Istri Suamiku

Istri Suamiku
Jati diri Tyas


__ADS_3

"Halo pagi Mirna, aku sudah di apartemen kamu."


"Pagi, maksudnya?"


"Maksudnya, aku jemput kamu, kita ke kantor bareng."


"Oh iya, tapi aku baru saja bangun. Atau kamu naik ke atas. Dan ini masih jam 6 pagi. Kamu sudah sampai sini."


"Ok. Aku naik ke atas."


Mirna mendengar ketukan di pintu. Mirna membuka pintu.


Edi melihat Mirna yang menggunakan daster dan agak berbayang menampilkan lekuk tubuh Mirna yang hanya menggunakan daster saja


"Masuk Di, aku mandi dulu ya. Aku sudah buatkan kopi."


Edi masuk ke dalam apartemen Mirna. Dan Mirna menutup pintu.


"Mirna. Jangan lama-lama mandinya."


"Ok Edi."


Mirna masuk ke kamar dan mandi. Selesai berpakaian Mirna menghampiri Edi yang sedang duduk di sofa. Dan duduk di sebelah Edi.


Mirna hari ini menggunakan rok ketat berwarna marun dan kemeja putih yang kancing bagian atas sengaja tidak dikaitkan, membuat belahan dadanya terlihat.


Edi yang melihat Mirna duduk disampingnya langsung mencium bibir Mirna.


Mirna bukannya menghindar malah menikmati ciuman dari Edi.


"Mirna, maukah kamu jadi istriku?"


"Tapi aku sudah menikah?"


"Kamu yakin tetap akan menjalani pernikahanmu dengan Ahmad? Kalau kamu memang maunya seperti itu ya tidak papa. Aku tidak masalah. Karena aku benar-benar mencintai kamu."


"Saat kemarin Sekar bicara sama kamu dan cerita mengenai Ahmad, sejujurnya aku ingin pisah dari Ahmad. Tapi bagaimana mungkin. Saat ini saja, aku tidak tahu Ahmad dimana. Handphonenua tidak aktif. "


"Apakah kamu mencintai Ahmad?'


"Ya, sebenarnya saat itu aku ingin punya suami yang mapan dimana aku tidak perlu bekerja lagi. Dan aku ingin pindah dari apartemen ini. Tapi saat itu Ahmad memberikan semua yang aku mau tapi aku harus tetap bekerja. Keinginanku adalah aku menjadi istri yang baik hanya melayani suami dan anak-anakku. Tapi pasti nanti ada saja yang bilang aku perempuan yang hanya ingin materi. Atau bisa dibilang perempuan matre."


"Sekarang kamu mau pisah sama Ahmad dan menikah sama aku atau mau melanjutkan tetap dalam pernikahan dengan Ahmad."


"Edi. Aku sudah memutuskan bahwa aku mau menikah sama kamu."


"Ok, hari ini kita tidak usah ke kantor. Kita urus semuanya hari ini. Agar kita bisa segera menikah."

__ADS_1


"Tapi pernikahanku dengan Ahmad bagaimana?"


"Itu bisa diatur. Dan setelah menikah. Kamu langsung aku boyong ke rumahku."


"Terima kasih Edi."


"Harusnya dari dulu kamu mau sama aku. Karena aku mencintai dan menyayangimu walau kamu sudah tidak perawan lagi."


Edi memeluk Mirna. Dan mereka keluar dari apartemen.


Ahmad bersiap akan ke ke Bogor dari tempat Maryam. Ahmad kesal karena tidak mendapat jatah dari Maryam karena ada tamu bulanan. Ahmad memberikan uang kepada Maryam untuk 1 bulan.


"Uang ini untuk 1 bulan. Saya harus kembali kerja. Jaga anak-anak dan jangan boros."


"Iya mas, maaf kalau kemarin aku minta lagi."


"Ya, saya sudah hitung semua pengeluaran bulan ini. Dan masih ada sisa untuk biaya tak terduga. Saya belum tentu bisa balik bulan ini kemungkinan bulan depan."


"Iya mas Ahmad. Hati-hati di jalan. Maaf aku tidak bisa melayani mas Ahmad."


"Aku berangkat. Jaga anak-anak."


"Iya mas."


Ahmad pergi meninggalkan rumah Maryam. Ia kesal karena Maryam tidak bisa memuaskan dirinya. Ahmad pergi ke Bogor.


"Wa'alaikumsalam Pak Joe. Pagi."


"Hari ini saya antar kamu ke rumah sakit."


"Tidak usah pak Joe, saya bisa sendiri. Saya tidak mau merepotkan pak Joe."


"Tidak merepotkan Tyas. Biar saya tahu juga perkembangan kamu bagaimana. Sampai saat ini kamu juga belum bisa merasakan dan mencium bau apapun kan?"


"Iya Pak Joe."


"Karena itu saya antarkan kamu. Sebentar lagi kita berangkat. Gege dan Ningsih sudah berangkat ke kantor?"


"Iya Pak Joe. Gege dan Ningsih baru saja berangkat."


"Ok, di tunggu sebentar ya Tyas."


"Ya pak Joe."


Pak Joe menuju ke rumah Tyas dan membawa makanan untuk sarapan.


"Assalamu'alaikum Tyas."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam pak Joe."


"Tyas. saya bawa makanan untuk sarapan. Kita makan bareng. Kamu belum makan kan?"


"Tadi sudah minum teh manis saja pak Joe."


"Ayo, kita makan dulu setelah itu kita berangkat."


Tyas mengambil piring untuk pak Joe dan dirinya. Mereka berdua makan. Dan setelahnya mereka berangkat ke rumah sakit.


"Tyas, minggu depan kamu sidang cerai. Apakah kamu sudah siap?"


"Siap tidak siap harus siap Pak. Saya sudah lelah dengan Ahmad dan saya tidak mau berurusan lagi dengan Ahmad dan keluarganya."


"Sebenarnya kamu sama Ahmad itu menikah bagaimana ceritanya? Maaf saya jadi menanyakan hal ini."


"Waktu itu saya pacaran dengan Edo. Saya, Edo, Ahmad dan Rara. Awal mulanya kami bersahabat. Saat itu saya sudah berpacaran dengan Edo. Sampai akhirnya Rara, meminta saya untuk menjauhi Edo karena Rara mencintai Edo. Dan saat Rara meminta saya untuk menjauhi Edo, ada Ahmad juga. Saya dikasih lihat photo Edo dan Rara yang sedang berciuman. Sampai akhirnya Edo berpacaran dengan Rara. Saya sangat mencintai Edo dan saat saya sedang terpuruk, Ahmad mendekati saya dan mengatakan akan menikahi saya secepatnya."


"Akhirnya kamu menikah dengan Ahmad?"


"Ya walaupun tidak direstui oleh keluarga Ahmad terutama paman dan bibinya Ahmad karena mereka menganggap bahwa saya dari keluarga yang tidak sederajat dengan mereka."


"Terus?"


"Saat itu ibu saya masih ada. Dan ibu menjual tanahnya kepada paman dan bibinya Ahmad untuk biaya nikah. Karena dari keluarga Ahmad tidak memberikan biaya apapun. Dan Ahmad berjanji akan mengembalikan uang tanah ibu saya sampai akhirnya ibu meninggal dan saya masih menyimpan sertifikat tanah ibu yang lainnya. Ahmad tahu itu. Saat ini sertifikat itu masih tersimpan di safety box bank. Teman saya yang kasih tahu waktu awal saya menikah agar keluarga Ahmad tidak mengambil tanah itu."


"Tapi apakah tanah itu masih ada sampai sekarang?"


"Masih Pak, dibangun untuk panti asuhan."


"Dan kamu tidak mau menjual tanah itu?"


"Tidak pak. Saya masih mampu bekerja. Biar dipakai dulu oleh panti asuhan. Banyak anak-anak yang tinggal di sana."


"Ok. Kamu sendiri itu benar-benar tidak punya saudara? Maaf saya bertanya lagi."


"Selama ibu saya masih ada. Tidak ada satupun saudara yang datang ke rumah. Sampai ibu saya meninggal pun tidak ada satupun yang datang. Dari kecil sebenarnya saya tidak tahu siapa ayah saya. Ibu selalu bilang bahwa ayah saya sudah meninggal. Ibu yang mencari uang untuk hidup kami berdua."


"Dan tanah itu dari siapa?"


"Tanah yang sekarang dibangun panti asuhan adalah tanah yang diberikan oleh seseorang untuk ibu. Waktu itu saya masih kelas 4 SD. Jadi saya tidak tahu siapa orang itu."


"Ya sudah. Yang penting sertifikat tanah aman di safety box di bank. Dan kamu tidak terlalu memikirkan tanah itu karena ada panti asuhan."


"Iya Pak. Anak-anak itu membutuhkan tempat. Kasihan mereka."


"Ok. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit."

__ADS_1


__ADS_2