Istri Suamiku

Istri Suamiku
Ahmad dan Mirna


__ADS_3

Ahmad masih menunggu Mirna di depan kantornya.


"Halo Ma, seperti hari ini papa pulang malam, karena masih mengurus proyek baru. Ngga papa ya Ma?"


"Iya papa, yang penting papa pulang ya. Mama kangen sama papa."


"Iya mama sayang. Doakan semoga proyeknya goal dan papa bisa beli rumah di Jakarta."


"Amin papa."


"Ya sudah ma, papa mau sholat dulu dan lanjutan kerja lagi. Mama baik-baik ya. Love you mama."


Ahmad menelpon Sekar dan mengatakan bahwa ia akan pulang malam. Ahmad lega karena Sekar tidak curiga.


Mirna melihat jam, sudah jam 6 sore. Mirna membereskan file-file di mejanya.


"Mirna, tumben pulang cepat, biasanya nunggu di usir satpam baru pulang."


"Masalah buat loe, gue pulang cepat?"


"Yee, gue cuman tanya, tumben loe pulang cepat. Susah kalau perempuan lagi pms."


"Edi, loe ngga usah banyak tanya, mau gue pulang cepat atau pulang malam, gue ngga pernah ganggu loe."


Edi, teman satu kantor Mirna yang suka sama Mirna, dan pernah mengungkapkan perasaannya terhadap Mirna tetapi di tolak oleh Mirna.


Mirna keluar kantor. Ahmad yang melihat Mirna keluar segera menghampiri Mirna.


"Loh mas Ahmad? Kok ada di kantor Mirna?"


"Katanya kamu, aku bisa lihat kontrakan kosong yang dekat dengan kontrakanmu?"


"Ya ampun, maaf Mirna lupa, Mas."


"Udah nunggu lama Mas?"


"Ngga, tadi jam setengah enam aku sampai kantormu. Mau telpon kamu, aku ngga tahu nomermu. Ya sudah, ayo masuk ke mobil. Kita berangkat sekarang?"


"Iya Mas, ayo."


Ahmad dan Mirna masuk ke dalam mobil.


"Mas, Mirna jadi keingetan. Mas Ahmad sudah cerai dari Mbak Tyas berapa lama?"


"Sudah hampir 6 bulan" Ahmad berbohong.


"Oh, terus ngga ada niat untuk kembali ke Mbak Tyas, Mas?"


"Ngga, buat apa? Aku kan ngga sekaya selingkuhannya Tyas. Lagipula mana ada yang mau sama aku. Kerja gini-gini aja. Rumah baru mau ngontrak. Dan hari ini semoga bisa ok, rumah kontrakan yang kamu bilang, jadi aku bisa langsung bayar. Masa aku harus hotel lagi."


"Terus nanti malam Mas Ahmad tidur dimana?"


"Ya yang tadi aku bilang hotel lagi. Kemarin malam aku nginap di rumah temanku, tapi istrinya tidak suka."


"Oh gitu. Mungkin, kalau Mas Ahmad mau, bisa nginap di kontrakan aku dulu. Itu pun kalau Mas Ahmad mau."


"Loh memangnya bisa nginap di rumahmu? Apa tidak akan jadi pertanyaan tetangga?"


"Heheheh, sebenarnya aku tinggal di apartemen Mas, jadi tetangga tidak tahu."


"Oh gitu, nah terus rumah kontrakan yang kamu tawarin itu dimana?"


"Rumah kontrakan itu ada di samping apartemen."


"Oh ok. Aku pikir tadinya sebelahan sama kamu."


"Memang sebelahan Mas."

__ADS_1


"Ya sudah kita lihat dulu."


"Iya Mas, lewat jalan itu ya. Mirna menjadi penunjuk jalan."


Mereka sudah sampai di depan rumah yang di maksud Mirna. Mirna berjalan ke rumah pemilik kontrakan yang hanya berselang 3 rumah. Ternyata rumahnya sudah di dp oleh orang lain tadi siang.


"Ya sudah, bukan jodoh aku bisa dekat kamu, Mirna."


"Aku antar ke apartemenmu."


"Terus Mas Ahmad malam ini tidur dimana?"


"Ya tadi, hotel."


"Nginap saja di rumahku, jadi besok Mas Ahmad bisa cari-cari kontrakan."


"Ngga usah Mirna, aku ngga enak. Takutnya nanti pacarmu marah."


"Hahahah, jangan ngeledek Mas. Aku belum punya pacar. Jadi ngga ada yang marah. Atau jangan-jangan Mas Ahmad yang takut ketahuan sama pacarnya?"


"Kalau aku mana ada yang mau, baru di phk. Belum ada pekerjaan."


"Sudah, ayo nginap saja di apartemenku. Aku sudah lapar, mau makan di luar sayang uangnya hahahahha. Pelit euy."


"Ya sudah, karena kamu sudah baik sama aku, mau kasih tempat untuk menginap, Aku traktir kamu makan."


"Ngga usah Mas, jangan. Dirimu kan juga habis di phk. Uang ngga seberapa, harus cari kontrakan rumah. Pusing kepala nanti."


Ahmad memberikan kertas print dari ATM. Ahmad tadi sempat ambil uang 20 juta. Dan tertera saldonya 762juta.


"Ini apa Mas? Kok diberikan ke aku?"


"Aku jujur ya sama kamu? Ini sisa uangku. Tadi aku ambil 20juta untuk bayar dp kontrakan ternyata ngga jadi karena sudah ke isi orang."


"Ini uang Mas Ahmad semua? Sebanyak ini?"


Mirna merasa senang. Ternyata Mbak Tyas b*** padahal Mas Ahmad uangnya banyak.


"Mas Ahmad, yakin mau ajak aku makan di luar?"


"Iya, kamu mau makan apa? Ayo keburu kemalaman dan nanti malah ngga jadi makan."


"Apa aja Mas."


Mas menjalankan mobilnya. Ahmad membawa Mirna makan di restoran steak. Ahmad dan Mirna masuk dan makan steak.


Mirna terlihat menikmati makanannya. Dan Ahmad tersenyum senang karena rencana untuk menikah lagi dengan perempuan lain sudah ada di depan mata.


"Mas Ahmad jadikan nginap di apartemenku?"


"Jadi, itupun kalau kamu ijinkan?"


"Ya sudah, kita pulang sekarang."


Sepanjang perjalanan Ahmad dan Mirna terdiam. Lampu merah, Ahmad menghentikan mobilnya. Dengan pelan dan pasti, Ahmad mengusap lengan Mirna dan menggenggam tangan Mirna.


Mirna tidak menepis tangan Ahmad. Mirna menyambut genggaman tangan Ahmad.


"Mas Ahmad, sudah sampai." Ahmad memarkirkan mobilnya.


Mirna masuk ke apartemen diikuti oleh Ahmad. Tidak lupa Ahmad membawa tas yang berisi baju yang belum sempat ia turunkan saat dimana ia pergi ke Bogor.


Apartemen Mirna ada di lantai 12. Ahmad melihat apartemen Mirna yang tidak terlalu banyak barang.


"Mas Ahmad, taruh tas di kamar itu yah. Dan itu kamar mas Ahmad."


"Kamar kamu dimana?"

__ADS_1


"Kamar aku di sebelahnya. Aku masuk dulu mau mandi, sudah lengket dari pagi. Kamar mandi ada di dalam kamar Mas. Selamat istirahat Mas."


Ahmad melihat Mirna yang masuk ke dalam kamarnya. Dan Ahmad pun masuk ke kamar yang ditunjukkan oleh Mirna.


Sudah jam 10 malam. Ahmad mengambil handphonenya. Ada banyak telpon dan pesan masuk dari Sekar. Ahmad mematikan handphonenya. Ia tidak akan pulang ke Bogor malam ini. Ia ingin bersama Mirna dan jika bisa mendapatkan Mirna malam ini.


Ahmad segera mandi, selesai mandi ia keluar kamar. Ahmad melihat Mirna yang sedang membuat kopi.


"Malam Mirna."


"Eh Mas Ahmad. belum tidur?"


"Aku belum bisa tidur. Kamu sendiri kenapa belum tidur?"


"Sama Mas, aku tidurnya malam. Kalau sudah di rumah ya pasti buat kopi sebelum tidur. Menikmati kesendirian dengan kopi dan rokok hahahahah."


"Loh, kamu merokok?"


"Iya Mas, aku merokok. Mas Ahmad tidak merokok. Aku merokok tapi aku sukanya di rokok." Ahmad tersenyum.


"Maksudnya Mas?"


"Di bagi rokok sama kamu. Rokokku habis."


"Oh ambil saja Mas. Mas mau kopi, aku buatkan juga."


"Ngga usah, aku buat sendiri saja boleh?"


Ahmad berjalan mendekati Mirna dan berdiri di samping Mirna yang masih mengaduk kopi.


Ahmad mencium keharuman badan dan rambut Mirna. Membuat Ahmad ingin menyentuh dan memeluk Mirna.


Mirna merasa canggung karena Ahmad berdiri di sebelahnya.


Insiden terjadi, entah gimana saat Mirna selesai mengaduk kopi dan hendak membalikkan badan untuk duduk di sofa. Ahmad pun membalikkan badan ke arah Mirna. Dan tanpa menunggu Ahmad dengan sigap mencium bibir Mirna dengan lembut.


Mirna yang belum pernah berciuman mendapatkan kelembutan dari Ahmad menjadi lupa. Mirna mematung, badannya menjadi tegang. Ahmad memanfaatkan momen itu dengan mencium dan mencium bibir Mirna dengan lembut dan tanpa tergesa-gesa. Mirna mulai rileks dan mulai menerima ciuman Ahmad.


Ahmad tidak melepaskan ciumannya dan menggendong Mirna ke sofa. Entah kenapa Mirna pasrah saja saat Ahmad menurunkan tali tanktoo dan meraba dan mengelus milik Mirna.


Ahmad menghentikan ciuman di bibir Mirna, dan mencium leher juga tulang selangka Mirna. Ahmad melakukannya dengan lembut dan tenang dan Mirna terlihat menikmatinya.


Setiap inci di tubuh Mirna dicium oleh Ahmad sampai akhirnya Ahmad berhasil melepaskan seluruh pakaian yang dikenakan oleh Mirna.


Mirna terlihat sudah tidak berdaya, Ahmad segera melepaskan seluruh pakaiannya dan sudah ada di atas Mirna.


"Mirna, bolehkah? Aku akan pelan-pelan, kamu kalau merasa sakit bilang ya."


Mirna menganggukkan kepalanya. Ahmad sudah hapal untuk urusan seperti ini.


Ahmad kembali menciumi seluruh tubuh Mirna dan menyesap gunung Mirna yang membuat Mirna mendesah.


Ahmad melakukan dengan pelan-pelan dan tetap mencium dan menyesap. Saat masuk, Mirna berteriak.


"Mas, sakit."


"Iya sayang, pelan-pelan ya. "Ahmad mencium bibir Mirna dan memainkan lidahnya di dalam mulut Mirna. Ahmad sudah memasukkan dan sangat susah. Ternyata Mirna masih perawan. Dan Ahmad pelan-pelan mendorong tubuhnya. Mirna terlihat mengeryitkan mukanya menahan sakit.


"Boleh dilanjutkan sayang?"


Mirna mengangguk. Dan Ahmad melanjutkan sampai akhirnya dapat masuk dengan susah payah. Dan Mirna menangis


"Maaf, aku tidak lanjutkan kalau kamu menangis. Aku tidak mau kamu merasa sakit.


Mirna menggelengkan kepalanya


"Sakit Mas, tidak papa Mas, teruskan. Aku juga menikmati."

__ADS_1


Akhirnya Ahmad meneruskan dan mereka berdua merasakan seperti di tarik ke dalam bumi.


__ADS_2