
Pagi ini Ahmad melihat Keisha yang terlihat membaik.
"Ayah, Keisha sudah tidak sakit lagi. Semalam bunda temanin Keisha pas ayah keluar. Kata tante sebelah ayah sedang keluar beli makan."
"Iya sayang. Maaf semalam ayah keluar sebentar. Terus saat balik ayah lihat Keisha masih bobo."
"Iya ayah. Bunda tidur di sebelah Keisha dan bunda bilang akan datang lagi jemput Keisha dan Malik supaya tidak ganggu ayah terus."
"Memangnya Keisha sama Malik mau diajak kemana sama bunda?"
"Kerumah bunda. Terus bunda bilang, bunda tidak mau merepotkan tante Maryam lagi. Bunda tahu loh ayah kalau Keisha dan Malik sekarang tinggal sama tante Maryam."
"Sabar ya sayang, sebentar lagi Keisha dan Malik akan ikut ayah. Tapi kalau ayah hari ini pergi untuk kerja boleh tidak?"
"Hmmm, terus yang jaga Keisha disini siapa kalau ayah pergi?"
"Ayah telpon tante Maryam buat kesini untuk jaga Keisha. Mau?"
"Iya boleh, tapi ayah nanti malam kesini lagi tidak?"
"Iya ayah pasti datang lagi nanti malam untuk jaga Keisha."
"Janji?"
"Iya ayah janji."
"Iya Keisha mau. Tapi ayah jangan bohong kalau ayah bohong nanti Keisha yang pergi ya."
"Iya, ayah keluar sebentar telpon tante Maryam."
Ahmad keluar dan menelpon Maryam
"Halo Maryam, kamu kesini sekarang? Saya harus pergi ke Jakarta. Saya ada sidang untuk cerai dengan istri saya yang pertama Tyas."
"Tapi mas, Maryam lagi jualan di pasar. Baru bisa ke rumah sakit nanti setelah makan siang nunggu anak-anak pulang sekolah."
"Malik sama siapa? Terus siapa yang suruh kamu jualan lagi?"
"Malik ikut sama Maryam sama anak yang satu lagi."
"Pulang sekarang, tidak usah jualan. Setelah itu pergi ke rumah sakit!"
"Nanti dulu mas, anak-anak masih di sekolah belum pulang. Baru bisa nanti jam 2 an ke rumah sakit. Pulang dari pasar masak dulu buat anak-anak makan."
"Ok."
Ahmad kembali ke ruang perawatan dan melihat Keisha yang tertidur. Ahmad akhirnya tidur di sebelah Keisha.
Hari ini Bu Agnes tidak masuk karena ada pelatihan.
__ADS_1
"Pagi Tyas."
"Pagi pak Joe."
"Hari ini bu Agnes tidak masuk, jika ada yang kamu tidak mengerti, kasih tahu saya ya."
"Iya pak Joe."
"Oh iya Tyas. Saya mau tanya. Semalam itu kenapa Gege berteriak. Kedengaran sampai rumah saya."
"Biasa pak Joe. Ningsih dan Gege. Giliran ada, pada saling bercanda dan kadang berantem kecil. Giliran salah satu ngga ada, ya ngga ada suara. Maaf ya pak Joe sampai buat pak Joe panik."
"Oh, ok."
Pagi ini Mirna masuk kantor. Dan Mirna melihat meja Edi kosong. Biasanya banyak tumpukan kertas di meja Edi.
"Pagi Mirna."
"Pagi Olla. Eh iya mau tanya si Edi kemana?"
"Resign."
"Mendadak resign?"
"Nggalah sudah dua bulan yang lalu Edi mengajukan resign. Dan kemarin hari terakhir Edi ke kantor."
"Kamu juga jarang masuk. Kamu kemana aja? Dengat-dengar kamu sudah nikah ya."
"Heheheh. Ada urusan keluarga. Belum, aku belum menikah kok."
Edi sudah resign. Sebenarnya aku mau minta maaf sama Edi. Tapi aku tidak punya keberanian untuk menelpon Edi. Hari ini aku harus mencari kontrakan baru. Aku tidak akan tinggal di apartemen lagi lebih baik aku cari kontrakan rumah atau kost biar aku aman. Jadi Ahmad tidak ganggu aku lagi. Aku harus bisa mengumpulkan uang lagi. Uang hasil penjualan perhiasan yang Ahmad berikan bisa sebagai tabunganku.
"Mirna, Mirna!"
"Eh iya, maaf. Ada apa La?"
"Kenapa bengong? Ini ada karyawan baru kenalkan. Terus kamu dipanggil ke HRD."
"Oh iya La. Siapa namanya mbak?"
"Saya Arum."
"Saya Dita."
"Mirna, sudah sana, kamu di tunggu sama pak Ade. Arum dan Dita. Ini meja kalian. Silakan duduk dulu."
Ada apa ya pak Ade panggil aku. Dan ada 2 orang yang gantikan Edi. Jangan-jangan? Ah semoga tidak.
Mirna mengetuk ruangan pak Ade dan masuk ke dalam.
__ADS_1
"Mirna, silakan duduk."
"Iya pak Ade. Terima kasih. Kata Lala saya dipanggil. Ada apa ya pak?"
"Begini, saya melihat performa kamu bekerja makin hari semakin jelek. Kamu jarang masuk dan kadang tidak kasih kabar ke kantor. Dari manajemen memutuskan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja alias PHK. Kamu di kasih waktu sampai akhir minggu ini untuk menyerahkan semua tugas kamu ke anak yang baru."
"Tapi pak, kenapa mendadak sekali. Apakah tidak ada kesempatan buat saya untuk menunjukkan performa saya kembali."
"Kamu kan tahu SOP yang berlaku di kantor ini. Dan mengenai gajimu, manajemen memberikan 3 kali lipat gajimu dan gaji kamu bulan ini."
"Iya pak saya tahu. Saya mohon agar bisa diberikan kesempatan sekali lagi."
"Maaf tidak bisa. Dan mohon tanda tangan di surat ini."
Pak Ade menyodorkan surat PHK terhadap Mirna. Dan Mirna menanda tangani surat tersebut.
"Ok, jadi tolong hari ini kamu mulai hand over kerjaan kamu ke Arum dan Dita."
"Baik pak. Saya permisi. Terima kasih pak."
Mirna keluar dari ruangan pak Ade dan berjalan dengan langkah gontai ke meja kerjanya.
"Mirna, gimana? Loe naik gaji ya. Selamat ya."
"Hahhhahaah, alhamdulillah gue ngga naik gaji tapi gue dapat 4 kali dari gaji gue."
"What! Maksudnya? Loe naik jabatan. Wah keren."
"Hahahha, ngga juga La. Gue naik jabatan di kantor yang lain. Gue di PHK dan gue harus hand over kerjaan gue sama Arum dan Dita."
"Aaahhh, serius loe? Bohong banget!"
"Serius La, Waktu gue tinggal seminggu lagi disini. Gue sekarang harus hand over dulu ya."
"Sorry Mirna. Gue pikir elo naik jabatan. Ternyata loe di PHK, semoga elo bisa sukses di tempat yang baru nantinya. Sedih gue. Kemarin Edi dan seminggu lagi elo. Memangnya ada masalah apa sih Mir?"
"Iya La, terima kasih."
Mirna segera mengajak ngobrol Dita dan Arum dan memberikan semua pekerjaannya kepada mereka berdua.
Sebelum jam istirahat Tyas diingatkan oleh Pak Joe untuk besok sidang cerai.
"Tyas, besok jangan lupa kamu akan sidang cerai. Saya hanya bisa antar kamu tetapi tidak bisa menunggu kamu selesai sidang karena besok saya ada meeting dengan pak Arif."
"Iya pak Joe, terima kasih sudah diingatkan. Tidak papa pak Joe. Saya bisa berangkat sendiri. Saya tidak mau karena pak Joe antar saya, pak Joe telat datang meeting."
"Tidak papa Tyas. Lagipula pak Arif tahu besok kamu sidang cerai. Dan besok kamu pulang diantar oleh Jerry. Semoga sidang besok berjalan dengan lancar ya Tyas."
"Amin, pak Joe. Semoga."
__ADS_1