
"Tyas, nanti sore saya mau bicara sama kamu. Kita pulang berdua saja."
Pak Joe menghampiri Tyas yang baru masuk setelah jam istirahat.
Asep sudah sampai di rumah kembali. Asep mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah.
Sudah banyak saudara yang berkumpul dan mereka akan ada tahlillan untuk ibu-ibu pengajian jam 4 sore dan selepas isya untuk bapak-bapak.
Asep memberikan buah pisang yang tadi dibelinya kepada teh Maryam.
"Teh, bisa kita ngobrol?"
Asep segera mengambil kunci kamar kerja Ahmad di kantong celananya. Dan berjalan ke ruangan tersebut diikuti oleh teh Maryam yang sedang menggendong Malik. Dan mereka masuk ke dalam.
"Gimana Sep, ketemu sama Tyas?"
"Ketemu teh, tapi katanya Tyas sudah lama tidak bertemu dengan Ahmad apalagi menelpon atau menerima telpon dari Ahmad."
"Terus bagaimana? Lusa teteh balik pulang. Besok tahlillan hari ketiga. Kamu gimana? Masih mau tinggal disini? Berarti Malik sama Keisha, di jagain sama kamu sampai Ahmad pulang."
"Ngga bisa teh, besok hari terakhir Asep cuti. Selesai tahlillan Asep langsung ke pabrik."
"Nah Keisha sama Malik gimana? Teteh sudah kasih tahu kamu, teteh ngga bisa bawa Keisha dan Malik tinggal di rumah."
"Iya Asep tahu. Asep tadi berpikir Keisha dan Malik di titipkan saja ke Tyas. Sama almarhum teh Nur rumahnya besar terus sama yang Laila juga ada rumah. Berarti Tyas juga ada rumah walaupun bilangnya ngontrak, tapi Asep ngga percaya kalau Tyas ngontrak rumah. Mas Ahmad punya jabatan di kantor walaupun sudah diberhentikan. Gaji yang dikasih kemarin kalau Asep baca itu bisa untuk beli motor cowo yang cbr. Dan Mas Ahmad dapat 5 kali gaji dan uang apresiasinya, totalnya 275juta
"Astagfirullah banyak banget, itu uang semua Sep?"
"Iya teh Maryam. Itu uang semua lah. Terus ini untuk biaya tahlillan dari mana?"
"Teteh kemarin buka tas teh Nur ada uang 20juta cuma itu aja. Kan kepakai untuk penguburan teh Nur. Masih ada sisa sekitar 7 jutaan."
"Masih bisa ya untuk biaya tahlillan. Sama uang sumbangan?"
"Ada di baskom belum teteh buka dari kemarin."
"Teh, besok siapin baju-baju Keisha dan Malik. Jam 3 sore besok Keisha sama Malik, Asep titip ke Tyas. Biar Mas Ahmad yang urus saja."
"Terus rumah ini, gimana?"
"Asep coba cari surat rumah di ruangan Mas Ahmad. Terus perhiasan teh Nur?"
"Yang teh Nur pakai, ada anting, gelang 2 biji, kalung 1, itu aja. Yang lainnya teteh buka kotak perhiasannya ngga ada. Si Keisha pakai kalung dan gelang sama anting itu gimana? Apa teteh lepas aja? Buat pengobatan mak, nanti perhiasannya mau teteh jual."
"Ya udah lepas aja yang di Keisha."
"Punten banget sama teh Nur, harus begini jadinya."
"Asep pakai handphonenya Mas Ahmad dan teteh pakai yang punya teh Nur."
"Iya Sep. Ya sudah, sebentar lagi ibu-ibu pengajian datang. Teteh keluar dulu."
"Iya teh."
__ADS_1
Asep masih di dalam ruang kerja Ahmad. Ia membongkar laci satu per satu dan membuka tumpukan dokumen-dokumen. Tetapi yang dicari tidak di temukan.
Asep melihat tumpukan kertas di sebelah tempat sampah. Asep mengambil tumpukan kertas dan melihat ataupun membaca kertas-kertas tersebut. Saat mengambil kertas selanjutnya Asep menemukan photo Ahmad dan Sekar di Kebun Raya Bogor. Dan ada tulisan di belakang photo
"Mas Ahmad, aku mengandung anakmu. Orang tuaku sudah tahu dan mereka mau kita segera menikah. Orang tuaku minta tanggal 26 Januari. Dan orang tuaku sudah menerima uang yang Mas Ahmad berikan untuk biaya pernikahan kita."
Tanggal 26 kemarin, berarti saat teh Nur meninggal. Astagfirullah Al Adzim. Asep menangis meratapi tetehnya yang meninggal saat hari pernikahan Mas Ahmad dengan Sekar.
Asep sangat marah dengan Ahmad. Kesetiaan tetehnya telah dirusak oleh Ahmad dengan menikahi perempuan lain dan membohongi teh Nur juga almarhum ayahnya yang mengatakan bahwa Ahmad masih perjaka belum pernah menikah. Dan ternyata teh Nur adalah istri kedua.
Ningsih dan Gege menerima pesan dari Tyas, kalau ia tidak bisa pulang bareng mereka karena ada yang harus dibicarakan dengan Pak Joe di kantor.
Ningsih dan Gege pulang naik bis jemputan.
"Mbak Ning, Gege ngerasa Pak Joe lagi ngedekatin Mbak Tyas. Mbak Ning berpikiran yang sama ngga seperti Gege?"
"Ogah gue sepikiran sama loe. Pintar ngga gablek iya."
"Mbak Ning ditanya, jawabnya begitu sih."
"Biar ajalah Ge, kalau memang jodoh sama Tyas kenapa ngga? Ngga ada yang tahu Allah mau seperti apa sama hidup kita. Terima, ikhlas dan pasrah sama takdir yang diberikan Allah."
"Tumben omongan loe berisi Mbak, biasanya kosong."
"Auh ah susah kalau ngomong sama orang yang otaknya tipis kayak tripleks."
Gege dan Ningsih tertawa bareng dengan obrolan mereka berdua.
"Tyas, ayo kita jalan sekarang."
"Nanti saya kasih tahu, masuk dulu ke mobil."
Pak Joe dan Tyas masuk ke dalam mobil.
Pak Joe masuk ke parkiran di mall.
"Ayo Tyas, kita turun."
"Kita ke mall pak?"
"Iya kenapa?"
"Ngga papa pak."
"Saya dapat pesan dari Pak Arif untuk memotong rambutmu. Maksudnya di cukur. Eh kok di cukur? Ke salon. Maaf saya tidak pernah ke salon."
"Buat apa saya ke salon Pak? Lagi pula saya ngga pernah ke salon di mall, Pak. Harganya mahal."
"Kamu dibayarin sama Pak Arif. Jadi ngga usah mikirin biayanya."
Tyas dan Pak Joe masuk ke sebuah salon yang di sudah di pesan oleh Pak Arif.
"Oh jadi ini si non nya Daddy Arif." seorang pria lemah gemulai mendatangi Tyas.
__ADS_1
"Ayo sini, mami Diana buat cantik biar Daddy Arif makin ehem."
Tyas memandang Pak Joe dengan ekspresi takut.
"Ngga papa, ngga usah didengerin? Pak Joe berbisik di telinga Tyas.
Rambut Tyas yang sepunggung dipotong menjadi sebahu dan dilayer. Setelah itu di creambath dan terakhirnya mani pedi kemudian dilulur sambil di massage oleh pekerja yang lainnya. Tyas tadinya kuatir bahwa yang lulur dan massage mami Diana, ternyata seorang perempuan. Tyas menarik napas lega.
Setelah 3 am akhirnya selesai semua rangkaian paket di salon untuk Tyas.
Pak Joe baru datang ke salon. Saat Tyas potong rambut, Pak Joe pergi keluar.
Pak Joe terpana melihat Tyas yang lebih fresh dan semakin cantik.
"Pak Joe, kok bengong. Tyas sudah selesai. Dan Tyas lapar."
"Iya Tyas, kita makan dulu baru pulang."
Pak Joe dan Tyas berjalan ke parkiran mobil dan keluar dari area mall
Tidak berapa lama Pak Joe berhenti di rumah makan padang.
"Pak Joe, terima kasih banyak sudah membawa saya ke salon, mengajak saya makan di rumah makan padang ini."
"Sama-sama Tyas, besok terima kasih sama Pak Arif ya. Dan ini bungkusan nasi padang untuk Ningsih dan Gege. Dan ini untuk lauknya saja bisa di makan untuk besok kalian sarapan."
"Baik Pak Joe, terima kasih."
Pak Joe dan Tyas pulang ke rumah. Sampai rumah sudah jam 9 malam.
Tyas masuk rumah dan tidak lupa mengucap salam.
Gege yang masih menonton TV kaget melihat perubahan Tyas. Rambutnya pendek dan terlihat fresh.
"Amboi cantik kali mbak aku ini. Cem manalah laki-laki tidak klepek-klepek."
"Udah malam, jangan teriak-teriak. Ini dari Pak Joe dan Pak Arif." Tyas memberikan plastik yang berisi nasi padang.
"Ah paling juga pecel ayam. Mbak Ningsih keluar ini Tante Tyas bawa makanan katanya lapar."
Ningsih keluar kamar dan melihat Tyas dengan kaget.
"Kapan potong rambut?"
"Udah jangan bawel mbak Ning. Ayo makan."
"Makan apa Ge?"
"Ngga tahu. Gege belum buka plastiknya paling juga pecel ayam."
"Sudah makan saja dulu." Tyas berjalan ke arah kulkas dan memasukkan lauk untuk sarapan besok mereka bertiga.
"Mbak Ning, hari ini kita menang lotre. Eh Mbak Tyas menang lotre. Nasi padang Mbak Ning."
__ADS_1
"Sudah makan. Aku tidur duluan ya. Aku capek banget."
"Iya." Gege dan Ningsih menyahut bareng