
"Tyas, kita sarapan dulu ya. Setelah itu baru ke kantor. Saya tahu kamu pasti belum sarapan dan nanti siang, kamu ikut saya."
"Iya pak Joe."
Tyas dan pak Joe sarapan bubur tidak terlalu jauh dari kantor. Setelahnya mereka berangkat ke kantor.
"Tyas, jangan lupa nanti siang, jam 11 kamu ikut saya. Saya sudah minta ijin sama Olivia karena kemungkinan kita akan sampai di kantor jam 2."
"Iya pak Joe."
Hari ini Maryam mengunjungi Ahmad yang masih di penjara.
"Ada apa kamu kesini? Saya tidak ada uang lagi. Semua ATM saya sudah kamu pegang."
"Mas, aku mau tanya mengenai rumah yang dulu di tempati oleh mas Ahmad dan teteh. Apakah bisa dijual. Aku benar-benar butuh uang mas. Untuk sekolah Keisha, Malik dan anak-anak ku dan hidup sehari-hari. Juga mobil. Setidaknya dengan menjual rumah dan mobil, kami semua masih bisa bertahan hidup. Aku mau tanya dimana surat-surat rumah dan mobil."
"Tunggu sampai aku keluar. Aku tidak mau kamu dan Asep menguasai seluruh penjualan uang rumah dan mobil. Jangan kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu dan Asep lakukan."
"Tapi mas, anak-anak butuh makan, butuh sekolah. Mengandalkan uang hasil jualanku tidak cukup."
"Kalau aku bilang tunggu ya tunggu!"
"Tapi mas, kan ada satu rumah lagi kepunyaan kamu. Itu bisa jadi simpanan kita saat kamu keluar."
"Maryam, dengar ya. Apa hak kamu mengatur-ngatur hidup saya? Keisha dan Malik itu ponakan kamu. Itu bentuk tanggung jawab kamu sebagai tantenya untuk mengurus mereka selama saya masih di penjara! Sudah kamu pulang saja!"
"Tapi mas, bagaimana aku mau pulang? Aku tidak ada uang."
"Kamu pikir dengan aku di penjara ada uang? Aku bawa-bawa uang? Dan aku tahu kamu ke sini juga dengan Asep dan aku tahu setelah ini kamu akan ke rumahku untuk mengambil surat-surat kedua rumahku. Aku tidak sebodoh yang kamu dan Asep pikirkan."
Ahmad berdiri dan meninggalkan Maryam. Akhirnya Maryam keluar dan mendatangi Asep yang menunggu dirinya.
"Gimana teh? Dikasih tahu sama Ahmad dimana surat-surat rumahnya dia simpan?"
"Ngga. Terus kita kemana?"
"Kita ke rumah Tyas. Dia pasti dapat sebagian harta dari Ahmad saat perceraian mereka."
"Ngga bisa. Teteh sama bibi sudah pernah ke sana. Yang ada malah nanti masalah lagi."
"Ya sudah kita tunggu Tyas keluar dari pabrik."
"Masih lama Asep. Tyas baru keluar dari pabrik nanti jam 4 sore. Kita nunggu selama itu di pabrik kan tidak mungkin. Sudah pulang saja, kasihan anak-anak di tinggal."
"Ngga. Asep harus ketemu Tyas. Kita sudah jauh-jauh kesini. Kita tunggu saja di pabrik tempat Tyas kerja."
Maryam hanya bisa menghela napas. Akhirnya mereka berangkat ke pabrik dan menunggu Tyas.
"Tyas, ayo ikut saya sekarang. Olivia mana dokumen yang saya minta untuk kamu siapkan? Saya mau meeting hari ini. Kelengkapan dokumen legal perusahaan."
__ADS_1
"Ini pak Joe." Olivia memberikan dokumen yang diminta oleh pak Joe.
Tyas mengikuti pak Joe yang sudah berjalan terlebih dahulu.
"Tyas, kita makan siang sama mama. Kebetulan mama ingin bertemu dengan kamu."
"Loh, kok mendadak gini pak. Kenapa baru kasih tahu saya sekarang pak. Saya jadi tidak ada persiapan. Pakaian saya seperti ini pak. Saya malu jika harus bertemu dengan mamanya pak Joe."
"Kenapa harus malu? Memangnya kamu buat kesalahan sama mama? Be yourself saja Tyas."
Tyas tersenyum. Padahal hatinya berdebar-debar. Jika nanti ada pertanyaan dari mamanya pak Joe.
"Kita sudah sampai. Yuk turun dan ketemu sama mama."
"Iya pak."
Tyas dan pak Joe berjalan masuk ke dalam restoran sunda. Mereka menghampiri mamanya pak Joe yang sudah menunggu.
"Ma, maaf Joe dan Tyas telat."
"Ngga papa. Mama juga baru sampai. Ayo duduk. Mama sudah pesan makanan. Sekarang terserah kalian berdua mau minum apa. Ayo Tyas di pilih kamu mau minum apa."
Tyas dan pak Joe sudah memesan minum untuk mereka.
"Joe, jadi gimana hubungan kamu dengan Tyas? Apa kalian berdua sudah siap untuk menikah bareng dengan Jerry. Maaf kalau mama mengejar kamu dan Tyas untuk menikah."
"Mama, jangan tanya sama Joe. Coba mama tanyakan langsung sama Tyas. Joe sudah siap lahir bathin untuk menikah dengan Tyas."
Tyas menggaruk hidungnya yang tidak gatal.
"Tante, sebelumnya Tyas mau tanya. Apakah tante benar-benar merestui hubungan pak Joe dengan Tyas. Tante pasti tahu kalau Tyas sudah pernah menikah dan bercerai. Dan juga Tyas, perempuan biasa-biasa saja. Dan Tyas sudah tidak punya orang tua lagi."
Mama Alida memegang tangan Tyas.
"Tyas, tante tahu. Tante sudah tahu semua perjalanan hidup kamu. Joe dan juga Jerry sudah menceritakan semuanya. Tante tahu mungkin berat buat kamu untuk segera menikah lagi. Dan tante tahu kamu masih trauma dengan yang namanya pernikahan. Jadi tante akan menunggu kapan kamu siap untuk menikah dengan Joe."
Tyas menganggukkan kepalanya.
"Ma, apakah tidak lebih baik jika Jerry dulu saja yang menikah. Kasih Tyas waktu lagi untuk berpikir. Joe juga tidak mau terlalu memaksakan diri Joe. Tyas sudah tahu bahwa Joe mencintai Tyas dan ingin menikah dengan Tyas."
"Bagus dong. Berarti kita tinggal menunggu jawaban dari Tyas. Tante sangat bersyukur jika Tyas mau menjadi istri dari Joe. Umur tante tidak muda lagi, tante ingin sekali Joe dan Jerry segera menikah dengan pilihan mereka masing-masing. Tyas tidak usah terlalu pusing siapa yang nanti akan jadi wali nikah Tyas. Joe sudah punya orang yang akan menjadi wali kamu, Tyas. Jadi tidak perlu kuatir."
"Iya tante. Sekali lagi Tyas mohon maaf jika belum bisa menjawab pertanyaan dan permintaan tante dan juga pak Joe. Tyas minta waktu dan secepatnya akan Tyas kasih tahu."
"Iya Tyas. Tante ngerti. Nah itu kebetulan makanan sudah datang. Ada baiknya kita makan dulu baru nanti kita bicara lagi. Kamu tidak usah terlalu tegang Tyas. Santai saja."
"Iya tante."
Maryam dan Asep masih menunggu di seberang pabrik Tyas.
__ADS_1
"Sep, mungkin tanya sama pak satpam. Bisa jadi Tyas masuk siang atau malam. Kita tidak tahu jadwal Tyas kerja."
"Iya nanti dulu. Asep habiskan rokok dulu. Nah itu lihat banyak karyawan pabrik yang keluar, sudah jam istirahat, pasti Tyas juga akan keluar cari makan. Asep coba ke depan pintu gerbang, Teteh tunggu disini sekalian lihat juga siapa tahu Asep tidak lihat sekalian jagain motor Asep."
Asep segera menyebrang dan berdiri di dekat pintu pagar. Sampai akhirnya jam istirahat selesai, baik Asep dan Maryam tidak melihat Tyas. Pak satpam yang hendak menutup gerbang melihat Asep yang masih berdiri di dekat gerbang dan menghampiri Asep.
"Maaf mas. Ada perlu apa?"
"Pak satpam, saya mau ketemu dengan Tyas. Hari ini dia masuk atau tidak ya?"
"Tyas, Tyas siapa dan bagian apa. Disini pabrik mas, ada ratusan bahkan ribuan pekerja, yang namanya Tyas bisa jadi juga banyak."
"Tyas istrinya Ahmad. Kerja disini. Temannya laki-laki siapa ya namanya Jaka, Joni, Juned. Aduh saya lupa. Sebentar pak."
Asep berusaha mengingat-ingat. Dan berlari menghampiri Maryam.
"Teh, bosnya Tyas namanya siapa? Asep tanya sama satpam. Tapi kan namanya Tyas banyak."
"Joe, namanya Joe terus Tyas kerja di bagian QC."
"Oh, ok teh." Asep kembali ke depan gerbang pabrik.
"Pak satpam, nama bosnya pak Joe. Tyas kerja di bagian QC."
"Oh, bu Tyas yang itu sudah tidak kerja disini lagi. Sudah pindah kerja."
"Pindah kerja kemana ya pak?"
"Wah kalau itu saya tidak tahu."
"Oh. Ya sudah pak. Terima kasih."
"Ya."
Asep segera menghampiri Maryam.
"Gimana Sep?"
"Tyas sudah tidak kerja di pabrik lagi."
"Terus sekarang dia kerja dimana?"
"Asep ngga tahu. Teteh kan tahu rumahnya, kita ke rumahnya saja."
"Ke rumahnya jam segini sama saja Sep. Kita ngga tahu dia kerja dimana."
"Ya si teteh. Kalau pengalamannya di pabrik pasti kerjanya di pabrik juga ngga mungkin kerja di kantoran atau di perusahaan besar. Sekali buruh pabrik ya selamanya buruh pabrik."
"Ngga ah, teteh mau pulang saja. Kasihan anak-anak. Kalau kamu mau cari Tyas besok saja kamu berangkat sendiri. Sekarang anterin teteh pulang."
__ADS_1
"Iya sudahlah, kita pulang saja. Besok, lihat besok saja teh."