Istri Suamiku

Istri Suamiku
Keceplosan


__ADS_3

Ahmad keluar dengan Mirna untuk ke ATM dan menstransfer uang ke Maryam. Mirna melihat uang yang ditransfer oleh Ahmad sebanyak 3,5 juta.


Maryam sudah menerima pesan dari Ahmad bahwa ia mentransfer uang sebesar 3.5juta Maryam tersenyum senang.


Ahmad memberikan uang kepada Mirna dan mengajak Mirna membeli baju juga perhiasan dan setelahnya mereka makan di restoran. Mirna tersenyum senang mendapatkan uang, baju dan perhiasan


"Sayang, besok aku harus berangkat tidak jadi minggu depan dan hari Jumat depan aku sudah balik ke rumah."


"Iya mas Ahmad. Besok berangkat jam berapa?"


"Jam 10 pagi. Kamu tidak marahkan karena ternyata waktunya jadi maju bukan minggu depan."


"Ngga mas. Aku ngga marah."


Besok Ahmad akan ke Bogor untuk bertemu Sekar dan mengajak Sekar pindah ke rumah yang ditempati oleh Laila. Sedangkan rumah yang ditempati oleh Nur akan Ahmad jual. Ahmad tidak mau bolak balik Jakarta Bogor. Setidaknya nanti Ahmad bisa kasih alasan kepada Mirna.


Tetapi Ahmad lupa bahwa Ahmad sudah bilang sama Mirna bahwa rumah yang akan ditempati oleh Mirna adalah rumah Laila.


"Mbak Ning, kenapa loe? Kok cemberut ngga biasanya loe cemberut kayak gini."


"Ngga papa Ge, gue kangen sama Tyas. Kira-kira berapa lama ya dia di rumah sakit. Dan kasihan sama Pak Joe yang jagain Tyas sampai sekarang. Kita sebagai sahabatnya malah tidak pernah jagain Tyas."


"Besok Gege libur. Gege bisa gantikan Pak Joe. Pulang kerja nanti Gege langsung ke rumah sakit."


"Ya, berarti gue sendirian di rumah. Ya sudah, gue ikut jagain Tyas nanti malam bareng loe. Eh tapi loe benaran jagain Tyas atau nanti loe malah pacaran dan nginap di kost pacar loe?"


"Ngga mbak Ning, gue lagi palang hijau. Kagak mungkin bisa lah diajak sama pacar gue."


"Ge, loe insyaf kenapa? Malu loe. Sholat mah sholat tapi berbuat zina mah tetap."


"Udah ah, gue ngga suka kalau loe udah ngomong kayak gitu. Urusan gue sama Tuhan ya urusan gue bukan urusan loe."


"Gue sebagai teman, sahabat, kakak loe mengingatkan untuk tobat. Jangan lagi kayak gitu. Iya kalau nanti loe nikah sama dia. Kalau ngga gimana coba?"


"Makasih udah diingatkan. Tapi urusan pribadi gue ngga usah di ganggu gugat."

__ADS_1


"Iya ngerti, tapi jangan gitu. Memang itu urusan loe? Tapi loe ngga takut kalau nanti Allah kasih azab ke loe. Gue juga bukan orang baik dan taat sembahyang kayak Tyas, sholat gue masih bolong-bolong tapi gue ngga kayak loe yang sorry free. Loe mah sama kayak Ahmad, diumbar kemana-mana. Bedanya dia laki loe perempuan."


"Mbak Ning, jangan buat gue naik darah ya. Gue cuma sama pacar gue. Ngga menclak-menclok kemana-mana. Cuma sama pacar gue. Emang Ahmad p***r nya diumbar. Kalau jadi itu anaknya banyak banget di mana-mana kayak tikus."


"Nah makanya, kamu mau kayak gitu?"


"Ya nggak lah. Gege belum segila itu mbak Ning."


"Ya memang belum gila, tapi kayak orang kecanduan. Giliran nanti hamil dan belum nikah baru deh nangis-nangis."


"Iya Mbak Ning. Mungkin Gege harus putus sama dia biar ngga melakukan hubungan suami istri tapi gimana ya caranya?"


"Ngga usah putus. Yang penting dari dalam diri kamu dulu ada kemauan tidak untuk stop. Kalau kamunya cuma bilang mau di bibir tapi hatinya masih pengen ya susah. Jatuhnya malah jadi bubar semuanya."


"Salah mbak Ning, jatuhnya tuh pasti sakit."


"Kok sakit?"


"Ya elah, orang kalau jatuh pasti sakit. Mana ada orang jatuh ngga sakit, mau kata jatuhnya di tempat tidur terus ngga sengaja kepalanya kebentur tembok kan tetap sakit."


"Iiiihhh, kamu tuh diajak ngomong benar juga malah jawabnya gitu terus."


Sementara di rumah sakit. Tyas baru selesai mri dan kembali ke ruangannya. Pak Joe masih setia menemani Tyas membuat Tyas menjadi tidak enak hati


"Pak Joe, kalau besok Pak Joe mau istirahat di rumah tidak papa. Saya bisa sendiri. Saya merasa tidak enak hati karena Pak Joe jadi tidak bisa bekerja dan istirahat karena menemani saya di rumah sakit."


"Ngga papa Tyas. Pak Arif yang minta agar saya menunggu kamu selama di rumah sakit. Lagi pula saya ngga masalah kok kalau harus nungguin kamu sampai kamu diperbolehkan pulang."


"Maaf Pak Joe, saya malah jadi beban buat Pak Joe."


"Tidak Tyas, saya tidak merasa kamu jadi beban buat saya. Even kamu nanti jadi istri saya pun juga bukan beban."


Pak Joe menyadari ucapannya yang keceplosan.


"Maaf Tyas, maksud saya. Kalau nanti suatu saat saya punya istri dan dia sakit sampai harus di rawat dirumah sakit, saya tetap akan menjaganya. Karena biar bagaimana pun istri itu bukan beban untuk suami. Tetapi pendamping hidup dan harus bisa saling melengkapi dalam keadaan sehat maupun sakit sampai maut memisahkan."

__ADS_1


"Iya Pak Joe. Seharusnya yang menjaga saya di rumah sakit suami saya. Tapi entah dimana suami saya sampai akhirnya Pak Joe yang menunggu saya di rumah sakit."


"Sudah Tyas, jangan terlalu banyak pikiran. Lebih baik sekarang kamu istirahat. Agar bisa segera sembuh. Memangnya kamu tidak kangen dengan Ningsih dan Gege."


"Kangen Pak Joe. Iya, saya tidur ya Pak Joe."


Tyas memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Tetapi pikirannya ke mana-mana."


Joe yang duduk di sebelah tempat tidur Tyas hanya bisa memandangi wajah Tyas. Ingin rasanya Pak Joe memegang tangan Tyas tapi ia tidak mau Tyas terganggu tidurnya. Pak Joe berusaha menahan dirinya.


"Tyas kenapa?"


"Ngga papa Pak Joe. Saya ngga bisa tidur. Rasanya badan pegal karena kalau mau miring kiri atau kanan, kepala langsung sakit sekali."


"Sabar dan banyak doa. Ambil positifnya saja bahwa kamu saat ini diminta Allah untuk istirahat dari semua rutinitas kamu selama ini. Dan tidak perlu memikirkan Ahmad untuk saat ini. Belajar untuk menjadi egois sementara waktu."


"Iya Pak Joe. Terima kasih atas sarannya."


"Sama-sama Tyas. Saya mau sholat dulu."


"Iya Pak Joe."


Joe segera masuk ke kamar mandi untuk wudhu dan ia sholat dzuhur."


Tidak berapa lama Jerry menelpon Joe


"Joe, hari ini surat panggilan dari pengadilan untuk Ahmad sudah diantar ke alamat istrinya hari ini. Jadwal sidang pertengahan bulan depan."


"Ok, baguslah setidaknya nanti bisa selesai dengan cepat."


"Iya, biar salah satu diantara kita bisa segera menikah."


"Kamu saja duluan. Aku masih harus menata semuanya biar tidak terkesan aji mumpung. Kesempatan kedua tidak boleh dilewatkan harus bisa mnyakini dirinya."


"Ya sudah Joe. Aku menelpon untuk memberitahu sama kamu. Tyas belum bisa ke mana-mana juga kan."

__ADS_1


"Yup. Terima kasih banyak Jer."


Joe menutup telpon dari Jerry. Dan ia melihat Tyas sudah tertidur.


__ADS_2