
Tyas sudah sampai rumah setelah seharian menemani pak Joe meeting di luar kantor dan menunggu pak Joe selesai bekerja.
Ningsih mengucapkan salam sebelum masuk rumah.
"Ning, tumben jam 8 malam baru pulang?"
"Iya Tyas, aku capek banget hari ini. Pengen rasanya tidur tidak mau memikirkan mengenai pernikahan lagi."
"Eh, kenapa tiba-tiba bicara seperti itu? Ada apa Ning?"
"Ya nantilah aku cerita. Aku mau mandi dulu. Aku masuk kamar ya Tyas?"
"Iya Ning. Kamu sudah makan malam? Kalau belum aku panasin lagi makanannya."
"Tidak usah, aku sudah makan tadi. Makasih ya Tyas."
Ningsih masuk ke kamarnya. Sementara Tyas masih duduk di sofa depan sambil memegang handphonenya dan kartu nama Maung.
Aku telpon apa gimana ya? Pengen kerja di tempat lain, karena suasana pabrik sudah tidak nyaman lagi. Apakah aku siap untuk meninggalkan rumah ini? Sedangkan pak Arif sudah berbaik hati memberikan rumah ini sama aku. Tapi apakah benar rumah yang sekarang aku tempati ini memang diberikan secara cuma-cuma atau diberikan karena kondisi aku saat itu?
Tyas berbicara sendiri sambil tetap memegang kartu nama Maung. Tiba-tiba handphone Tyas bunyi.
"Assalamu'alaikum Tyas."
"Wa'alaikumsalam pak Joe. Ada apa pak Joe, kok malam-malam telpon saya?"
"Besok hari Sabtu, apakah kamu ada acara keluar?"
"Tidak ada pak Joe. Saya tidak punya rencana kemana-mana. Paling besok saya mau beres-beres rumah. Memangnya ada apa?"
"Rencananya besok saya mau ajak kamu pergi ke Bandung. Karena besok Jerry akan bertunangan. Tapi kita jalan jam 6 pagi. Apakah kamu bisa?"
"Wah, selamat buat pak Jerry, akhirnya bertunangan. InsyaAllah besok saya bisa pak."
"Terima kasih Tyas. Iya, akhirnya Jerry melepas status bujangnya. Kamu sedang apa?"
__ADS_1
"Terus rencananya pak Joe kapan akan menyusul pak Jerry?"
"Hahahah, kalau itu saya belum tahu Tyas, karena saya juga tidak tahu apakah perempuan itu akan menerima saya."
"Wah, berarti pak Joe juga sudah ada calon ya. Selamat, selamat. Saya bantu doa, agar perempuan itu menerima pak Joe. Syukur-syukur bisa bareng menikahnya dengan pak Jerry."
"Ya, tapi saya tidak terlalu berani untuk bilang terus terang sama perempuan itu."
"Banyak-banyak doa pak. Pasti Allah akan bukakan jalannya. Selama niat pak Joe baik, pasti bisa."
"Ya semoga saja. Karena pengalaman hidupnya dia. Bisa dibilang dia sudah punya pengalaman dalam berumah tangga. Tapi rumah tangganya selesai dengan perceraian. Sepertinya ada trauma, jadi saya agak maju mundur untuk mengatakan isi hati saya."
"Yakin pak, pasti bisa! Semangat buat pak Joe."
"Iya Tyas, terima kasih. Sudah malam, sebaiknya kamu istirahat. Karena besok kita berangkat jam 6 pagi. Acaranya dimulai jam 11, mendekati jam makan siang."
"Iya pak. Siap. Terima kasih sudah mengajak saya ikut untuk acara tunangan. Tapi kita tidak menginapkan pak?"
"Tidak, karena minggu paginya saya bertemu dengan pak Arif dan kakaknya."
"Baik pak Joe. Selamat malam. Assalamu'alaikum."
Pak Joe menutup sambungan telponnya.
Aduh Tyas, seandainya saya bisa bicara langsung tadi sama kamu, bahwa perempuan itu adalah diri kamu. Tapi saya takut. Apa saya yang pengecut ya sebagai laki-laki.
Pak Joe menoyor kepalanya sendiri lalu tertawa kepada dirinya yang tidak berani.
Sementara Tyas, merasakan ada yang hilang saat tadi pak Joe memberitahu mengenai perempuan yang sedang didekati oleh pak Joe.
Siapa perempuan itu? Selama ini tidak pernah melihat pak Joe dengan perempuan lain. Apa mungkin teman kantornya yang baru? Bisa jadi? Karena lingkungan kerja pak Joe saat ini sangat eklusif beda saat kerja di lingkungan pabrik. Kalau Gege bilang, 4L, loe lagi loe lagi.
Tyas tersenyum sendiri mengingat Gege. Ningsih yang baru saja keluar kamar melihat Tyas tersenyum sendiri bingung.
"Tyas, kamu sehat? Kok senyum-senyum sendiri? Hati-hati ini sudah malam, harusnya tidur malah senyum-senyum sendiri."
__ADS_1
"Ya ampun Ningsih, kamu buat aku kaget saja. Kamu belum tidur?"
"Ya belumlah, buktinya aku keluar dari kamar."
Ningsih berjalan dan duduk di sebelah Tyas.
"Jadi? Ada apa sebenarnya? Cerita dong. Siapa tahu aku bisa bantu."
"Kamu sendiri kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?"
"Aku tiba-tiba ingat Gege. Celetukan Gege yang bisa buat ramai suasana. Kangen sama Gege. Tapi miris juga sama nasib Gege karena percintaannya yang tidak berjalan sesuai keinginannya."
"Iya, semoga saja aku tidak bernasib sama seperti Gege. Semakin mendekati hari pernikahan semakin banyak hal-hal yang mengganggu pikiran aku, Tyas."
"Makanya cerita. Setidaknya dengan kamu cerita, kamu bisa bernapas lega ya walaupun mungkin sedikit leganya. Jangan di pendam sendiri. Amit-amit kalau kejadian Gege menimpa kamu. Itupun karena Gege tidak mau cerita."
"Iya Tyas. Aku bingung. Mau cerita sama kamu darimana? Semakin kesini aku semakin sangsi dengan pernikahan. Apa aku pantas mendampingi pak Arif. Secara hidup, pak Arif diatas aku jauh sekali. Ibaratnya pak Arif itu ikan arwana, aku ikan sapu-sapu."
"Ningsih, stop merendahkan diri kamu seperti itu. Kita tidak tahu takdir hidup kita akan kemana? Yang pasti Allah merencanakan hidup kita lebih baik selama kita percaya sama Allah. Banyak-banyak doa, tahajud. Paling tidak mulailah sembahyang di sepertiga malam."
"Iya Tyas. Aku sholat saja masih bolong-bolong. Tapi, jujur saja. Saat ini aku takut dan bingung. Seperti tadi saat di kantor, tiba-tiba ada yang menelpon aku entah siapa. Dia mengancam kalau aku tetap nekat menikah dengan pak Arif, maka pernikahanku akan berantakan. Aku takut kejadian yang kamu alami akan aku alami juga."
"Hush, jangan suudzon dulu. Ya, kamu bisa lihat sendiri mengenai pernikahan aku yang dibilang cukup tragis dan diselesaikan dengan perceraian."
"Iya Tyas, aku tidak mau bernasib sama seperti kamu. Maaf kalau kata-kataku ini menyinggung kamu. Karena aku tahu, aku tidak sekuat kamu."
"Ning, jangan samakan pernikahanku dengan pernikahan kamu nantinya. Karena beda pasangan. Setidaknya dari pernikahanku, kamu bisa mengambil pelajaran bahwa menikah itu harus begini, harus begitu, ada aturannya. Yang terpenting adalah komunikasi dan kepercayaan. Aku yakin, pak Arif itu calon suami kamu yang tepat."
"Iya Tyas, awalnya begitu. Tapi aku mikir, apa iya mereka benar-benar menerima aku sebagai istrinya pak Arif. Terutama kedua orang tua pak Arif. Dan aku takut kalau mereka pikir, aku sengaja mendekati pak Arif supaya aku bisa hidup enak, hidup kaya raya dan ujung-ujungnya nanti dikira aku pakai pelet biar pak Arif mau sama aku."
"Hahahhah, pikiran kamu kejauhan Ning. Kamu pasti bisa menilai pak Arif dan keluarganya seperti apa saat kamu bertemu mereka. Buktinya mereka tetap menerima kamu dan merestui hubungan kalian berdua sampai pernikahan nanti."
"Iya Tyas, aku takut. Benar-benar takut Tyas."
"Sudah malam, lebih baik kamu istirahat. Dan sembahyang jangan lupa. Ceritakan semua keluh kesahmu kepada Allah, minta petunjuk agar hubungan kalian dihalalkan dalam ikatan pernikahan dan langgeng sampai kalian tua nanti."
__ADS_1
"Amin Tyas. Ya sudah, kita tidur saja. Tapi kamu jangan senyum-senyum sendiri lagi."
"Hahahha, iya Ning. Tenang saja."