Istri Suamiku

Istri Suamiku
Bertemu dengan Maung


__ADS_3

Tyas menarik napas lega setelah masuk ke dalam mobil pak Joe.


"Tyas, kamu ada rencana kemana hari ini? Bawa amplop coklat? Mau melamar kerja?"


"Iya pak Joe. Hari ini Tyas mau coba walk in interview, InsyaAllah Tyas bisa di terima."


"Amin. Tapi kalau boleh tahu memangnya kenapa di pabrik?"


"Suasana kerjanya sudah tidak nyaman pak."


"Sudah tidak nyaman atau karena bu Agnes berubah?"


"Bukan, bukan karena bu Agnes."


"Apa kamu sudah pikirkan matang-matang untuk pindah kerja. Karena kalau kamu pindah kerja, kamu tidak bisa tinggal di rumah itu kecuali..."


"Kecuali apa pak?"


"Gini saja, lebih baik kamu bilang sama pak Arif. Dia pasti tidak akan mau melepaskan kamu. Maksud saya, tidak akan mengijinkan kamu untuk resign."


"Rencananya senin besok saya akan buat surat pengunduran diri, pak. Kan juga tidak mungkin saya tinggal di rumah itu. Karena rumah itu fasilitas kantor yang diberikan oleh pak Arif. Dan sebentar lagi saya juga akan sendiri, Ningsih dalam waktu dekat ini akan menikah dengan pak Arif."


"Ya, ya. Tapi tolong pikirkan matang-matang. Kamu masih muda, masih banyak kesempatan untuk hidup yang lebih baik lagi. Kalau gitu sekalian saya antarkan. Alamatnya dimana?"


"Di kunciran mas, pak."


"Tyas, kamu yakin? Itu dari ujung ke ujung loh."


"Sudah gini saja. Kamu tidak usah kemana-mana. Pagi ini saya ada di meeting di luar. Kami ikut saya. Nanti kamu tunggu di cafe. Kebetulan di gedung itu ada cafe."


"Ngga usah pak. Saya malah merepotkan bapak."


"Tidak, tidak merepotkan. Nanti kamu bisa baca-baca buku atau koran disana dan bisa cari-cari lowongan yang lain."


"Ya sudah pak Joe. Baik. Saya akan tunggu pak Joe di cafe itu."


Pak Joe tersenyum senang. Sepanjang perjalanan ke tempat meeting, tidak ada lagi percakapan antara pak Joe dan Tyas. Masing-masing terdiam dengan pikirannya.


Tyas, seandainya hari ini aku bisa bicara dengan kamu, aku mau mengungkapkan isi hatiku. Walaupun aku tahu pasti akan sulit untuk kamu membuka hati kembali. Tapi aku akan terus mengetuknya.


Pak Joe, seandainya aku punya suami seperti pak Joe yang begitu sabar dan pengertian, betapa senang rasanya. Hahahah, mimpi kamu Tyas, bagaimana mungkin pak Joe mau sama kamu.


Tyas berbicara dengan dirinya sendiri dan tersenyum dengan pikiran konyolnya.

__ADS_1


Handphone Ningsih berdering, ada telpon masuk dengan nomer yang tidak tersimpan di handphonenya.


"Halo, apa benar ini Ningsih?"


"Iya, saya Ningsih. Ini dengan siapa ya?"


"Ningsih yang akan menikah dengan Arif, bos dari PT. BAT?"


"Iya benar. Maaf, ini dengan mbak siapa ya?"


"Kamu tidak perlu tahu siapa nama saya dan mohon segera batalkan pernikahan kamu sebelum kamu hancur!"


"Kalau mbak tidak mau kasih tahu nama mbak siapa? Saya tidak mau dengar ancaman apapun dari mbak. Buang-buang waktu saya saja!"


Ningsih langsung mematikan handphonenya.


Pagi-pagi sudah ada yang buat ulah, pakai acara mengancam segala.


Handphone Ningsih bergetar. Ada pesan masuk dari nomer yang tadi menelponnya. Ningsih hanya melihat sekilas tanpa mau membuka pesan tersebut. Dan Ningsih kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Tyas, kita sudah sampai. Ayo turun."


"Iya pak."


Tyas turun dari mobil mengikuti pak Joe dan masuk ke gedung perkantoran lalu menuju ke cafe.


"Ngga usah pak. Nanti biar saya pesan sendiri."


"Ya sudah, tapi harus pesan minuman atau makanan ya."


"Iya pak."


"Ok, saya tinggal meeting dulu ya. Kamu jangan kemana-mana."


"Iya pak. Tenang saja."


Pak Joe meninggalkan Tyas di cafe. Tyas bangkit berdiri dan memesan es coklat dan roti. Tyas tidak tahu pak Joe akan berapa lama meeting nya.


Tyas sedang asik membaca majalah yang ada di cafe itu.


"Tyas! Kamu Tyas kan? Istrinya Ahmad! Yang dulu sekolah di Lebak 1?"


"Iya benar, saya Tyas. Maaf, mas siapa ya?"

__ADS_1


"Ya ampun Tyas, apa kabar! Aku Rendra. Rendra , teman sekolah kamu dulu!" Rendra menjabat tangan Tyas dengan keras.


"Aduh, sakit. Jangan keras-keras."


"Maaf, maaf Tyas. Aku tidak sengaja. Aku senang banget bisa ketemu sama kamu!"


"Iya Rendra, tapi maaf, aku lupa. Dulu kamu sekolah nama panggilannya apa? Karena aku benar-benar lupa." Tyas meringis.


"Hahaha, iya benar. Dulu sekolah aku di panggil Maung. Karena rumah aku di gang Maung."


"Astaghfirullah Maung! Iya, iya. Aku ingat sekarang. Kamu gimana kabarnya?"


"Ya, seperti yang kamu lihat, aku baik tapi masih sendiri. Maksudnya aku belum menikah, karena masih patah hati hahahahha."


"Masa sih! Kamu ganteng gini, seperti eksekutif muda. Jangan bohong loh dosa tahu."


"Serius Tyas. Kamu tidak berubah ya, mukamu masih sama seperti dulu. Awet muda. Oh iya, kamu kerja di gedung ini juga? Kalau iya, asyik dong, kita bisa ketemu setiap hari."


"Ngga, aku malah lagi cari lowongan pekerjaan. Aku masih kerja di pabrik BAT, tapi aku mau resign. Pengen cari pengalaman yang baru."


"Oh gitu. Coba nanti aku tanya di kantorku apa ada lowongan pekerjaan untuk kamu."


"Tapi Maung, aku ini buruh, bukan yang kerja di kantornya, kan tadi aku bilang aku kerja di pabrik yang kerjanya pakai shift."


"Memangnya kenapa kalau buruh? Sepanjang kamu mau belajar tidak akan ada kata tidak bisa atau sulit. Apalagi kamu itu kan pintar."


"Heheheh, iya. Aku mau belajar. Orang hidup kan harus terus belajar untuk lebih baik lagi."


"Nah itu tahu. Eh iya ngomong-ngomong Ahmad bagaimana kabarnya? Anak kamu sudah berapa?"


"Aku belum punya anak. Jadi ya masih gini-gini aja."


"Oh gitu. Ya sudah sabar saja. Pasti nanti Allah akan kasih kamu anak. Oh iya, aku masuk kantor dulu ya. Ini kartu namaku. Kirim pesan ke aku ya. Biar nanti kita bisa ngobrol-ngobrol lagi." Rendra memberikan kartu namanya kepada Tyas.


"Ok Maung eh Rendra. Aku akan kirim pesan ke kamu ya. Selamat bekerja."


"Iya, jangan lupa kirim pesan jadi aku tahu nomer telpon kamu dan jika ada lowongan di kantorku, aku bisa kasih tahu kamu juga. Salam buat Ahmad ya. Bye Tyas."


"Iya Maung, nanti aku salamin. Terima kasih ya."


"Ok."


Rendra meninggalkan Tyas dan berjalan menuju kantornya.

__ADS_1


Tyas, kamu benar-benar tidak berubah. Masih sama. Seandainya waktu itu aku tidak malu untuk mendekati Tyas, pasti aku akan menikah dengan Tyas. Ternyata Ahmad yang berhasil mendapatkan Tyas. Ah, senang rasanya bisa bertemu dengan Tyas lagi. Mungkin benar kata orang, cinta tidak harus memiliki.


Rendra membatin dan suasana hatinya gembira.


__ADS_2