
"Edi, sejak kapan loe jadi supir? Ini sekarang kita mau jemput bos loe? Katanya loe mau ajak ke rumah loe. Jadi sebenarnya ke rumah loe atau ke rumah bos loe?"
Nada suara Mirna terdengar seperti mengejek Edi
"Gue udah lama jadi supir. Bos gue udah di rumah. Tadi di jemput sama supir yang satu lagi. Sekarang ke rumah gue. Nanti gue kenalin sama bos gue."
Setelah perjalanan 1.5 jam. Mereka sampai di Sentul, perumahan elit yang ada di Sentul.
Edi membunyikan klakson mobilnya. Pintu gerbang terbuka.
"Ayo keluar Mirna."
"Rumah bos loe gede banget." Mirna terlihat kagum.
"Malam Tuan Tyo."
"Malam Pak Ujang."
"Ayo Mirna, kita masuk."
Mirna masuk ke dalam rumah Edi. Dan Mirna kagum dengan isi rumah itu.
"Duduk Mirna. Aku tinggal sebentar ya."
"Udah panggil aja bos loe. Ternyata loe supir. Nama loe kalau di sini Tyo ya biar ngga ketahuan kalau loe jadi supir makanya di kantor di panggilnya Edi."
Edi hanya tersenyum. Dan melangkah ke dalam. Sementara Mirna duduk di ruang tamu.
"Bi, bi Sum."
"Iya tuan Tyo."
"Tolong tawarin minum sama tamu saya. Orangnya ada di depan. Sekalian siapkan makan malam ya bi."
"Baik tuan."
Edi pergi ke kamarnya. Selesai mandi dan berpakaian. Edi keluar dari kamarnya. Dan menghampiri Mjrna.
"Edi, mana bos loe! Gue mau cabut kalau ternyata bos loe belum datang."
"Sebentar, mungkin dia sedang mandi."
"Eh, kok loe udah ganti baju aja."
"Ya badan gue lengket dan tadi langsung mandi."
Tidak berapa lama bi Sum datang membawakan es coklat dan cake blueberry cheese.
"Silakan non, ini es coklat dan cake blueberry cheese nya. Tuan, ini kopinya. Oh iya, makan malamnya sudah siap. Tuan mau makan sekarang atau nanti."
"Sebentar-sebentar. Kok bibi manggil supir ini dengan sebutan tuan. Bukannya dia supir bi? Dan namanya kalau dikantor Edi"
"Maaf non. Tuan Tyo ini majikan saya. Nama Edi Sulistyo. Dan tuan Tyo bukan supir. Rumah ini juga rumahnya tuan Tyo."
__ADS_1
"Bibi tidak bohong sama saya kan?"
"Tidak non. Bibi tidak bohong. Ini benaran rumahnya tuan Tyo."
"Oh ok."
"Permisi tuan dan non, saya masuk untuk menyiapkan makan malam. Atau kalau mau bisa sekarang untuk makan malamnya."
"Gimana Mirna? Kamu mau makan sekarang atau nanti."
"Nanti dulu. Ada yang mau gue tanya sama loe."
"Ini sebenarnya rumah siapa?"
"Ini rumah gue."
"Mana mungkin dengan gaji loe, terus bisa punya rumah sebesar ini. Dan mobil itu tadi juga punya loe?"
"Iya Mirna. Ini semua punya gue."
"Loe bohong. Loe bohongkan?"
"Tidak, buat apa gue bohongin loe. Udah diminum dulu. Gue selain kerja di kantor bareng loe gue juga kerja trading."
"Oh ok. Jadi benaran ini semua punya loe."
"Iya. Gue sebenarnya jatuh cinta sama loe tapi loe udah menikah sama Ahmad. Ya gue ngga berani ngambil istri orang."
"Iya, apa perlu gue telpon Sekar biar loe percaya."
"Boleh."
Edi menelpon Sekar.
"Halo Sekar, apa kabar?"
"Baik Tyo. Loe gimana? Kapan loe nikah?"
"Belum tahu, belum ada yang mau sama gue."
"Hahahah, ngga mungkin ngga ada cewek yang ngga mau sama loe. Makanya rubah penampilan jangan terlihat kusut terus. Tyo, gue mau minta tolong. Loe tahu suami gue kan, mas Ahmad. Dia bilang dia kerja di Jakarta. Sempat pulang nengokin terus kasih uang ke gue dan orang tua gue. Janjinya Senin kemarin pulang. Tapi sampai sekarang belum datang."
"Gini aja, gue nanti minta loe kirimin photo suami loe. Gue coba bantu cari. Sama photo kopi KTP jadi siapa tahu teman-teman gue juga ada yang kenal."
"Boleh, nanti gue kirim. Karena kan gue lagi hamil. Gue pengen dia di sebelah gue nemenin gue, paling ngga PP Jakarta - Bogor masa tidak bisa."
"Ya loe sabar, nanti gue bantu ya."
"Iya makasih ya Tyo."
"Sama-sama, ya sudah loe istirahat ya. Jaga kandungan loe."
"Iya Tyo."
__ADS_1
Edi menutup telponnya.
"Nah loe dengar sendirikan? Gue ngga ada bohongin loe. Loe yang sudah dibohongin suami loe."
Tidak berapa lama Sekar mengirimkan photo Ahmad dan photo kopi KTP Ahmad.
Edi memberikannya kepada Mirna untuk dilihat. Mirna kaget ternyata Ahmad suami Sekar adalah Ahmad yang juga suami Mirna.
"Nah, gimana? Loe sudah percaya sekarang?"
"Tapi gue juga lagi hamil anaknya Ahmad. Dan dia memang punya istri yang lain. Yang saat ini akan proses cerai itu tetangga gue namanya mbak Tyas. Dia istri pertama Ahmad. Yang kedua meninggal, yang ketiga sudah cerai. Yang keempat berarti Sekar terus gue yang kelima."
"Bisa jadi loe yang kelima atau loe yang ke enam."
Mirna menangis. Ia kesal dengan dirinya sendiri. Edi yang sebenarnya mencintai Mirna memeluk Mirna dan menenangkan Mirna.
"Sudah loe ngga usah nangis. Jalani saja. Loe nikah secara sah atau gimana?"
" Gue sebenarnya nikah secara sah. Tapi Ahmad buat ktp baru agar statusnya perjaka."
"Ya sudah. Tapi loe serius loe hamil?"
"Ya kemarin sempat ke dokter kandungan. Tapi gue sendiri ngga berasa kayak orang hamil. Cuma gue ngga yakin."
"Ya sudah, Sekarang kita makan dulu nanti gue ajak ke dokter kandungan untuk dicek sekali lagi."
"Iya Edi atau Tyo. Terima kasih."
Edi mengajak Mirna makan. Setelah itu Edi mengajak Mirna ke dokter kandungan.
"Maaf sebelumnya Bu Mirna. Kami sudah cek ternyata bukan hamil. Rahim ibu kosong. Ibu tidak hamil. Jika ibu ingin mencari second opinion silakan. Supaya ibu lebih yakin lagi."
"Jadi sebenarnya saya tidak hamil dokter?"
"Tidak bu. Rahim ibu masih kosong. Dan tidak terjadi pembuahan. Tetapi ada kista di rahim ibu. Dan saya akan berikan obat untuk kista ibu. Agar ibu bisa hamil jika ibu ingin segera punya anak."
"Terima kasih banyak dokter."
Edi tersenyum mendengarkan penjelasan dokter kandungan.
"Gimana? Senang akhirnya kamu tidak hamil anaknya Ahmad?"
"Ya senang tidak senang karena tadinya kalau aku hamil aku akan pindah ke rumah Ahmad dan tidak tinggal di apartemen lagi. Berarti aku tetap akan tinggal di apartemen."
"Kamu mau tinggal di rumahku. Tapi bagaimana caranya? Karena kamu kan istri orang."
"Memangnya kamu mau sama aku? Aku sudah tidak perawan lagi?"
"Ya semua jawaban ada di kamu. Kamu maunya bagaimana? Aku antar kamu pulang ke apartemenmu.
"Iya Edi. Terima kasih. Kasihan Sekar, gara-gara aku. Ahmad tidak menemani Sekar yang jelas-jelas sedang hamil."
"Namanya jalan hidup. Ikuti saja."
__ADS_1