
"Ningsih, semalam pulang jam berapa?"
"Aku sampai rumah jam 11, dan aku ketuk pintu kamar kamu tapi tidak ada sahutan. Jadi aku pikir kamu sudah tidur. Maaf ya Tyas, kemarin aku tidak ikut jemput kamu dari rumah sakit."
"Tidak papa Ning. Terus jadinya kapan acara pernikahan kamu?"
"Dua minggu lagi."
"Wah cepat sekali. Sudah tidak sabar ingin melihat kamu bersanding dengan pak Arif Pasti ok banget."
"Ya mungkin, jujur saat ini aku sedang ketakutan. Apakah benar keluarga mereka menerima aku yang bukan dari kalangan seperti mereka?"
"Wajar kamu takut Ningsih. Tapi sejauh ini aku tidak lihat pak Arif merendahkan kamu. Dan waktu acara lamaran kamu kemarin keluarga pak Arif menerima kamu dengan tangan terbuka kan?"
"Iya. Tapi kan saat lamaran itu tidak seluruh keluarganya datang."
"Perbanyak sembahyang supaya niat baik kamu dan pak Arif untuk menikah berjalan lancar."
"Iya Tyas, aku selalu sembahyang. Hanya saja keraguan dan ketakutan itu rasanya besar sekali."
"Iya aku paham. Terus hari ini kamu libur kerja?"
"Iya aku libur. Karena nanti siang aku sama pak Arif akan pergi untuk fitting baju. Pak Arif membeli baju pernikahan aku padahal aku sudah bilang untuk sewa baju pengantin saja. Eh pak Arif marah-marah. Maksud aku supaya jangan boros."
"Hahahah, Ningsih, Ningsih. Kamu ada-ada saja. Ya pastilah pak Arif marah. Ibaratnya satu butik bisa dia beli. Masa untuk calon istri yang dia cintai, bajunya sewa."
"Heheheh, iya sih. Eh iya. Kamu ngga usah masak ya. Aku sudah masak nasi. Ayo kita sarapan bareng. Nanti untuk makan siang dan malam tinggal dipanasin saja."
"Siap bu bos."
"Iiih, kamu tuh. Oh iya Tyas. Kan kemungkinan setelah menikah, aku tidak diperbolehkan untuk bekerja lagi. Aku sudah bilang sama pak Arif agar kamu yang menggantikan aku di kantor di bagian purchasing. Kamu mau kan gantikan aku?"
"Ya terima kasih. Aku ngga berani mengiyakan. Semuakan ada aturannya. Walaupun pak Arif yang punya itu pabrik."
"Iya, iya. Calon istri pak bos mah belum punya kuasa untuk memerintah yak, hahahahha."
__ADS_1
Tyas dan Ningsih tertawa bareng.
"Pak Dedi, hari ini saya mau ke HRD saya mau minta agar Tyas digantikan oleh pak Dedi. Semoga disetujui permohonan saya nanti."
"Saya ikut saja baiknya bagaimana bu Agnes. Kan bu Agnes saatnya sebagai manager saya."
"Ya, semoga saja nanti pak Arif juga langsung setuju. Pak Dedi kan tahu kalau sudah jadi keputusan pak Arif tidak bisa di ganggu gugat."
"Lah iya. Pak Arif yang punya. Ya ngga ada yang berani menggugat. Terus Tyas nanti bagaimana?"
"Ngga usah pikirkan Tyas. Itu nanti urusan saya menghadapi Tyas. Konsekuensinya Tyas, kalau sudah sembuh ya harusnya masuk kerja lagi jangan alasan masih harus istirahat."
"Jangan gitu bu Agnes. Coba kalau bu Agnes di posisi Tyas?"
"Sudah pak Dedi, tidak usah membahas Tyas. Tidak penting juga membahas Tyas. Memangnya dia siapa? Yang punya pabrik juga bukan? Orang kepercayaan pak Arif juga bukan tapi sepertinya dipermudah semuanya."
Siang ini sidang Ahmad. Pak Jerry sudah datang untuk mengikuti sidang Ahmad. Sementara Ahmad terlihat santai. Setidaknya Ahmad yakin bahwa ia akan bebas. Ahmad memakai jasa pengacara dan dia sudah membayar lebih kepada pengacaranya.
Kalau nanti keputusan sesuai dengan rencanaku. Aku pastikan Tyas tidak akan pernah bahagia. Aku harus bisa mendapatkan tanah yang menjadi haknya ibuku.
Ahmad tersenyum senang. Sudah banyak rencana di kepalanya saat ia dinyatakan bebas.
Ningsih sudah dijemput oleh supirnya pak Arif. Tyas membuka handphonenya dan mulai mencari-cari lowongan pekerjaan melalui internet.
Ada pesan masuk dari pak Jerry, bahwa Ahmad hari ini akan sidang pertama untuk masalah tabrak lari.
Ya, semoga saja keputusannya sesuai dengan apa yang Ahmad lakukan terhadap aku. Aku juga harus secepatnya keluar dari rumah ini. Agar tidak ada yang menganggu lagi. Kemungkinan Maryam akan kesini. Yang masih ada hubungan dengan Ahmad.
Tyas membatin. Dan mulai lagi mencari lowongan pekerjaan.
Selesai sholat. Tyas merebahkan badannya di sofa. Terdengar pintu rumahnya di ketuk.
Siapa yang datang siang-siang? Apa Ningsih sudah pulang?"
Tyas membuka pintu dan ternyata pak Joe.
__ADS_1
"Tyas, saya bawakan makan siang untuk kamu. Kita makan sama-sama."
"Pak Joe, Saya jadi merepotkan pak Joe. Jangan terlalu sering pak. Saya jadi tidak enak hati."
"Tyas, sudah jangan sungkan. Saya sengaja belikan makanan untuk kamu. Setelah makan siang, saya ada meeting dekat-dekat sini nanti jam 1an. Jadi sekalian saja bawakan makanan untuk kamu."
"Iya pak."
Pak Joe dan Tyas makan siang. Dan pintu rumah terbuka untuk menghindari omongan orang yang melihat pak Joe datang.
Selesai makan. Pak Joe segera pamit untuk pergi meeting.
"Tyas, nanti kamu kirim pesan ke saya. Nanti malam kamu mau makan apa? Biar saya belikan."
"Tidak usah pak Joe. Semalam Ningsih pulang dan bawa makanan. Untuk makan malam, saya tinggal panaskan makanan yang dibawa oleh Ningsih. Jadi pak Joe tidak usah repot-repot."
"Oh ok. Ya sudah kalau gitu. Nanti saya bawakan saja kue. Biar kamu ada makanan. Kamu kan baru masuk kerja minggu depan."
"Eng, tapi. Minggu depan... "
"Sudah, saya sudah harus pergi. Nanti malam kita ngobrol-ngobrol lagi ya."
Pak Joe segera masuk ke dalam mobilnya.
Tyas, seandainya kamu tahu, bahwa saya ingin segera menikah dengan kamu. Saya merasa kamu membangun tembok hatimu terlalu tinggi. Sehingga untuk melihat hatimu harus memanjat tembok itu dengan susah payah."
Pak Joe mengusap wajahnya dengan kasar.
"Huft... perjuanganku untuk mendapatkan kamu berat. Aku tidak boleh patah semangat. Aku harus bisa mendapat Tyas untuk pendamping hidupku."
Sidang Ahmad berjalan dengan lancar tetapi tidak sesuai dengan keinginan Ahmad untuk segera bebas. Ahmad ditahan selama 1 tahun.
Jerry segera mengirimkan pesan ke Tyas dan memberitahu bahwa Ahmad ditahan selama 1 tahun.
Ya baguslah setidaknya selama 1 tahun ke depan, aku sudah menghilang sehingga Ahmad tidak akan bisa menemukan dan menganggu hidupku lagi. Tyas membatin.
__ADS_1
Dan membalas pesan dari pak Jerry.
Tyas kembali mencari-cari lowongan pekerjaan. Sudah ada beberapa lowongan yang akan ia kirimkan lamaran. Salah satunya besok ada wak in interview. Tyas berencana akan datang besok. Tyas menyiapkan semua dokumen yang diperlukan. Besok pagi ia akan bernagkat. untuk melamar pekerjaan."