
Mirna dan Edi baru saja pulang untuk mengurus pernikahan mereka. Ternyata pernikahan Ahmad dan Mjrna belum tercatat di KUA. Mirna merasa kesal karena di bohongin oleh Ahmad.
"Sudah tidak usah kesal. At least kamu tahu bagaimana Ahmad sebenarnya."
"Jadi waktu aku nikah itu penghulunya dari mana? Ahmad sudah membohongi aku dan keluargaku. Mau taruh dimana mukaku."
"Mukamu ya taruh di tempatnya yang sekaranglah. Hari sabtu aku akan ke rumah orang tuamu dan menjelaskan semuanya. Setidaknya besok kita masuk kerja. Dan aku mau kamu juga ikut mengurus pernikahan kita. Jadi kamu tidak merasa dibohongi lagi."
"Kamu sendiri memang yakin mau menikah sama aku?"
"Yakin. Aku yakin 100% akan menikah dengan kamu. Dan kamu pasti berpikir bahwa aku menikah sama kamu karena ada maksud tertentu. Lalu bagaimana mungkin aku mau terima kamu padahal kamu sudah tidak perawan? Itu kan yang ada di pikiranmu?"
Mirna menganggukkan kepalanya.
"Mirna, aku mau menikah sama kamu karena aku cinta dan sayang sama kamu. Aku menerima kekurangan dan kelebihan kamu. Kamu pikir aku perjaka? Tidak, aku juga pernah melakukannya dengan perempuan lain. Buat aku pribadi bukan karena dia perawan atau tidak perawan. Tapi aku mengikuti kata hatiku. Bahwa aku mencintai dan menyayangi kamu.
"Terima kasih Edi, kamu mau menerima dan mencintai aku."
"Ya Mirna, setidaknya mimpiku terwujud pada akhirnya kamu mau menikah sama aku. Dan kita sudah sampai apartemen mu. Aku tidak bisa masuk. Aku antar kamu sampai sini ya. Kalau sempat nanti malam aku mampir lagi."
"Iya Edi, hati-hati di jalan."
Mirna turun dari mobilnya Edi dan melangkah masuk ke dalam apartemennya.
Tyas dan Pak Joe sudah sampai di rumah.
"Pak Joe, sekali lagi terima kasih sudah temani Tyas check up dan sudah traktir Tyas makan."
"Sama-sama Tyas. Nanti malam kita keluar makan bareng ajak Ningsih dan Gege juga."
"Iya pak. Kalau gitu Tyas permisi masuk ke dalam pak."
"Ya Tyas."
Tyas masuk ke dalam rumah. Hatinya senang karena minggu depan ia sudah bisa bekerja kembali.
Sore itu Gege pulang sendiri karena Ningsih ternyata pergi dengan pak Arif.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Loh Gege pulang sendiri? Ningsih kemana?"
__ADS_1
"Lagi pacar-pacaran sama pak bos."
"Mbak Tyas, Gege masuk ke kamar dulu ya. Mau mandi. Badannya lengket kayak ketiban lem setruk."
"Kalau kamu ketiban lem setruk, kamu ngga bisa pulang atuh."
"Iya. Harusnya nempel sama truknya ya. Gege mandi dulu mbak."
Sekar sudah keluar dari ruang tindakan. Ia hanya bisa terdiam.
"Sekar, jangan diam nak. Ada Ahmad, ayah dan ibu disini. Kamu harusnya bilang kalau perut kamu sakit. Tapi kamu diam saja sampai tidak makan dari pagi. Akibatnya kamu keguguran."
"Sudah jangan dipikirkan lagi. Biar Sekar istirahat bu. Ahmad akan jaga Sekar di rumah sakit. Ahmad akan pergi menguburkan jenasah anak Ahmad dan Sekar dulu."
"Besok saja. Besok pagi akan ibu kuburkan. Sekarang ibu dan bapak bawa dulu jenasah anak kamu. Kamu jaga Sekar. Bapak dan ibu pamit pulang."
"Iya bu. Terima kasih."
Bapak dan ibu pergi meninggalkan Sekar dan Ahmad.
"Sekar, kamu harusnya bilang kalau perut kamu sakit. Jadi aku tidak minta jatah sama kamu. Dan kamu hanya diam saja."
"Kenapa kamu melihat aku seperti itu? Kamu keguguran karena kesalahan kamu sendiri! Sudah tahu sedang hamil, sudah tahu perutnya sakit. Aku marah sama kamu karena tidak bisa menjaga anak kita. Ibu macam apa kamu yang tidak bisa menjaga bayi dalam kandungan. Bagusnya Allah mengambil anak itu sebelum lahir. Karena tahu bahwa kamu pasti tidak akan mampu merawat anak itu nantinya."
Sekar berusaha memejamkan matanya. Sekar hanya bisa menangis dalam hati. Ahmad, suaminya tega berbicara seperti itu dan menyalahkan dirinya. Padahal tadi dia sudah bilang bahwa perutnya sakit tapi Ahmad tidak mau mendengarkan.
Ahmad duduk di kursi. Ahmad mengira bahwa Sekar tidur, ia mengeluarkan handphone dan menelpon Mirna.
"Halo Mirna, lusa aku pulang ya."
"Halo mas. Besok aku harus pergi keluar kota mas. Jadi tidak bisa menyambut kamu datang."
"Loh kok kamu baru bilang kalau besok harus keluar kota? Kamu kan harusnya minta ijin ke aku."
"Gimana mau minta ijin dari kemarin aku telpon, handphone mas ngga bisa nyambung. Atau jangan-jangan mas sudah punya istri lain ya."
"Istri lain. Istriku ya cuma kamu saja. Tyas sudah bukan istriku lagi. Rencananya kan aku akan cerai dari Tyas."
"Oh ya, terus kapan cerai dari Tyas?"
"Kamu kenapa sih? Tumben sekali bicara mengenai perceraianku sama Tyas. Besok aku pulang. Dan aku mau besok kamu di rumah saja. Tidak usah keluar kota."
__ADS_1
"Terserah kamu mau bilang apa. Besok aku tetap pergi keluar kota. Memangnya hanya kamu yang boleh keluar kota? Apalagi keluar kotanya cuma di Bogor. Ketemu dengan istrimu yang bernama Sekar. Aku sudah tahu semua kebohonganmu mas!"
Mirna mematikan handphonenya.
"Halo, halo! Mirna! Aku..."
Terdengar bunyi tut tut tut.
"Aaaarrrggghhh sial. Handphonenya dimatikan."
Sekar mendengarkan semua pembicaraan Ahmad. Dan Sekar hanya bisa menangis dalam hati. Sekar tidak mau Ahmad tahu bahwa ia belum tidur.
Jadi mas Ahmad punya istri yang bernama Tyas dan Mirna. Mas Ahmad mau bercerai dengan Tyas. Mirna siapa? Jadi mas Ahmad juga membohongi aku. Mas Ahmad berapa banyak istrimu?
Ahmad keluar kamar perawatan dengan membanting pintu. Ia kesal dengan Mirna yang telah menyebut nama Sekar.
Ahmad berjalan ke kantin rumah sakit. Ia membeli makan dan kopi.
Darimana Mirna tahu bahwa ia di bogor dan Mirna menyebut nama Sekar. Aku harus balik ke Jakarta besok. Dan aku akan minta ibu untuk menjaga Sekar. Mirna biasanya berangkat ke kantor jam 9. Aku harus sampai Jakarta sebelum jam 9 pagi.
Ahmad menelpon Ibunya Sekar.
"Halo bu. Ahmad mau minta tolong. Besok Ahmad harus ke Jakarta untuk urusan kerjaan. Jam 8 pagi harus sudah sampai Jakarta. Besok pagi jam 6 ibu bisa gantikan Ahmad. Dan besok uang yang ibu minta untuk beli kalung akan Ahmad berikan."
"Iya Ahmad. Bisa. Besok jam 6 pagi ibu sudah ada di rumah sakit untuk jaga Sekar. Semua biaya rumah sakit Sekar bagaimana?"
"Tidak usah kuatir bu, sudah Ahmad bayarkan semuanya."
"Ok kalau gitu. Jenasah anakmu, ibu kuburkan malam ini juga ya."
"Ya bu, ibu atur saja bagaimana baiknya. Terima kasih bu."
"Ya sama-sama."
Ahmad mematikan handphonenya. Dan Ahmad kembali ke kamar Sekar.
Ahmad melihat Sekar masih tertidur.
Mulai besok aku tidak akan kembali lagi ke Bogor. Cukup selesai sampai disini. Dan Aku sudah memberikan uang yang banyak kepada kamu, Sekar dan kepada orang tuamu.
Sekar mendengarkan Ahmad berbicara. Mata Sekar masih tertutup. Saat Ahmad keluar kamar, Sekar membuka matanya dan menangis. Dan untungnya saat Ahmad datang Sekar sudah menutup matanya lagi seperti orang yang tertidur.
__ADS_1