
Kejadian yang tadi berlansung di ruangan Pak Arif membuat Tyas menangis karena lagi-lagi Ahmad membuat malu dirinya.
Mas Ahmad dengan santainya bilang bahwa Tyas berselingkuh saat awal pernikahan dengan lelaki lain karena itu ia menceraikan Tyas. Tetapi Tyas tidak mau diceraikan. Karena itu Ahmad menikah dengan perempuan lain dan tercatat di kantornya.
Pak Arif melihat ke arah Tyas. Terlihat di wajahnya Tyas perasaan Marah, kesal, malu dan kaget karena semuanya diputar balikkan oleh Ahmad.
"Maaf Ahmad, ini kantor saya dan kamu berada di ruangan saya. Kamu sebagai lelaki yang mempunyai istri tidak sepantasnya menjelekkan istrinya di depan orang banyak dan urusan rumah tangga kamu dan karyawan saya, Tyas bukan untuk konsumsi saya mapun kakak saya. Jangan hanya menyalahkan istri atas ketidak mampuan kamu sebagai suami dan kepala keluarga.
"Tyas dan Pak Joe, kalian sudah selesai sama saya, silakan kembali bekerja."
"Baik Pak Arif. Terima kasih."
Pak Joe dan Tyas keluar dari ruangan Pak Arif.
"Pak Joe, saya ijin ke mushola dulu. Mau sholat."
"Silakan. setelah itu kembali bekerja ya."
"Iya Pak."
Pak Joe melihat Tyas yang berjalan cepat ke arah mushola.
"Tyas, kamu perempuan yang baik dan juga istri yang patuh dan hormat juga menghargai suami walaupun sebenarnya hatimu sakit dan ingin memberontak. "
Selesai sholat, Tyas sempat menangis dan ia melihat jam ternyata sudah cukup lama ia berada di mushola. Tyas segera membasuh mukanya dan menggunakan bedak tipis-tipis supaya tidak terlalu kelihatan bahwa ia habis menangis.
Tyas kembali bekerja dan menyelesaikan pekerjaannya..
"Tyas, sepertinya hari ini kamu lembur karena baru saja ada barang masuk dari produksi, kamu bisakan?"
"Baik Bu Agnes, saya bisa."
Tyas baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Tyas berjalan keluar dari pabrik, sudah jam 8 malam. Tyas naik angkot yang berhenti di hadapannya.
Sampai di rumah, ia membuka pintu dan menguncinya. Tyas segera mengambil baju ganti untuk mandi dan sholat. Hari ini ia merasakan lelah sekali.
Selesai sholat, ia mengambil mie instan dan telor. Perutnya terasa lapar.
Tyas mendengar pintunya diketuk dengan kasar. Tyas meletakkan mie instan dan telor, lalu pergi ke depan untuk membuka pintu.
"Siapa?"
"Tyas, buka pintunya. Cepat!"
"Iya Mas Ahmad, sebentar."
Tyas membuka pintu dan melihat Ahmad dan juga 2 orang laki-laki. Ahmad segera masuk dan di ikuti oleh kedua orang itu.
__ADS_1
"Mas, ada apa? Siapa mereka?"
"Sini kamu." Ahmad menutup pintu dan menarik tangan Tyas."
"Mas Ahmad, sakit Mas." Ahmad mendorong Tyas supaya duduk di kursi.
"Nah, seperti yang gue bilang kemarin. Ini perempuan mandul. Loe berdua bisa pakai sepuasnya tanpa takut dia akan hamil."
"Mas Ahmad, Astagfirullah al adzim. Mas istighfar Mas, aku istrimu." Ahmad langsung menutup mulut Tyas dengan kain dan kedua temannya segera mengikat tangan dan kaki Tyas
"Hah, dia istri loe?" Tanya salah seorang laki-laki.
"Hahahaha, bukanlah. Istri gue kan si Nur sama Nia yang kemarin baru nikah sama gue. Ini peremouan ngaku-ngaku karena pengen banget nikah sama gue. Waktu gue pakai, dia udah ngga perawan. Dan sampai detik ini belum ada yang pakai ini perempuan. Dia nunggu gue nikahin."
"Wah... berarti masih kencang yak hahahahha. Gue udah bayar ke loe yah. Jadi dia bisa gue bolak balik nih."
"Gue duluan yak, loe kan lama."
"Sok, biasanya liar yang pertama."
Kedua orang itu merobek baju yang Tyas pakai. Tyas menangis karena kaki dan tangannya terikat juga mulutnya ditutup dengan kain.
"Wuih gede juga euy. Loe serius ngga ikutan Mad."
"Ngga kalian nikmati saja." Ahmad mengunci pintu.
Air mata Tyas mengalir melihat Ahmad yang hanya duduk dan menikmati pemandangan dimana Tyas dicium dan diraba oleh kedua temannya.
Pintu rumah Tyas diketuk oleh Ningsih dan Gege.
Gege, Ningsih, Pak Joe dan Pak Arif ke rumah Tyas. Mereka bertemu setelah pulang kerja untuk membujuk Tyas agar pindah dari rumahnya.
"Mbak Tyas, ini Gege sama Ningsih Mbak. Buka pintunya. Mbak Tyas, Gege tahu Mbak Tyas di dalan. Ini ada 2 motor loh. Mbak Tyas."
"Pak Joe, sepertinya ada sesuatu yang terjadi sama Tyas. Biasanya dia menyahut kalau ada yang manggil atau segera membuka pintunya."
Ahmad tidak terlalu teriakan Gege dan Ningsih karena di pikirnya hanya 2 perempuan.
"Gimana nih, loe bilang aman!"
"Itu temannya, biasa bisa di pakai juga."
"Seriusan?"
"Udah loe pakai yang ini dulu, entar gue atur dengan 2 orang itu buat kalian satu-satu."
"Ya Allah, Mbak Tyas! Buka pintu Mbak. Mbak!"
__ADS_1
Gege menempelkan telinganya di pintu dan mendengar omongan Ahmad dan temannya.
"Pak Joe dan Pak Arif, tolong dobrak pintunya. Gege panggil pak RT dan warga buat bantu Mbak Tyas."
"Ada apa memangnya?" Pak Arif bertanya dengan Gege.
"Pak Joe, tolong ternyata yang tadi pagi benaran. Si Ahmad bawa temannya untuk Mbak Tyas."
Pak Joe langsung mendobrak pintu rumah Tyas dan di bantu dengan Pak Arif. Gege berlari ke rumah Pak RT dan beberapa warga
Pintu rumah Tyas rusak karena di dobrak oleh Pak Joe dan Pak Arif. Ningsih langsung berlari ke dalam dan mengambil kain apapun untuk menutup badan Tyas yang sudah tanpa busana.
Ahmad dan 2 temannya berkelahi dengan Pak Joe dan Pak Arif. Gege dan Pak RT juga beberapa warga datang membantu Pak Joe dan Pak Arif.
Tyas sudah di bawa sama Ningsih ke dalam kamar. Ningsih menenangkan Tyas yang masih menangis.
Pak Arif menelpon polisi. Ahmad dan temannya sudah diamankan oleh warga.
"Ini kan suaminya bu Tyas. Kalau 2 ini, kita ngga pernah tahu."
Tidak berapa lama polisi datang. Polisi me minta keterangan.
Gege masuk ke kamar dan melihat Mbak Tyas yang masih menangis.
"Mbak Tyas, ada polisi mau minta keterangan."
"Biar aku yang bicara sama pak polisi. Gege temenin Tyas saja." Ningsih berdiri dan tangannya ditarik oleh Tyas.
"Ngga papa Ningsih. Biar aku saja."
Tyas keluar kamar ditemani Gege dan Ningsih.
"Bu Tyas, mohon penjelasannya karena kami dapat laporan untuk menangkap 3 orang ini."
Tyas menjelaskan semuanya. Tyas berusaha tidak menangis saat menjelaskan kepada polisi.
Semua yang mendengarkan penjelasan Tyas menjadi marah kepada Ahmad.
"Mohon di proses pak polisi. Karena 3 laki-laki ini telah berbuat asusila terhadap karyawan saya. Pastikan mereka mendapatkan hukuman."
"Baik Pak Arif."
Polisi membawa Ahmad dan kedua temannya.
Tyas pingsan saat polisi membawa Ahmad dan kedua temannya. Untungnya Ningsih di belakang Tyas sehingga Tyas tidak terjatuh.
Pak Joe membantu Ningsih membawa Tyas ke kamar.
__ADS_1
Pak Arif berbicara kepada Pak RT dan warga.