Istri Suamiku

Istri Suamiku
Mang Endang


__ADS_3

"Tyas, rumah kamu ramai? Siapa yang datang?"


"Keluarganya Ningsih, pak Joe."


"Muat tidak itu rumah kamu? Kalau tidak muat, biar yang laki-laki di rumah saya saja."


"Muat pak. Tidak usah pak. Lagi pula rumah yang saya dan Ningsih tempati juga besar. Dan Ningsih ada di rumah terus sedangkan pak Joe kan besok harus kerja."


"Iya sih. Malah nanti Ningsih repot karena harus mondar mandir."


"Saya turun ya pak Joe. Terima kasih. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam Tyas. Selamat istirahat. Mimpi saya ya."


Pak Joe tersenyum dan terlihat semburat merah di wajah Tyas.


Tyas berjalan ke rumahnya. Setelah mengucapkan salam. Tyas masuk ke dalam rumahnya.


"Mbaknya siapa? Kok main masuk rumah orang sembarangan!" Mang Endang menatap Tyas yang baru masuk dengan tatapan tajam.


"Maaf, saya dengan Tyas temannya Ningsih."


"Oh kamu Tyas, temannya Ningsih! Ngapain bertamu malam-malam! Ngga punya adab! Kalau mau bertamu besok saja!"


"Maaf pak. Saya tinggal disini juga. Dan saya baru pulang kerja!"


"Eh, kamu asal ya kalau bicara. Ini rumah Ningsih! Sembarangan saja ngaku-ngaku rumah kamu! Keluar kamu!"


Ningsih yang mendengar keributan di luar segera keluar kamar.


"Mamang! Ada apa sih! Kenapa teriak-teriak! Sudah malam!"


"Ini ada perempuan ngaku-ngaku teman kamu dan bilang kalau dia tinggal disini!"


Ningsih melihat ke arah tangan mang Endang


"Astaghfirullah, mamang! Itu Tyas! Dia yang punya rumah ini! Kalau ngga tahu apa-apa jangan ngomong sembarangan! Kalau bukan karena Tyas, Ningsih dan almarhumah Gege tidak mungkin bisa tinggal disini!"


Ibunya Ningsih dan bibi juga keluarga Ningsih yang ada di dalam kamar akhirnya keluar karena mendengar suara ribut-ribut.


"Loh neng Tyas, kenapa berdiri saja. Masuk ayo." Ibunya Ningsih menghampiri Tyas dan menggandeng tangan Tyas untuk masuk.


"Endang! Kamu minta maaf sama teh Tyas! Ini rumah teh Tyas! Bukan rumah Ningsih!" Ibunya Ningsih terlihat marah sama Endang, adiknya.


"Iya, iya! Sabar. Wajar kalau Endang curiga! Main masuk saja tidak ngucapin salam."


"Mang!"


"Ning, sudah, sudah. Mang Endang, tadi Tyas sudah ngucapin salam, tapi tidak di jawab sama Mang Endang dan yang lainnya. Karena TV tidak nyala, pasti bisa dong dengar salam saya."


"Mana saya dengar. Makanya kalau masuk rumah ucapin salamnya yang keras biar dengar kami semuanya yang ada disini."


"Bu, mamang kenapa sih! Malam-malam ribut! Memangnya mamang pikir ini dikebun? Mamang harusnya sopan, disini bukan kampung!"


"Aaaahhh, meni reseh semua. Neng Tyas, saya minta maaf." Mang Endang mengambil rokok dan mau menyalakan rokoknya.


"Mang, maaf, kalau mau merokok di luar rumah. Jangan di dalam rumah. Saya ngga bisa kena asap rokok."

__ADS_1


"Hiiiihhh, mamang kenapa sih!" Ningsih kesal melihat kelakuan mamangnya.


Mang Endang bangkit berdiri dan keluar rumah. Uwak ikutan menemani mang Endang keluar.


"Neng Tyas, maafin kelakuan Endang ya."


"Ya bu, ngga papa. Saya ngerti dan maklum kok. Bu dan Ningsih dan semuanya maaf ya. Saya masuk ke kamar, mau mandi dan istirahat."


"Iya Tyas, maaf banget ya kelakuan mamang aku memang seperti itu."


"Sudah ah, santai saja Ning. Aku masuk ya."


"Iya neng Tyas. Silakan. Selamat istirahat ya."


"Iya bu, makasih."


Tyas masuk ke kamarnya.


"Bu, mamang benar-benar bikin malu Ningsih. Kalau bukan karena Tyas, Ningsih masih tinggal di kontrakan yang lama. Sempit dan berisik."


"Iya, nanti ibu akan bicara sama mamang kamu. Sudah kamu masuk. Ibu mau ke depan. Ibu mau bicara sama mamang dan ada uwak mu juga di depan."


Tyas baru selesai mandi. Dan ada 2 panggilan, juga pesan dari pak Joe.


Tyas baru mau membalas pesan dari pak Joe, ternyata pak Joe sudah menelpon Tyas.


"Assalamu'alaikum Tyas."


"Wa'alaikumsalam pak Joe."


"Iya pak Joe. Saya baik-baik saja. Itu ada sedikit salah paham sama saudaranya Ningsih. Tapi sudah clear kok pak.


"Oh ok. Ya sudah kalau gitu. Kalau ada yang perlu saya bantu kasih tahu saja ya."


"Iya pak Joe."


"Ya sudah, selamat istirahat, jangan lupa sholat."


"Iya pak Joe. Makasih."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, pak Joe."


Tyas menutup telpon dari pak Joe.


Apa iya pak Joe mau menikah sama aku yang janda? Apa iya orang tuanya pak Joe setuju dan merestui aku? Ya Allah, kasih aku petunjuk. Aku punya hutang sama pak Joe. Untuk menjawab pertanyaan pak Joe waktu itu. Tapi aku masih trauma. Sudah jam 11 malam. Sudahlah tidur saja. Yang terjadi besok ya terjadilah.


Tyas merebahkan badannya ke kasur.


Tyas terbangun karena suara berisik. Dan melihat jam. Ternyata jam 3 pagi. Tyas segera bangun, mengambil wudhu dan tahajud lalu dilanjutkan berdzikir sampai terdengar azan sholat subuh. Setelah sholat subuh. Tyas keluar kamar untuk menyiapkan sarapan.


"Pagi neng. Sudah bangun?"


"Pagi bu. bibi."


"Neng Tyas, siap-siap saja untuk kerja. Ibu sama bibi lagi buat sarapan untuk makan sama-sama nanti."

__ADS_1


"Iya bu. Sini Tyas bantu bu."


"Ngga usah neng, biar ibu sama bibi saja yang masak."


"Aduh, saya jadi ngga enak bu. Eh iya, mamang sama uwak dan yang lainnya pada kemana?"


"Mereka sholat di mesjid neng. Yang perempuan sholat di rumah saja. Neng, susah tidur ya, karena berisik. Maaf ya neng."


"Ngga kok bu. Saya ngga dengar apa-apa malah. Ya sudah kalau gitu bu, bi, saya masuk ke kamar ya."


Tyas kembali masuk ke kamarnya dan menyiapkan untuk ke kantor. Jam 06.00ada pesan masuk dari pak Joe. Bahwa hari ini mereka akan berangkat ke kantor jam 06.30.


Ningsih mengetuk kamar Tyas.


"Tyas, Tyas. Ada pak Joe."


"Iya Ning, sebentar."


Tyas keluar kamar dan mengunci kamarnya.


"Ningsih, ibu, bibi, uwak dan semuanya, saya berangkat ya."


"Loh neng, ngga sarapan dulu?"


"Ngga bu, karena sudah di jemput dan pagi ini saya ada rapat di kantor."


"Oh ya sudah. Hati-hati ya neng."


"Iya bu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Tyas dan Ningsih keluar rumah dan ada mamang yang sedang merokok di luar.


"Mang, Tyas berangkat kerja ya."


"Iya, sana."


Joe yang mendengar omongan mamang terlihat tidak suka. Ningsih yang melihat muka pak Joe merasa salah tingkah karena ucapan mamangnya.


Hiiiiiihhh, ini orang. Sayang aja mamang adiknya ibu. Kalau ngga udah aku teriakin!


Ningsih benar-benar kesal.


"Tyas, maaf banget ya omongan si mamang ngga ada saringannya."


"Ngga papa Ning, santai saja. Kamu jangan stress, sebentar lagi kamu nikah."


"Iya. Pak Joe, Tyas. Hati-hati ya. Jagain Tyas, pak Joe."


"Siap Ning, pastilah. Mari Ning, mang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Mobil pak Joe jalan. Ningsih berdiri di depan mamangnya.


"Mang! Bisa sopan tidak sih! Dipamitin malah jawabnya kayak gitu!" Ningsih menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam rumah."

__ADS_1


__ADS_2