
"Tyas, buka pintu. Pak Joe sudah jemput kita. Tyas." Ningsih mengetuk kamar Tyas.
Tyas membuka pintu kamarnya.
"Maaf Ningsih. Sepertinya hari ini aku tidak masuk kerja. Perut dan badanku sakit semua."
Tyas membuka pintu kamarnya, mukanya terlihat pucat.
"Ya Allah, ayo kita ke dokter sekarang Tyas. Mukamu pucat sekali. Aku akan ijin tidak masuk ke kantor hari ini."
"Makasih Ning. Aku akan tiduran dulu."
Tyas berjalan ke tempat tidurnya dan merebahkan badannya.
Ningsih segera keluar menemui pak Joe
"Pak Joe, maaf sepertinya hari ini aku dan Tyas tjdak bekerja. Tyas sakit dan aku akan mengantarkan Tyas ke dokter."
"Tyas sakit?! Saya akan mengantarkan kalian ke dokter."
Pak Joe masuk ke dalam rumah dan membantu Ningsih menuntun Tyas. Mereka bertiga pergi ke dokter.
Tyas harus di opname karena terkena tipes.
"Maaf, jadi merepotkan pak Joe dan Ningsih."
"Sudah jangan banyak bicara dulu, istirahat. Jangan mikir macam-macam."
"Iya pak Joe."
"Ningsih, kamu jaga Tyas ya. Saya harus masuk kantor. Saya sudah kasih tahu ke pak Arif, juga manager kalian berdua."
"Iya pak Joe. Terima kasih. Hati-hati di jalan. Saya pasti akan jaga Tyas."
Pak Joe menganggukkan kepalanya dan mengucapkan salam sebelum pergi.
"Ning, boleh minta tolong ambilkan handphoneku."
"Untuk apa? Kamu istirahat Tyas. Tidak usah pusing dan mikirin macam-macam."
"Aku mau telpon bu Agnes. Kasih tahu dia kalau aku tidak masuk kerja hari ini."
"Tidak usah. Pak Joe sudah telpon ke bu Agnes. Kamu kan tadi dengar sendiri jadi sekarang istirahat."
__ADS_1
Tyas hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Ahmad, ada yang mau bertemu dengan kamu. Ayo keluar."
Polisi membuka pintu sel dan membawa Ahmad bertemu dengan tamunya.
Maryam? Bagaimana dia bisa tahu aku di penjara.
"Mas Ahmad. Kamu kenapa bisa masuk ke penjara?"
"Aku tanya balik sama kamu. Darimana kamu tahu aku di penjara?"
"Tidak penting aku tahu darimana. Anak-anak kamu butuh uang. Bagaimana aku menghidupi Keisha dan Malik?"
"Bagaimana aku mau kasih uang? Aku di penjara tidak bisa keluar. Kenapa bilang Keisha dan Malik anak aku saja! Mereka itu juga anak-anak kamu dan masih keponakan kamu! Dengan kamu menikah sama saya, Keisha dan Malik anak kamu juga. Paham kamu!"
"Iya mas, maaf aku salah bicara. Lalu bagaimana untuk kami makan sehari-hari? Warung yang di pasar sudah aku jual ke orang lain dan aku sudah tidak ada tempat lagi untuk jualan di pasar."
"Kamu kan bisa jual perhiasan kamu, sampai aku bisa keluar dari penjara! Kamu tidak pintar seperti kakakmu!'
" Tapi mas. Saat ini anak-anak belum bayar uang sekolah semua. Dan biaya yang paling besar untuk sekolah itu punya Keisha dan Malik."
"Sudah, kamu jual perhiasan kamu dan aku akan belikan lagi saat aku keluar dari penjara."
"Kamu tanyalah sama polisi."
"Aku akan coba minta tolong sama mbak Tyas untuk bisa keluarkan mas Ahmad dari penjara. Apa benar mas Ahmad menabrak mbak Tyas?"
"Iya, aku menabrak Tyas. Memangnya kamu tahu dimana rumah Tyas? Kamu juga tahu berapa no handphone Tyas?"
"Kalau rumahnya aku sudah tahu mas tapi untuk no handphone Tyas, aku tidak tahu."
"Itulah kamu, Maryam. Terlalu b*d*h! Harusnya kamu bisa sekalian minta no handphone Tyas."
"Iya mas, maaf. Mas, bisa tidak aku yang pegang kartu ATM mas Ahmad?"
"Hah! Yang ada nanti semua uangku kamu ambil lalu kamu taruh Keisha dan Malik di panti asuhan!"
"Ya terus bagaimana mas?"
"Sudah, nanti aku pikirkan. Dan aku minta sama kamu untuk ke rumah Tyas lagi. Minta sama dia untuk mencabut tuntutannya!"
"Iya mas. Aku akan ke rumah Tyas lagi."
__ADS_1
"Ya sudah, Aku mau tidur! Pulang, kasihan anak-anak kamu tinggal!"
"Iya mas. Kalau gitu aku pamit pulang. Assalamu'alaikum."
"Hmmm"
Ahmad bangkit berdiri dan menghampiri polisi untuk masuk lagi ke dalam selnya.
Aku harus bisa dapat no handphone Tyas dan minta dia untuk mencabut gugatannya.
Maryam menghampiri Bibi yang menunggu di depan kantor polisi
"Gimana? Ahmad mau kasih uang ke kamu?"
Maryam menggelengkan kepalanya. Wajahnya terlihat sedih dan menangis.
"Gimana sih. Apa dia tidak mikir anak-anaknya. Benaran dia menabrak Tyas? Terus kita balik ke kampung pakai apa?"
"Iya bi, mas Ahmad menabrak mbak Tyas. Pulang ke kampung, Maryam akan jual kalung juga anting dan cincin yang Maryam pakai. Sebelum balik ke kampung, kita ke rumah mbak Tyas lagi bi. Atau kita ke tempat kerjanya."
"Ya sudah kita ke tempat kerjanya saja. Kita tunggu di bis jemputan jadi saat dia naik bis jemputan bisa lihat kita."
"Iya bi. Kalau gitu sekarang saja kita langsung ke tempat kerjanya baru nanti kita cari warteg di dekat sana."
"Bu Agnes, kemana si Tyas? Tidak masuk hari inj?
"Tidak, kata pak Joe, Tyas sakit dan di opname di rumah sakit."
"Sebenarnya ada hubungan apa pak Joe dengan Tyas? Kok aneh sekali. Kalau di bilang hanya sebatas hubungan kerja sepertinya tidak mungkin."
"Ya pak Dedi kan tahu, si Tyas itu kan janda dan tidak punya anak. Dan Tyas tahu bahwa pak Joe belum punya istri. Wajar kalau Tyas dekatin pak Joe. Dan dengan gampangnya Tyas bisa langsung naik jabatan. Sedangkan kita yang orang lama, di situ-situ saja statusnya sebagai karyawan."
"Bu Agnes sendiri kan juga naik jabatan."
"Bedalah pak. Saya kan menggantikan posisinya pak Joe. Dan awalnya juga dari buruh selama 6 tahun. Tapi Tyas tidak ada 2 tahun langsung bisa menggantikan posisi saya. Harusnya para bos-bos itu lihat gimana pak Dedi dalam bekerja."
"Ya sudahlah bu Agnes, mungkin belum rejeki saya. Karena Tyas tidak masuk dan katanya di opname kemungkinan akan lama, saya bisa bantu bu Agnes. Bagaimana bu?"
"Ya bisa. Nanti saya akan ajukan ke HRD selama Tyas tidak masuk kerja, untuk sementara di pegang oleh pak Dedi.'
" Baik bu Agnes. Terima kasih."
Aku akan membuat Tyas tidak betah kerja di bagian QC ini. Syukur-syukur dia mengundurkan diri dan tidak tinggal lagi di kompleks perumahan karyawan pabrik. Karena kamu sudah membuat pak Joe tidak memperhatikan aku lagi. Kamu itu parasit yang menempel sama pak Joe Gara-gara kehadiran kamu sudah merusak harapanku selama ini. Kita lihat sampai sejauh mana nanti kamu akan bertahan dan jangan berharap kamu akan mendapatkan kemudahan seperti kemarin.
__ADS_1
Bu Agnes tersenyum sinis.