
"Tyas, Tyas, ayo sekarang kita siap-siap ke rumah sakit jenguk Gege."
"Iya, sebentar. Aku ganti baju dulu."
Tidak berapa lama, Tyas keluar.
"Tumben kamu pakai kaos dan cardigan, jeans pula, biasanya kemeja dan celana panjang kain.
"Lagi pengen. Memangnya tidak boleh? Kamu sudah telpon pak Joe, Ning?"
"Sudah, bentar lagi dia kesini."
"ok, terima kasih Ning."
"Tyas, pak Joe itu suka sama kamu loh. Masa kamu tidak merasa?"
"Ningsih, jangan berpikir macam-macam. Pak Joe itu bujangan belum pernah menikah. Ngga mungkinlah dia suka sama aku."
"Tyas, aku ngga berpikir macam-macam. Aku suka lihat gimana tatapan pak Joe saat berhadapan sama kamu. Itu beda loh, sama yang tidak punya perasaan suka. Lagi pula pak Joe sudah mapan. Setelah bercerai kamu bisa dekat sama pak Joe."
"Ningsih, maaf. Aku bercerai dari mas Ahmad bukan untuk mencari laki-laki lain. Bukan aji mumpung, karena ada yang laki-laki dekat sama aku, setelah selesai sidang langsung nikah. Aku masih belum memikirkan untuk menikah lagi. Yang aku pikirkan adalah, aku bercerai, aku melanjutkan hidupku. Aku pengen pindah kerja supaya mas Ahmad tidak ganggu hidup aku lagi setelah cerai. Karena aku tahu sifat mas Ahmad seperti apa."
"Maaf Tyas. Aku hanya sekedar memberitahu kamu mengenai pak Joe. Bukan bermaksud menjodohkan kamu dengan pak Joe."
"Ngga papa Ningsih. Hanya saja aku mohon jangan menjodohkan aku dengan pak Joe. Aku nanti yang tidak enak hati. Pak Joe laki-laki yang baik. Dan Allah sudah mempersiapkan jodoh yang baik untuk pak Joe."
"Iya memang. Dan Allah menyiapkan kamu untuk pak Joe."
"Hahahah, kamu kekeuh ya jodohkan aku sama pak Joe. Biar aku ge-er gitu? Hati-hati ah Ning, takutnya pak Joe dengar, aku yang tidak enak hati."
'Tapi kamu maukan?"
"Ya ngga munafik, maulah, tapi aku juga sadar diri. Dan tidak mau terlalu pusing mikirin. Yang aku pusing, calon suami kamu mana? Katanya mau nengokin Gege."
Joe mendengar obrolan Tyas dan Ningsih. Ternyata memang perlu waktu dan sabar agar bisa mendapatkan Tyas. Dan Joe akan menunggu sampai Tyas benar-benar membuka dirinya untuk menerima hubungan baru selepas cerai nanti.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Masuk pak Joe."
"Iya, terima kasih. Saya di luar saja, sekalian nunggu pak Arif datang."
Tidak berapa lama, pak Arif datang.
"Joe, kamu naik mobilmu saja sama Tyas. Rencananya saya akan pergi dengan Ningsih setelah mejenguk Gege."
"Baik pak Arif."
"Kita langsung ketemu di rumah sakit saja ya.
Tidak usah beriringan mobilnya. Ayo Ningsih, kita berangkat sekarang."
"Tyas, tumben bajumu begitu."
__ADS_1
"Iya pak Joe, lagi pengin pakai baju gini. Inget waktu masih muda heheheh."
"Oh, jadi sekarang sudah tua ya."
"hahahah, jadi malu saya."
Handphone Tyas berbunyi
"Tyas, aku sudah di rumah sakit. Aku tunggu kamu di depan lobby rumah sakit ya."
"Oh iya. Aku masih dalam perjalanan ke rumah sakit. Di tunggu ya."
"Ok"
Tyas mematikan handphonenya.
"Teman kamu ada yang sakit?"
"Tidak pak. Teman saya, Edo ngajak ketemuan di rumah sakit."
"Ok."
Tidak berapa lama Tyas dan pak Joe sudah sampai rumah sakit.
Edo melihat Tyas dan segera menghampiri
"Tyas, ini kamu Tyas?"
"Baik, aku sampai pangling lihat kamu. Beda banget sama yang dulu. Kamu cantik Tyas."
"Hahahha, nyindir. Bilang aja terus terang aku jelek. Oh iya, kenalkan, ini pak Joe, teman kantor sekaligus atasan aku dan temanku yang saat ini sedang di rawat. Aku jenguk kawanku dulu atau kamu ikut saja sekalian."
"Iya, boleh. Saya Edo, teman Tyas."
Edo dan Pak Joe saling memperkenalkan diri.
Mereka bertiga berjalan menuju ke kamar Gege.
"Gege. Gimana kabar kamu?"
"Sudah lumayan mbak Tyas. Eh ada yang baru."
"Iya ini teman aku, Edo. Ningsih sama pak Arif belum sampai sini?'
"Oh teman apa teman? Mbak Tyas kan belum cerai dari Ahmad pki. Kok sudah bawa gandengan baru."
"Ya Allah, Gege. Sakit aja masih begini mulutnya apalagi ngga sakit. Kamu borcil banget sih. Ini Edo juga temannya Ahmad. Kok ada tambahan pki. Memangnya Ahmad komunis?"
"Borcil apaan sih mbak? Iya Ahmad memang komunis perempuan."
"Gege.. ."
"Hush, jangan berisik. Elo datang langsung teriak. Ini rumah sakit woii. Untungnya tetangga sebelah lagi keluar."
__ADS_1
"Ngapain tetangga sebelah elo keluar?"
"Beli rujak sama asinan. Tadi nanya gue mau sekalian ngga, dia mau beliin."
"Ya kali elo makan rujak sama asinan. Yang ada makin lama di rumah sakit."
"Iiiihhh, doa elo jelek. Mana calon suami elo yang melintir? Elo ngga ketemu gue kangen ya Ning."
"Siapa yang melintir Gege?"
"Eh pak Arif. Bapak yang tajir melintir."
"Kok tadi saya dengarnya melintir saja."
"Dicopot dulu pak yang dikuping bapak. Itu mikroponnya yang dikuping bapak."
"Hahahah, mikropon? Memang kuping saya mau nyanyi. Kamu gimana kabarnya?"
"Ya, mbak Ning, kok calon suami elo pakai nanya kabar. Udah tahu gue masih pakai selang infus. Maaf ya pak Arif, kita bukan di kantor. Jadi jangan potong gaji saya."
"Hahahahha, ngga di potong gaji, tapi tidak di kasih gaji."
"Ya si bapak mah pilih kasih. Waktu mbak Tyas sakit, dia tetap dapat gaji utuh. Malah dapat bonus?"
"Hah, bonus apaan? Siapa bilang aku dapat bonus?"
"Nah itu bonusnya ditunggu sama pak Joe selama sakit dan dirawat di rumah sakit."
"Oh Gege mau saya temenin nanti malam?"
"Ngga deh pak Joe, makasih. Yang ada nanti pak Joe dicakar sama pacar saya. Soalnya pacar saya itu kucing garong, sukanya nyakar sama gigit. Apalagi kalau lagi main kuda-kudaan sama saya. Banyak bekasnya di dada saya."
"Gege! Mulut-mulut, di jaga kenapa? Masih sakit aja bawel banget."
"Astaghfirullah, maaf-maaf kanvas rem mulut Gege belum dibawa ke bengkel."
Semuanya tertawa mendengar omongan Gege.
"Maaf, aku sama pak Arif telat. Ini bawaiin bubur buat kamu cemal cemil."
"Tukang buburnya aja bawa ke sini kan lebih enak tuh kalau tukang buburnya di cemilin. Yang sakit itu gue apa elo sih Ning? Segala bubur suruh di cemilin."
"Hahahah, ngga Gege sayang, gue bawain elo makanan tapi empuk semua. Kan elo kena typhus. Masa gue bawain batu bata. Itu kan keras."
"Au ah Ning, kurang kalau batu bata doangan. Sekalian bawa pasir, semen sama kayu dan tukangnya, biar jadi rumah. Pak Arif, diperiksa itu calon istrinya. Somplak banget deh otaknya.
Mereka tertawa. Edo mencolek tangan Tyas.
"Eh iya. Pak Arif, Ningsih, Gege dan pak Joe, saya keluar dulu. Mau ngobrol sama teman saya Edo. Permisi semuanya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati mbak Tyas jangan sampai kena komunis lagi."
"Iya Gege, siap."
__ADS_1