Istri Suamiku

Istri Suamiku
Menemani


__ADS_3

Hari ini Tyas pulang dari rumah sakit setelah seminggu di rawat.


Handphone Tyas berdering.


"Halo Tyas, kamu tunggu saya ya. Saya akan jemput kamu saat makan siang. Pagi ini tidak belum bisa jemput karena saya ada meeting."


"Iya pak Joe, tidak papa. Biar saya pulang sendiri saja. Saya tidak mau merepotkan pak Joe."


"Tidak, tidak. Kamu tidak merepotkan saya. Ini juga masih pagi. Memangnya kamu mau pulang ke rumah pagi ini?"


"Pengennya sih gitu pak. Dokter dan suster juga belum datang."


"Ya sudah, tunggu saya saja ya. Saya sudah mau mulai meeting."


"Baik pak Joe."


Mulai hari ini, aku tidak mau lagi merepotkan pak Joe. Dan aku harus bisa cari kerjaan baru.


Semoga dokternya bisa datang saat ini. Jadi aku tidak perlu menunggu lagi pak Joe.


Jam 11, suster datang dan memberitahu bahwa Tyas sudah boleh pulang. Semua obat-obatan sudah diberikan oleh Tyas.


Tyas keluar dari kamar rawat dan menuju bagian administrasi. Ternyata semua biaya sudah lunas. Tyas berpapasan dengan pak Joe yang baru sampai.


"Tyas. Sudah dibawa semuanya?"


"Iya pak."


"Ya sudah. Kamu saya antar pulang. Tapi kita cari makan dulu ya? Kamu belum makankan?"


"Iya pak."


Pak Joe berhenti di rumah makan.


"Ayo, kita turun untuk makan?"


Tyas keluar dari mobil mengikuti pak Joe. Tanpa sadar pak Joe menggandeng tangan Tyas.


"Pak, maaf. Tangan bapak."


"Tidak papa. Kamu baru keluar dari rumah sakit. Keseimbangan badan kamu belum sempurna daripada nanti jatuh."


"Iya pak."


Mereka berdua duduk dan makan. Setelah itu pak Joe mengantar Tyas pulang ke rumah."

__ADS_1


"Terima kasih pak Joe, sudah jemput dan antar saya."


"Kamu jangan terlalu capek dulu. Saya tinggal ya Tyas, saya harus balik ke kantor."


"Iya pak Joe."


Tyas masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya.


Tyas terbangun sebelum maghrib. Selepas maghrib, Tyas keluar kamar. Ternyata Ningsih belum pulang. Tyas menyalakan semua lampu dan masuk kembali ke kamar. Tyas mengambil handphonenya. Ada pesan dari Ningsih, bahwa ia akan pulang malam untuk menyiapkan pernikahannya dengan pak Arif.


Senangnya Ningsih. Akhirnya sebentar lagi menikah. Gege, kamu pasti sudah senang ya di sana. Apalagi Ningsih sebentar lagi akan menikah. Semoga persiapan pernikahan Ningsih berjalan dengan lancar.


Tyas mendengar pintu rumahnya di ketuk.


"Pak Joe. Ada apa pak?"


"Saya bawakan kamu makan. Pasti kamu belum makan?"


"Iya pak. Ini tadi mau masak. Ternyata Ningsih pulang malam karena ada keperluan untuk pernikahannya."


"Iya Tyas. Kita makan di teras saja. Tidak enak nanti kalau ada tetangga yang lihat karena tidak ada Ningsih."


"Iya pak."


"Malam pak Joe. Eh ada Tyas. Kamu sudah sembuh Tyas?"


"Malam bu Agnes. Sudah, saya sudah sembuh. Tadi baru keluar dari rumah sakit."


"Alhamdulillah, berarti besok sudah bisa masuk kerja?"


"Belum bisa bu Agnes. Tyas masuk kerja baru minggu depan."


"Aduh, 4 hari lagi dong. Padahal kerjaan Tyas sudah banyak. Selama kamu tidak masuk yang bantu saya kerja pak Dedi."


"Maaf bu, sebenarnya saya juga mau masuk besok. Saya usahakan masuk bu."


"Ya, kasihan pak Dedi, gaji tidak seberapa, terus harus mengerjakan kerjaan kamu. Hitungannya kerjaan pak Dedi jadi dobel. Kecuali nanti gaji kamu diberikan setengah sama pak Dedi."


"Bu Agnes, kondisi Tyas baru saja sembuh! Kenapa bicara seperti itu."


"Maaf pak Joe. Kan pak Joe sudah tidak kerja di pabrik lagi. Jadi saya yang bertanggung jawab untuk bagian QC sekarang. Wajar dong saya bilang seperti itu sama Tyas. Kasihan pak Dedi yang harus kerja merangkap. Dan kelihatannya Tyas sudah sehat jadi harusnya sudah bisa masuk kerja lagi."


"Bu Agnes, harusnya bu Agnes tidak terlalu memaksakan Tyas untuk mulai masuk kerja besok. Tyas baru saja keluar dari rumah sakit."


"Iya pak Joe. Terserahlah. Sepertinya Tyas spesial sekali. Semua-semua harus maklum dengan kondisi Tyas. Perusahaan bukan yayasan. Saya permisi pak Joe, Tyas."

__ADS_1


Tyas melihat muka bu Agnes yang tidak suka dengan jawaban pak Joe.


"Pak Joe, terima kasih. Harusnya biar saya saja yang tadi bicara sama bu Agnes. Saya tidak enak jadi melibatkan pak Joe."


"Harusnya bu Agnes tidak bicara seperti itu. Sudah tidak usah dipikirkan. Besok kamu tidak usah kerja dulu. Lagi pula ada surat dokter. Jadi jangan karena tidak enak sama bu Agnes."


"Sebenarnya saya ingin mengundurkan diri pak. Saya mau mencari pekerjaan lain."


"Kenapa kok tiba-tiba ingin mengundurkan diri? Apa karena bu Agnes dan teman-teman kamu di QC?"


"Bukan pak. Memang niatan saya setelah selesai perceraian saya sama Ahmad, saya mau mengundurkan diri. Saya mau memulai yang baru, pak. Dan juga ingin pindah dari rumah ini. Hanya saja saya tidak enak hati sama pak Arif dan pak Joe."


"Tyas, jangan terburu-buru. Semua harus dipikirkan matang-matang. Dan omongan bu Agnes juga teman-teman di QC jangan sampai menghambat diri kamu sendiri."


"Iya pak, sebenarnya Tyas juga ngga mau dengar omongan mereka. Tetapi setiap hari setiap saat, ya goyah juga. Ibarat batu karang di terpa ombak laut tiap hari pasti akan terkikis juga."


"Mindset kamu mulai saat ini di rubah. Kebahagiaan itu ada di diri kamu sendiri. Respect sama orang memang harus, tapi kamu harus respect sama diri kamu sendiri dulu. Jangan mementingkan orang lain sedangkan hidupmu masih amburadul."


"Iya pak Joe."


"Sudah jam 9 lewat. Kamu lebih baik tidur. Badan kamu belum fit benar."


"Saya mau nunggu Ningsih, pak. Mungkin sebentar lagi Ningsih pulang. Kalau pak Joe mau istirahat silakan. Pak Joe capek, pulang kerja langsung kesini."


"Ngga papa Tyas,. Saya akan temanin kamu. Kalau perlu saya akan temanin kamu sampai akhir hayat kamu."


Muka Tyas memerah mendengar omongan pak Joe.


"Maksud pak Joe apa bicara seperti itu?"


"Eh, maksud saya. Saya akan temani kamu sampai Ningsih pulang. Menemani kamu sambil ngobrolin apa saja."


"Ya pak. Sambil mengobrol nunggu Ningsih pulang, pak Joe mau kopi?"


"Ngga usah Tyas. Sudah malam. Yang ada nanti saya minum kopi malah tidak tidur lagi"


"Saya ambilkan air putih dingin saja ya pak. Kebetulan saya juga mau minum air putih."


"Boleh."


Tyas bangkit berdiri dan masuk ke dalam.


Pak Joe apa maksudnya bicara seperti itu? Untung tadi lampunya tidak terlalu terang. Sampai panas rasanya muka aku dengar pak Joe bicara seperti itu. Jangan-jangan yang Ningsih bilang benar. Pak Joe suka sama aku?... Aaah GR kamu Tyas. Pak Joe itu perjaka, sedangkan kamu janda. Tidak mungkin pak Joe suka sama kamu.


Tyas geleng-geleng kepala dengan pemikirannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2