Istri Suamiku

Istri Suamiku
Pertengkaran


__ADS_3

"Ningsih, bangun. Sholat subuh."


Tyas mengetuk kamar Ningsih. Karena jam 05.15 pagi Ningsih belum keluar dari kamarnya.


Ningsih membuka pintu kamarnya.


"Iya Tyas. Makasih, aku kesiangan."


"Mandi, sholat subuh terus sarapan."


"Aku lagi kedatangan tamu, jadi ngga sholat."


"Ya sudah mandi, terus kita sarapan dan berangkat kerja."


"Iya."


Ningsih segera ke kamar mandi setelah menutup pintu kamarnya.


Mereka berdua sarapan dan menunggu bisa jemputan datang.


Tyas dan Ningsih sudah sampai pabrik. Tyas segera masuk ke bagian divisi.


"Selamat pagi Tyas. Akhirnya bisa masuk kerja lagi."


Tyas kaget dan terharu karena semua teman divisi menyambut kedatangannya.


"Pagi Tyas, ini saya kasih kamu hadiah. Dibuka nanti saja di rumah. Ini dari teman-teman semuanya."


"Terima kasih bu Agnes dan teman-teman untuk sambutannya."


"Kamu sudah sehatkan? Harus jaga kesehatan ya."


"Iya bu Agnes. Terima kasih."


"Oh iya, nanti siang, kita makan siang bareng di sini ya. Jadi tidak perlu ke kantin."


"Ok bu Agnes. Asik, kita tidak perlu keluar uang makan siang!"


"Sering-sering bu Agnes hahahah."


Pak Joe yang baru datang kaget melihat semua karyawan berkumpul.


"Pagi pak Joe." Mereka semua serempak mengucapkan selamat pagi.


"Pagi, ada apa ini? Kok tumben semuanya berkumpul disini."


"Iya pak Joe, kami semua datang lebih baik untuk menyambut kedatangan Tyas yang kembali bekerja."


Tyas menangis karena senang, teman-temannya ternyata memperhatikan dirinya.


"Ya sudah, sebentar lagi bel berbunyi. Ayo kembali semua ke posisinya. Kita bekerja kembali."


"Ok pak Joe. Siap laksanakan. Ayo teman-teman kita mulai kerja."

__ADS_1


Satu persatu meninggalkan ruangan depan dan bersiap untuk bekerja.


"Tyas, tunggu. Saya ingin bicara."


"Baik bu Agnes."


"Tyas, kamu untuk sementara ini kamu kerja disini. Kamu jadi asisten saya."


"Maksud bu Agnes?"


"Besok saya harus ikut pelatihan. Dan saya menunjuk kamu untuk menggantikan saya selama seminggu. Dan hari ini kamu saya ajarkan beberapa hal yang harus kamu lakukan selama saya tidak ada."


"Oh, baik bu Agnes."


"Tapi bu, hari Rabu ini saya mau ijin masuk siang, kemungkinan baru sampai pabrik setelah jam makan siang."


"Ya tidak papa. Itu bisa diatur."


Bu Agnes segera memberitahu apa saja yang harus dilakukan Tyas selama bu Agnes tidak di tempat.


"Halo Ahmad. Ini gue Edo."


"Eh Do, ada apa? Tumben telpon."


""Ahmad, gue kemarin ketemuan sama Tyas."


"Oh ya? Gimana kabarnya dia sekarang?"


"Semakin cantik."


"Loh. Kemarin Tyas bilang dia mau cerai sama elo. Tapi gue tidak dikasih tahu kapannya."


"Nah itulah Tyas, plin plan. Karena dia masih cinta sama gue. Tapi gue sudah tidak, lagipula buat apa juga harus gue pertahanin pernikahan gue sama Tyas. Dia tidak akan bisa punya anak, karena dia tidak tahu kalau sudah gue kasih alat kontrasepsi karena gue ngga mau punya anak dari Tyas."


"Elo jahat amat sama Tyas. Memangnya Tyas kenapa? Dulu elo yang merebut Tyas dari gue."


"Karena gue pengen ambil tanah yang dia punya dan gue jual. Tapi ternyata tidak bisa. Mau elo bilang dia cantik pun, gue sudah tidak peduli. Pernah gue sengaja nabrak dia dan gue pikir dia meninggal ternyata masih hidup. Gue yakin Tyas saat ini cacat."


"Elo jahat Ahmad. Seandainya elo di depan gue saat ini! Sudah gue hajar elo!"


"Gue tahu elo pengen Tyas jadi istri elo kan? Sudah gue pakai dan gue rusak. Elo masih mau? Kalau gue sih jauh-jauh deh dari Tyas."


"Omongan elo Ahmad. Hati-hati, elo punya anak perempuan. Kena karma baru tahu rasa elo! Dan gue akan tetap menikahi Tyas, bagaimana pun caranya."


"Ya ngga bisalah menikah sama Tyas. Masih jadi istri sah gue. Rencana gue, Tyas tidak akan gue cerai. Karena saat istri-istri gue meninggal seperti Nur ataupun cerai dan mereka punya anak. Anak akan gue bawa dan gue serahkan ke Tyas. Istri itu harus nurut dan patuh sama suami."


"Gue akan cari tahu kapan sidang cerainya Tyas. Dan gue akan lihat elo berani datang atau tidak! Atau bisa jadi elo tidak datang. Karena elo laki-laki pengecut!"


"Tidak akan ada kata cerai antara gue sama Tyas. Paham elo!"


Ahmad mematikan handphonenya. Mirna yang dari tadi masih diatas kasur mendengarkan pembicaraan Ahmad. Saat Ahmad selesai. Mirna pura-pura masih tidur.


"Mirna, bangun. Aku lapar. Tolong buatkan kopi dan makanan."

__ADS_1


Ahmad melihat ada pesan masuk dari Sekar.


Ahmad, aku sudah mengurus cerai kita. Dan aku berterima kasih, akhirnya aku bisa bercerai sama kamu dan tanpa anak. Jadi aku bisa melanjutkan hidupku.


Ahmad menghapus pesan dari Sekar.


"Mirnaa! Bangun! Aku lapar ini. Jadi istri harusnya bisa melayani suami."


Ahmad menarik tangan Mirna supaya bangun.


"Apaan sih. Aku masih ngantuk. Kamu buat saja sendiri makanan untuk kamu!"


"Hei! Aku ini suamimu. Aku yang kasih uang ke kamu! Bagusnya kamu bukan Ayu, p*****r yang aku pakai kemarin. Aku nikahin kamu secara sah!"


"Ahmad, bisa-bisanya kamu bilang aku dinikahkan secara sah oleh kamu! Aku sudah cek di KUA dan pernikahan kita tidak terdaftar. Jadi siapa penghulu yang menikahkan kita? Sama saja kita kumpul kebo!"


"Kurang ajar kamu!"


"Plak, plak." Ahmad menampar Mirna.


Mirna segera berdiri dan menampar balik Ahmad.


"Keluar kamu! Ini apartemenku!"


"Ok, aku keluar. Kembalikan semua uangku dan perhiasan yang aku berikan sama kamu sekarang!"


"Sudah tidak ada! Sudah aku jual perhiasannya!"


Ahmad menjambak rambut Mirna.


"Dengar ya, aku tidak akan keluar dari sini sebelum kamu kembalikan semua uangku!"


"Ok, silakan saja. Aku akan laporkan kamu ke polisi karena melakukan kekerasan terhadap perempuan."


Ahmad melepaskan tangannya dari rambut Mirna.


"Br*****k kamu!


Ahmad menampar Mirna dan memakai celana panjangnya lalu mengambil handphone Mirna dan membantingnya.


"Ahmad! Kurang ajar kamu! Kenapa handphone aku dibanting!"


"Silakan telpon polisi! Silakan saja! Kamu tidak bisa melapor ke polisi! Handphonemu sudah aku banting!"


Ahmad mengambil tas Mirna dan mengambil semua uang yang ada di dalam tas juga kartu ATM Mirna.


"Kembalikan uangku dan ATM ku. Itu uang aku dari hasil kerja aku!"


"Ini baru sebagian hutang yang kamu bayar ke aku. Dan aku akan minta sisanya lagi nanti!"


Ahmad berjalan ke pintu apartemen dan membanting pintu.


Mirna tidak bisa mengejar Ahmad karena ia hanya mengenakan dalaman saja.

__ADS_1


Mirna menangis, karena ia tidak bisa menghubungi siapapun dan juga kartu ATM miliknya diambil oleh Ahmad.


__ADS_2