
Mirna menelpon Edi.
"Halo Edi. Aku mau minta tolong bisa?"
"Iya Mirna. Ada apa?"
"Akhirnya Ahmad menelpon aku. Dan dia bilang lusa dia akan balik ke Jakarta. Tapi aku tidak mau bertemu dengan Ahmad lagi. Bisakah aku menginap di rumahmu. Karena aku yakin besok pagi Ahmad pasti sampai sini."
"Ok, nanti aku jemput. Aku masih ada meeting. Aku kabarin saat aku sudah sampai ya. Kamu tenang saja."
"Iya, terima kasih Edi."
Entah kenapa Mirna yakin bahwa Ahmad akan datang besok pagi. Dan Mirna sudah tidak mau lagi melihat Ahmad.
Pak Arif mengajak Ningsih pergi. Ia akan membelikan cincin tunangan untuk Ningsih.
"Mas, kita mau kemana?"
"Nanti kamu akan tahu kita kemana. Yang pasti besok kamu tidak usah masuk kantor dan siap-siap ya."
"Memangnya besok ada apa? Bilang saja mas."
"Kita sudah sampai ayo turun."
"Ke toko perhiasan? Kita mau ngapain mas?"
"Ya beli cincin untuk kamu."
"Buat apa cincin. Kita kan belum menikah? Dan aku tidak minta cincin."
"Sudah ayo masuk, pilih cincin yang kamu mau."
"Maaf mas. Aku tidak pernah masuk ke toko perhiasan yang kelihatan mewah ini. Ngeri rasanya, apalagi harganya pasti mahal sekali."
"Aku punya cincin satu saja ini aku sayang-sayang. Karena aku belum bisa tepatnya belum mampu untuk beli cincin ataupun kalung.'
"Gemes aku sama kamu Ning. Aku akan belikan cincin untuk kamu. Sudah ayo."
Pak Arif merangkul Ningsih dan masuk ke dalam toko perhiasan.
"Pak Arif, apa kabar? Ada yang bisa saya bantu?"
"Sinta tolong carikan satu set perhiasan buat Ningsih."
"Baik Pak Arif."
Mbak yang menjaga toko perhiasan mengambil beberapa set perhiasan.
__ADS_1
"Mbak, ini perhiasan yang diminta Pak Arif. Mbak bisa pilih yang mana mbak mau."
Ningsih bingung melihat beberapa set perhiasan. Semuanya bagus dan cantik. Ningsih melihat Pak Arif yang sedang berbicara dengan seorang pria yang adalah pemilik toko perhiasan itu.
"Mbak, maaf aku bingung mau yang mana. Ini harganya berapa ya?"
"Kamu harusnya ngga usah nanya harga. Kamu kan simpanan pak Arif. Kasihan ya kamu. Kerja tuh yang benar bukan jadi simpanan om-om."
"Maaf mbak, saya bukan simpanan pak Arif. Saya pacarnya pak Arif."
"Ya sama saja. Mau pacar atau simpanan cuma ngejar hartanya. Lagipula mana mau pak Arif pacaran sama kamu. Paling kamu dipakai untuk senang-senang saja. Pak Arif sudah sering bawa perempuan kesini. Kalau mau tetap dikasih jatah uang sama pak Arif. Ya kamu harus bisa merawat diri. Orang kampung macam kamu tidak akan dilirik sama pak Arif kecuali servis kamu dikasur memuaskan pak Arif."
Ningsih tidak mau mendengarkan ocehan mbaknya. Ia menghampiri pak Arif.
"Mas, maaf aku tidak mau perhiasan daripada aku dibilang simpanan mas Arif. Mbaknya bilang bahwa mas Arif sering datang ke sini dengan perempuan lain dan dibelikan perhiasan. Mas, aku pergi ya. Maaf aku tidak serendah yang dibilang sama mbak itu."
"Jangan pergi. Ayo sini."
Pak Arif memegang tangan Ningsih dan menghampiri mbak yang tadi bicara dengan Ningsih."
"Kamu tadi ngomong apa sama Ningsih? Ningsih itu calon istri saya? Coba ulangi omonganmu lagi. Saya mau dengar. Kalau kamu tidak mau bicara jujur. Saya akan bicara dengan bosmu. Kebetulan tadi saya sedang bicara dan calon istri saya bilang bahwa kamu sudah menghina dia dengan mengatakan simpanan saya. Apa benar."
"Tidak pak Arif, saya tidak bicara seperti itu. Mbaknya saya tanya mau yang mana? Dan mbaknya tanya harganya berapa?"
"Benar kamu bicara seperti itu Ningsih."
"Mbak Ningsih ya? Saya tidak bilang seperti itu ya. Kamu sengaja fitnah saya? Biar saya di pecat gitu? Kampungan kamu pakai ngadu-ngadu segala."
"Gunawan, sini. Kamu punya anak buah ternyata kurang ajar. Kamu mau pecat atau diberikan sanksi!"
"Sabar, sabar. Saya tadi sudah dengar semuanya. Coba kamu jawab jujur. Apakah kanu sudah menghina calon istri pak Arif?"
"Saya tidak menghina Koh. Saya bilang, tidak usah tanya harganya berapa, simpanan saja pakai tanya harga. Saya juga bilang kalau kerja yang benar jangan jadi simpanan om-om. Saya tidak bilang pak Arif sebagai om-om. Dan saya bilang pak Arif mana mau sama perempuan kampung kayak mbak Ningsih. Kecuali kalau servisnya mbak Ningsih memuaskan pak Arif."
"Ok Sinta, kamu saya pecat. Karena kamu sudah bicara tidak sopan dan menuduh bu Ningsih sebagai simpanan."
"Tapi koh, kenapa saya harus di pecat. Memang benarkan mukanya mbak Ningsih seperti orang kampung mau di dandanin kayak gimana juga tetap aja orang kampung. Rejekinya aja yang bagus pak Arif mau sama perempuan kampung. Tidak usah dipecat. Saya akan keluar sekarang juga."
"Bagus kalau gitu. Silakan pergi dan tidak usah kerja lagi di sini."
Sinta melepaskan semua atributnya. Dan berbisik kepada Ningsih.
"Sekali p****** tetap saja p******."
"Heiiii, sudah sana pergi!"
Sinta keluar dari toko perhiasan.
__ADS_1
"Maafkan atas kejadian tadi pak Arif dan Bu Ningsih."
"Lain kali kalau cari karyawan dilihat dulu mannernya."
"Padahal Sinta itu karyawan lama. Baru kali ini dia berulah."
"Ani, tolong ambilkan satu set perhiasan buat pak Arif."
"Iya koh."
Ani masuk ke dalam ruangan. Beberapa karyawan yang lain berbisik-bisik. Mereka tahu bahwa sebenarnya Sinta suka sama pak Arif. Makanya mereka kaget saat Sinta berani bicara seperti itu kepada calon istri pak Arif.
"Ini koh."
"Arif, ini aku berikan kepada kamu satu set perhiasan berlian untuk calon istrimu, bu Ningsih. Maafin atas kejadian tadi dan membuat bu Ningsih menjadi malu."
"Aku tetap bayar satu set perhiasan ini. Ningsih kamu suka ini atau kamu mau yang lain?"
"Yang ini saja mas. Aku bingung sendiri."
"Ya sudah aku ambil ini untuk Ningsih. Berapa?"
"Tidak usah Rif. Ini permintaan maaf aku sama kami dan calon istrimu."
"Ok, nanti aku transfer uangnya. Terima kasih."
"Ya sama-sama. Tunggu sebentar biar disiapkan dan dikasih sertifikat keaslian berlian ini."
"Ok"
"Memangnya kapan rencana kalian akan nenikah?"
"Secepatnya. Umurku sudah tidak muda lagi. Kasihan nanti kalau aku punya anak. Bapaknya sudah tua."
"Hahahah, bisa aja. Kamu masih muda dan gagah."
"Iya ok gagah, muda tidak lagi. Nah kamu sendiri anaknya sudah besar-besar. Aku sampai sekarang belum punya anak."
"Nantilah, makanya jangan lama-lama. Segera menikah."
Ani memberikan bungkusan satu set perhiasan dari berlian juga sertifikatnya.
"Ok Gunawan. Aku pamit ya. Terima kasih."
"Sama-sama Rif. Jangan kapok kesini lagi ya Bu Ningsih. Aku doakan kalian segera menikah dalam waktu dekat."
"Amin."
__ADS_1
Pak Arif dan Ningsih berjalan keluar dari toko perhiasan.