
Pagi ini Ahmad tersenyum senang karena sudah 2 malam Ayu melayani dirinya.
Ahmad mengambil handphone dan mengganti kartu. Ia akan pulang ke Maryam hari ini, untuk melihat anak-anaknya, Keisha dan Malik.
Ahmad kaget saat melihat banyak pesan dari Maryam yang mengatakan bahwa Malik sakit.
"Halo Maryam! Gimana kondisi Malik sekarang?"
"Sudah mendingan mas. Kemarin sudah dibawa ke dokter. Mas Ahmad kapan pulang?"
'Kenapa nanya saya kapan pulang? Kamu pasti butuh uang dan alasannya uang habis karena buat ke dokter Malik?"
"I.. iya mas Ahmad. Kemarin Malik dua kali ke dokter yang berbeda."
"Maryam, kamu tuh bisa ngga sih ngatur uang yang sudah aku kasih! Setiap minggu minta uang, memangnya kamu pikir aku kaya? Uangku banyak? Aku disini lagi bekerja. Dan aku kasih uang ke kamu karena kamu telah jaga Keisha dan Malik. Mereka itu keponakan kamu! Anak dari kakak kamu Nur. Jangan sebentar-sebentar uang! Urus Keisha dan Malik yang benar jangan gosip ke tetangga dan menghamburkan uang yang saya kasih! Ngerti kamu!"
"Iya mas. Maryam minta mas Ahmad pulang karena Keisha dan Malik kangen sama mas Ahmad."
"Kalau aku pulang untuk ketemu Keisha dan Malik setelah itu aku pergi pasti kamu minta uang! Kamu saja kemarin tidak melayani suamimu. Padahal aku sudah kasih uang! Kalau mau uangku harusnya kamu melayani aku luar dalam. Jangan cuma dianggurin saja. Sudah aku lagi di hotel sama perempuan yang bisa memenuhi keinginanku."
Ahmad menutup telponnya.
Omongan Ahmad membuat Maryam sedih dan menangis.
Berarti selama ini mas Ahmad berpikir bahwa aku sama seperti psk? Jahat amat kamu, mas. Anakmu, kamu titipkan ke aku. Dan kamu bersenang-senang dengan perempuan lain.
Kemarin Sekar pulang ke rumah. Orang tuanya sudah tahu bahwa Ahmad sudah bilang cerai kepada Sekar saat di rumah sakit.
"Sekar, gimana kondisi kamu?"
"Ya sudah tidak sakit lagi bu. Ibu, Sekar sudah sendiri lagi. Ahmad kemarin sudah bilang cerai ke Sekar. Sekar sudah ikhlas menerima bahwa Sekar bercerai dengan Ahmad."
"Eh, ngga bisa gitu? Ahmad harus mengurus perceraian. Kalau tidak ada surat cerai, kamu itu masih menjadi istri Ahmad. Tidak bisa semudah itu."
"Ya nanti kalau Sekar sudah sehat. Sekar yang akan mengurus cerai. Sekar tidak mau berharap lagi dengan Ahmad. Karena kemarin Sekar juga keguguran jadi sekarang Sekar bisa menata hidup Sekar lagi supaya lebih baik dan jangan terperosok lagi ke lubang yang sama."
Erna yang baru keluar dari kamarnya langsung menyeletuk
"Tumben, otaknya udah ngga konslet lagi. Kemarin-kemarin konslet. Ngapain juga ngarepin Ahmad. Karena sudah kasih uang? Berasa habis manis sepah dibuang? Dengan Ahmad kasih uang itu sama saja merendahkan keluarga kita. Harusnya mikir dari awal. Gara-gara dikasih sosis pakai telor dua jadi konslet otaknya."
"Erna, kamu kalau ngomong jangan asal. Kamu ngga kasihan sama mbakmu?"
"Erna balikin bu. Apa mbak kasihan sama diri mbak sendiri? Apa mbak ngga sayang sama diri sendiri. Ini akibatnya sosis dan telor dua. Mending kalau telornya segede telor ayam, Telor puyuh aja masih lebih gede dari telornya Ahmad."
__ADS_1
"Ya ampun Erna. Memangnya kamu sudah pernah lihat dan megang telur Ahmad?"
"Ngga usah di pegang, banyak kok bu, kalau ibu mau lihat ada di mana-mana. Lagipula bukan suatu hal tabu untuk dibicarakan mengenai sosis dan 2 telor laki-laki."
Ibu dan Sekar akhirnya tertawa mendengar omongan Erna.
Tyas dan Ningsih sedang sarapan pagi ketika pak Joe datang.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'allaikumsalam, masuk pak Joe. Kita sarapan bareng."
Pak Joe masuk.
"Wah kalian sudah sarapan dulu. Padahal saya mau ajak kalian sarapan di luar."
"Ini pak Joe. Masih ada nasi goreng. Pak Joe bisa ikutan makan. Tadi Ningsih lupa kalau Gege di rumah sakit. Jadi dia buat nasi goreng lumayan banyak."
"Wah, boleh deh."
Pak Joe duduk di sebelah Ningsih. Mereka bertiga sarapan nasi goreng.
"Tyas, kamu yakin rabu besok hadir untuk sidang cerai?"
"Bukan, bukan begitu. Aku sedih kalau mengingat kejadian yang menimpa kamu karena perbuatan Ahmad. Harusnya Ahmad bersyukur dapat istri seperti kamu. Benar ngga pak Joe."
"Ya benar. Tapi semuanya tergantung sama Tyas. Apakah masih mau mempertahankan pernikahannya dengan Ahmad atau mau diselesaikan saja. Kita sebagai teman hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Tyas. Pilihan ada di Tyas sendiri."
"Nah benar itu. Ningsih setuju dengan pak Joe. Tapi ngomong-ngomong pak Joe kapan mengenalkan kita sama pacarnya pak Joe."
"Loh kok jadi merembet ke saya?"
"Ya siapa tahu pak Joe sedang menunggu seseorang membuka hatinya untuk pak Joe."
"Saya tunggu seleksi dari alam. Kalau Allah dan alam berkehendak saya punya istri ya syukur alhamdulillah. Kalaupun ternyata saya tidak punya istri ya syukur alhamdulillah. Yang terbaik menurut Allah saja."
Tyas menganggukkan kepala.
"Hari ini Tyas dan Ningsih ada acara kemana?"
"Saya nunggu kabar dari pak Arif. Rencananya hari ini jenguk Gege di rumah sakit."
"Oh iya, saya sampai lupa. Kalau gitu, saya permisi pulang. Terima kasih untuk nasi goreng nya. Enak. Kamu sudah cocok jadi istri, Ningsih."
__ADS_1
"Sama-sama Pak Joe. Nanti saya kabari kalau pak Arif sudah jalan ke sini."
"Ok, Ningsih, Tyas."
Pak Joe keluar dari rumah Tyas dan Ningsih.
"Ningsih, aku ke kamar dulu ya."
"Heheheh, sama. Ngga ada Gege sepi yah."
"Iya"
Tyas duduk di kursi.
Mas Ahmad, kamu apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja. Akhirnya sebentar lagi pernikahan kita akan selesai di meja sidang. Aku sudah tidak ada marah dan dendam lagi sama kamu mas. Tapi aku mau bercerai dari kamu. Semua janji kamu saat awal pernikahan kita sudah hilang dan tidak berbekas. Tetapi kamu menorehkan luka yang dalam di diri aku. Mungkin memang ini jalan hidup yang harus aku lewati. Aku sedang dapat tes dari Allah, apakah aku bisa naik kelas dalam hidup, atau akau akan tinggal kelas. Dan aku menginginkan aku naik kelas. Naif kalau aku bilang seandainya aku memilih Edo dan bukan kamu, mungkin hidup aku tidak seperti sekarang. Hanya Allah yang bisa menentukan jalan hidup aku.
Handphone Tyas berdering, ternyata dari Edo.
"Halo Tyas, apa kabar?"
"Eh Edo, baik. Kamu sendiri gimana?"
"Aku juga baik. Tyas, tetiba aku kepikiran kamu. Aku coba telpon kamu ke nomer yang lama ternyata tidak aktif. Aku ingat kamu pernah menelpon aku. Makanya aku telpon kamu sekarang."
"Ada apa, kok tiba-tiba kamu ke pikiran sama aku?"
"Tidak tahu Tyas, tadi terlintas saja di pikiran aku. Oh iya, hari ini kamu ada acara? Bisa tidak kita ketemuan."
"Nanti aku mau ke rumah sakit jenguk teman aku yang sedang dirawat."
"Wah, kalau gitu aku samperin kamu ke rumah sakit bagaimana?"
"Boleh, tapi jamnya tidak tahu jam berapa? Karena menunggu pacarnya teman di rumah ini. Kita akan berangkat bareng ke rumah sakit."
"Ngga papa, kabarin saja kalau kamu sudah berangkat dan kasih tahu di rumah sakit mana.
" Ok Edo. nanti aku kabarin ya. Makasih sudah telpon aku."
"Ok Tyas, sampai ketemu nanti ya."
"Ok, Assalamu'alaikum."
"Ok Wa'allaikumsalam."
__ADS_1