
Hari ini Ningsih menikah.
Senangnya lihat Ningsih yang sudah sah menjadi istri pak Arif.
Mata Tyas berkaca-kaca melihat kebahagian Ningsih dan pak Arif. Pak Joe yang melihat Tyas mengusap air matanya menghampiri.
"Tyas, kamu baik-baik saja?"
"Iya pak Joe. Saya baik-baik saja. Saya senang akhirnya Ningsih menikah dengan pak Arif."
"Iya. Nanti malam kita ke gedung untuk pesta pernikahan Ningsih. Kamu pulang ke rumah atau di hotel?"
"Iya pak Joe. Saya pulang pak Joe. Saya tidak menginap di hotel."
"Mau pulang sekarang atau nanti?"
"Nanti saja. Ini kan juga belum selesai. Pak Joe, seandainya saya..eh, ngga jadi deh pak Joe."
"Kamu mau ngomong apa Tyas? Ngomong saja. Kenapa tiba-tiba tidak jadi."
"Hehehe, ngga sekarang pak. Nanti saja. Saya permisi ke sebelah sana ya pak sekalian mau memberikan selamat kepada pak Arif dan Ningsih."
Tyas meninggalkan pak Joe dan berjalan ke arah keluarga Ningsih.
"Bu, selamat ya. Akhirnya Ningsih sudah sah menjadi istri pak Arif."
"Iya neng Tyas. Ayo, neng Tyas juga cepatan menikah lagi. Jangan trauma sama pernikahan neng Tyas yang sudah lewat. Mas neng Tyas mau lama-lama sendiri. Biar ada teman ngobrol, teman untuk berpikir, teman hidup dalam suka dan duka. Ibu doakan neng Tyas dapat suami yang baik yang melimpah rejekinya seperti Ningsih yang dapat jodoh bos. Ibu ngga pernah mimpi Ningsih dapat jodoh orang kaya. Sampai sekarang ibu masih belum percaya. Sujud syukur sama Allah SWT.
"Amin bu. Namanya jodoh kita tidak tahu bu. Semua atas kehendak Allah."
"Iya neng Tyas. Ibu akan doakan neng Tyas segera menikah lagi yak. Nanti di hotel neng Tyas datang kan? Datang sama pacarnya neng Tyas ya. Ibu tunggu."
"Heheheh, iya bu Tyas pasti datang. Tyas permisi dulu ya bu."
"Iya, iya neng."
Tyas melihat tamu yang datang saat akad nikah. Kebanyakan yang datang keluarga dari Pak Arif, keluarga Ningsih dan juga teman-teman di pabrik yang Tyas tidak terlalu kenal.
"Tyas, kita pulang sekarang?"
"Eh, iya pak Joe."
__ADS_1
Pak Joe dan Tyas pamit pulang. Sepanjang perjalanan mereka berdua terdiam.
"Tyas, sudah sampai."
"Iya pak Joe. Oh iya. Pak Joe mau mampir sebentar. Ada yang mau saya bicarakan."
"Boleh."
Tyas dan pak Joe keluar dari mobil. Tyas mempersilahkan pak Joe duduk di teras.
"Mau bicarakan apa Tyas?"
"Gini pak Joe. Saya mau tanya sama pak Joe. Apakah pak Joe yakin mau menikah sama saya? Dengan status saya yang janda. Saya bukan perawan lagi, bukan gadis lagi. Sedangkan pak Joe selama ini belum menikah? Apa nanti tidak jadi pembicaraan keluarga besar pak Joe?"
"Tyas, saya yakin dan saya memang mau menikah sama kamu. Saya tidak melihat status kamu. Kehidupan yang dulu biarlah yang dulu. Kita hidup di masa sekarang dan masa depan. Anggaplah kehidupan yang dulu adalah pembelajaran dalam hidup. Saya suka kamu dari awal kamu masuk di bagian QC. Keluarga besar saya adalah keluarga yang open mind. Apapun resiko nanti itu yang akan saya dan kamu jalani. Yang penting kita tetap bersama. Jadi apakah kamu menerima saya untuk menjadi suami kamu?"
"Iya pak. Saya terima untuk jadi istri pak Joe."
"Terima kasih Tyas, terima kasih." pak Joe menjabat tangan Tyas dengan tersenyum dan Tyas pun sama.
"Sama-sama pak Joe. Saya yang berterima kasih karena pak Joe mau menerima kekurangan saya."
"Kita sebagai manusia pasti punya kekurangan dan kelebihan. Kita harus bisa menerima kekurangan dan kelebihan pasangan kita, Tyas."
"Tidak, tidak Tyas. Saya sabar menunggu. Karena kamu pasti banyak hal yang jadi pertimbangan sebelum menerima saya. Saya akan telpon mama nanti. Dia pasti senang sekali."
"Iya pak Joe."
"Ya sudah Tyas, saya pamit pulang ya. Nanti selepas sholat maghrib saya jemput kamu. Assalamu'alaikum."
"Wa'allaikumsalam, ya pak."
Pak Joe pulang ke rumah. Tyas masuk ke dalam rumah.
Akhirnya, aku sudah bicara dengan pak Joe. Terima kasih ya Allah, karena Engkau sudah menolong aku menemukan pasangan hidupku. Semoga nanti pernikahanku yang kedua lebih baik dari yang pertama. Sujud syukur kupanjatkan kepadamu ya Allah.
"Halo Joe, ada apa?"
"Mama, Joe hari ini senang ma. Akhirnya ma, akhirnya."
"Akhirnya apa? Suara kamu terdengar gembira sekali. Ada apa?"
__ADS_1
"Mama tahu tidak? Joe yakin kalau mama dengar pasti mama akan senang dan gembira seperti Joe saat ini."
"Joe, mana mama tahu. Senang dan gembira kenapa? Kamu kalau ngomong jangan sepotong-potong gitu. Udah tua, udah umur kamu, ngomong kayak anak remaja yang baru pacaran."
"Iiih, mama kapan Joe pernah pacaran waktu remaja. Mama kan tahu sendiri Joe dan Jerry tidak pernah pacaran waktu masih remaja. Harus belajar, belajar dan belajar dulu."
"Udah deh, jangan kebanyakan ngomong. Ada apa!"
"Ma, akhirnya Tyas mau menikah sama Joe, ma. Tadi Tyas baru ngomong. Tyas, Tyas mau jadi istri Joe, ma."
"Alhamdulillah Joe. Ya Allah, terima kasih atas karunia yang Engkau berikan. Akhirnya anak kembar hamba menemukan jodohnya setelah menunggu lama. Joe, mama terharu sampai mama nangis saking senang, gembira. Ah campur aduk pokoknya. Kapan kamu ke rumah. Ajak Tyas sekalian."
"Iya ma. Kalau hari ini tidak bisa ma. Nanti malam Joe dan Tyas akan ke pesta pernikahan pak Arif dan Ningsih di gedung. Besok saja ya ma."
"Ok, besok kamu ke sini ya. Mama akan siapkan makanan untuk menyambut calon mantu mama. Joe, sujud syukur sama Allah SWT."
"Iya ma, pasti ma. Pasti. Ya sudah kalau gitu ma. Ini sudah azan dzuhur. Joe sholat dulu ya ma. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Ningsih dan pak Arif berada di kamar hotel. Terlihat muka mereka berdua senang.
"Ningsih, akhirnya kita sah sebagai suami istri. Terima kasih ya sayang."
Ningsih mengambil tangan pak Arif dan mencium tangan pak Arif.
"Saya yang harusnya berterima kasih sama pak Arif. Memilih saya sebagai istri pak Arif."
"Hahahah, kaku banget ya. Padahal kita sudah sah sebagai suami istri. Kok hanya mencium punggung tangan saya saja. Kenapa tidak cium pipi saya?" Pak Arif menggoda Ningsih. Terlihat semburat merah di wajah Ningsih.
"Belum berani cium pipi pak Arif. Ningsih malu."
"Hahahaha. Padahal sudah halal loh, kenapa mesti malu pipi saya? Peluk juga boleh kok. Contohnya seperti ini."
Pak Arif memeluk Ningsih dan mencium pipi serta bibir Ningsih dengan lembut membuat Ningsih terkejut. Pak Arif menghentikan ciumannya.
"Bibir kamu enak, empuk dan kenyal seperti permen jelly." Pak Arif kembali menggoda Ningsih.
"Iiihhh, apaan sih. Ningsih memukul dada pak Arif dan wajah Ningsih semakin memerah.
"Nanti malam kita pembukaan ya. Sekarang kita harus siap-siap untuk pesta pernikahan kita."
__ADS_1
Ningsih mengganggukkan kepalanya