
"Pak Joe, kita ke Bandung tanpa membawa apapun?"
"Semuanya sudah disiapkan di sana. Jadi tidak perlu kuatir."
"Ok pak Joe."
Sepanjang perjalanan ke Bandung, pak Joe dan Tyas terdiam dengan pikirannya masing-masing.
"Ningsih, kamu dipanggil pak Arif."
"Iya bu Alin, terima kasih."
"Sebentar. Kamu melakukan kesalahan? Sampai pak Arif memanggil kamu?"
"Seingat saya, tidak bu. Memangnya kenapa bu?"
"Aneh saja, karena pak Arif langsung memanggil kamu. Kalau ada masalah sama karyawan, biasanya pak Arif memanggil saya dulu tapi ini kenapa dia minta kamu langsung ke ruangannya?" Pandangan bu Alin ke Ningsih terlihat tidak suka."
"Kalau gitu, saya langsung ke pak Arif ya bu." Ningsih sudah berjalan untuk ke ruangan pak Arif.
"Eh, sebentar. Saya temanin kamu."
Bu Alin dan Ningsih berjalan ke ruangan pak Arif.
"Masuk."
Bu Alin dan Ningsih masuk ke ruangan pak Arif setelah dipersilahkan masuk.
"Alin, ada apa?"
"Maaf pak Arif. Saya ikut Ningsih karena ingin tahu kenapa pak Arif memanggil Ningsih. Apa Ningsih melakukan kesalahan. Jika iya, setidaknya saya tahu dan saya bisa mengajari Ningsih."
"Saya hanya perlu sama Ningsih. Jadi lebih baik kamu keluar. Ada hal penting."
"Apakah Ningsih akan dipindahkan ke divisi lain pak?"
"Saya akan infokan kamu segera. Jadi lebih baik kamu keluar dari ruangan saya."
"Oh, baik, baik pak. Permisi."
"Dan jangan coba-coba berdiri di pintu untuk mendengarkan pembicaraan saya dengan Ningsih."
Bu Alin menganggukkan kepalanya dan berjalan ke luar ruangan.
Ada apa sebenarnya dengan Ningsih. Sampai aku tidak boleh tahu pembicaraan mereka. Semoga Ningsih di pindah ke divisi lain. Jangan-jangan gosip yang bilang Ningsih dan pak Arif berpacaran benar seperti yang dikatakan sama Tiara dan Ria. Karena mereka sempat melihat pak Arif menggandeng tangan Ningsih seperti orang berpacaran di mall.
__ADS_1
"Bu Alin, kok bengong di situ? Ada apa bu?" Tiara yang melihat Bu Alin menegurnya.
"Eh Tiara, sini-sini."
Bu Alin mengajak Tiara menjauh dari meja kerjanya.
"Saya mau tanya mengenai Ningsih. Kamu serius melihat Ningsih dan pak Arif di mal."
"Iya bu, seriuslah. Mereka keluar dari restoran dan pak Arif menggandeng tangan Ningsih seperti orang pacaran."
"Kamu ngga salah lihatkan?"
"Nggalah bu. Saya bisa bedakan gandengan tangan orang yang pacaran atau saudara atau teman. Kelihatan jelas banget loh bu. Memangnya ada apa sih bu?"
"Itu si Ningsih. Tiba-tiba pak Arif memanggil Ningsih. Saya bingung saja. Kalau memang ada masalah mengenai kerjaan Ningsih, pak Arif kan bisa tanya ke saya. Tapi ini kenapa langsung ke Ningsih."
"Oh gitu, apa jangan-jangan?"
"Jangan-jangan. Maksudnya apa?"
"Ya, kita kan yang di kantor ini tahu Ningsih dari bagian apa dulunya. Produksi, yang kerjanya pakai shift mendadak bisa masuk ke kantor ini. Ya semoga saya tidak suudzon sama Ningsih, sih bu. Bisa jadi Ningsih biasa jualan biar bisa dekat sama pak Arif."
"Cih, pak Arif tidak serendah itu Tiara. Dari awal saya kerja sampai sekarang pak Arif sopan sama perempuan dan pegawai perempuan."
"Makanya tadi Tiara bilang tidak suudzon. Hanya saja laki-laki ya tetap laki-laki. Di kasih daging enak aja lahap makannya apalagi di kasih daging hidup yang bisa mijat sampai merem melek." Tiara tertawa.
Tiara dan bu Alin pergi ke ruangan kerja masing-masing.
"Pak Arif, ada apa manggil saya?'
"Ning, kamu kenapa manggil saya dengan sebutan pak Arif. Tidak seperti biasanya kalau hanya berdua saja."
"Ya inikan di kantor pak. Dan pak Arif adalah direktur. Bos besar di atas bos-bos kecil lainnya. Kecuali kalau di luar dari area ini, saya pasti akan manggil pak Arif dengan sebutan mas Arif."
"Hahahha, hal-hal kecil seperti ini yang saya suka sama kamu, bisa menempatkan diri. Gini, mulai awal bulan, kamu tidak perlu lagi bekerja."
"Loh kenapa? Saya dipecat! Memangnya saya ada melakukan kesalahan dalam bekerja?"
"Bukan dipecat, tapi kamu harus menyiapkan diri kamu untuk pernikahan kita nanti. Sebentar, kamu lupa kalau kita akan menikah?"
Ningsih menunduk.
"Kenapa? Ada masalah apa sayang? Kenapa kamu malah menunduk?"
Ningsih terlihat semakin gelisah.
__ADS_1
"Cerita Ning, ada apa? Kamu harus jujur sama saya ada masalah apa? Ning?"
"Saya sebenarnya masih belum bisa percaya kalau pak Arif mau menikah sama saya? Apakah saya pantas untuk menjadi istri pak Arif? Karena ada yang mengganggu saya."
"Maksud kamu? Dan siapa yang mengganggu? Apa kamu punya pria lain? Kalau memang iya kenapa baru bilang saat ini! Sebentar lagi kita mau menikah!" Pak Arif mulai meninggikan suaranya yang membuat Ningsih semakin gelisah.
"Demi Allah, pak. Saya tidak punya pria lain."
"Lantas! Kami mau membatalkan pernikahan kita!"
"Bukan, bukan gitu pak. Tapi."
"Tapi apa!" Bilang jangan membuat saya berpikir macam-macam."
"Maaf pak. Kemarin itu ada yang seorang perempuan menelpon saya berkali-kali. Awalnya saya angkat. La-lu, lalu dia bilang jika saya tetap melangsungkan pernikahan sama pak Arif, dia akan membuat pernikahan kita hancur. Jujur saya takut pak. Saya tidak mau apa yang dialami oleh Tyas akan kejadian dengan saya. Karena saya tidak sekuat Tyas. Dan saya mau menikah sekali seumur hidup." Ningsih menangis setelah mengatakan kepada pak Arif.
Pak Arif segera bangkit berdiri dan mendekati Ningsih kemudian memeluk Ningsih. Membuat Ningsih merasa nyaman saat dipeluk oleh pak Arif. Sampai akhirnya Ningsih berhenti menangis, baru pak Arif melepaskan pelukannya.
"Ningsih, tidak akan ada seorang pun yang bisa membuat hancur pernikahan kita. Saya yang memilih kamu. Saya mencintai kamu. Jangan melihat status saya saat di perusahaan ini. Tapi lihatlah saya sebagai pacar kamu, calon suami kamu, papa dari anak-anak kita nantinya."
"Iya pak. Tapi saya benar-benar takut. Karena perempuan itu terus menelpon saya sampai akhirnya ia kirim pesan yang mengancam. Tapi tidak saya balas."
"Bisa saya tahu berapa nomer telponnya. Dan pesannya apa?"
Ningsih mengambil handphone dari saku celana panjangnya dan memberikan hamdphonenya kepada pak Arif.
Saat pak Arif membaca pesan tersebut, mukanya menjadi merah menahan amarah. Dan pak Arif menelpon ke nomer tersebut dengan handphone pribadi nya bukan handphone untuk urusan bisnis.
"Hei Tiara, handphone loe bunyi tuh! Angkat kenapa? Berisik tahu!"
Ria yang duduk di sebelah Tiara sebal karena handphone Tiara berbunyi tapi tidak diangkat.
"Ah malas gue angkat, soalnya nomer tidak dikenal. Palingan nawarin kartu kredit."
"Ya setidaknya loe kecilkan volumenya atau di silent biar ngga berisik."
"Iya, iya." Tiara segera mengambil handphonenya dan tidak mau menerima telpon yang masuk. Setelah tidak berbunyi lagi, Tiara mengecilkan volume handphonenya.
"Tidak diangkat. Ah, sebentar." Pak Arif mengetik nomer handphone yang tadi di handphone satunya dan tertera nama Tiara. Dan tersenyum licik. Karena pak Arif sudah tahu siapa yang telah mengganggu Ningsih."
"Ningsih sayang, Kamu tidak usah kuatir lagi. Percaya sama saya, bahwa saya mau menikah dengan kamu. Keluarga besar saya sudah merestui pernikahan kita. Dan kamu sendiri sudah tahu. Kamu tenang saja. Ini hanya persoalan kecil, saya yang akan membereskannya. Saya sayang kamu dan cinta sama kamu. Kamu perempuan yang saya mau, Ningsih."
Pak Arif memeluk Ningsih kembali. Ada perasaan nyaman dan tenang setelah pak Arif bicara dan memeluk dirinya. Ningsih hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Makasih pak Arif. Jika tidak ada yang ingin disampaikan lagi, bisakah saya kembali bekerja?"
__ADS_1
"Ya, nanti sore pulang bareng saya. Kamu harus nurut sama saya ya. Jangan ada pikiran macam-macam lagi. Dan jangan ragu, karena hari besar kita untuk menjadi halal sebentar lagi."
"Iya pak. Saya permisi ya pak."