
Sepanjang perjalanan pulang Mirna hanya terdiam.
"Sayang, kamu jangan pikirkan omongan mami. Biasanya mami begitu karena ada masalah sama papi."
Mirna hanya menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya apa yang dikatakan sama maminu benar Edo. Aku mau sama kamu karena aku sudah tahu kehidupan kamu jauh-jauh lebih baik dari Ahmad. Dan aku ingin menikmati hidup yang nyaman dan banyak uang. Satu hal lagi, kamu mau menerima aku yang sudah pernah menjadi istri orang. Selama ini aku tidak pernah merasa ada orang yang membuntuti aku. Tapi ya sudahlah mungkin feeling seorang ibu, dimana anaknya akan menikah dengan janda dadakan. Hahahah janda dadakan.
Mirna berkata dalam hati.
"Mirna, kamu kenapa diam saja. Kamu mau langsung pulang atau mau cari makan dulu."
"Terserah kamu Edi. Aku ngikut saja."
"Ok, kita mampir untuk makan dan minum kopi ya. Biar kamu lebih rileks."
"Iya."
Tyas dan Joe sedang makan. Tanpa sengaja Edi dan Mirna masuk ke dalam restoran yang sama.
Tyas melihat Mirna yang masuk dan di gandeng oleh Edi. Mirna pun melihat Tyas. Mirna melepas gandengan tangan Edi dan menghampiri Tyas.
"Mbak Tyas, aku balikin Ahmad sama kamu. Gara-gara Ahmad, hidup aku berantakan. Calon mertuaku tidak setuju. Makanya jadi istri harus bisa urus suami bukan jalan dan makan sama laki-laki lain. Karena laki-laki itu kaya? Itu laki-laki yang sama waktu kita bertemukan?"
"Maaf, saya sudah tidak ada urusan sama Ahmad. Dan lagipula kamu bukannya sudah menikah sama Ahmad. Kamu itu dulu tetanggaku dan kamu tahu bagaimana Ahmad jarang di rumah. Setelah kamu tahu Ahmad, sekarang kamu sama laki-laki lain juga?"
"Ah, benar memang yang di bilang Ahmad. Mbak Tyas itu, matre hanya mengejar laki-laki kaya."
"Anda salah menilai Tyas. Kami baru saja jenguk teman kantor kami yang sakit. Dan antara saya sama Tyas lebih kepada hubungan teman kantor. Harusnya anda lihat diri anda. Anda salah satu perusak rumah tangga orang."
"Pak Joe, sudah pak Joe. Kalau kita marah, kita sama dengan dia. Tidak punya sopan santun. Dia yang merusak, dia yang teriak."
"Siapa yang merusak rumah tangga kamu! Suamimu sendiri yang mau sama aku. Wajar kalau aku mau sama suami kamu karena uangnya banyak. Aku bisa mendapatkan apa yang aku mau selama ini. Aku cantik jadi aku bisa dapat laki-laki kaya. Dan sebentar lagi aku menikah dengan laki-laki yang lebih kaya dari Ahmad. Jadi aku lepeh Ahmad. Tidak ada gunanya lagi buat aku."
Edi yang mendengar kata-kata Mirna kaget.
Ternyata Mami benar. Mirna kenapa kamu seperti ini? Kalau nanti aku miskin, kamu akan pergi meninggalkan aku.
"Maafkan Mirna, mbak. Dia sedang pusing jadi ngomongnya ngelantur. Ayo Mirna kita keluar dari sini. Kamu buat malu saja."
Edi menarik tangan Mirna keluar dari restoran.
"Edi, lepasin tangan aku, sakit."
Edi melepaskan tangan Mirna.
__ADS_1
"Masuk ke mobil. Sekarang!"
Edi masuk ke mobil, diikuti oleh Mirna.
"Edi, kenapa kita tidak jadi makan? Aku lapar."
"Kita pulang saja ke rumah."
Edi merasa malu atas perbuatan Mirna tadi. Dan banyak yang memandang sinis kepada Mirna.
Sampai rumah. Edi membuka pintu mobil dan menutup pintu mobil dengan dibanting.
Mirna mengikuti Edi masuk ke rumah dengan bingung.
"Bibi, bibi."
"Iya tuan Tyo."
"Tolong bereskan kamar tamu dan minta perempuan itu keluar dari rumah saya."
"Baik tuan."
"Edi, apa maksud kamu? Kenapa kamu mengusir saya?"
"Maaf Mirna, kejadian tadi di restoran membuka mata saya. Ternyata kamu perempuan yang menghalalkan segala cara. Tidak menutup kemungkinan, saat nanti aku menikah sama kamu dan aku bangkrut sampai jatuh miskin, sudah dipastikan kamu akan pergi meninggalkan aku untuk mencari laki-laki yang kaya, yang mampu memenuhi seluruh hidup kamu!"
"Bukan gitu maksud aku. Tadi aku bicara seperti itu untuk Tyas."
"Memang sebenarnya semua perempuan di seluruh dunia itu matre. Wajar mereka matre karena kebutuhan mereka banyak dari hal sepele kosmetik. Tapi dari kata-katamu tadi. Aku sadar. Kamu suka sama Ahmad, menikah sama Ahmad karena uangnya banyak dan dia ada mobil."
"Bukan, bukan begitu."
"Nyatanya seperti itu. Waktu kamu tahu aku hanya naik motor ke kantor. Aku berkali-kali menyatakan cintaku sama kamu. Dan berkali-kali juga kamu menolak aku. Tetapi saat kamu tahu aku berganti mobil, aku punya rumah. Dengan mudahnya kamu meninggalkan Ahmad. Ok, ini salahku karena aku cinta buta sama kamu. Aku ingin memiliki kamu. Dan hari ini Allah kasih aku jawaban. Ternyata kamu tidak cukup baik untuk menjadi istri aku!"
"Tapi kamu sudah janji mau menikah sama aku."
Mirna menangis.
"Saat ini sudah tidak. Lebih baik ketahuan dari sekarang daripada nanti setelah menikah! Aku juga tidak merusak kamu. Selama kamu disini, apakah aku meniduri kamu? Tidak! Walaupun aku tahu kamu tidak perawan lagi!"
"Omongan kamu jahat Edi!"
"Lebih baik jahat omongan daripada attitude dan habit kamu yang jelek. Attitude dan habit yang jelek akan sangat susah untuk di ubah! Sekarang juga kembali kamu ke apartemen kamu. Aku sudah transfer sejumlah uang sama kamu. Dan nanti biar sopirku yang antar kamu."
Edi pergi meninggalkan Mirna dan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Edi, tunggu. Tidak bisa begitu. Edi, kita belum selesai bicara!"
Bibi datang
"Bu Mirna, maaf. Baru-baru ibu silakan dimasukkan ke dalam koper.
Mirna menghentakkan kakinya dan masuk ke kamar tamu. Baju-bajunya dia masukkan lagi ke dalam koper.
Ini semua karena kamu Tyas. Kamu semakin merusak hidupku. Keinginan aku untuk jadi nyonya kaya hilang sudah.
Sekar menelpon Edi.
"Halo Edi. Apa kabar kamu?"
"Hei Sekar. Moodku lagi jelek. Nantilah aku cerita sama kamu."
"Ya sudah kalau mood kamu lagi jelek. Aku telpon nanti saja."
"Eh, ngga papa. Cerita saja Sekar. Ada apa?"
"Hmm, aku kemarin keguguran. Satu sisi aku sedih. Tapi sekarang aku sudah senang. Karena akhirnya suamiku Ahmad menceraikan aku saat tahu aku keguguran. Entahlah apa yang ada dalam pikiran Ahmad itu. Setidaknya aku sudah tidak ada ikatan dengan laki-laki lain dan aku akan menata hidupku ulang supaya lebih baik."
"Innalillahi, maaf aku baru tahu kalau kamu keguguran. Namanya perjalanan hidup Sekar. Mungkin ini yang harus kamu lalui. Yang menikah saja bisa cerai apalagi yang berpacaran. Setidaknya kamu punya semangat untuk menata hidupmu yang sempat hilang. Dan Allah pasti punya rencana untuk hidup kamu."
"Iya Ed. Oh iya, kamu sendiri gimana? Jadi kapan menikahnya?"
"Nantilah aku cerita sama kamu. Aku akan main ke rumahmu Aku akan kabarin saat mau main ke rumahmu. Oh iya Sekar, aku harus pergi."
Edi menutup handphonenya. Ia mendengar pintu kamarnya di ketok i
oleh bibi.
"Masuk bi."
Bibi membuka pintu dan masuk ke kamar Edi.
"Ada apa bi? Perempuan itu sudah pergi?"
"Sudah tuan. Tadi sudah naik ke mobil dan sudah diantar."
"Ok, bagus. Terima kasih bi."
"Ya tuan, sama-sama."
"Bi minta tolong buatkan kopi dan ambilkan kue yang ada di kulkas."
__ADS_1
"Baik tuan."