
"Joe, rumah Tyas dimana?"
"Astaghfirullah Al adzim, mama! Ngapain pagi-pagi ke sini? Kenapa tidak kasih tahu Joe kalau mau datang?"
"Sudah, jangan banyak tanya. Rumah Tyas dimana?"
"Itu di depan."
"Ok, mama kau kesana sekarang."
"Ma, nanti dulu. Kemungkinan Tyas belum bangun. Nanti dulu lah ma, jam. Jam 6 pagi masa mau bertamu ke rumah orang."
"Siapa bilang, Tyas itu mantu mama. Masa mama tidak boleh ke rumah mantu mama."
"Ma, calon mantu, baru calon ma. Nanti saja ma. Kasih waktu buat Tyas untuk mengurus keperluan pribadinya dulu."
"Ok, ok."
Tyas sedang duduk berdiam diri. Sudah hampir seminggu ini Tyas sendiri setelah Ningsih menikah. Waktunya lebih banyak di habiskan untuk bekerja.
Sudah jam 8, masak sudah. Apalagi ya. Tyas sedang memikirkan apa yang akan dia kerjakan hari ini. Tyas dikagetkan dengan suara dering handphonenya.
"Halo Tyas."
"Halo, ini siapa?"
"Aku, Ahmad. Aku pinjam handphone Edo. Kebetulan Edo datang menjenguk aku. Ternyata kamu sudah lupa dengan suara aku."
"Maaf, ada perlu apa menelpon aku?"
"Aku sudah tahu dari Edo, bahwa kamu akan menikah lagi. Tapi aku tidak ikhlas."
"Terserah. Hidup aku, yang jalani aku. Bukan kamu."
"Aku akan pastikan setelah keluar dari penjara, pernikahan kamu tidak akan bahagia."
Tyas menutup sambungan telponnya. Ia tidak mau lagi berhubungan dengan Ahmad, mantan suaminya.
Tok, tok, tok
Pintu rumah Tyas di ketuk. Tyas membalas ucapan salam dan membuka pintu.
"Tyas, mama kangen kamu!" Mama Alida langsung memeluk Tyas.
"Tante. Makasih Tante. Tante sama siapa?"
"Itu sama Joe. Panggil mama, jangan tante."
"Iya ma. Masuk ma. Maaf rumahnya masih berantakan."
Tyas mempersilahkan mama Alida masuk ke rumahnya.
"Masyaallah, rumahnya rapi sekali dan harum."
"Hehehhe, makasih ma." Tyas masih agak canggung mengucapkan kata mama.
Pak Joe masuk ke rumah Tyas setelah mengucapkan salam.
__ADS_1
"Joe, sini duduk. Joe, cepatan menikah sama Tyas. Mama yakin Tyas bisa mengurus dan merawat kamu dengan baik."
"Mama, Tyas itu calon istri aku, bukan suster perawat. Aku sehat walafiat ma."
"Duh, kamu kadang ya. Maksud mama merawat, mengatur dan mengurus hidup kamu sebagai seorang laki-laki, suami, papa dan juga kepala rumah tangga."
"Iya ma."
"Ma-mama, mau minum apa? Tyas buatkan."
"Ngga usah. Mama mau ajak kamu jalan-jalan sama Joe. Sama ini mama bawakan sesuatu buat kamu. Bukalah."
Tyas menerima bingkisan yang diberikan dan membukanya.
"Subhanallah. Mama, maaf apa ini tidak berlebihan?"
Tyas menunjukkan satu set perhiasan berlian.
"Tidak sayang. Ini hadiah dari mama dan almarhum papa untuk istri Joe dan Jerry. Bukan kamu saja, tapi istri Jerry juga dapat hanya beda bentuk saja."
"Makasih banyak ma. Tapi, Tyas tidak biasa memakai perhiasan seperti ini ma. Terlalu mewah buat Tyas."
"Kamu bisa memakainya kapan pun kamu mau. Lebih baik kamu simpan. Ini hadiah dari mama dan papa."
"Makasih mama, pak Joe." Tyas memeluk mama Alida.
"Tyas, jangan panggil Joe dengan sebutan pak. Dia akan jadi suami kamu."
"Eh, iya ma. Sebentar Tyas buatkan minum dulu."
Tyas pergi ke belakang untuk membuatkan minum mereka berdua.
"Ya seperti itulah Tyas, ma. Memang mama mau ajak jalan-jalan kemana?"
"Kamu lihat saja nanti."
Tyas membawa 2 gelas minuman untuk mama Alida dan pak Joe.
"Tyas, ayo siap-siap. Dan ini disimpan dulu. Setelah itu kita berangkat."
"Iya ma. Diminum ma, pak Joe. Eh iya mas Joe. Tyas siap-siap dulu."
Tyas membawa kotak perhiasan dan masuk ke kamar.
"Ba*****! dimatikan lagi sama Tyas."
"Kenapa? Dimatikan sama Tyas?"
"Iya. Kamu serius Tyas mau menikah lagi? Kapan?"
"Sini handphone aku."
"Nanti dulu."
Ahmad berdiri dan pergi ke ruangan lain lalu enghampiri sipir penjara dan meminta kertas juga ballpoint. Lalu menulis nomer handphone Tyas.
Setelah keluar dari penjara, aku akan teror kamu, Tyas. Jangan harap kamu akan bahagia!
__ADS_1
Ahmad kembali ke tempat Edo menunggu.
"Ini handphonenya. Do, kapan rencananya Tyas menikah?"
"Ngga tahu pastinya kapan. Kamu kenapa sih! Sepertinya tidak rela kalau Tyas menikah lagi. Kalian kan sudah bercerai!"
"Tyas tidak boleh dimiliki siapapun! Termasuk kamu, Edo!"
"Makasih sudah meminjamkan handphone kamu jadi tadi aku bisa dengar suara Tyas."
"Ahmad, kamu harus sadar diri! Selama menikah sama kamu, Tyas terlihat tidak bahagia!"
"Jadi, maksud kamu? Kamu mau menikah juga sama Tyas? Gitu!"
"Kenapa tidak! Aku pacar Tyas, karena kamu sampai akhirnya Tyas menikah sama kamu dan pada akhirnya Tyas cerai sama kamu. Jadi aku berhak untuk kembali menjalin cinta sama Tyas tanpa ada gangguan dari kamu!" Edo berbicara dengan penuh percaya diri dan membuat Ahmad menjadi gelap mata.
Ahmad berdiri dan menghampiri Edo kemudian menonjok perut Edo.
"Pak sipir, tolong saya!" Edo berteriak
Pak sipir segera mengamankan Ahmad yang memukul Edo.
"Ahmad, aku pastikan hukumanmu akan bertambah. Aku kesini datang baik-baik. Malah kamu memukul aku! Lihat saja nanti!"
Edo segera keluar dari ruangan penjara. Dan berjalan ke parkiran. Sedangkan Ahmad dimasukkan kembali ke dalam penjara.
"Kenapa muka elo, bang! Bukannya senang, pagi-pagi dapat kunjungan!"
"Diam elo!"
"Eh, gue tanya baik-baik ya! Jangan sok jagoan elo disini! Posisi elo ngga lebih menguntungkan dari gue!"
Tanpa tendeng aling-aling, Ahmad memukul sesama tahanan. Dan akibatnya Ahmad yang dikeroyok oleh tahanan yang lainnya.
"Biar ma**** sekalian elo! Gaya elo sengak! Sama-sama di penjara belagu!"
Ahmad mengerang kesakitan karena dikeroyok sesama tahanan di selnya.
Tyas, mama Alida dan Joe pergi ke Bandung.
"Ma, kok kita malah ke Bandung. Aku dan Tyas tidak membawa baju ganti."
"Ngga usah pikirin baju ganti!"
"Ma, ini sebenarnya mau kemana?"
"Aduh Joe, kamu bawel banget sih. Kamu tenang saja deh. Mama mau kamu dan Tyas bahagia."
Tyas hanya bisa tersenyum melihat Joe dan mamanya berdebat. Handphone Tyas bergetar. Tyas mengambil handphonenya dan ternyata ada pesan dari Edo.
Tyas membaca pesan dari Edo dan tidak membalasnya.
Tyas, kamu hati-hati. Lebih baik kamu ganti nomer handphone kamu, supaya saat Ahmad keluar dari penjara, ia tidak menghubungi kamu. Aku sekedar mengingatkan saja. Dan aku tidak mau terjadi apapun sama kamu. Kamu tahu sendiri kalau Ahmad orang yang nekat.
Pak Joe melihat Tyas yang sedang membaca di handphone.
"Tyas, ada apa? Siapa yang kirim pesan?"
__ADS_1
"Teman di pabrik pak Joe, eh mas Joe. Teman di produksi."
"Oh."