Istri Suamiku

Istri Suamiku
Gege meninggal


__ADS_3

Tyas pulang bareng pak Joe. Sedangkan Ningsih dengan pak Arif.


"Tyas, kamu mau makan apa?"


"Kalau makanannya di bungkus saja bagaimana pak? Sekalian untuk Gege. Kasihan Gege, pak."


"Ok. Terus mau beli makanan apa?"


"Apa saja pak. Yang penting nasi."


"Ok, kita beli nasi padang saja ya. Gege kan makannya banyak heheheh."


"Iya pak."


Selesai beli makanan, Tyas dan pak Joe balik pulang.


Tyas mengetuk pintu setelah mengucapkan salam tetapi tidak ada jawaban dari Gege. Tyas bingung lampu depan tidak menyala.


"Kenapa Tyas?"


"Dikunci pak. Tumben Gege mengunci pintu biasanya juga tidak."


Tyas mengeluarkan handphone dan menelpon Gege tetapi tidak ada jawaban. Tyas ingat bahwa ja membawa kunci cadangan.


Tyas membuka pintu ternyata lampu dalam rumah tidak menyala.


Pak Joe membantu Tyas dengan menyalakan senter dari handphonenya.


"Tyas, kok bau rumahnya aneh. Seperti bau darah. Ada apa ya?"


"Iya pak. Perasaan saya tidak enak."


Tyas menyalakan lampu rumah.


"Gege, Gege. Kamu dimana? Keluar kamar yuk. Aku sudah pulang nih, bawa makanan. Kita makan bareng pak Joe. Gege. Gege."


Tyas mengetuk kamar Gege. Tetapi tjdak ada jawaban.


"Mungkin Gege sedang keluar. Kita tunggu saja. Dan biasanya kalau di keluar rumah ijin tidak? Atau kasih tahu kamu atau Ningsih."


"Gege selalu pamit kalau mau keluar rumah pak. Perasaan saya tidak enak. Saya coba buka kamarnya saja pak."


Tyas membuka kamar Gege dan saat membuka kamar menyeruak bau anyir.


"Aduh, kok ini bau anyir." Tyas segera masuk dan menyalakan tombol lampu.


"Astaghfirullah al adzim. Gege, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un"


Pak Joe mendengar teriakan Tyas langsung masuk ke kamar Gege.


Pak Joe melihat Tyas yang menangis dan duduk dekat Gege.


"Astaghfirullah. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."


"Pak Joe. Gege pak Gege."

__ADS_1


"Iya Tyas. Saya telpon ambulan. Biar di periksa oleh dokter."


"Ngga usah pak. Ini Gege sudah meninggal. Mukanya pucat dan badannya sudah dingin."


"Iya Tyas. Tapi kita harus bawa ke rumah sakit. Biar tahu jam, Gege sudah meninggal berapa lama. Dan dia menyayat pergelangan tangannya dan minum apa karena mulutnya berbusa.


"Iya pak Joe."


Pak Joe menelpon ambulan dan menelpon Ningsih. Untuk mengabari bahwa Gege meninggal bunuh diri.


Tyas terduduk menyender tembok dan memperhatikan jenasah Gege.


Gege, kenapa kamu seperti ini. Kamu bilang kamu mau cerita sama aku. Tapi sekarang? Gimana kamu mau cerita sama aku?


Tyas menangis.


Ningsih segera pulang ke rumah setelah mendapatkan telpon dari Pak Joe yang mengatakan bahwa Gege meninggal.


"Ningsih, benaran yang dikatakan si Joe bahwa Gege meninggal karena bunuh diri?"


"Iya mas. Tadi pak Joe kasih tahu seperti itu."


Ningsih berbicara sampai gemetaran.


"Ya kamu doakan semoga Gege tenang. Kamu yang sabar."


Ningsih menganggukkan kepalanya.


Bu Agnes dan beberapa orang pabrik datang ke rumah Tyas setelah mobil ambulan datang. Ningsih dan Tyas ikut ke rumah sakit bersama pak Arif sedangkan pak Joe dirumah membereskan kamar Gege dibantu oleh Bu Agnes.


Saat membereskan kamar Gege. Pak Joe melihat surat yang dituliskan oleh Gege untuk Ningsih dan Tyas. Pak Joe segera melipat surat tersebut.


Tyas dan Ningsih terdiam selama perjalanan ke rumah sakit.


Pak Arif menelpon pak Joe.


"Halo Joe, kamu segera ke rumah sakit. Di rumah ada Bu Agnes dan orang-orang pabrik kan?


"Iya pak Arif. Saya segera ke rumah sakit. Biar bu Agnes dan teman-teman yang lain menyiapkan tempatnya. Dan orang HRD sudah menelpon keluarga Gege, kemungkinan jenasah Gege akan dikuburkan di kampung."


"Ok kalau begitu. Saya tunggu kamu ya."


"Baik pak."


Pak Joe menutup telponnya dan meminta bu Agnes untuk menyiapkan tempat dan juga orang yang untuk memandikan jenasah.


Tyas, Ningsih dan pak Arif menunggu dokter yang mengecek jenasah Gege. Tidak berapa lama pak Joe sudah sampai rumah sakit.


"Joe, bagaimana? Di rumah sudah disiapkan tempatnya?"


"Sudah pak. Dan tadi orang HRD sudah menelpon saya, Keluarganya akan sudah dalam perjalanan ke sini dan kemungkinan besok pagi akan datang. Mereka minta untuk jenasah Gege dimandikan di rumahnya saja."


"Aduh, bagaimana sih. Dimandikan di rumah saja. Karena kita tidak tahu berapa lama Gege sudah meninggal. Kasihan kalau harus menunggu lagi dan perjalanan ke kampungnya kita tidak tahu berapa lama. Kampungnya Gege dimana?


"Iya pak. Kampung Gege di Kuningan, Pak. Saya telpon HRD dulu untuk menelpon keluarganya."

__ADS_1


"Ok."


Sementara pak Joe menelpon. Dokter sudah selesai mengecek dan memberikan surat keterangan kematian.


Tyas dan Ningsih membaca surat keterangan kematian bahwa Gege meninggal jam 5 sore.


"Tyas, seandainya tadi kita tidak pergi setelah pulang kantor. Mungkin Gege masih bisa tertolong ya."


"Sudahlah Ning, tidak usah merasa bersalah. Seandainya pun kita tadi langsung pulang belum tentu Gege bisa selamat. Ini sudah jalan hidupnya Gege. Kita memang tidak tahu seberapa sakitnya dia saat tahu pacarnya seperti itu. Tapi tadi sebelum berangkat sidang, aku sudah ngobrol sama Gege."


"Iya sih. Aku ngerasa kehilangan adikku sendiri. Kita bertiga sudah seperti saudara. Kamu anak tertua, dan yang bungsu Gege."


"Iya Ning, sekarang yang terbaik adalah mendoakan Gege supaya tenang dan terang jalannya. Kita kirim doa terus buat Gege."


"Pak Arif. Ada tantenya Gege yang ternyata tinggalnya tidak jauh dari rumah dan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Mereka akan segera bawa Gege langsung ke kampung. Dan saya sudah minta bu Agnes untuk membatalkan orang yang akan memandikan jenasahnya."


"Ok. Jadi sekarang kita tunggu saja tantenya Gege datang."


Tante Gege dan beberapa saudaranya tiba di rumah sakit.


Setelah diselesaikan semua urusan administrasi oleh pak Arif, Jenasah Gege langsung dibawa oleh mobil ambulance ke kampung Gege di Kuningan.


"Tyas dan Ningsih. Besok saja kita ke Kuningan. Sekarang kita pulang dulu untuk tahlilan Gege. Sudah banyak orang di rumah."


"Iya pak Joe."


"Joe, saya sama Ningsih ikut ke Kuningan. Kamu dan Tyas balik ke rumah ya. Setelah itu kamu dan Tyas pergi ke Kuningan."


"Baik pak Arif. Hati-hati di jalan."


"Iya, Jadi saya akan ikuti mobil mereka dan ambulance. Tyas, tolong disiapkan baju Ningsih ya dan nanti dibawa sekalian."


"Baik pak Arif. Terima kasih banyak atas bantuannya."


"Ya sama-sama."


Pak Arif dan Ningsih masuk ke dalam mobil dan mengikuti mobil tante Gege dan ambulance.


"Ayo Tyas, kita pulang ke rumah dulu."


Pak Joe dan Tyas masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah sudah terpasang tenda dan bendera kuning. Sudah banyak yang datang.


"Pak Joe. Bagaimana? Mobil ambulance belum sampai."


"Bu Agnes, jenasah Gege tadi langsung dibawa oleh tantenya ke kampung. Kita tahlilan saja buat Gege. Dan untuk makanan dan minuman bagaimana?"


"Sudah aman pak Joe. Sudah ada semuanya."


Mereka yang di rumah akhirnya tahlilan buat Gege. Selesai tahlilan beberapa orang masih di rumah Tyas termasuk bu Agnes.


"Pak Joe, sebagian dari kami akan ikut ke Kuningan. Jadi apa yang harus saya siapkan untuk dibawa ke Kuningan."


"Bantu Tyas ya bu Agnes untuk menyiapkan semua barang-barang Gege."

__ADS_1


"Baik pak Joe."


Setelah selesai semuanya. Pak Joe dan Tyas termasuk orang produksi pergi ke Kuningan


__ADS_2