
Tyas pergi dengan Edo ke kantin rumah sakit.
"Kamu mau makan dan minum apa, Tyas?"
"Aku mau air dingin saja Do. Aku tidak makan. Tadi sebelum berangkat, aku sudah makan."
"Ok.
Edo memesan minuman dan makanan untuk dirinya.
" Sorry Tyas, aku belum makan. Kamu yakin tidak mau makan?"
Tyas menganggukkan kepalanya.
"Tyas, aku mengajak ketemuan kamu karena ada yang ingin aku ketahui mengenai kamu dan Ahmad."
"Ya pasti kamu seringlah berhubungan dengan Ahmad. Aku sudah lama tidak menelpon Ahmad. Dan aku juga tidak mau lagi berhubungan dengan Ahmad."
"Maksudnya? Kamu akan cerai dari Ahmad."
"Ya, aku akan cerai dari Ahmad, setelah apa yang telah dia perbuat selama ini."
"Ahmad selingkuh? Ahmad kdrt sama kamu? Atau bagaimana? Cerita saja Tyas. Aku masih tetap sahabatmu."
"Rasanya tidak pantas menjelek-jelekkan suami sendiri. Dan aku yakin kamu sudah tahu semuanya dari Ahmad. Lebih baik tidak usah membahas masalah pernikahanku sama Ahmad. Karena bukan untuk konsumsi umum. Walaupun dengan sahabat sendiri. Baik buruknya pernikahanku adalah rahasia aku dan suamiku."
"Ok, aku hargai keputusanmu. Tapi kalau aku boleh jujur, aku masih cinta sama kamu."
"Hahahah, semua orang baik itu laki-laki ataupun perempuan pasti mempunyai rasa cinta. Dan wajar saja. Terima kasih kalau kamu mencintai aku."
Edo menceritakan apa yang ia tahu mengenai Ahmad sejak awal Tyas dan Ahmad menikah. Tyas sudah tidak kaget. Tyas hanya mendengarkan saja.
"Ya sudahlah Edo, mau disesalin pun tidak akan merubah keadaan. Yang ada saat ini adalah menjalani hidup lebih baik lagi kedepannya. Mengenai Ahmad bagaimanapun aku sudah tidak mempunyai kepentingan lagi."
"Tyas, seandainya kamu jadi bercerai dengan Ahmad. Apakah kamu bersedia menjadi istriku."
"Aku belum memikirkan untuk menikah lagi selepas cerai dari Ahmad. Dan mengenai keputusan sidang pun aku belum dapat karena aku belum sidang cerai."
"Aku ingin menikah sama kamu, tapi kamu lebih memilih Ahmad. Dan aku kecewa saat itu. Tapi mungkin memang ini jalan hidup yang harus aku jalani sampai akhirnya aku tahu dari Ahmad."
__ADS_1
"Masa lalu lebih baik untuk dikenang dan jadi pelajaran hidup bukan untuk dijadikan dendam untuk membalas di kemudian hari. Jadi maaf, aku tidak bisa menikah sama kamu. Aku belum bercerai Edo. Sampai saat ini aku masih berstatus istri Ahmad."
"Kamu takut menikah sama aku? Karena aku bilang aku sempat kecewa sama kamu karena memilih Ahmad?"
"Aku bukan takut untuk menikah lagi. Tapi aku ingin menata hidupku lagi. Dan aku tidak takut jika memang ternyata kamu jodohku selanjutnya. Melihat dari bicaramu, perasaan kecewa itu masih ada. Jangan membohongi dirimu sendiri. Dan kamu bisa jadi melampiaskan kekecewaanmu sama aku. Tidak menutup kemungkinan hal itu akan terjadi. Jadi maaf, aku tidak bisa menikah sama kamu karena aku belum sidang cerai dan aku masih berstatus istri orang."
"Maaf Tyas kalau kata-kataku membuat kamu merasa tidak nyaman."
"Santai saja Edo. Namanya orang hidup pasti ada kalanya tidak merasa nyaman. Sebentar handphone aku bunyi."
"Halo Tyas. Kamu dimana? Saya sudah selesai jenguk Gege. Kamu sudah selesai sama temanmu atau belum?"
"Saya di kantin pak."
"Ya sudah saya ke kantin ya."
"Iya pak."
Tyas mematikan handphonenya.
"Kamu sudah mau pulang Tyas? Pulang bareng aku saja."
"Belum, yang tadi temanku Ningsih dan pak Arif. Mereka mau menikah. Dan rencananya dari rumah sakit, kami akan membantu pernikahan mereka. Jadi aku tidak bisa pulang bareng kamu."
"Maaf Edo, aku tinggal di mess bareng teman-teman pabrik. Dan aku tidak bisa kasih alamatnya. Karena ketat penjagaannya. Tidak gampang untuk bisa main ke mess."
"Tyas, kamu sudah selesai? Ayo kita pulang sekarang. Ditunggu sama Ningsih dan pak Arif."
"Eh pak Joe, iya sudah pak. Edo, aku permisi pulang duluan yah. Terima kasih kita akhirnya bisa bertemu."
"Ok Tyas. Aku berharap kamu mau memikirkan kembali mengenai kata-kataku."
"Maaf Edo, aku tidak bisa. Lebih baik kita tetap berteman, bersahabat saja ya. Aku sudah harus pergi, tidak enak kalau kelamaan. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Tyas meninggalkan Edo yang masih duduk.
Tyas, kamu semakin cantik. Dan kamu tidak mau menerima aku untuk menjadi suamimu selepas nanti bercerai dari Ahmad. Sampai kapanpun aku tetap mencintai kamu Tyas. Aku akan minta Ahmad untuk melepaskan Tyas.
__ADS_1
Edo meninggalkan kantin dan berjalan ke parkiran.
Mirna bertemu dengan orang tua Edi.
"Oh, jadi ini calon pacar kamu? Bukan calon istrikan?"
"Mami, ini calon istri Tyo. Namanya Mirna."
"Calon istri kamu? Apakah kamu yakin? Perempuan seperti ini yang mau kamu jadikan istri? Siapa nama kamu tadi?"
"Mirna, tante."
Mami Tyo memandang Mirna dengan sinis.
"Kamu benar-benar cinta sama anak saya atau cinta sama harta anak saya?"
"Saya cinta sama Tyo atau Edi, tante."
"Atas dasar apa? Kamu berharap nanti setelah menikah sama Tyo, kamu menjadi nyonya besar? Saya tahu kamu. Jangan dikira saya tidak tahu. Saya punya orang yang perhatikan gerak-gerik kamu!"
"Tapi tante, saya benar-benar cinta sama Edi atau Tyo. Saya memang awalnya tidak suka Edi mendekati saya dan saya menolak Edi. Tapi.."
"Dan akhirnya kamu menerima Tyo setelah tahu rumah Tyo dimana, Rumah Tyo sebesar apa? Tyo ternyata kaya. Bukan begitu bukan?"
"Ya awalnya memang... "
"Mami, Mirna memang menolak Tyo awalnya. Karena Mirna pernah batal menikah dan lelaki yang menjadi calon suaminya ternyata sudah menikah."
Edi memotong omongan Mirna dan berusaha membela Mirna di depan maminya.
"Kamu diam Tyo, tidak usah membela perempuan ini di depan mami! Mami sudah tahu semuanya. Perempuan ini tidak batal menikah, perempuan ini sudah menikah. Dan perempuan ini berharap setelah menikah dengan kamu dia akan menjadi nyonya dan hidup enak. Perempuan ini pikir, kamu mendapatkan semua itu dari mami? Dari papi? Kamu berjuang sendiri mewujudkan impian kamu!"
"Mami, jangan marah sama Mirna. Tyo cinta sama Mirna. Tyo mau menikah sama Mirna. Karena itu Tyo ajak Mirna ke rumah supaya bisa kenal sama mami dan papi."
"Papi kamu tidak di rumah. Papi pergi keluar kota tadi pagi."
"Hei Mirna! Kamu itu perempuan yang hanya mengandalkan badanmu yang bagus itu untuk mendapatkan laki-laki yang kaya. Harusnya kamu itu berpikir baik-baik. Apakah kamu cukup baik untuk jadi istri Tyo. Atau kamu hanya melihat hartanya. Sekarang berapa yang kamu minta? Akan saya berikan cek sekarang juga."
"Sudah mami. Tyo pamit pulang. Ayo Mirna, kita pulang saja."
__ADS_1
"Hei Tyo sejak kapan kamu kurang ajar sama mami!"
Tyo atau Edi menarik tangan Mirna. Mereka keluar dari rumah orang tua Tyo. Dan pergi.