Istri Suamiku

Istri Suamiku
Ungkapan hati Bu Agnes


__ADS_3

"Tyas, Tyas, bangun, sholat, keburu habis jamnya" Ningsih mengetuk kamar Tyas berkali-kali.


Tyas tergagap dari tidurnya karena suara ketukan di pintu kamar.


"Astaghfirullah, aku kesiangan. Iya Ningsih. Terima kasih."


Tyas buru-buru bangun dan segera mandi kemudian sholat subuh.


"Ningsih, terima kasih ya. Kamu sudah bangunin aku. Untungnya masih sempat sholat subuh."


"He-eh. Makan nih, aku sudah buat nasi ulam."


"Tumben kamu buat nasi ulam, bangun jam berapa?"


"Tadi jam 03.30. Aku ngga bisa tidur lagi jadi ya sudah masak, terus mandi, sholat. Nah pas keluar kamar, kok tumben kamar kamu masih tertutup dan tidak ada suara, makanya aku ketuk kamar kamu keras-keras biar kamu bangun. Kamu sakit lagi?"


"Ngga, kecapean saja. Jadi tidurnya keterusan hehehe. Ning, nanti berangkat diantar sama pak Joe. Tidak usah naik bis jemputan."


"Ok. Memangnya pak Joe tidak masuk kantor? Kenapa antar kita kerja?"


"Entah, mungkin ada urusan sama pak Arif."


"Oooo. Terus kamu gimana sama pak Joe?"


"Maksudnya?"


"Ya hubungan kamu sama pak Joe."


"Biasa saja. Hubungan sebagai teman."


"Masa? Yakin? Buka hati kamu, Tyas. Pak Joe baik loh, dan selalu ada setiap saat. Masih muda, mau sampai kapan nutup hati kamu terus? Kesempatan tidak datang dua kali."


"Iih, masih pagi ngga usah gosip."


"Iiih, siapa yang gosip. Kan urusannya sama kamu dengan pak Joe. Kalau gosip itu, aku bicara sama orang lain mengenai hubungan kalian berdua. Gitu."


"Iya, iya, siap bu bos. Ini aku mau makan, kalau kamu ngajak aku ngomong terus kapan ada makanan masuk."


"Heheheh, iya lupa. Aku gemes sama kalian berdua. Main tarik ulurnya kelamaan. Memangnya ngga capek main layangan terus."


Tyas tertawa mendengarkan omongan Ningsih. Mereka melanjutkan sarapan pagi.


Pak Joe sudah datang sebelum klakson bis jemputan berbunyi. Pak Joe memgantar Tyas dan Ningsih ke pabrik.


"Pak Joe langsung ke kantor atau menunggu Tyas?"


"Saya nunggu pak Arif. Kamu langsung ke QC, Tyas?"


"Tidak pak Joe. Saya nunggu pak Arif datang. Kalau gitu temanin saya beli sarapan di warteg depan ya."


"Ningsih tidak bisa nemenin pak Joe. Ada yang mesti Ningsih kerjakan pagi ini."


"Ya ampun Ning, masih setengah jam lagi. Bisa kali kita bertiga ke warteg depan."


"Bukan menolak, singa aku sudah datang. Dia jalan duluan tadi saat kita keluar dari mobil pak Joe."

__ADS_1


"Ya sudah. Tyas kalau tidak mau temanin saya juga tidak papa. Saya belum sarapan."


"Ngga kok pak Joe. Tyas akan temanin pak Joe."


Pak Joe dan Tyas berjalan keluar dari pabrik. Terlihat Bu Agnes dan beberapa karyawan QC yang hendak masuk ke pabrik.


"Bu Agnes, tuh lihat Tyas dan pak Joe. Memang ya janda dimana saja sama. Sukanya menggoda laki-laki."


"Masih mending kalau bujangan, kalau sudah punya istri. Apa bukan jadinya pelakor."


"Susah dah buat kita yang masih perawan kalau bujangan disikat juga sama janda. Mereka lebih pengalaman."


"Hahahhaha, hidup janda!"


Pak Joe dan Tyas mendengar obrolan mereka. Karena mereka sengaja suaranya keras.


Tyas hanya terdiam sampai akhirnya pak Joe menggandeng tangan Tyas melewati mereka.


"Wah ada pak Joe. Selamat pagi pak Joe."


Bu Agnes sengaja mendekati pak Joe dan Tyas.


"Iya bu Agnes, saya mau menemani calon istri saya Tyas. Kebetulan hari ini saya ada janji temu sama pak Arif. Selamat bekerja ya bu Agnes. Dan lain kali jaga omongan. Kalau memang tidak tahu masalahnya. Bu Agnes kan sebagai kepala saat ini. Bersikaplah bijaksana dan jangan suka bergosip. Lebih baik berpikir bagaimana untuk memajukan perusahaan."


"Eh maksud pak Joe apa ya? Saya ngga bicara apa-apa tuh!" Bu Agnes melirik ke arah Tyas.


"Ya sudah, saya mau kasih tahu ke bu Agnes, Tyas adalah calon istri saya. Jadi tidak perlu bergosip."


Pak Joe melanjutkan jalan keluar pabrik dengan Tyas.


"Kamu benar-benar tidak mau sarapan Tyas."


"Tidak pak Joe. Saya sudah makan tadi di rumah."


"Ok" Pak Joe menyendok makanannya.


"Pak Joe, saya tadi tidak enak hati sama bu Agnes. Karena pak Joe bicara seperti itu."


"Tidak semua omongan orang harus kamu pikirkan daripada menyimpan dendam. Let by gone be by gone sajalah. Lagipula saya memang mau kamu jadi istri saya. Walaupun saya belum dapat jawaban dari kamu. Saya akan menunggu sampai kamu sudah siap menjawab."


"Iya pak Joe."


"Tyas, ayo siap-siap itu mobil pak Arif sudah masuk ke pabrik. Jangan sampai dia yang menunggu kita."


"Iya pak Joe."


Mereka berdua segera keluar dari warteg dan masuk ke dalam pabrik.


Beruntungnya mereka karena pak Arif belum keluar dari mobil sehinga mereka bisa masuk ke dalam kantor.


"Pagi pak Arif."


"Pagi. Ayo kalian berdua ikut saya."


Pak Joe dan Tyas mengikuti pak Arif dan masuk ke ruangan pak Arif. Dan pak Arif mempersilakan mereka untuk duduk.

__ADS_1


"Tyas, apakah kamu yakin untuk tetap mengundurkan diri?"


"Iya pak. Saya yakin. Kalaupun saya tetap bekerja di sini dan pindah ke bagian lain pun suara-suara yang mengintimidasi status saya tetap akan sampai di telinga saya. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa orang-orang di divisi lain sudah tahu mengenai status saya yang janda."


"Memangnya ada omongan apa lagi yang kamu dengar saat kamu datang pagi ini? Apakah ada yang menjelek-jelekkan statusmu?"


"Iya pak Arif. Dan memang tadi saya di bantu pak Joe sampai pak Joe menegur orang-orang yang sudah mengolok-olok saya."


"Coba ceritakan sama saya."


Tyas akhirnya menceritakan kejadian tadi pagi dengan pak Arif.


"Joe, coba kamu panggil Agnes ke sini. Sekarang ya."


"Ok Pak Arif."


Joe keluar dari ruangan pak Arif dan meminta sekretaris pak Arif menelpon bu Agnes untuk segera ke ruangan pak Arif.


Tidak berapa lama bu Agnes sudah di dalam ruangan pak Arif.


"Agnes, sebenarnya kamu ada masalah apa dengan Tyas?"


"Saya tidak ada masalah dengan Tyas, pak Arif. Malah saya bingung kenapa tiba-tiba saja kemarin Tyas memberikan surat pengunduran dirinya."


"Kamu yakin? Setelah status hidup Tyas kamu bicarakan kemana-mana? Jika posisi kamu dan Tyas dibalik? Apa yang kamu rasakan?"


"Ya sakit sih pak. Apalagi saya kan juga belum menikah jadi saya tidak tahu akan sesakit apa."


"Kamu belum menikah. Apakah tepat bagi saya sebagai atasan kamu menggosipkan diri kamu yang maaf perawan tua?"


"Iya pak Arif. Saya mohon maaf jika perkataan dan perbuatan saya menyinggung Tyas. Karena saya melihat selama ini Tyas selalu dibantu pak Joe. Apa-apa pak Joe, sakit dijagain sama pak Joe. Diantar dan dijemput sama pak Joe. Giliran pak Joe keluar dari pabrik ini dan kerja di perusahaan pak Arif yang lain, pak Joe selalu ada buat Tyas. Waktu Tyas belum masuk ke QC, pak Joe perhatian dan selalu membantu saya. Saya dan teman-teman pikir, Tyas sengaja bercerai supaya bisa mendekati pak Joe. Apalagi Tyas bisa mendapatkan fasilitas supervisor ke atas. Kalau Tyas sebatas staf harusnya Tyas tinggal di mess bukan di perumahan seperti saat ini."


Bu Agnes berbicara mengeluarkan semua uneg-unegnya selama ini dengan tatapan marah dan kesal. Pak Joe dan Tyas kaget mendengar omongan bu Agnes. Sedangkan pak Arif tersenyum.


"Ok, saya mengerti kamu, Agnes. Intinya kamu cemburu dengan Tyas. Jika Tyas sampai mendapatkan fasilitas seperti yang kamu bilang tadi, itu untuk melindungi Tyas dari perlakuan kasar suaminya. Saya tahu kejadian yang di alami oleh Tyas. Harusnya jika kamu suka sama pak Joe, jangan dicampur adukkan dengan pekerjaan. Hubungan Joe dan Tyas selama ini atas dasar kekeluargaan. Joe juga melakukan sama yang lain, tapi kamu melihatnya hanya Tyas. Di rumah Tyas ada 3 orang yaitu Ningsih dan almarhumah Gege."


"Saya tidak cemburu sama Tyas, pak Arif. Saya hanya membawa pertanyaan-pertanyaan teman-teman yang selama ini melihat Tyas."


"Ok, ok, saya mengerti. Ya sudah kalau begitu. Tyas mulai hari ini tidak akan kerja di bagian QC lagi. Saya minta kamu untuk bekerja semakin baik lagi dan bagaimana caranya kamu membuat bagian QC menjadi lebih baik dari sebelumnya."


"Baik pak Arif, terima kasih. Nanti saya akan sampaikan ke teman-teman di QC bahwa mulai hari ini Tyas sudah tidak bekerja lagi di pabrik ini."


"Hei, saya tidak bilang begitu, saya bilang tidak di bagian QC. Yang menentukan orang itu keluar atau tetap bekerja disini adalah saya!"


"Maaf, maaf pak Arif. Baik pak Arif. Kalau begitu saya permisi."


"Ya silakan."


Bu Agnes sudah keluar dari ruangan pak Arif.


"Pak Arif, jika begitu lebih baik saya keluar dari pabrik ini."


"Nanti saya pikirkan lagi. Sekarang saya mau bicara sama Joe. Kamu bisa menunggu di luar sampai saya selesai dengan Joe."


"Baik pak Arif, terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2