Istri Suamiku

Istri Suamiku
H-1


__ADS_3

Tyas baru saja keluar dari ruang divisi, tiba-tiba handphonenya berbunyi.


"Halo Tyas. Ini Edo."


"Iya Do, ada apa?"


"Besok aku temani kamu sidang cerai ya."


"Ngga usah Do, aku tidak mau merepotkan kamu."


"Tapi kamu tidak merepotkan Tyas. Aku memang ingin menemani kamu lagipula saat sidang nanti kamu butuh saksi. Dan aku bisa kasih kesaksian mengenai rumah tangga kamu."


"Kok kamu yakin amat sih kalau saya nanti butuh saksi? Dan kalaupun memang harus ada saksi, saya tidak perlu kamu. Jadi tidak perlu repot dan berlagak jadi pahlawan buat saya."


"Tyas, aku hanya ingin membantu kamu."


"Ya membantu karena ada niat. Jika memang membantu karena ikhlas, saya dengan senang hati menerima tetapi membantu dengan ada niatan dan pamrih lebih baik tidak usah. Lagi pula saya punya saksi banyak jika memang harus ada saksi. Jadi terima kasih banyak. Saya sudah dijemput. Assalamu'alaikum."


"Wa'allaikumsalam."


Tyas menutup telpon dari Edo.


"Kamu kenapa Tyas?"


"Eh pak Joe. Tidak papa pak Joe."


"Siapa yang mau jadi saksi sidang ceraimu? Maaf, tadi saya tidak sengaja dengar."


"Edo, teman saya yang kemarin sempat datang ke rumah sakit."


"Oh.Sepertinya dia suka sama kamu Tyas."


"Ngga tahu pak Joe. Saya ngga mau mikirin hal seperti itu. Saya mikir seandainya besok bisa langsung cerai. syukur Alhamdulillah. Jadi saya bisa bebas dan bisa menata hidup saya kembali."


"Ya semoga saja. Saya kurang tahu kalau soal sidang cerai karena saya belum mengalaminya semoga tidak. Kamu pulang naik bis jemputan atau bagaimana?"


"Ya naik bis jemputanlah pak. Kalau tidak naik bis bagaimana saya pulang. Kalau gitu saya pamit pulang ya pak."


"Tyas, kamu bareng saya saja. Itu Ningsih baru keluar juga. Nah sekalian pulang juga bareng Ningsih dan saya."


"Tapi pak?"


"Sudah. Ningsih!"


Pak Joe berteriak memanggil Ningsih. Ningsih melihat pak Joe dan Tyas. Ia segera berlari ke arah mereka berdua.

__ADS_1


"Iya pak Joe. Ada apa?"


"Kamu sama Tyas, pulang bareng saya sekalian kita beli makanan. Pasti Gege kelaparan itu di rumah sendirian."


"Saya mah ayo saja pak. Ngga tahu ini Tyas. Tyas gimana?"


"Iya. Ayo pak Joe."


Mereka bertiga menuju ke mobil pak Joe.


Ahmad masih menunggu Maryam yang belum datang padahal sudah jam 5 sore. Dan sudah berkali-kali Ahmad menelpon tapi tidak diangkat oleh Maryam.


Setengah jam kemudian Maryam datang.


"Kamu kemana saja? Kenapa baru datang jam segini!"


"Saya kan harus urus anak-anak dulu mas. Lagipula saya juga mesti minta tolong tetangga sebelah untuk menjaga anak-anak saat saya ke rumah sakit."


Ahmad memberi uang kepada Maryam.


"Ini uang 5 juta. Untuk biaya rumah sakit sudah saya bayarkan juga depositnya. Kamu tidak usah jualan lagi. Saya malam ini harus pergi karena ada kerjaan besok pagi. Malam ini kamu yang jaga Keisha."


"Iya mas. Memangnya mau langsung berangkat."


"Iya. Saya harus segera berangkat. Saya ada rapat jam 5 tadi berhubung kamu belum datang makanya saya minta waktunya mundur. Kalau saya dapat uang kan juga buat kamu sama anak-anak. Tolong jaga Keisha dengan baik. Saya pergi dulu."


Ahmad segera pergi. Malam ini ia harus sampai di apartemen Mirna dan besok dia akan menghadiri sidang cerai dirinya dan Tyas.


Tyas, tidak semudah itu kamu bisa cerai dari saya. Jika kamu tetap berniat cerai, saya akan minta ganti rugi sama kamu sampai kamu tidak punya uang sama sekali kecuali kamu mau menyerahkan sertifikat tanah kamu.


Ya, Ahmad sudah mempunyai rencana untuk menggagalkan perceraiannya dengan Tyas. Ahmad tidak mau sampai Tyas menikah lagi dengan Edo ataupun laki-laki lain. Tyas harus tetap jadi miliknya.


Tyas, Ningsih dan pak Joe sudah sampai rumah sebelumnya mereka mampir untuk beli makanan.


"Alhamdulillah akhirnya kalian pulang juga. Gege pikir kalian tidak pulang karena ada Gege di rumah."


"Ngga mungkinlah Gege. Kita tidak sejahat itu sama kamu. Walaupun ada terlintas untuk ninggalin kamu sendirian di rumah sampai besok. Hahahahh."


"Kalian jahat banget. Kalian tidak tahu kalau aku sudah di putusin sama pacar aku. Dia mau nikah dengan perempuan lain yang sudah hamil duluan. Sakit rasanya. Apalagi tadi dia kesini dan bawa calon istrinya."


"Astaghfirullah al adzim. Maaf Gege, aku tidak tahu."


"Ngga papa mbak Tyas. Kan akhirnya pak Joe dengar juga. Mainnya sama aku kenapa yang hamil perempuan lain, hiks.... hiks... "


Gege menangis.

__ADS_1


"Ya sudah sabar. Mungkin memang harus begitu. Lebih cepat ketahuannya lebih baik apalagi kalian belum menikah. Coba kalau kejadian yang dialamin Tyas menimpa kamu. Apa kamu kuat menanggungnya. Jadi gila iya. Orang gila udah banyak ketambahan kamu nanti jadi penuh rumah sakit."


"Ningsih! Loe reseh banget sih dari semalam. Bukannya dihibur temannya yang sedang berduka cita, malah digangguin saja."


"Ning. Kamu jangan begitu sama Gege. Kasihan Gege. Harusnya dihibur. Nanti Ningsih akan hibur kamu dengan tarian ya. Ayo masuk. Pak Joe sudah belikan makanan. Kita makan bareng sama pak Joe juga."


Mereka berempat makan bareng. Dan setelau mengobrol dan bercanda. Gege sedikit demi sedikit mulai tertawa tidak seperti tadi yang mukanya kusut walaupun matanya masih sembab. Mungkin tadi siang Gege nangis terus.


"Tyas, Ningsih dan Gege, saya pamit pulang. Terima kasih untuk hari ini. Dan untuk Gege tetap semangat tidak selamanya mendung itu kelabu. Karena setelah mendung lalu hujan dan semua hal yang jelek terbawa oleh derasnya hujan."


"Pak Joe, kalau yang terbawa derasnya hujan sih ngga ya. Ngga akan terbawa pasti mengendap di tanah harusnya terbawa oleh derasnya banjir. Setelah itu orang pada lari menyelamatkan diri karena banjir. Dan baru deh berurai air mata lagi karena kebanjiran dan harus bersih-bersih rumah."


"Iya, tapi jangan terlalu diartikan secara harafiahlah Ge, diartikan secara batiniah saja."


"itu namanya nyesek banget b***. Loe mah ngga asik Ning. Orang sedih wajarlah kalau ngomongnya ngelantur."


"Iya tapi ngelantur loe kebangetan. Kalau sedih sedih aja. Ibarat kata lagunya naif. Kalau kau mati ku juga mati. Kalau gue nggalah. Kalau kau mati, innalillahi."


"Hush Ningsih. Kamu sama Gege setipe ya. Sukanya saling meledek terus jadinya berantem. Giliran itu kangen-kangenan."


"Itulah kebersamaan Tyas. Bukan begitu bukan Ge.?"


"Bukan. Eh ngomong-ngomong pak Joe mau pulang tuh mbak Tyas. Diantar sampai depan. Kasihan tahu."


"Hahahaha, santai saja. Jujur saya terhibur dengan kalian. Saya seperti mendapat saudara dan semuanya perempuan-perempuan cantik dan pintar."


"Pak Joe, situ yakin mau saudaraan sama kita? Ngga nyesel cuma jadi saudara sama mbak Tyas. Coba nyebut amit-amit deh nanti ada malaikat datang dicatat loh. Joe dan Tyas jadi saudara."


"Eh, ngga Ge. Tiba-tiba si cupid datang bawa tip-ex terus diganti sama panah asmara. Akhirnya menikah. Setuju ngga Ge."


"Iya gue setuju Ning."


Gege dan Ningsih tertawa bareng. Sedangkan Tyas dan pak Joe mukanya merah.


"Cie ada saus tomat di mukanya pak Joe dan mbak Tyas."


"Hahahah kalian berdua bisa saja. Ya sudah. Saya pamit pulang. Sudah malam. Kalian istirahat jangan teriak lagi ya Gege, nanti orang kampung sebelah datang."


"Toa kali mulut aku pak Joe."


"Sudah-sudah jangan di dengarkan Ningsih dan Gege bicara pak Joe. Mereka kalau malam memang agak anget dahinya."


"Hahahah. Ok. Assalamu'alaikum."


"Wa'allaikumsalam."

__ADS_1


"Kalian berdua benar-benar deh. Aku kan jadi tidak enak hati sama pak Joe.


__ADS_2