
Tyas sudah selesai sholat subuh dan keluar kamar.
Tyas memasak nasi. Ia lupa untuk memasak nasi semalam dan memanaskan rendang yang belum sempat dipanasin beberapa hari yang lalu.
Gege dan Ningsih belum keluar dari kamarnya.
Tyas mengetuk kamar Gege.
"Ge, bangun Gege. Sudah subuh. Bangun, mandi dan sholat subuh."
"Iya Mbak Tyas." Gege sudah menjawab ketukan dan panggilan dari Tyas.
Tyas melakukan hal yang sama dengan kamarnya Ningsih. Tetapi tidak ada jawaban dari dalam kamar Ningsih. Tyas berpikir mungkin Ningsih sedang mandi.
Tyas sudah selesai menyiapkan sarapan untuk mereka makan pagi.
Gege keluar kamar dan sudah rapi.
"Mbak Tyas, semalam Ningsih ngga pulang. Dan juga ngga ada kabar. Aku semalam coba telpon Mbak Ningsih, mau pulang jam berapa tapi handphonenya mati."
"Oh. Kira-kira Ningsih kemana ya dengan Pak Arif."
"Jangan-jangan Ningsih tidur sama Pak Arif, mbak?"
"Huussshh kamu itu. Pagi-pagi sudah suudzon sama orang ngga baik, coba bilang maaf-maaf."
"Iya mbak Tyas, maaf-maaf. Apes, pagi-pagi dimarahin sama ibu kost."
"Siapa ibu kost?"
"Mbak Tyas lah masa Gege. Kan Mbak Tyas lebih tua dari Gege. Nah karena tua makanya Mbak Tyas, Gege sebut ibu kost. Gitu."
"Kamu ini. Sudah makan, itu sudah siap. Nanti telat ke pabrik. Minggu depan kamu sudah masuk kantor ya Ge, tidak ke produksi lagi."
"Belum tahu mbak. Belum ada kabar dari HRD. Masih menunggu."
"Ya Insya Allah hari ini ada kabar baik buat kamu."
"Amin mbak."
__ADS_1
Tyas mengambil tas dan mengeluarkan handphonenya. Tyas mencoba menelpon Ningsih. Ada nada masuk.
"Assalamu'alaikum Ningsih."
"Wa'allaikumsalam salam Tyas. Maaf handphone aku semalam kehabisan baterai. Aku mau kasih kabar kalau aku semalam tidak bisa pulang. Aku di kampung, ibu masuk rumah sakit. Akhirnya semalam diantar sama Pak Arif ke kampung."
"Astaghfirullah, terus gimana kondisi ibu sekarang? Masih di rumah sakit."
"Masih mbak Tyas. Ibu kena hipertensi dan di opname. Aku belum bisa balik ke Jakarta. Ngurus ibu dulu sampai sembuh. Pak Arif juga masih ada disini. Masih tidur belum bangun. Aku ngga enak sama Pak Arif, karena kamar rawat ibu di pindah ke kelas Vivi-ip. bingung aku nanti bayarnya. Mana lagi ngga ngablek uang. Meni lieur euy."
"Ngga usah pusing. sembahyang biar ibu cepat sembuh dan bisa pulang ke rumah dalam keadaan sehat. Bukan mau aji mumpung. Pak Arif yang pindahin ibu kamu ke ruang perawatan kelas vivi ip tanpa kamu minta kan. Ngomong-ngomong kelas vivi ip kelas apa?"
"Iya Tyas. Aku ngga minta. Pas sampai terus Pak Arif langsung minta sama perawat di masukkan ke kelas vivi ip. Maksudnya kelas paling mahal deh kalau di rumah sakit. Kamarnya luas, ada sofanya, ada kulkasnya, kamar mandinya lebih bersih daripada kelas 3. Tulisannya pakai angka romawi yang 5 double terus romawi 1 sama huruf P"
"Oh maksud kamu kelas VVIP. Tulisannya huruf Ve Ve I sama P bukan?"
"Iya benar tulisannya gitu huruf Ve Ve I dan P."
"Ya sudah, kamu jaga kondisi jangan ikutan sakit. Ngga usah mikirin urusan kerjaan dulu. Urus ibumu dulu. Salam buat ibumu ya, semoga cepat sembuh. Assalamu'alaikum."
"Wa'allaikumsalam makasih Tyas."
"Iya, ibunya masuk rumah sakit. Sekarang masih di opname terus semalam handphone dia mati karena baterainya habis. Jadi semalam kamu telpon dia ya ngga bisa. Dan Pak Arif nganterin dia ke kampung. Gitu."
"Lah kenapa ngga minta baterai sama Pak Arif. Kan Pak Arif yang punya perusahan baterai. Sampai di ekspor lagi. Harusnya mah Ningsih minta aja sama Pak Arif, jadi handphonenya nyala terus."
"Gege, Gege, kamu itu selalu ada aja yang disahutin. Untungnya Ningsih ngga ada coba kalau ada pasti kalian berdua ribut. Bukan begitu bukan?"
"Begitulah mbak. Eh itu klakson bis jemputan. Ayo Mbak kita berangkat."
"Kamu duluan. Aku nanti bareng sama Pak Joe, ada urusan kerjaan di luar kantor."
"Oh ok Mbak Tyas. Makasih ya sudah disiapin makanan untuk sarapan. Gege berangkat Mbak. Assalamu'alaikum."
"Wa'allaikumsalam, ya hati-hati, jangan nyopet ya, kalau nyopet bagi-bagi pas pulang kantor. Hahahahah."
"Iiihhh tumben Mbak Tyas ngelucu pagi-pagi biasanya nganteng aja."
"Dasar kamu itu. Noh sudah di klakson lagi."
__ADS_1
"Iya Mbak Tyas." Gege segera berlari keluar rumah.
Tyas belum sarapan karena tadi menelpon Ningsih. Tyas baru mau mulai makan, pintu rumahnya diketuk.
Pak Joe memberi salam dan Tyas menjawab salam Pak Joe.
"Tyas, kamu sudah sarapan?"
"Ini baru mau sarapan. Pak Joe ayo masuk sekalian sarapan masih ada rendang buat Ningsih ternyata tidak pulang. Karena Ningsih semalam pulang kampung, ibunya sakit dan masuk rumah sakit."
"Oh gitu terus gimana kondisi ibunya? Sudah pulang ke rumah atau masih di rumah sakit. Ningsih semalam ke kampung naik apa?"
"Ningsih diantar Pak Arif ke kampung. Masih dirumah sakit. Harus opname. Ayo masuk Pak Joe, kita sarapan bareng."
"Ngga enak Tyas kalau saya masuk ke rumah kamu. Karena kamu sendiri dan ini masih pagi. Ada tetangga yang lewat apa tidak jadi omongan. Saya pulang saja sekalian mau beli sarapan. Kalau begitu saya permisi pulang. Nanti jam 8, kamu saya jemput."
"Sebentar Pak Joe."
Tyas masuk ke dalam rumah mengambil tempat makanan dan memasukkan makanan juga rendang.
"Pak Joe, ini bawa untuk Pak Joe sarapan di rumah. Daripada ngga ada yang makan malah mubazir dan Ningsih juga tidak ada."
"Ya. Terima kasih Tyas. Saya permisi pulang. Assalamu'alaikum."
"Wa'allaikumsalam."
Tyas masuk ke dalam rumah dan melanjutkan makan.
Pak Joe sudah mendapatkan pesan dari Pak Arif, bahwa hari ini Tyas akan dibawa ke dokter kandungan untuk mengecek rahimnya Tyas apakah bermasalah dan apakah benar mandul. Karena Pak Arif ingin membantu Tyas apabila pada saat perceraian Ahmad dan Tyas. Ahmad akan melakukan pembelaan bahwa Tyas mandul dan tidak bisa punya anak maka Ahmad mempunyai hak untuk menikah lagi.
Ningsih dan Pak Arif sedang keluar untuk mencari makanan di dekat rumah sakit.
"Pak Arif, saya mau tanya. Maaf sebelumnya, kenapa ibu saya dj masuk kan ke kamar VVIP. Saya belum tentu bisa bayar."
"Ya saya memindahkan ibumu ke kamar VVIP supaya lebih tenang, Kalo di kamar kelas 3 kasihan dan ada beberapa pasien belum lagi jika ada yg tamu untuk pasien yang lain. Pasti berisik. Ibumu butuh ketenangan, untuk itu, ibumu saya pindahkan. Sudah dibayarkan. Ngga usah mikir biayanya. Yang penting ibumu cepat swmbuh."
" Baik pa Arif. Terima kasih."
.
__ADS_1