
Jerry dan Joe akhirnya menikah dengan pasangannya masing-masing.
Terlihat senyum penuh kebahagian terpancar dari kedua pasangan mempelai.
Tyas menikah dengan wali hakim, dikarenakan Tyas sudah tidak punya orang tua dan saudara.
"Maung, hari ini katanya Tyas menikah, elo diundang tidak nanti malam untuk pesta pernikahannya?"
"Hah! Seriusan hari ini Tyas menikah? Sama cowok yang namanya Joe itu?"
"Iya, tapi mereka menikah di Bandung."
"Nah, elo sendiri tahu dari mana kalau Tyas menikah?"
"Dari teman SMA, tapi yang diundang suaminya. Teman-teman SMA tidak ada yang diundang sama Tyas."
"Apalagi mantan pacar ya, hahhahah, Kasihan deh elo, Edo, Edo. Seperti pungguk merindukan bulan ngga pernah kesampaian."
"Biar sajalah, mungkin memang Tyas bukan jodoh gue. Ya udah Ung, gue cabut ya, mau jemput teman gue di lapas. Hari ini dia bebas."
"Elo punya teman mantan narapidana? Sadis juga pertemanannya."
"Ya kan berteman sama siapa saja. Ambil yang positifnya, negatifnya buang. Lagi pula dia itu mantan suami Tyas?"
"Oh ya? Mantan suami Tyas di penjara? Kasus apa?"
"Menabrak Tyas sampai Tyas koma."
"Hah! Sadis itu namanya. Kalau gue jadi elo, gue malas banget temanan sama dia. Ngga ada untungnya, karena sudah mencelakai istrinya sendiri yang juga teman elo dan yang elo cinta."
"Biar sajalah, itu buat pelajaran hidup dia. Gue pamit ya."
"Do, kirimin nama hotelnya. Nanti malam kan pesta pernikahannya Tyas, siapa tahu gue bisa datang untuk ngucapin selamat sama Tyas.
"Iya, nanti gue tanya sama teman gue."
Edo pergi untuk menjemput Ahmad yang hari ini bebas dari penjara.
"Gue pikir elo ngga datang jemput gue Do."
"Sorry, tadi ada urusan sebentar. Si Tyas hari ini nikah, di Bandung."
"Kita ke Bandung sekarang!"
"Sabar dulu. Pulang ke rumah, mandi, cukuran jenggot elo tuh udah panjang. Lagian ke Bandung juga ngga lama, perjalanan 3 jam lah."
__ADS_1
"Ya sudah, gue ikut. Tapi sebelumnya antar gue dulu ke ATM. Gue ngga ada pegangan uang."
"Masih punya uang elo?"
"Mobil elo aja udah ngga ada."
"Udah cepatan. Gue tinggal di rumah elo dulu, dari Bandung baru gue ke rumah gue dan jual rumah yang satu lagi."
"Hahahahaha, ternyata elo masih punya uang banyak ya."
Edo dan Ahmad pergi meninggalkan lapas. Dan pulang ke rumah Edo.
"Tyas, terima kasih. Akhirnya kita sudah sah sebagai suami istri."
"Iya pak Joe, harusnya saya yang bilang."
"Tyas, saya sudah jadi suami kamu, jangan panggil saya dengan sebutan pak Joe."
"Kebiasaan, selama ini kan panggil pak Joe." Tyas tersipu malu.
"Terserah kamu saja sayang. Yang penting kamu nyaman."
Pintu kamar hotel mereka di ketuk.
"Mas, ada yang mengetuk pintu."
"Mama, masuk ma."
Mama menghampiri Tyas yang duduk sofa kamar hotel dan memeluk Tyas.
"Tyas, terima kasih. Akhirnya hari ini mama bisa lega karena kedua anak mama menikah."
"Sama-sama mama. Tyas merasa bahagia, karena mama bersedia menerima Tyas yang seorang janda."
"Tyas, tidak ada sebutan janda atau gadis. Mama tidak pernah melihat status kamu. Yang penting Joe bahagia dan menerima kamu. Mama cuma minta satu dari kamu, cepat punya anak. Biar mama bisa gendong cucu dari kamu dan Joe juga dari Jerry dan istrinya."
"Mama, baru tadi ijab kabul, masa sudah minta cucu. Kan semua butuh proses ma."
"Mama tahu Joe. Memangnya yang hidup duluan kamu? Maksud mama jangan nunda punya anak. Segera buat yang banyak biar rumah mama ramai dengan cucu-cucu."
"Iya ma. Nanti malam Joe segera buat sama Tyas. Mama ngga usah kuatir."
Muka Tyas memerah karena omongan Joe dan mamanya.
"Joe dan Tyas, nanti jam 3 kalian turun ya. Buat di rias lagi. Jangan telat loh ya.
__ADS_1
"Iya ma."
Mama Alida keluar dari kamar hotel.
"Tyas, dengarkan tadi mama ngomong apa?"
"Iya mas. Tyas dengar."
"Nanti malam ya."
"Iya mas."
Joe memeluk Tyas dan mencium bibir Tyas dengan lembut.
Edo, Ahmad dan Maung dalam satu mobil. Mereka bertiga menuju ke Bandung. Sepanjang perjalanan mereka bertiga diam dengan pikiran masing-masing.
"Do, sudah jam 6, kita langsung ke hotel saja tempat Tyas menikah. Kalau perlu kita menginap di hotel yang sama."
"Baru nanti jam 7 pesta pernikahan Tyas. Ngapain juga harus di hotel yang sama dengan Tyas? Elo ada rencana apa sama Tyas?" Edo bertanya kepada Ahmad. Edo tidak mau kalau nanti Ahmad akan mengacaukan pernikahan Tyas.
"Gue ngga ada rencana apapun. Gue mau ngucapin selamat dan setidaknya gue bisa ngobrol sama Tyas sebelum dipakai sama laki-laki itu!"
"Eh, sorry. Gue ngga mau ikut campur urusan kalian berdua. Gue mau bareng sama kalian ke Bandung, biar ngga bengong sendirian aja di jalan. Dan elo, Ahmad. Kenapa sih elo ngga suka ngelihat mantan istri elo bahagia. Gue sudah kenal sama Tyas dari kecil. Gue tahu banget Tyas gimana."
"Gue ngga punya urusan sama elo. Gue lagi ngomong sama Edo. Urusan Tyas tetap jadi urusan gue. Kalau elo tidak mau bareng kita berdua menginap di hotel yang sama dengan Tyas. Elo nyingkir aja."
"Ok, gue akan turun disini, gue ngga mau jadi pesakitan seperti elo berdua!"
"Ung, bukan gitu, elo salah paham sama omongan Ahmad."
"Sorry Do, gue bukan orang picik seperti kalian. Gue datang ke sini, ingin mengucapkan selamat atas pernikahan dia. Bagusnya Tyas sudah cerai sama teman elo, Do. Berhenti. Gue turun disini saja. Lagipula ini sudah di Bandung."
Edo akhirnya menepikan mobilnya setelah Ahmad menatap tajam ke arahnya.
"Istighfar elo berdua! Padahal elo baru aja keluar dari penjara. Allah tidak tidur! Tyas sudah senang dan bahagia, jangan iri dengan kebahagian orang lain!"
Maung berbicara sebelum keluar dari mobil Edo lalu menutup pintu mobil Edo dengan kasar.
"Jalan sekarang. Gue ngga punya banyak waktu. Gue harus tahu Tyas ada di kamar nomer berapa."
"Aaah, elo jangan sarap kenapa sih! Gue tadi kasih tahu elo bukan untuk buat keributan di pernikahan Tyas!"
"Siapa yang mau buat keributan? Gue mau kasih selamat dan mau mengobrol sama Tyas berdua saja."
"Nah itu. Gue yakin elo punya maksud sampai niat mau mengobrol sama Tyas."
__ADS_1
"Jangan sok tahu, jangan suudzon sama gue. Ada hal penting yang elo ngga tahu mengenai Tyas! Apa elo mau ikutan kayak teman elo yang tadi? Silakan saja."
Gue harus jagain Ahmad, supaya jangan merusak pesta pernikahan Tyas. Kelihatan sekali kalau Ahmad tidak suka kalau Tyas menikah lagi."