
Ningsih dan Gege langsung ke rumah sakit. Mereka sudah membawa baju ganti untuk menemani Tyas di rumah sakit.
"Gege, kita beli makanan dulu, itu aja pecel ayam depan rumah sakit. Kita bungkus saja sekalian belikan buat Tyas dan Pak Joe."
"Entar dulu, memangnya mbak Ning ada uang? Uangku cuma cukup sampai Selasa minggu depan itupun untuk makan saja. Besok kan kita ngga kemana-mana di rumah sakit nungguin mbak Tyas."
"Aku masih ada. Siapa tahu kalau kita bawain Tyas pecel ayam, dia bisa langsung sembuh."
"Diiihhh ngarep benar. Itu otaknya Mbak Tyas yang ke bentur. Lah jidat kita ke bentur aja teriak kesakitan sampai tetangga beda gang tahu. Nah ini yang ke bentur otak. Itu otak ngga bisa dipijat atau di kasih minyak kayu putih."
"Aaah, lama pidatonya. Mau ikut ngga?"
Ningsih langsung menuju ke pecel ayam meninggalkan Gege.
"Mbak Ning, haduh tungguin!" Gege berlari mengejar Ningsih."
Ningsih dan Gege masuk ke dalam kamar Tyas. Ada Pak Joe yang sedang membaca di sebelah Tyas. Dan Tyas tertidur.
"Sore Pak Joe."
"Sore Ningsih dan Gege. Kalian langsung dari pabrik? Berdua saja?"
"Iya Pak Joe. Ini Ningsih dan Gege bawakan pecel ayam. Maaf hanya pecel ayam bukan makanan restoran."
"Alhamdulillah. Tetap bersyukur apapun makanannya."
"Iya Pak Joe. Gimana kondisi Tyas? Apakah ada kemajuan?"
"Alhamdulillah ada walaupun tidak banyak, karena kepalanya masih sakit. Kalian kesini naik apa? Sama supirnya Pak Arif? Diantar?"
"Ngga Pak Joe. Sama supir angkot, diantar sampai depan rumah sakit." Gege seperti biasa langsung nyeletuk.
"Ningsih, Gege, sejak kapan kalian disini?" Tyas terbangun.
"Tyas, kamu sudah bangun. Kami baru saja sampai. Tyas, kami bawa pecel ayam. Kamu mau?"
Tyas mengangguk. Ia ingin bisa merasakan makanan dan minuman lagi. Karena setiap ia makan makanan dari rumah sakit terasa hambar. Air teh manis yang diberikan juga hambar.
"Aku suapin ya." Ningsih menawarkan diri.
"Ngga usah, aku mau coba makan sendiri. Minta tolong, kasur ku dinaikkan agar aku bisa makan sendiri."
Pak Joe langsung memencet tombol untuk menaikkan kasur Tyas.
__ADS_1
"Sudah cukup pak Joe. Terima kasih."
Mereka makan bersama-sama. Tyas melihat Ningsih, Gege dan Pak Joe makan dengan lahap dan mereka bilang enak. Tetapi Tyas tidak bisa merasakan sama sekali.
"Tyas, ini es jeruk, aku minta gulanya jangan terlalu banyak. Kamu kan sukanya yang agak kecut."
Tyas minum es jeruk yang diberikan Ningsih. Ternyata ia masih tidak merasakan es jeruk itu. Tyas minum pelan-pelan.
"Kenapa Tyas, tumben minum es jeruknua pelan-pelan. Biasanya langsung habis."
"Iya Ningsih. Sebenarnya aku tidak bisa merasakan makanan dan minuman. Semuanya hambar."
"Ngga papa Tyas, kondisi kamu kan masih sakit. Jadi sabar saja. Biasanya orang sakit mulutnya merasakan pahit."
"Iya Pak Joe."
Ningsih dan Gege merapikan bungkus makanan dan minuman.
"Ningsih dan Gege, kalian rencana pulang jam berapa? Biar saya telpon Jerry untuk mengantarkan kalian pulang."
"Tidak usah Pak Joe. Kami rencananya ingin menggantikan shift sama Pak Joe."
"Menggantikan shift sama saya? Maksudnya."
"Oh, ngga usah Ning, saya tetap temani Tyas. Saya sudah dapat perintah dari Pak Arif untuk menjaga dan menemani Tyas selama di rawat di rumah sakit."
"Ya, gimana nih Mbak Ning?"
"Pak Joe, jika boleh. Biarkan Ningsih dan Gege menemani saya malam inj. Biar Pak Joe bisa istirahat di rumah."
"Tapi Tyas, saya tidak bisa meninggalkan kamu. Gini saja. Saya tetap akan di rumah sakit. Saya bisa di lobby rumah sakit. Jadi kalau kalian butuh sesuatu saya bisa pergi mencarikan. Sudah maghrib, saya permisi sholat di mushola rumah sakit."
"Iya Pak Joe. Silakan."
Joe meninggalkan Tyas, Ningsih dan Gege.
"Tyas, sepertinya Pak Joe suka sama kamu?"
"Aduh Ningsih jangan mikir macam-macam. Lagipula Pak Joe dan Pak Jerry sedang bantu aku untuk mengurus perceraian karena kalau nunggu si Ahmad mengurus cerai lama."
"Iya... iya.. maaf. Maksud aku sama seperti kita yang suka dan sayang sama kamu."
"Mbak Tyas, cepatan sembuh dong. Gege sama mbak Ningsih kangen, dan rumah jadi sepi. Pulang kerja langsung masuk ke kamar masing-masing. Keluar dari kamar pagi."
__ADS_1
"Iya Gege, aku juga maunya gitu."
"Tyas, lebih baik setelah cerai, kamu langsung menikah sama Pak Joe."
"Ningsih, tolong banget jangan berpikiran macam-macam deh. Kalau kamu mau ngomongin Pak Joe lebih baik pulang. Kepalaku sakit Ningsih."
"Ya ampun, maaf sekali lagi maaf Tyas."
"Iya ngga papa Ning. Aku ngerti kok."
Pak Joe masuk ke kamar Tyas setelah dari mushola.
"Tyas, kamu banyak istirahat. Jangan terlalu banyak mikir yang macam-macam supaya kepala kamu tidak sakit lagi."
"Iya Pak Joe."
"Ningsih dan Gege, saya tadi sudah minta ijin sama suster, bahwa kalian berdua akan menunggu Tyas untuk malam ini. Dan mereka mengijinkan."
"Iya Pak Joe, terus Pak Joe sendiri bagaimana?"
"Ya ok, untuk malam ini saya pulang ke rumah. Tapi tolong jangan terlalu sering mengajak bicara Tyas. Dia masih harus banyak istirahat. Agar bisa cepat keluar dari rumah sakir."
"Iya Pak Joe. Terima kasih banyak."
"Sama-sama. Tyas, saya pamit pulang ya. Untuk malam ini kamu dijaga sama dua bidadari."
"Jiah dua bidadari. Satu bidadari Pak. Satunya lagi bukan bidadari. Tapi burung beo."
"Maksud kamu apa Ge? Yang bidadari siapa yang burung beo siapa?"
"Yang bidadari Gege, burung beo Mbak Ning, dari tadi dia terus yang ngajak bicara Mbak Tyas."
"Hahahaha, kamu bisa aja Ge. Sudah gini saja. Jangan ajak bicara Tyas terlalu banyak. Tyas harus banyak istirahat ya."
"Baik Pak Joe. Hati-hati di jalan."
"Iya, Terima kasih Ningsih. Tyas saya pamit ya. Kalau ada apa-apa segera kabarin saya ya."
"Siap Pak Joe, tenang saja."
Pak Joe keluar dari ruangan Tyas dan pergi sambil membawa tas yang berisi baju. Pak Joe tidak pulang ke rumah tetapi ia menginap di hotel sebelah rumah sakit.
Pak Joe tidak mau nanti Ningsih ataupun Gege menunggu terlalu lama dirinya saat mereka berdua minta segera datang ke rumah sakit.
__ADS_1
"Tyas, cepat sembuh ya, biar kamu bisa segera sidang perceraian. Bukan karena aku punya kepentingan dengan dirimu tetapi aku melihat kamu masih punya beban berat. Ya Allah, ijinkan hambamu ini membantu Tyas agar bisa hidup lagi dunia Tyas."