Istri Suamiku

Istri Suamiku
Mama Alida


__ADS_3

Akhirnya pertunangan Jerry dan pacarnya selesai. Mamanya Joe dan Jerry menghampiri Tyas dan Joe.


"Joe, jadi kapan kamu dan Tyas akan menyusul Jerry. Mama maunya kalian menikah barengan, karena kalian berdua kembar dan sudah cukup umur."


Joe menjadi serba salah karena mamanya langsung bicara seperti itu di depan Tyas. Dan Tyas kelihatan bingung dengan ucapan mamanya pak Joe.


"Ini Tyas kan? Yang kamu bicarakan sama mama? Kenalkan saya Alida, kamu Tyas kan?"


Alida menyodorkan tangannya ke Tyas dan Tyas menyambut tangan mamanya Joe dan menganggukan kepalanya.


"Iya tante, saya Tyas. Teman pak Joe dan pak Jerry juga."


"Joe pasti tidak mau menjawab pertanyaannya mama kan? Kamu suka sama Joe, Tyas? Kalau memang suka dan menerima Joe, lebih baik segera di percepat pernikahan kalian. Tidak perlu bertunangan seperti Jerry. Dan 3 bulan lagi Jerry menikah. Tante mau Joe dan Jerry segera menikah. Apalagi kalian kan sudah cukup lama berkenalan mau sampai kapan? Pernikahan itu siap tidak siap ya harus segera dilaksanakan supaya jangan menimbulkan fitnah. Gini saja, nanti tante akan bicara lagi sama Joe untuk datang ke rumah orang tuamu dan melamar kamu."


Joe hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatak karena omongan mamanya ke Tyas. Sedangkan Tyas hanya bisa tersenyum dan melihat ke arah Joe dengan kebingungan.


"Ma, ini acaranya kan sudah selesai. Aku sama Tyas segera balik ke Jakarta."


"Kenapa harus buru-buru balik? Kan baru selesai. Kamu jangan macam-macam loh Joe."


"Ya ampun mama, ngga mungkin Joe macam-macam dan membuat malu keluarga terlebih mama." Joe tahu apa yang jadi pemikiran mamanya.


"Ya kali, kan mama tidak tahu apalagi umur kamu sudah cukup. Bagusnya Jerry sudah tunangan tapi kamu? Tidak ada gerak sama sekali."


"Iya inikan Joe sudah datang. Joe sama Tyas pamit pulang ya ma."


"Ya. Tyas, jaga Joe baik-baik ya."


"Baik tante. Tyas pamit tante. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Nanti tante telpon kamu ya Tyas."


"Iya tante."

__ADS_1


Tyas berjalan bersama Joe keluar dari gedung tempat Jerry bertunangan.


"Tyas, maafin mama ya dengan perkataan yang tadi." Muka Joe masih terlihat kaku. Joe tidak menyangka bahwa mamanya akan bicara seperti itu dengan Tyas.


"Tidak papa pak Joe. Saya ngerti kok. Keinginan orang tua yang mau melihat anaknya segera menikah. Dan tadi terlihat kalau mamanya pak Joe senang sekali melihat pak Jerry tunangan. Nah tinggal pak Joe kapan nih akan tunangan dengan perempuan itu."


Lagi-lagi pak Joe menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya nantilah, lagipula saya belum berani untuk bilang langsung ke perempuan itu. Takut salah paham."


"Kenapa pak Joe harus takut? Kan pak Joe belum mencoba bicara isi hati pak Joe dengan dia."


Aduh Tyas, masa kamu tidak tahu sih siapa perempuan itu. Malah tadi mama dengan gamblang menyebut nama kamu. Apa Tyas pikir, perempuan itu bernama Tyas juga sama seperti dirinya. Dan pasti semalam Jerry sudah cerita banyak sama mama kalau hari ini aku akan datang dengan Tyas.


Jadi perempuan yang pak Joe suka namanya sama dengan aku. Tadinya aku pikir diriku. Hahaha ngarep banget jadi istrinya pak Joe. Mana mau lah pak Joe dengan aku yang sudah pernah menikah.


Pak Joe dan Tyas terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Tyas, terima kasih sudah mau datang ke pertunangan Jerry. Itu makanannya dibawa. Jadi kamu sama Ningsih bisa makan bareng dan bisa juga untuk kalian sarapan beaok. Selamat malam Tyas."


"Iya pak Joe. Terima kasih banyak ya. Salam buat mamanya pak Joe. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Iya nanti saya kasih tau mama dapat salam dari kamu."


Tyas keluar dari mobil pak Joe dan masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam.


"Tyas, sudah pulang? Aku pikir kamu menginap di Bandung."


"Nggalah Ning, mau nginap di mana? Nah kamu tumben jam segini ada di rumah? Kan malam minggu kenapa tidak pacaran sama pak Arif."


"Sudah tidak boleh pacaran lagi ya, kan sudah mau menikah harus di pingit. Ketemu lagi nanti setelah ijab kabul selesai."


"Hahahah, gimana bisa ngga ketemu sama pak Arif. Kamu kan satu kantor sama pak Arif."

__ADS_1


"Iya sih, tapi kan beda ruangan. Oh iya Tyas, kamu jadi mengajukan pengunduran diri dari pabrik? Apa tidak sayang? Kamu kan sudah lama bekerja disana?"


"Aku mau cari suasana yang baru Ning, pengalaman baru. Dan mulai hidup yang baru. Ya di bilang sayang tidak sayang dan juga ada perasaan tidak enak hati sama pak Arif yang sudah baik banget sama aku. Jarang-jarang ada bos seperti pak Arif."


"Hehehehhe, iya sih Tyas, mumpung kita masih muda ya, harus punya banyak pengalaman dalam hidup biar bisa lebih baik lagi dari kemarin."


"Iya bu bos."


"Iih, apaan sih kamu manggil aku bu bos. Aku Ningsih ya, teman, sahabat, saudara kamu."


"Lah tapi sebentar lagi kamu kan jadi bu bos."


"Hmmm, mungkin kamu melihatnya hidupku beruntung ya Tyas? Padahal sebenarnya saat ini adalah persiapan ujian negara yang harus aku hadapi sampai tua nanti."


"Hahahah kok ujian negara sih. Macam sekolahan saja. Kan namanya orang hidup pasti ada ujian hidup untuk naik kelas masa mau tinggal kelas terus."


"Ya sama seperti kamu ya Tyas, yang akn ujian besok Senin. Mengajukan surat pengunduran diri. Terus rencananya kapan kamu akan menyusul aku dan pak Arif."


"Maksudnya menyusul apa?"


"Menyusul nikah lah. Hubungan kamu sama pak Joe bagaimana?"


"Aku baru saja cerai, masa mikir nikah lagi. Malu sama kertas cerai, tanda tangan pak Hakim saja belum kering. Kamu nih ada-ada saja sih."


"Loh jadi tadi ke Bandung, kamu tidak sekalian tunangan sama pak Joe?'


"Aneh deh kamu Ning. Sudah, aku mau masuk kamar mau mandi. Badanku lengket semua. Ini makanan, besok tinggal dipanasin bisa buat kita sarapan besok."


Tyas memasukkan kantong makanan ke dalam kulkas dan masuk ke dalam kamar. Sedangkan Ningsih masih di luar duduk di sofa depan TV.


Selesai mandi dan sholat, Tyas duduk di pinggir tempat tidur.


Aku masih ingat omongan mamanya pak Joe. Maksudnya apa ya? Jangan ge-er Tyas, bisa jadi Tyas yang lain bukan kamu. Mana ada orang tua yang setuju anaknya menikah dengan janda apalagi anaknya belum pernah menikah. Ya semoga pak Joe bisa mengungkapkan isi hatinya terhadap perempuan itu. Aku cuma bisa mendoakan saja.

__ADS_1


__ADS_2