
Ningsih dan Tyas sudah sampai rumah.
"Tyas, kamu kenapa? Dari mulai keluar pabrik, naik bis dan sampai rumah, muka kamu ke tekuk gitu?"
"Tidak papa Ning. Hari ini aku rasanya capek banget."
"Iyalah kamu kan tadi pagi ke pengadilan terus dari pengadilan langsung kerja. Pasti capek. Ngomong-ngomong hasilnya bagaimana? Sudah di getok kepala Ahmad." Ningsih meringis berusaha untuk menghibur Tyas.
Ningsih berpikir bahwa Tyas merasa sedih harus cerai dari Ahmad.
"Alhamdulillah, akhirnya aku resmi bercerai dengan Ahmad. Cuma..."
"Cuma apa? Kamu sedih karena akhirnya perceraian kamu dikabulkan sama pengadilan?"
Tyas yang belum selesai bicara sudah dipotong sama Ningsih.
"Ih kok sedih sih. Aku malah senang akhirnya beban hidup aku terangkat satu. Hanya saja namanya orang hidup pasti ada saja ujiannya. Tadinya sudah bernapas lega, aku bisa melanjutkan hidupku supaya lebih baik lagi. Cuma... jangan dipotong dulu."
"Iya, terus.. "
"Cuma, aku sedih. Tadi pak Joe, bu Agnes dan aku dipanggil ke ruangan pak Arif. Ternyata mulai besok pak Joe tidak kerja di pabrik lagi tapi kerja di kantor baru punya kakaknya pak Arif."
"Oh, aku tahu, kamu sedih karena besok sudah tidak bisa bareng sama pak Joe lagi. Bakalan susah untuk bertemu sama pak Joe. Gitukan."
"Iiih, kamu tuh sukanya nuduh. Harusnya tanya dulu jangan asal nuduh."
"Lah, tumben kamu sensitif amat. Lagi pms bu?" Ningsih senyum-senyum melihat Tyas yang cemberut.
"Kamu mau dengarin atau tidak? Kalau tidak mau dengarin ya sudah tidak papa. Aku mau masuk kamar dulu, mau mandi terus masak untuk kita makan malam ini."
"Ih kenapa jadi ngambek sih. Habis aku bingung sama kamu. Muka kamu ke tekuk dan kusut gitu."
"Udah nanti saja. Badan aku sudah lengket, mau mandi dulu sekalian sholat baru nanti masak untuk makan malam kita."
"Ok, aku tunggu lanjutan ceritanya ya."
"Iya."
Tyas dan Ningsih masuk ke kamarnya masing-masing.
Tyas menghela napas panjang. Tyas segera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian, tidak berapa lama terdengar azan maghrib. Tyas Bersiap-siap untuk sholat.
Tyas hendak keluar kamar selesai sholat dan handphonenya berdering. Tertera nama pak Joe.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Tyas."
"Wa'alaikumsalam pak Joe."
"Tyas, saya ke rumah kamu ya. Saya ada makanan untuk kamu dan Ningsih. Kita bisa makan sama-sama."
"I-iya pak Joe. Terima kasih."
"Sama-sama. Ya sudah sebentar lagi saya ke rumah kamu."
Pak Joe menutup sambungan telponnya setelah mengucapkan salam.
Tyas membuka pintu kamar. Ternyata Ningsih yang membuka pintu rumah untuk pak Joe.
"Ningsih dan Tyas, kita makan sama-sama. Sudah lama sejak Gege meninggal kita tidak makan sama-sama lagi."
"Iya pak Joe. Nah itu Tyas baru keluar dari kamar. Masuk pak Joe. Kita duduk di dalam saja. Cuacanya lagi dingin."
Ningsih dan pak Joe masuk ke dalam. Tyas menyiapkan meja makan.
"Tyas, tidak perlu piring dan sendok. Jadi kalian tidak usah repot cuci piring dan gelas. Ini saya juga bawa minum buat kita bertiga."
"Wah, jadi merepotkan pak Joe. Terima kasih banyak pak Joe."
"Sama-sama Tyas."
"Tyas, tadi katanya mau cerita. Apa karena ada pak Joe disini jadi kamu tidak mau cerita."
"Iih, apaan sih Ning. Iya aku juga mau cerita."
Tyas terdiam beberapa menit.
"Tyas, kan kita sudah selesai makan. Kalau kamu mau ngobrol sama Ningsih, silakan saja. Saya pamit pulang."
"Eh, bukan, bukan gitu pak. Saya bingung mau cerita dari mana. Dan saya takut kalau pak Joe tersinggung. Karena tadi di ruang QC banyak yang sudah tahu mengenai status saya sebagai janda."
"Kenapa saya harus tersinggung? Ceritakan saja. Mungkin saya dan Ningsih bisa kasih solusi buat kamu. Apa ini masalah pekerjaan?"
"Hmm, iya pak. Sepertinya bu Agnes tidak suka saya menggantikan posisinya. Omongan teman-teman saat saya masuk untuk kerja membuat posisi saya serba salah. Dan disangkut pautkan dengan status saya yang janda."
"Maksudnya gimana sih Tyas. Kamu kalau cerita suka ngga jelas deh. Sudah cerita saja langsung ngga usah di tutup-tutupin. Lagi pula besok pak Joe tidak bekerja lagi di pabrikkan?"
"Ya intinya, mereka tidak suka aku yang menggantikan posisi bu Agnes. Dan mereka bilang aku sengaja dekat dan mencari perhatian ke pak Joe dan juga pak Arif. Setahu saya, banyak teman-teman perempuan di bagian QC suka sama pak Joe. Tetapi mereka melihat pak Joe selalu memperhatikan saya secara spesial."
__ADS_1
"Tyas, kamu harusnya bilang kalau pak Arif itu sebentar lagi menikah dan sudah ada calonnya. Calonnya pak Arif kan di dekat kamu sekarang."
"Iya bu Ningsih."Tyas berkata sambil tersenyum.
"Tyas, jngan terlalu di dengar omongan orang. Mereka mungkin iri. Dan kembali lagi bahwa kamu yang menggantikan posisi bu Agnes bukan pak Dedi seperti yang bu Agnes minta. Karena yang berhak memutuskan adalah pak Arif. Selama ini saya melihat hasil kinerja mereka dan saya melaporkan penilaian seluruh karyawan bagian QC karena memang tanggung jawab saya."
"Benar apa yang pak Joe bilang. EGP MALA."
"Hah EGP MALA? Apaan itu?"
"Emang Gue Pikirin Ma***s *j* Loe A****g. Maaf pak Joe. Saya gemes sama Tyas. Omongan orang dipikirin sampai mukanya ditekuk. Memangnya kamu minta makan sama mereka? Kamu bisa kerja karena usaha kamu. Kelebihan kamu ya walaupun banyak kekurangan kamu, tapi kamu masih mau belajar kayak aku kadang ngga pede. Apalagi nanti kalau satu pabrik tahu pak Arif menikah sama aku. Bisa-bisa tiap hari kuping aku panas sama keselek terus karena di omongin."
"Iya Ningsih. Tapi kadang aku takut dengan omongan mereka."
"Duh susah ya ngomong sama kamu. Udah kamu pakai kacamata kuda. Lempeng aja orang mau ngomong apa mengenai kamu. Pada akhirnya akan ketahuan siapa yang akan jadi pemenangnya. Maksudnya siapa yang nanti akan benar. Haduh, pokoknya gitu deh."
Handphone Ningsih berdering.
"Maaf pak Joe, Tyas. Aku masuk ke kamar ya. Pak bos nelpon nih."
"Ok Ningsih."
"Tyas, apa yang di bilang Ningsih benar. Kamu jangan terlalu memikirkan omongan orang. Biar saja mereka menilai kamu seperti apa. Pada kenyataannya kamu tidak melakukan. Dan nanti yang akan malu juga gigit jari mereka sendiri."
"Iya pak Joe. Dengan status saya sekarang mereka berpikir bahwa saya sengaja dan mencari kesempatan. Seandainya keputusan pak Arif bisa dirubah, mungkin akan lebih baik."
"Sudah ngga usah dibahas lagi. Life must go on."
"Iya pak Joe. Oh iya pak, saya mau tanya mengenai sidang pidana Ahmad. Apakah pak Joe sudah dapat info dari pak Jerry."
"Belum. Jerry belum bicara apapun. Memangnya kenapa? Kamu takut kalau nanti harus berhadapan lagi dengan Ahmad?"
Tyas menganggukkan kepalanya.
"Tidak perlu takut. Dalam pidana Ahmad, kamu tidak perlu bersaksi. Karena sudah ada orang yang akan bersaksi nantinya. Kamu kan yang jadi korban tabrak lari."
"Huuuffft, iya pak Joe." Tyas menarik napas panjang."
"Tyas, ini sudah malam. Saya permisi pulang. Besok pagi saya antar kamu ke pabrik."
"Tidak usah pak Joe. Besok saya sama Ningsih naik bis jemputan saja."
"Tenang, saya tidak hanya antar kamu. Tapi saya akan antar kamu dan Ningsih ke pabrik besok. Ya sudah kalau gitu. Sampai besok pagi. Saya pamit pulang. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam."
Tyas mengantar pak Joe keluar rumah. Dan Tyas menutup serta mengunci pintu lalu masuk ke kamarnya.