
Sudah seminggu Tyas bekerja di kantor yang sama dengan pak Joe. Dan hampir seluruh karyawan tahu baik pak Joe dan Tyas pernah bekerja di pabrik yang sama.
Minggu depan adalah hari pernikahan Ningsih. Dan hari ini ibu dan saudara-saudara Ningsih datang. Mereka semua menginap di tempat Tyas.
"Ning, nanti Tyas tidur dimana? Ibu ngga enak kalau harus merepotkan mbak Tyas."
"Nanti Tyas tetap tidur di kamarnya. Ibu sama bibi di kamar Ningsih, kita tidur bertiga. Terus kamar yang kosong dipakai sama yang perempuan-perempuan. Yang laki-laki termasuk uwak ya tidur di depan. Hari ini kasur datang untuk yang tidur di depan. Jadi ibu ngga usah kuatir."
"Ning, kamu kan sebentar lagi jadi istrinya bos besar, orang kaya, ingat jangan sombong nyak karena itukan harta suami kamu, kamu harus berbakti sama suami kamu. Alhamdulillah mimpi abah kamu terkabul punya menantu orang kaya dan terhormat. Ibu senang dengarnya."
"Ida, Ida. Eleh kemana teh si Ida."
"Ida disini kang, di kamar si Ningsih."
"Ada apa? Kenapa teriak-teriak."
"Itu ada yang datang katanya nganterin kasur sama bantal dan guling. Kasurnya gede-gede dan bagus. Kasur orang kaya mah bagus."
"Biar Ningsih saja yang terima."
Ningsih segera keluar rumah dan meminta kasur tersebut segera dimasukkan ke dalam rumah. Uwak, mamang dan laki-laki yang lain menggeser sofa dan juga meja. Sedangkan 1 kasur lagi masuk ke dalam kamar kosong.
Tidak berapa lama, datang makanan untuk keluarga Ningsih. Mereka makan bersama-sama.
"Ning, nanti kalau kamu sudah sah nikah. Mamang boleh minta tolong dibantu?"
"Dibantu apa mang?"
"Mamang butuh modal 50juta untuk buka usaha."
"Aduh mang, Ningsih ngga punya uang sebanyak itu."
"Lah ini buktinya kamu bisa beli kasur, ini pasti mahal terus makanan enak-enak gini sama cemilan dan minuman juga."
"Mang, ini bukan Ningsih yang beli. Tapi mas Arif. Karena mas Arif tahu kalau Ibu, mamang, bibi, uwak dan saudara-saudara Ningsih datang hari ini. Ningsih juga kerja gajinya ngga banyak."
__ADS_1
"Ya kan kamu bisa bilang sama suami kamu, kalau mamang butuh uang. Masa mamang harus pinjam sama kang Epi. Buat apa punya saudara kaya tapi pelit."
"Eh, kamu ya, Endang! Ningsih itu nikah bukan karena hartanya si Arif! Kamu, teteh ajak biar kamu jalan-jalan dan mendoakan Ningsih dan Arif supaya pernikahan mereka bahagia."
"Ya bilang aja teteh pelit! Saking pelitnya sampai teteh punya tanah banyak."
"Itu bukan punya teteh, tapi punya Ningsih! Teteh ngumpulin sedikit-sedikit dari uang gaji Ningsih yang tiap bulan dikirim sama Ningsih. Daripada kamu, tanah warisan dari orang tua sudah habis kamu jual. Untungnya istri kamu tidak teteh ajak. Bisa-bisa buat malu keluarga!"
"Ya sudah, dasar okb!" Mang Endang pergi keluar dan duduk di teras.
Tyas menerima pesan dari Ningsih, memberi tahu bahwa keluarganya sudah datang dari kampung.
Wah hari ini akan ramai di rumah. Tapi apakah rumahnya muat lalu mereka semua tidur dimana? Mungkin nanti akan ada yang tidur di kamarku.
"Tyas, kamu kenapa?"
"Eh, ngga papa mbak Olivia."
"Kamu melamun, apa ada yang mau kamu tanyakan lagi mengenai pekerjaan?"
"Ok. Oh iya Tyas, besok kita ada meeting internal. Saya mau kamu ikut, dan tadi saya ada kirim email, apa saja yang harus kita siapkan. Jadi kamu cek ya email kamu."
"Baik mbak Olivia."
Tyas kembali sibuk bekerja. Jam 7 malam, Tyas dan beberapa karyawan yang lain masih di kantor. Setelah dirasa semuanya beres, Tyas merapikan meja kerjanya.
Ya Allah, ngga sadar kalau sudah jam setengah 8. Dan hari ini aku pulang sendiri. Masa nebeng terus sama pak Joe. Dan seharian ini pak Joe tidak ada di kantor karena meeting di luar. Aku harus bisa pulang sendiri.
Tyas keluar dari gedung kantor. Tyas berpapasan dengan pak Joe yang akan masuk ke kantor.
"Tyas, alhamdulillah kamu masih dikantor. Tadi saya telpon kamu tapi handphone kamu tidak aktif."
"Iya pak Joe. Ini baru mau pulang, karena tadi banyak pekerjaan yang harus Tyas selesaikan. Ada apa pak Joe menelpon Tyas. Telpon Tyas habis baterai dan lupa bawa kabel charger."
"Saya mau pastikan kamu sudah pulang atau masih di kantor. Jadi pulang meeting saya langsung ke kantor. Alhamdulillah ternyata kamu baru keluar. Ayo pulang, ini sudah malam. Dan kita cari makan dulu ya."
__ADS_1
"Iya pak Joe. Tapi jangan makan di restoran, di warteg atau makan nasi goreng abang-abang juga ngga papa. Karena setiap makan, pak Joe ngajak ke restoran, Tyas ngerasa ngga enak hati karena dibayarin terus sama pak Joe."
"Hahahahha, ya sudah sekarang kamu yang tentukan, kita mau makan dimana?"
"Ya warteg atau pecel lele di seberang itu juga ngga papa. Saya yang bayar ya pak."
"Ya sudah, ayo kalau gitu. Kita kesana."
Pak Joe dan Tyas berjalan ke arah warung pecel ayam.
"Ini Tyas kemana ya. Sampai jam segini kok belum pulang? Aku coba telpon kok handphonenya mati."
"Ada apa Ning? Kok kamu kelihatan gelisah?"
"Ini bu, Ningsih coba hubungi Tyas tapi handphonenya tidak aktif. Dan ini sudah jam 9 malam, biasanya jam 7 Tyas sudah sampai rumah. Ningsih takut Tyas kenapa-napa."
"Biasanya Tyas pulang sendiri atau ada barengannya. Kamu tahu siapa barengannya Tyas. Coba telpon saja, siapa tahu kamu bisa tahu Tyas selamat atau tidak?"
"Oh iya, pak Joe. Sebentar bu. Ningsih telpon pak Joe."
Ningsih segera menelpon pak Joe.
"Malam pak Joe. Ningsih mau tanya apakah Tyas sama pak Joe? Karena Ningsih coba telpon ke handphonenya Tyas tidak aktif. Dan ini sudah malam tapi Tyas belum pulang. Ningsih kuatir Tyas kenapa-napa."
"Malam Ningsih, Tyas sama saya. Kami lembur. Ini sekarang dalam perjalanan pulang. Handphone Tyas mati karena Tyas lupa bawa charger handphonenya."
"Alhamdulillah, kalau Tyas sama pak Joe. Ya sudah pak, setidaknya saya lega. Hati-hati di jalan. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Tyas melihat ke arah pak Joe.
"Ningsih telpon tanya apakah kamu sama saya. Dia kuatir karena handphone kamu tidak aktif. Lain kali jangan sampai ketinggalan kabel chargernya biar bisa ditelpon. Kalau ada apa-apa yang menimpa kamu tetapi kamu tidak bisa dihubungi jadi susah. Saya bilang kita sedang jalan pulang."
"Iya pak. Kemarin malam Tyas ngecharge handphone. Terus tadi pagi lupa dibawa karena buru-buru juga."
__ADS_1
"Ok."