
Tyas baru saja keluar dari ruangan Bu Sari. Ada bos besar dan beberapa tamu yang sedang berjalan dan melewati Tyas. Tetapi Tyas sempat melihat dari rombongan itu ada suaminya Ahmad. Di lain pihak Ahmad juga kaget melihat Tyas yang masih berdiri di depan ruangan Bu Sari.
Selama pernikahan mereka, Ahmad tidak pernah tahu bahwa Tyas bekerja di pabrik milik adik bosnya Ahmad. Lebih tepatnya Ahmad tidak mau tahu dimana istrinya bekerja. Yang Ahmad tahu bahwa istrinya kerja di pabrik di Tangerang.
Tyas segera berlalu setelah rombongan melewatinya. Ia segera mengganti seragam kerja dan memakai penutup kepala. Dan mulai bekerja. Tyas terlambat masuk ke ruang produksi beberapa menit.
"Mbak Tyas, tunggu! Mau ke kantinkan?"
"Iya, kan jam istirahat. '
"Kirain Mbak Tyas mau ke bagian QC."
"Ngga, aku mau makan. Memangnya ada apa di bagian QC."
"Tadi Pak Bambang kasih tahu ke kita semua, kalau kamu mulai besok tidak di produksi lagi tapi di QC." Ningsih memberitahu Tyas.
"Iya benar. Yang tadi aku dipanggil Bu Sari itu ternyata mulai besok aku dipindah ke QC".
"Selamat Mbak Tyas berarti naik gaji dong." Gege mengulurkan tangannya memberikan selamat kepada Tyas.
"Belum juga mulai di QC udah ngomongin naik gaji. Yang penting kerja dulu dengan baik mengenai naik gaji atau tidaknya berserah sama Allah."
"Amin Mbak Tyas, Amin." Ningsih dan Gege mengucapkan amin berbarengan.
"Makanya Ge, berserah sama Allah SWT, biar loe dapat laki-laki kaya jadi hidup loe biar kayak ratu minyak."
"Dih Mbak Ningsih, masa ratu minyak. Sama aja gue nikah sama tukang minyak keliling kayak dulu waktu gue kecil ada tukang minyak goreng keliling."
"Lah kan keseringan yang kita dengar raja minyak istrinya banyak berhubung loe maunya nikah sama laki-laki kaya jadinya loe yah ratu minyak. Kan serasi."
"Iya terus nanti yang bakalan jadi suaminya Gege keliling jualan minyak. Terus pas hujan lebat dia pulang, baru mau masuk rumah eh suaminya Gege ke samber petir? Gege lari untuk lihat suami Gege yang masih ada napasnya terus Gege bilang, papa bangun pa, bangun, nyebut pa, nyebut..."
"Terus Ge, suami loe ngga nyebut maksudnya masih bisa ngomong pas habis ke samber petir?"
"Nyebut lah Mbak Ning. Dan dia nyebut " MIIINYAAAK" Muka Gege gemas sama Mbak Ningsih.
"Hahahahahhahaha lucu loe, mana ada orang ke samber petir nyebutnya kayak gitu, pastilah bilang Astagfirullah Al Adzim karena masih hidup."
"Ye, secara kan suami gue jualan minyak pastilah dia teriak minyak... minyak.... kalau dia nyebut yang lain ibu-ibu ngga ada yang keluar rumah."
Tyas dan Ningsih tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Gege dan juga melihat ekspresi muka Gege.
Sudah-sudah ayo makan keburu telat.
__ADS_1
"Mbak Ningsih sih masa gue di bilang ratu minyak."
Ningsih masih membayangkan cerita Gege dengan senyum-senyum sambil berjalan menuju kantin
"Berserah dan pasrah sama Allah, minta suami yang bertanggung jawab, baik dan sayang sama kita. Mau bersama-sama dalam susah dan senang."
"Uhuuukkk... uhuuukkk." Ningsih terbatuk mendengar omongan Tyas.
"Minuuuummm minyak Mbak Ning!" Gege berteriak sambil berlari dan Ningsih mengejar Gege.
Tyas melihat kelakuan mereka dengan tertawa.
Mereka bertiga segera makan karena sebentar lagi bel akan berbunyi untuk mulai bekerja kembali.
Sudah jam pulang, Tyas dan Ningsih berjalan keluar dari area pabrik. Gege sudah pulang duluan saat bel pergantian shift.
"Tyas, aku ngga jadi nginap di rumahmu malam ini. Itu suamimu di sebrang jalan. Aku duluan ya sampai besok, jangan berantem."
"Iya Ning, hati-hati sudah malam."
Tyas menghampiri Ahmad yang baru kali ini menjemputnya bekerja.
"***.... "
Tyas belum menyelesaikan salamnya sudah dipotong oleh Ahmad.
Ahmad melajukan motornya dengan kencang dan Tyas merangkul perut Ahmad agar tidak jatuh. Sampai rumah, Tyas turun dari motor dengan gemetar. Tyas membuka pintu dan Ahmad langsung menerobos masuk membuat Tyas hampir terjatuh.
"Astagfirullah Al Adzim. Assalammualaikum." Tyas masuk ke dalam rumah
"Cepat masuk dan duduk!"
"Sebentar Mas, aku masuk dulu dan mau ambil minum."
"Ngga usah! Duduk!"
"Iya Mas."
"Sejak kapan kamu kerja disana? Kenapa kamu tidak kasih tahu saya! Jawab!"
"Mas Ahmad, aku sudah kerja disana sudah lama sejak menikah sama kamu karena jarak dari rumah ke pabrik tidak terlalu jauh. Aku sudah pernah kasih tahu Mas Ahmad, tetapi Mas Ahmad bilang terserah dan yang penting bisa bantu suami."
"Terus, kamu kerja di kantor atau di pabriknya!"
__ADS_1
"Tadi siang Mas Ahmad lihat aku di kantor karena tadi aku dipanggil sama supervisorku untuk urusan produksi setelah itu aku ke bagian produksi kerja. Aku ngga kerja di kantor nya tapi di pabrik bagian produksi."
"Memang itukan keahlian kamu, hanya bisa kerja di pabrik tidak akan pernah bisa kerja di kantor. Ditambah kamu ngga hamil-hamil bisa jadi kamu mandul!"
"Astagfirullah Al Adzim, Mas..."
"Kenyataannya Tyas, kita menikah sudah 5 tahun dan sampai sekarang kamu tidak hamil-hamil. Aku tidak mandul karena aku bisa punya anak dari perempuan lain. Dan aku tidak mau kamu pergi ke mall seperti kemarin lagi!"
"Tapi Mas, aku sudah jelaskan bahwa Gege yang mengajak aku."
"Tetap saja. Aku tidak mau istriku dan anak-anakku tahu kalau kamu juga istriku."
"Tapi Mas, aku kan juga...."
"Sudah, aku mau pulang! Jangan coba-coba kamu selingkuh dari aku! Ini uang pakai dengan baik!"
Ahmad melemparkan amplop coklat yang berisi uang ke pangkuan Tyas.
Ahmad segera berdiri dan keluar rumah. Menghidupkan motornya dan pergi.
"Aku kan juga istrimu yang sah, Mas Ahmad!" Tyas melanjutkan kata-katanya yang tadi sempat terpotong.
Tyas menutup dan mengunci pintu. Tyas mengambil amplop yang tadi diberikan dan menyimpan di lemari kamar. Tyas tidak membuka isi amplop tersebut. Ia mengambil baju ganti dan ke kamar mandi. Selesai mandi Tyas sholat isya.
Tyas merebahkan badannya dan perutnya merasakan lapar tapi Tyas terlalu capek untuk bangun dan makan. Besok pagi Tyas harus langsung ke bagian QC. Handphone Tyas berdering.
"Assalammualaikum Tyas, kamu sudah tidur?"
"Waalaikumsalam Ning, baru mau tidur. Ada apakah?"
"Gue di depan nih, bawa makanan buat loe, gue tahu loe belum makan. Gue ngga bisa lama cuma mau antar makanan. Keluar ya."
Tyas bangun dan keluar dari kamar menuju ke depan rumahnya.
"Ning, loe sama siapa?"
"Sama teman kontrakan. Nih makan, jangan sampai sakit. Besok loe udah di QC."
"Iya, makasih ya.".
"Gue ngga bisa lama. Gue balik ya."
"Iya, hati-hati."
__ADS_1
Ningsih segera pergi dengan temannya. Tyas masuk dan mengunci pintu. Ia membuka makanan yang dibawa Ningsih, ada pecel ayam dan tahu tempe. Tyas mengambil piring dan mengambil nasi separuh, tahu tempe. Sedangkan sisa nasi dan ayamnya Tyas masukkan ke dalam kulkas. Tyas makan seorang diri. Mulai seterusnya aku akan makan sendiri seperti ini tanpa ada suami.