
"Pagi Mbak Tyas."
"Pagi Gege. Kamu sudah siap-siap berangkat kerja?"
"Iya Mbak. Tadi Mbak Ning sudah buatkan nasi goreng sama telor ceplok. Kita sudah sarapan. Mau bangunin Mbak Tyas, kata Mbak Ning ngga usah biar saja karena masih harus banyak istirahat."
"Pagi Tyas, Gege. Eh iya, tadi aku buat nasi goreng. Jangan lupa makan dan minum obat. Jangan mikir macam-macam. Kita berdua berangkat kerja dulu. Itu klakson bis jemputan sudah memanggil."
"Iya, kalian hati-hati yah."
Gege dan Ningsih sudah berangkat kerja.
Tyas makan nasi goreng yang sudah disiapkan oleh Ningsih.
Tyas merasakan hambar di nasi gorengnya dan teh manis yang dibuat Ningsih pun seperti air putih.
Mulut Tyas belum bisa merasakan apapun. Semuanya hambar. Tetapi ia harus makan karena harus minum obat.
Mirna terbangun dan sudah jam 7 pagi. Mirna bergegas mandi dan berpakaian.
Tumben pagi ini aku tidak mual seperti kemarin. Anak mami, jangan nakal ya. Hari ini mami mau kerja. Papi belum telpon mami sayang. Semoga papi baik-baik saja ya. Dan kita doa ya sayang supaya papi cepat pulang. Mirna mengusap perutnya. Dan keluar dari apartemennya.
Jam 08.30 Mirna sudah sampai kantor.
"Pagi mbak Mirna."
"Pagi mbak Tuti."
"Pagi Dion."
"Pagi mbak Mirna. Tumben sampai kantornya pagi biasanya jam 9 lewat hehehehe."
"Sekali-kali Dion."
Mirna menuju ke mejanya ternyata sudah ada Edi. Mirna tidak mengucapkan selamat pagi kepada Edi seperti yang dilakukan dengan yang lain.
Edi mendekati meja Mirna. Dan berbisik dengan Mirna
"Pagi pelakor."
"Edi, loe pagi-pagi buat orang senewen. Kenapa sih loe?"
"Ngga papa. Gue cuma bingung aja sama loe. Kok loe mau sih sama Ahmad. Dia istrinya banyak dan gue ngga mengada-ngada."
'Suka-suka gue lah. Emang kenapa? Emang loe sanggup biayain hidup gue? Emang loe bisa kasih lebih dari yang suami gue kasih?"
__ADS_1
"Bisa, kenapa ngga? Kalau gue bisa kasih yang lebih dari suami loe kasih apa loe mau?"
"Udah ngga usah banyak omong. Buktikan saja. Motor yang loe pakai aja butut. Gimana gue percaya. Gaji loe sama gaji gue juga ngga beda jauh. Gue tinggal di apartemen, nah loe? Rumah loe dimana aja gue ngga tahu."
"Oh, jadi kalau gue bisa buktikan loe mau sama gue?"
"Ya tergantung."
"Ok, jadi nanti loe pulang bareng gue. Gue kasih tahu rumah gue dimana. Setuju ngga?"
"Ok deal. Siapa takut."
"Ok. Gue ngga mau dengan alasan apapun ya."
"Iya, emang gue pernah kasih alasan yang ngga masuk akal?"
"Sip. Jangan kabur pulang ya."
"Iya Edi."
Edi senang akhirnya Mirna mau main ke rumahnya. Mirna tidak tahu bahwa Edi tidak mau terlalu show off dengan harta yang dimilikinya.
Handphone Tyas berdering. Ternyata dari Jerry
"Halo Tyas, apa kabar?"
"Ok, aku harap kamu segera pulih. Rencananya minggu depan hari Rabu kita akan sidang cerai. Apakah kamu sudah siap?"
"Iya siap Pak Jerry InsyaAllah minggu depan saya bisa menghadiri sidang."
"Ok. Joe ada di rumah kamu atau berangkat kerja?"
"Sepertinya hari ini Pak Joe berangkat kerja karena dari pagi belum datang ke rumah."
"Oh ok kalau begitu. Saya coba telpon Pak Joe. Biar minggu depan dia bisa mengantarkan kamu ke pengadilan."
"Baik Pak Jerry. Terima kasih atas bantuannya."
"Sama-sama Tyas."
Ya Allah, jika memang ini jalan terbaik untuk mengakhiri pernikahanku dengan Ahmad. Berikanlah petunjuk untukku. Sejak aku tahu pengkhianatan yang dilakukan Ahmad sebenarnya aku sudah menutup hatiku. Aku tidak mau pernikahanku berakhir. Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Tetapi banyak hal yang sudah dilakukan Ahmad terhadap diriku. Aku sudah memaafkan semua kesalahan Ahmad. Dan aku akhirnya mengakhiri pernikahan ini. Maafkan aku ya Allah yang tidak bisa menjaga pernikahanku dengan Ahmad.
Tyas meneteskan air mata. Banyak kejadian yang menyenangkan saat Tyas berpacaran dengan Ahmad sampai akhirnya ia memilih Ahmad untuk menjadi suaminya. Tetapi pernikahan yang sejatinya indah hanya dirasakan di awal pernikahan, 2 bulan kemudian Ahmad mulai tidak pulang dengan berbagai macam alasan dan Tyas percaya.
Tyas mengusap air matanya. Semua mas kawin yang diberikan Ahmad sudah habis diambil oleh Ahmad sendiri. Sudah tidak ada barang pemberian Ahmad di Tyas.
__ADS_1
Sayup-sayup terdengar azan sholat dzuhur. Ternyata sudah hampir jam 3. Tyas masuk ke kamar dan sholat. Tyas berusaha sholat dengan cara biasa. Selesai sholat Tyas merasakan kepalanya sakit. Tyas segera melepaskan mukena dan melipatnya juga merapikan sajadah. Tyas berbaring di kasur.
Jam 5 Sore, Ningsih dan Gege baru keluar dari kantor. Mereka segera berlari ke dalam bisa jemputan.
Edi menunggu Mirna yang masih menyelesaikan pekerjaannya dengan sabar.
"Loe masih lama? Atau sengaja loe lama-lamain?"
"Ini bentar lagi juga selesai. Kan dari tadi loe lihat gue kerja. Dan nanti jam 6 gue selesai."
"Jam kantor jam 5, gue tahu loe mau cari alasan."
"Loe ngga sabar amat sih. Gue lagi selesaikan kerjaan gue."
"Ok gue tunggu. Loe tadi pagi sudah deal. Dan loe ngga usah cari alasan laki loe mau jemput. Laki loe lagi pergi ke bini nya yang lain."
Mirna manyun mendengar omongan Edi. Sampai detik ini Mirna tidak percaya omongan Edi yang berusaha menjelek-jelek kan Ahmad.
Dan dia mengutuk dirinya yang tadi pagi setuju untuk ke rumah Edi.
"Edi, ayo sudah selesai. Tapi gue pakai rok gini. Gimana?"
"Ya loe tetap bisa naik motor gue dan pegangan sama gue. Gampang kan? Ngga usah dibuat ribet."
Mirna mengikuti langkah Edi yang keluar kantor. Untungnya sebagian teman-teman kantor sudah pulang. Mirna naik motor Edi dan duduk menyamping. Dengan terpaksa Mirna memegang perut Edi.
15 menit kemudian Edi memberhentikan motornya di parkiran liar. Edi memberikan uang kepada pemilik motor.
"Edi, kenapa berhenti dan kenapa motornya loe parkir disitu."
"Udah loe ikut gue aja."
Mirna mengikuti Edi ke parkiran mobil. Edi berhenti diantara dua mobil. Satu mobil adalah mobil kijang kapsul dan sebelahnya adalah mobil toyota lexus. Mirna mengira bahwa mobil Edi adalah kijang capsul sedangkan mobil Ahmad diatas mobil Edi.
"Ayo naik." Edi mengeluarkan kunci mobilnya dan mengajak Mirna masuk ke dalam mobilnya.
"Yang mana mobilnya? Kijang?"
"Ini mobil aku. Kamu ngga percaya? Ayo masuk. Edi berjalan masuk ke dalam mobil diikuti oleh Mirna."
Mirna masih terkejut ternyata mobil Edi yang toyota lexus bukan mobil kijang kapsul.
Sepanjang perjalanan Mirna masih menduga bahwa Edi bekerja sampingan sebagai supir.
Baguslah kalau Edi jadi supir pribadi. Siapa tahu bosnya bisa aku dekati dan aku akan meninggalkan Ahmad. Pastilah bosnya Edi uangnya lebih banyak dari Ahmad, jadi aku tidak usah bekerja lagi. Mirna tersenyum sendiri.
__ADS_1
Edi melihat Mirna yang tersenyum sendiri.
Kamu akan lebih kaget lagi melihat rumahku Mirna. Walaupun kamu sudah menikah sama Ahmad, aku pastikan kamu akan berpaling dari Ahmad. Dan aku bisa memiliki kamu.