke kantor kakak saya untuk bertemu dengan dia ya."
"Baik pak Arif, sekali lagi terima kasih."
"Ngomong-ngomong hubungan kamu sama Tyas bagaimana? Mau sampai kapan kamu sendiri terus?"
"Hubungan saya sama Tyas, baik-baik saja pak. Seperti teman saja kok pak."
"Memangnya kamu tidak ada rasa sama Tyas. Karena kalau saya perhatikan apapun yang berhubungan sama Tyas, kamu selalu ada."
"Ya namanya teman pak. Selama saya bisa bantu dia, ya saya bantu. Kalaupun saya tidak bisa bantu, saya ya tidak bantu. Simpel saja kok pak."
"Kamu yakin dengan perkataan mu?"
"Memangnya ada apa pak? Kok pak Arif bertanya seperti itu?"
"Ya, saya melihatnya ada hal yang lebih antara kamu sama Tyas."
"Hahahah, tidak pak. Lagi pula Tyas masih berstatus istri orang. Saya tidak mau menjadi duri dalam pernikahannya terlepas saat ini dia sedang dalam proses cerai."
"Ya. Ditambah saat ini Ahmad masuk penjara karena sudah menabrak Tyas."
"Itu dia pak. Tyas sempat syok setelah tahu bahwa yang menabrak dia adalah suaminya sendiri."
"Ya, karena itu saya minta kamu temani Tyas. Kamu sudah tahu kejadian-kejadian yang menimpa Tyas. Kamu dan Tyas itu teman tapi rasa cinta ya Joe. Hahahahah."
"Hahahahha pak Arif bisa saja. Maaf pak, ada lagikah yang mau disampaikan? Karena hari ini ada barang masuk dari produksi dan Agnes kan sedang pelatihan."
"Iya. Kamu nanti mulai pelan-pelan serahkan tugas-tugas mu kepada Agnes ya."
__ADS_1
"Baik pak Arif. Saya permisi."
"Ya. Dijaga Tyas jangan setelah ketuk palu malah diambil orang. Lama-lama kamu tidak menikah nanti."
"Hahahah, kita lihat saja nanti pak."
Pak Joe keluar dari ruangan pak Arif dan menuju ke bagian QC.
Tyas sedang mengecek dan menghitung barang yang masuk dari produksi. Pak Joe menghampiri Tyas.
"Tyas, sudah lengkap semuanya?"
"Sudah pak Joe. Oh iya pak Joe. Tadi ada telpon dari pak Jerry katanya dia telpon ke handphone pak Joe tapi tidak diangkat. Dia minta pak Joe telpon balik ke pak Jerry. Ditunggu katanya."
"Ok Tyas, terima kasih."
"Pak Joe, saya nanti minta tolong sama pak Joe untuk tanya ke pak Jerry. Apakah sidang cerai selanjutnya Ahmad akan datang? Karena kan hari ini Ahmad ditangkap polisi? Apakah Ahmad bebas karena bisa membayar atau tetap di penjara?"
"Ya, coba nanti saya tanyakan ke Jerry. Mengenai Ahmad, biarkan polisi yang bekerja. Percayakan saja sama mereka. Kamu tenang saja. Setidaknya kamu tidak perlu pusing memikirkan Ahmad. Ya ada sebab ada akibat. Mau bagaimana pun Ahmad tetap bersalah."
"Iya pak Joe."
"Iya pak Joe."
Tyas melanjutkan pekerjaannya. Pak Joe menelpon Jerry.
"Tante, ayah belum datang ya?"
"Belum Keisha. Ayahmu belum datang. Memangnya tadi ayah bilang apa sama Keisha?"
"Katanya ayah mau datang sore. Dan nanti malam Keisha ditemani sama ayah lagi."
"Ya, Keisha doa, semoga pekerjaan ayah cepat selesai jadi bisa datang dan menemani Keisha di sini. Keisha harus cepat sembuh. Memangnya Keisha mau terus di rumah sakit?"
"Keisha mau ditemani ayah, tante. Coba tante telpon ayah biar cepat pulang."
"Ya nanti tante telpon ayah. Sekarang Keisha mau apa? Mau roti atau biskuit?"
__ADS_1
"Ngga mau. Keisha mau ayah. Keisha juga mau bunda. Tapi bunda kan sudah tidak ada. Yang ada sekarang tante. Kalau Keisha ikut sama bunda boleh ngga tante?"
"Keisha tidak bisa ikut sama bunda. Kan bunda sudah di surga. Keisha doakan saja bunda supaya tenang dan tetap bisa datang untuk jenguk Keisha disini."
Keisha cemberut mendengar omongan Maryam.
"Sekarang Keisha mau apa? Biar Keisha cepat sembuh harus banyak makan dan minum. Biar bisa pulang ke rumah dan main sama kakak juga Malik dan adik-adik Keisha yang lain."
"Adik Keisha cuma Malik. Kakak dan adik yang lain itukan anak tante bukan anaknya bunda sama ayah."
"Iya Keisha. Tapi kan kita bersaudara, jadi anak-anak tante tetap kakak dan adiknya Keisha juga."
"Ngga mau, aku ngga mau. Adik aku cuma Malik."
Keisha tengkurap dan menangis.
Maryam mencoba menenangkan Keisha yang menangis. Dan Maryam menelpon Ahmad tetapi handphone Ahmad tidak aktif.
Ahmad sudah masuk ke dalam sel di kantor polisi. Ahmad menceritakan kejadian saat ia menabrak Tyas., ia tidak sendiri tetapi ia bersama Mirna.
Ahmad tidak mau hanya ia yang ditahan, karena itu ia minta Mirna juga di tangkap seperti dirinya. Dan Ahmad sudah memberikan alamat apartemen Mirna kepada polisi.
Mirna baru sampai apartemennya. Mirna pulang dengan senang karena akhirnya ia sudah mendapatkan rumah kontrakan yang sesuai dengan keinginannua.
Saat Mirna masuk dan melewati lobby. Salah satu satpam memberitahu kepada polisi dan menunjuk ke Mirna. Polisi segera menghampiri Mirna yang berdiri di depan lift.
"Sore Bu Mirna. Anda akan kami bawa ke kantor polisi atas kasus pak Ahmad yang sudah menabrak bu Tyas."
"Ahmad siapa ya pak? Saya tidak kenal dengan Ahmad. Dan siapa lagi dengan bu Tyas. Sepertinya pak Polisi salah orang."
"Pak Ahmad suami ibu. Dan kami sudah menanyakan kepada manajemen apartemen ini bahwa mereka membenarkan kalau pak Ahmad adalah suami bu Mirna. Jadi kami minta kerjasamanya dari bu Mirna untuk kami minta keterangannya di kantor polisi."
"Tapi pak. Saya sudah tidak sama Ahmad lagi. Jadi saya tidak tahu kalau dia sudah menabrak atau tidak? Dan saya tidak ada urusan dengan hal itu. Karena itu masalah dia sendiri."
"Lebih baik ibu ikut kami ke kantor polisi. Daripada ibu teriak-teriak dan membuat gaduh disini. Yang malu nanti ibu sendiri."
"Ok, saya ikut dan saya akan berikan keterangan biar kalian puas!"
__ADS_1
Mirna berjalan keluar dari apartemen dengan polisi. Wajah Mirna terlihat marah.
Huh, gara-gara Ahmad, aku kena juga. Br****"k kamu Ahmad. Membuat kacau hidupku saja."