Istri Suamiku

Istri Suamiku
Tyas bertemu Asep


__ADS_3

Tyas dan Pak Joe sudah di pos satpam.


"Pak, mana tamu saya?"


"Bu Tyas, ini Pak Asep."


"Terima kasih Pak."


"Sama-sama Bu."


"Pak Asep, kenalkan saya Tyas."


"Iya Bu Tyas, bisa kita bicara berdua saja?"


"Tidak bisa berdua Pak Asep. Ini Pak Joe, dia juga kenal dengan Mas Ahmad. Dan tadi pak satpam bilang, pak Asep saudara dari Mas Ahmad? Setahu saya, Mas Ahmad tidak punya saudara yang bernama Asep."


"Iya Bu Tyas,. Mas Ahmad itu kakak ipar saya. Teteh saya Nurhasanah menikah dengan Mas Ahmad. Dan saya mencari Mas Ahmad, karena dari kemarin Mas Ahmad tidak pulang. Teteh Nur meninggal kemarin jam 10 pagi, jatuh dan pendarahan. Mas Ahmad katanya pergi dari pagi."


"Inna lillahi wainna ilaihi roji’un. Maaf atas musibah yang menimpa Bu Nur. Hanya saja saya tidak mengenal Bu Nur."


"Iya saya tahu, pasti Bu Tyas dan teteh saya tidak saling mengenal. Saya tahu Bu Tyas dari dokumen yang saya temukan di ruangan kerja Mas Ahmad di rumah."


"Lalu keperluan Pak Asep apa sama saya? Sampai Pak Asep ke tempat kerja saya?"


"Saya minta tolong sama Bu Tyas, agar Mas Ahmad pulang dulu ke rumah kasihan Keisha dan Malik juga untuk menengok kuburan teh Nur. Saya tahu mungkin kemarin jadwal Mas Ahmad dengan Bu Tyas. Saya mohon agar Mas Ahmad pulang dulu ke rumah, setelah itu Bu Tyas bisa full waktu sama Mas Ahmad tanpa ada pembagian waktu lagi dengan teh Nur."


"Begini pak Asep, sejak kejadian Mas Ahmad sama saya sampai Mas Ahmad dipenjara dan akhirnya saya bebaskan dengan menanda tangani surat pernyataan, saya tidak pernah bertemu lagi dengan Mas Ahmad. Dan bisa jadi Mas Ahmad sama istri yang satunya lagi yaitu Mbak Laila. Saya tidak tahu alamatnya Mbak Laila dimana. Dan sampai saat inipun saya tidak tahu rumah Mas Ahmad dengan Nur maupun dengan Laila. Pak Asep silakan baca surat ini dan surat perjanjian bahwa Mas Ahmad akan menceraikan saya. Saya masih menunggu surat perceraian itu."

__ADS_1


"Tapi Bu, anak-anak bagaimana? Saya bekerja dan pulang seminggu sekali. Teteh saya yang satu lagi punya anak banyak dan suaminya sudah meninggal juga menngurus mak yang sakit."


"Gini Pak Asep, mengenai urusan anak silakan Pak Asep menunggu kedatangan Mas Ahmad."


"Bu Tyas, saya minta tolong sama Bu Tyas sekiramya Mas Ahmad menelpon Bu Tyas, katakan untuk pulang segera."


"Maaf Pak Asep, sejak kejadian saya tidak pernah telpon ataupun sebaliknya. Saya hanya menunggu surat cerai dari Mas Ahmad."


"Apa saya bisa tahu dimana tempat kerjanya yang baru?"


"Pak Asep, selama saya menikah dengan Mas Ahmad, dia tidak pernah kasih tahu dimana tempat kerjanya dan diia jarang pulang ke rumah. Saya baru tahu bahwa dia punya istri lagi saat urusan di kantor polisi. Yang saya tahu selama ini dia hanya mandor. Dan uang gaji yang diberikan buat saya hanya cukup untuk membayar kontrakan rumah sebesar 1 juta karena itu saya bekerja untuk kehidupan sehari-hari."


"Kenapa Bu Tyas bohong? Bu Tyas sengaja menyembunyikan Mas Ahmad kan? Karena Bu Tyas sudah tahu kalau Mas Ahmad istrinya banyak."


"Anda jangan asal bicara, urusan Ahmad saya tahu, karena Ahmad telah melakukan penganiayaan dan tindak asusila terhadap Bu Tyas dibantu dengan 2 teman laki-laki Ahmad. Kebetulan saat kejadian, Saya, Ningsih dan Gege juga Bos kami datang ke rumah Tyas karena ada yang ingin kami bicarakan mengenai pekerjaan. Jadi tolong jaga bicara anda dan silakan pergi karena Bu Tyas harus kembali bekerja. Dan saya pastikan Bu Tyas tidak tahu keberadaan Ahmad karena sejak kejadian itu Bu Tyas tinggal di mess kantor. Paham anda! Jadi silakan pergi! Ayo Tyas, kita mulai bekerja, bel sudah berbunyi setengah jam yang lalu."


"Tapi Bu Tyas, dimana Pak Ahmad?" Tolong kasih tahu."


Tyas dan Pak Joe berjalan keluar dari ruangan satpam. Asep ingin mengejar Tyas tetapi di halangi oleh satpam.


Tyas dan Pak Joe masuk ke ruang QC dan mereka mulai bekerja.


Tyas tidak mau memikirkan mengenai Ahmad ataupun Nur yang baru saja meninggal. Baginya saat ini adalah fokus untuk dirinya. Bukan persoalan yang kecil saat Tyas mendengar bahwa Ahmad mempunyai ruang kerja saat hidup dengan mendiang Nur ataupun Laila.


Bagi Tyas sudah cukup dibohongi oleh Ahmad selama 5 tahun perkawinan. Janji yang Ahmad ucapkan dan mahar yang diberikan Ahmad sudah tidak ada bekasnya lagi. Semuanya diambil oleh Ahmad.


Tyas sempat terdiam memikirkan mengenai Ahmad dan anak-anak yang di tinggal kan oleh Nur. "Apakah ini balasan dari Tuhan?" Tidak, Tuhan tidak pernah membalas seperti itu. Tuhan memgingatkan buat dirinya dan Ahmad. Semoga Ahmad berbesar hati saat tahu bahwa Nur sudah meninggal dan kembali ke jalan yang benar. Tyas masih mencintai Ahmad.

__ADS_1


Ahmad saat ini sedang menikmati paginya dengan Sekar, istri yang baru saja di nikahinya.


Uang tabungan yang ada di Nur cukup untuk membeli rumah buat Sekar. Dan saat ini Ahmad masih punya rumah yang sebelumnya ditempati oleh Laila. Rumah tersebut akan Ahmad jual. Dan mobil sudah ia bawa surat-suratnya semua. Ahmad berencana tidak akan pulang ke rumah Nur sampai minggu depan. Ahmad akan menikmati waktunya dengan Sekar saat ini. Ahmad sudah mengganti no handphonenya. Ia tidak mau diganggu Nur selama seminggu ini.


Asep keluar dari pabrik dengan kesal. Ia masih tidak percaya bahwa Tyas tidak tahu keberadaan Ahmad. Asep melajukan motornya dengan kencang. Lusa Ahmad harus kembali bekerja. Lalu bagaimana anak-anak teh Nur?


Asep berhenti di pasar dan membeli pisang, titipan teh Maryam untuk tahlillan teh Nur.


Bel istirahat berbunyi. Tyas segera membereskan pekerjaannya. Ia berjalan ke arah mushola. Hatinya tidak tenang setelah tahu bahwa Nur meninggal akibat pendarahan dan Ahmad tidak pulang. Tyas mengambil wudhu dan sholat.


Selesai sholat, Tyas kaget ternyata Ningsih dan Gege ada di belakangnya dan sedang sholat juga. Tyas keluar dari mushola, menunggu Ningsih dan Gege.


"Tyas, kamu kenapa? Kok mukanya sedih gitu?"


"Ngga papa, sedih gimana sih Ning? Ngantuk iya, sedih ngga."


"Mbak Ning, Mbak Tyas, kita ke kantin yuk. Gege lapar nih."


"Hah lapar? Tadi pagi makan segitu banyak dan lapar? Perut apa karung beras?"


"Kalau mbak Ning dan mbak Tyas ngga makan ngga papa. Kan bisa minum es teh manis atau juice buah."


"Asik dibayarin ya Ge, kan bentar lagi Gege jadi kiper."


"Maksudnya kiper? Emang Gege main bola jadi kiper? Selama ini Gege main bola bekel eh kalau bola bekel kegedean. Main gundu dua biji taoi gundunya yang agak gede. Hahahahhahah."


"Ya sudah, Ayo kita ke kantin." Tyas berjalan duluan. Gege dan Ningsih mengikuti Tyas ke kantin.

__ADS_1


__ADS_2