Istri Suamiku

Istri Suamiku
Ahmad, Mirna, Sekar


__ADS_3

Semalaman Tyas tidak bisa tidur memikirkan omongan Gege. Pagi ini Tyas merasa badannya meriang. Tyas akan minta ijin Pak Joe, bahwa hari ini ia tidak bisa masuk kerja karena sakit.


Tyas mengambil handphonenya dan menelpon Pak Joe.


"Pagi Pak Joe, mohon maaf hari ini sepertinya saya tidak bisa masuk kerja Pak."


"Pagi Tyas, kamu sakit?"


"Iya Pak, badan saya meriang kalau saya paksakan masuk kerja nanti malah menghambat pekerjaan."


"Ya sudah kamu istirahat, tidur. Belakangan ini kamu banyak pikiran."


"Baik Pak Joe. Terima kasih." Tyas menutup telponnya.


Ia ingin menelpon Mirna dan menanyakan ada hubungan apa dengan Ahmad. Tetapi Tyas mengurungkan niatnya.


Sebenarnya Tyas ingin segera bercerai dari Ahmad. Ia sudah merasa tersiksa dengan kondisi seperti ini.


Sementara Mirna baru bangun dan ia melihat Ahmad yang masih tertidur. Pelan-pelan Mirna turun dari tempat tidurnya, tetapi ia merasa sakit di seluruh badannya terutama di bagian area intimnya selain sakit juga perih.


"Mau kemana Mirna sayang? Hari ini kamu tidak usah masuk kerja dulu. Kamu tidak bisa jalan."


"Ini gara-gara kamu Mas."


"Tapi bukankah kamu menikmatinya? Aku tidak akan meninggalkan kamu. Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku semalam sama kamu."


Ahmad mendekati Mirna dan memeluk Mirna. Mirna menangis karena ia sudah kehilangan hal yang berharga dalam hidupnya. Keinginannya untuk mempunyai pacar membutakan matanya sehingga ia mau dan dengan rela memberikannya kepada Ahmad.


"Mas Ahmad, waktu kamu masih menikah dengan Mbak Tyas, kamu sudah berselingkuh dengan perempuan lain. Dan aku melihat Mas. Perempuan itu hamil. Perempuan yang akhirnya melahirkan dan satu ruangan dengan temanku yang juga melahirkan. Bagaimana mungkin aku bisa percaya, Mas Ahmad akan bertanggung jawab. Dan aku bodoh."


"Mirna sayang, kamu tidak bodoh. Iya waktu aku menikah sama Tyas, aku memang berselingkuh sampai akhirnya Tuhan menegur aku, istriku meninggal pada saat melahirkan. Dan waktu yang kamu lihat di rumah bersalin. Aku menikahi seorang janda yang sedang hamil. Setelah melahirkan, suaminya minta rujuk kembali. Lalu aku menikah lagi dan pada saat melahirkan istriku dan bayiku meninggal. Dengan Tyas, aku tidak bisa punya anak. Karena Tyas tidak mau memiliki anak. Tyas tahu aku berselingkuh dan alasanku apa. Karena aku ingin punya anak. Setelah itu aku minta maaf dan aku buktikan aku bekerja keras sampai aku bisa beli mobil yang kita pakai. Ternyata Tyas yang malah selingkuh. Kalau memang kamu tidak percaya, aku siap menikahi kamu hari ini juga."


"Mas Ahmad tidak bohong?"

__ADS_1


"Buat apa aku berbohong. Aku sudah berbuat jauh sama kamu sampai kamu kehilangan mahkotamu, karena itu aku berani bertanggung jawab untuk menikahimu. Apa kamu masih ragu dengan uang yang aku punya. Atau kamu ragu aku akan menumpang hidup sama kamu, karena saat ini aku belum kerja?"


"Bukan, bukan itu Mas." Aku takut tahu-tahu aku hamil dan Mas Ahmad akan meninggalkan aku."


"Tidak akan, aku akan bertanggung jawab. Atau untuk menyakinkan kamu. Hari ini kita nikah siri dulu, sambil merencanakan pernikahan kita yang sah secara agama dan KUA. Bagaimana? Kamu tahu, saat kemarin siang aku lihat kamu dan berbicara dengan kamu, Aku berdoa dalam hati semoga ini perempuan yang Allah berikan untuk jadi istriku."


"Bagaimana menikah siri sekarang, jalan mau pipis saja, masih sakit dan perih."


"Ya ampun maaf sayang." Ahmad segera bangun dan menggendong Mirna ke kamar mandi dan memandikan Mirna.


Mirna merasa senang dan gembira. Ternyata Ahmad begitu perhatian dan sayang dengan dirinya.


"Mas, terima kasih karena sudah menerima diriku apa adanya."


"Sayangku Mirna, aku juga mau berterima kasih kamu mau memberikan sesuatu yang berharga pada dirimu untuk aku. Sayang kalau kamu tidak merasakan sakit dan nyeri atau perih lagi. Aku mau bawa kamu ke suatu tempat. Aku baru terima pesan bahwa ada orang yang mau membeli rumah yang aku jual. Dan katanya ia mau membayar rumah itu secara cash. Dan pembelinya mau melihat dan memutuskan akan membeli rumah itu atau tidak?.


Akhirnya rumah yang dulu di tempati oleh Laila ada yang mau membeli. Ahmad memang membutuhkan uang. Karena uang tersebut akan Ahmad pakai untuk biaya hidup dengan Sekar sampai ia mendapatkan pekerjaan kembali. Tetapi saat ini rencana itu akan berubah.


Ahmad tidak tahu bahwa yang membeli rumahnya adalah Pak Arif tetapi melalui orang lain. Ahmad hanya menuliskan papan dijual.


"Mas, aku boleh ikut kamu?"


"Kamu sudah enakan bisa berjalan?"


Mirna menganggukkan kepalanya.


"Ok, sudah siap atau masih mau berdandan lagi? Sebenarnya tanpa dandan pun kamu sudah cantik."


"Apa sih Mas. Aku sudah siap."


Ahmad dan Mirna keluar dari apartemen dan pergi untuk menemui pembeli rumah.


Sejak semalam Sekar menangis karena Ahmad tidak ada kabar ataupun menelpon. Berkali-kali Sekar menelpon Ahmad tetapi nomernya selalu diluar jangkauan.

__ADS_1


"Sekar, sudah jangan nangis, kasihan bayi yang ada dalam kandunganmu. Nanti kita coba cari ke Jakarta. Ibu yakin Ahmad sudah membohongi kamu dan juga bapak dan ibu."


"Membohongi bagaimana Bu, Sekar tahu Mas Ahmad. Buktinya dia bertanggung jawab dan menikahi Sekar. Tidak banyak lelaki yang mau bertanggung jawab."


"Itulah kamu. Baru diimingi-imingi sudah langsung nyungsep sampai akhirnya hamil. Bapak dan ibu gagal mendidik kamu."


"Ibu, sudah ngga usah dibahas. Sekar harus menanggung resikonya. Berani berbuat, harus berani juga menanggung resiko. Kita sebagai orang tua sudah tidak ada kuasa untuk memarahi Sekar lagi. Karena dia sudah punya suami."


"Iya Pak. Karena terbujuk uang, mobil, dan rayuan diserahkanlah kehormatan. Dan ibu yakin, Sekar belum terlalu tahu Ahmad seperti apa."


"Sudah bu, biarkan Sekar menentukan sendiri."


"Ada apa sih bapak sama ibu udah berisik pagi-pagi."


"Itu Erna, Ahmad ngga pulang semalam. Semalaman kakakmu hanya bisa menangis."


"Erna, bantu kakak cari Ahmad ke Jakarta, bisakah?"


"Ngga mau dan ngga bisa? Aku ngga suka lihat Ahmad, terlihat licik dan bohong. Cuma kakak kan ngga pernah mau dengar apa yang aku katakan. Kakak selalu menganggap aku anak kecil."


"Bantu aku Erna. Aku mohon sama kamu."


"Kemarin Ahmad pergi ke Jakarta, dia ada kasih uang ke kakak?"


"Ngga ada, Tapi ada ATM Mas Ahmad di aku dan Mas Ahmad pernah kasih lihat ada uang 50juta di rekeningnya."


"Ayo kita cek. Kakak ikut aku, supaya jangan mikir negatif bahwa aku ambil uang kakak. Aku berani jamin, uang yang di ATM hanya ada 50ribu. Kakak melihat 50 juta karena sudah dibutakan dengan cinta dan perasaan ternoda."


Sekar hanya bisa terdiam mendengar kata-kata Erna.


"Kalau memang ada uangnya, gugurin kandungannya. Erna yakin Ahmad sudah sama perempuan lain saat ini.


" Astaghfirullah Al Adzim, Erna. Mulutmu jahat banget."

__ADS_1


"Aku tidak peduli kakak ngomong apa. Yang penting aku tidak buat malu keluarga, aku tidak membuat bapak ibu menanggung beban seumur hidupnya.


__ADS_2