
Tyas telat bangun. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Selesai sholat. Tyas keluar kamar. Ada Gege dj ruang depan.
"Gege, kamu kenapa? Kamu belum tidur ya?"
"Mbak. Iya. Aku tidak bisa tidur jadi nonton TV deh."
"Mata kamu sembab. Semalaman kamu menangis? Ada masalah apa Ge? Ceritalah, setidaknya mengurangi rasa sakit mu jangan kamu pendam sendiri."
"Nanti aku pasti cerita. Oh iya mbak, mbak ada stok pembalutkah? Kalau ada aku. mau."
"Ada, sebentar aku ambilkan."
Tyas masuk ke kamar dan mengambil pembalut kemudian diberikan kepada Gege.
"Makasih mbak. Oh iya nanti mbak Tyas berangkat jam berapa? Aku mau cerita sedikit."
"Aku naik bis. Kemungkinan berangkat jam 8an. Boleh. Kalau kamu mau cerita kasih tahu saja ya."
"Iya mbak." Gege masuk ke dalam kamarnya.
Tyas menyiapkan makanan untuk mereka bertiga sarapan.
Handphone Tyas berdering.
"Assalamu'alaikum pagi Tyas."
"Wa'alaikumsalam pak Joe dan selamat pagi juga."
"Tyas, nanti aku antar dan temani kamu ke pengadilan. Semalam pak Arif menelpon saya dan ia minta saya untuk menemani kamu ke pengadilan. Setelah selesai langsung ke pabrik."
"Oh baik pak Joe. Terima kasih. Nanti berangkat jam berapa pak?"
"Kita berangkat jam 08.30 ya. Karena takutnya macet."
"Baik pak Joe. Saya tunggu nanti jam 08.30. Terima kasih pak Joe."
__ADS_1
Tyas menutup telpon dari pak Joe. Tyas mengetk kamar kedua temannya dan mengajak mereka sarapan.
Ahmad yang baru bangun merasakan perutnya yang lapar. Ia melihat jam tangannya baru jam 06.00 pagi.
Ahmad segera ke kamar mandi. Selesai berpakaian Ahmad keluar dari kamar hotel. Ahmad menunggu lift. Saat pintu lift terbuka Ahmad kaget melihat Laila ada di dalam lift tersebut.
"Ahmad, ngapain kamu disini? Habis check in ya?"
"Laila. Aku menginap di hotel ini dan bukan check in. Lalu kamu sendiri ngapain ada di hotel ini? Jangan-jangan kamu yang check in?
"Kalau iya kenapa? Apa urusanmu? Lagi pula kamu tidak perlu tahu aku di hotel ini ngapain!"
Laila berbicara ketus terhadap Ahmad. Ia masih sakit hati karena Ahmad telah berbohong kepada dirinya.
Ahmad terdiam dan saat pintu lift terbuka. Ahmad segera berjalan ke parkiran mobil.
Laila geram melihat Ahmad yang terdiam dan tidak memperhatikan dirinya lagi.
Dasar sombong! Batin Laila.
Laila keluar dari hotel. Dan ia menunggu taxi lewat. Laila melihat mobil merah keluar dari hotel dan melewati dirinya. Laila tahu bahwa yang di dalam mobil itu adalah Ahmad.
Aku sudah tidak mau berurusan dengan kamu lagi Laila. Aku marah sama kamu karena kamu berani untuk bercerai dengan aku sama seperti Mirna saat ini. Dan Tyas, kamu akan rasakan akibatnya nanti karena kamu juga sudah berani untuk bercerai sama aku. Dan aku pastikan hidupmu akan sengsara selamanya.
Ahmad melajukan mobilnya untuk mencari sarapan pagi.
Hari ini Mirna tidak masuk kerja. Ia takut jika tiba-tiba Ahmad datang ke kantor atau menunggu ia pulang kantor. Agak siang nanti Mirna akan mencari kontrakan rumah yang murah dan setelah itu akan mencari pekerjaan baru.
Mirna ingin menelpon Edi. Dan memberitahukan bahwa ia sudah di phk dan saat ini sedang mencari pekerjaan baru.
Ah sudahlah tidak usah menelpon Edi daripada nanti aku dihina sama dia. Aku akan tunjukkan sama Edi. Mirna bisa mendapatkan suami lebih kaya dari Edi. Biar maminya Edi tahu bahwa Mirna bisa mendapatkan kekayaan dan jadi nyonya besar.
Mirna mulai memasukkan baju-bajunya ke koper. Dan menyisakan beberapa baju untuk ia pakai harian.
Gege mengetuk kamar Tyas.
__ADS_1
"Mbak, mbak Tyas. Aku mau cerita. Mbak Tyas."
Tyas membuka pintu kamarnya.
"Iya. Gege."
Tyas dan Gege duduk di sofa.
"Kamu mau cerita apa?"
"Mbak. aku mau tanya kalau kita sudah tidak perawan lagi, apakah ada laki-laki yang mau jadi suami aku atau paling tidak jadi pacar deh. Aku ngerasa hancur saat tahu pacarku ternyata mau menikah. Jadi selama ini aku di duakan sama dia. Dan ternyata pacarnya yang lain itu sudah hamil. Aku kemarin dikata-katain oleh perempuan itu bahwa aku sudah jadi duri dalam hubungan mereka."
"Tenang, kamu tarik napas dalam-dalam. Mungkin saat ini kamu stress, depresi dan merasa hancur banget. Tapi itulah hidup. Kita tidak boleh terlalu cinta ataupun sayang sama pacar karena kita tidak tahu apakah kita akan menikah sama dia atau dia. Mengenai kamu dikata-katain oleh perempuan itu ya sudah terima saja. Setidaknya ini pelajaran hidup yang harus kamu lalui. Lebih baik sekarang kamu dikasih bukti nyata bahwa ternyata pacar kamu tidak baik buat kamu daripada saat kamu sudah menikah. Ya contohnya yang sekarang ada di depan kamu."
"Iya mbak. Aku dari kemarin sudah ikhlas kalau pada akhirnya aku putus. Tapi aku tidak terima saat aku di sumpah serapah oleh perempuan itu. Aku sampai tanya berapa lama dia pacaran sama pacarku. Ternyata dia duluan. Jadi bisa di bilang aku selingkuhannya."
"Dan kamu percaya omongan perempuan itu. Sudah tidak usah diambil pusing dan jangan dimasukkan ke hati. Berarti lelaki itu tidak baik buat kamu. Ada saatnya nanti Allah akan kasih lelaki yang baik dan sayang sama kamu."
"Iya mbak. Untungnya aku tidak hamil. Coba kalau aku hamil, terus dia hamil otomatis pasti akan dipilih salah satu tidak mungkin dua-duanya."
"Mungkin saja hahahahah. Buktinya Ahmad bisa mendua, mentiga, menempat dan melima. Aku tidak tahu lagi saat ini. Jalani dan mohon ampun sama Allah atas semua dosa yang kamu perbuat."
"Tapi mbak, kalau Allah mengampuni belum tentu ada laki-laki yang mau jadi pacar ataupun suamiku karena aku tidak perawan lagi."
"Percayakan semuanya kepada Tuhan. Memang dan pasti ada rasa takut bahwa nanti kamu tidak akan menikah ataupun ada laki-laki yang cinta sama kamu tapi saat dia tahu kamu sudah tidak perawan, dia akan meninggalkan kamu. Kalau aku jadi kamu ya sudah aku lepasin saja daripada nanti kalau diteruskan malah akan menjadi senjata buat dia menyerang kamu saat. Kita tidak pernah tahu apakah laki-laki yang akan jadi pacar ataupun suami kita adalah laki-laki yang kita dambakan. Tidak ada yang sempurna. Masa lalu adalah masa lalu. Kita harus melangkah ke depan jangan jadikan masa lalu sebagai pegangan dan ketakutan tapi jadikan pembelajaran supaya kita lebih baik lagi."
"Iya mbak. Terima kasih. Aku memang belum berdamai dengan diriku. Aku tidak seperti mbak Tyas yang masih saja sabar dengan segala perbuatan Ahmad ke mbak Tyas. Jujur aku salut sama kamu mbak Tyas. Sesakit apapun, mbak Tyas tetap bisa berdiri tegak."
Gege memeluk Tyas. Dan mereka berdua mendengar bunyi klakson mobil pak Joe.
"Gege, aku berangkat ya. Pak Joe sudah menunggu."
"Iya mbak, Hati-hati. Semangat, maju terus pantang mundur."
"Siap Gege. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam."
Tyas keluar rumah dan naik ke mobil pak Joe.