Istri Suamiku

Istri Suamiku
Rumah Baru


__ADS_3

"Pak Joe, kita nau kemana?"


"Tenang saja, saya tidak akan macam-macam sama kamu. Kita akan ke rumah kamu. Pak Arif sudah memberikan rumah untuk kamu."


"Hah, saya di kasih rumah? Memangnya saya siapa? Sampai Pak Arif memberikan saya rumah? Saya tidak mau dipaksa cinta sama Pak Arif."


Tyas panik saat Pak Joe memberitahukan bahwa Pak Arif memberikan Rena rumah.


"Hahahahah, Tyas. Tyas, kamu lucu, lugu dan naif."


"Pak Arif itu tidak bisa melihat karyawannya menderita dan susah. Apalagi dengan kejadian yang kamu alami dan Pak Arif melihat dengan mata kepalanya saat kamu diperlakukan seperti itu oleh suamimu Ahmad."


"Oh, jadi Pak Arif seperti itu, Pak Joe."


"Iya. Aku mau tanya apakah kamu tetap akan bercerai atau pada akhirnya memaafkan Ahmad dan menerima kembali Ahmad bersama kamu?"


"Tyas sebenarnya tidak mau ada kata perceraian Pak. Tyas maunya menikah sekali seumur hidup. Tetapi bila ternyata harus bercerai, Tyas terima dan pasrah sama suratan dan takdir Tyas."


"Ok. Berarti kamu menerima jika pada akhirnya harus bercerai dengan Ahmad?"


Tyas menganggukkan kepalanya.


"Jalani semua prosesnya Pak. Allah sedang memberikan Tyas ujian hidup. Apakah nanti Tyas lulus atau tidak dalam ujian hidup tergantung dari diri Tyas sendiri menyikapinya."


"Saya setuju Tyas dengan kata-katamu."


"Walaupun saat ini saya merasa diri saya kotor mau berapa kalipun saya mandi, saya tetap merasa kotor. Dan kalau pun akhirnya saya bercerai, ya sudah saya terima dan pasrah dengan tulus dan ikhlas."


"Kata siapa kamu kotor. Itu hanya pemikiranmu dan asumsimu sendiri. Bukan kamu yang minta untuk berbuat seperti itu tapi suami kamu yang melakukan dengan paksa. Kita sudah sampai, ayo turun."


Pak Joe dan Tyas turun dari mobil.


"Pak Joe, kita ke rumah siapa? Rumahnya mungil dan bagus banget."


"Dari depan memang mungil, tapi kamu belum masuk. Ini namanya rumah minimalis. Ayo masuk, ini rumah kamu. Dan kamu bisa tidur disini malam ini."


"Malam ini? Tidur di sini? Nah baju saya gimana? Kan masih di rumah kontrakan Ningsih Pak?"


"Aduh kamu banyak tanya. Sudah masuk dulu, lihat dulu. Kalau ngga suka bilang nanti dikasih rumah yang lain sama Pak Arif."


"Assalammualaikum" Pak Joe dan Tyas mengucapkan salam bersamaan.


Tyas masuk mengikuti Pak Joe yang sudah berjalan duluan. Rumah yang lain? Dikasih cuma-cuma? Maksudnya? Aku bakalan jadi simpanan Pak Arif gitu? Astagfirullah Al Adzim, amit-amit, jauh-jauh deh. Tyas berbisik sendiri dan mengeplak kepalanya.


"Kamu kenapa Tyas, senyum-senyum sendiri dan ngeplak kepala kamu?"


"Eh, ngga papa Pak."


"Gimana? Kamu suka?"

__ADS_1


"Tyas lihat-lihat dulu Pak Joe."


"Ok, silakan. saya mau duduk dulu." Pak Joe langsung duduk di sofa.


Tyas berjalan melihat dan semua sudah lengkap dengan isinya.


"Subnallah, ini rumah kelihatannya mungil dari depan, ternyata panjang rumahnya."


Tyas melihat 3 kamar dan di tiap pintu ada tulisan nama dirinya, Ningsih dan Gege. Tyas tersenyum, berarti aku bukan simpanan Pak Arif, ada nama Ningsih dan Gege juga."


Tyas membuka kamar dengan namanya di pintu. Tyas kaget ternyata bajunya sudah ada semuanya di kamar. Kok bisa? Tyas keluar dan membuka kamar Gege dan juga Ningsih dan ada baju juga perlengkapan yang lainnya. Tyas kebingungan sendiri.


"Pak Joe, kenapa bisa semua baju saya dan Ningsih juga Gege sudah ada di sini? Berarti Gege dan Ningsih tinggal bareng saya juga kan Pak? Terus nanti mereka kerja naik apa? Kasihan mereka kalau bekerja terlalu jauh." Malam ini mereka tidur di sini juga kan Pak?"


Pak Joe kaget tiba-tiba Tyas datang menghampirinya dan menanyakan banyak pertanyaan.


"Saya jawab satu-satu pertanyaan kamu ya. Bajumu sudah di packing tadi saat kamu berangkat kerja pagi. Baju Gege dan Ningsih juga sekaligus perlengkapan lenong eh dandan kalian. Terus ya, mereka akan tinggal bareng kamu biar kamu ada temannya. Mereka akan naik bis jemputan dari kantor. Ya sebentar lagi mereka sampai, jadi di tunggu saja."


"Baik Pak Joe, terima kasih banyak."


"Kalau gitu saya permisi pulang ya, mobil saya taruh di sini saja."


"Loh memang rumahnya Pak Joe dimana?"


"3 rumah dari sini. Rumahnya Bu Agnes dan Lita 6 rumah dari sini. Rumah Pak Arief 10 menit dari sini."


"Oh, dan yang ada di lingkungan sini semuanya adalah karyawan pabrik BAT?


Gege dan Ningsih masuk ke dalam rumah. Ningsih masih di depan rumah sedangkan Gege sudah masuk ke dalam rumah.


"Eh ada Pak Joe kirain Mbak Tyas sendiri. Kalau Mbak Tyas sendiri biasanya joget-joget ngga jelas."


Gege langsung nyerocos seperti biasa.


"Gege, masuk rumah itu ngucap salam dulu. Diulang."


"Kok cuma Gege, kan Mbak Ningsih juga belum ngucap salam.


Ningsih tertawa melihat Gege yang keluar lagi.


" Assalammualaikum Ningsih dan Gege mengucapkan salam bersamaan.


"Wa'allaikum salam." Tyas dan Pak Joe menjawab berbarengan.


"Jadi karena Ningsih dan Gege sudah datang, saya permisi pulang."


"Pak, jangan pulang dulu. Ningsih beli pecel ayam 4. Kita makan sama-sama."


"Hmmm, ok. Terima kasih Ningsih."

__ADS_1


"Sama-sama Pak Joe."


Mereka berempat makan pecel ayam.


Ahmad baru sampai rumah. Dari tadi siang ia menunggu Tyas di depan pabrik tapi ia tidak melihat Tyas keluar dari pabrik.


Dengan kesal Ahmad pulang ke rumah.


"Loh, ayah pulang naik motor? Mobilnya kemana?"


"Iya tadi habis pulang lihat pembangunan rumah. Jalanan macet jadi tadi berangkat naik motor biar cepat sampai."


"Oh, itu kardus apa ayah? Kok ada nama Ayah?"


"Ini dokumen yang harus dicek malam jnj. Tadi ada beberapa kardus dengan tulisan nama beberapa orang. Daripada salah ambil jadi dituliskan namanya."


"Ayah mau makan sekarang atau nanti?"


"Ayah mau kopi hitam taruh di ruang kerjaku ya. Bunda kalau mau tidur duluan tidak papa. Kondisi bunda kan sedang mengandung. Anak-anak bagaimana?"


"Mereka main dan Keisha pengen jalan-jalan ke bandung, ke ranch katanya. Dan Malik agak rewel karena tadi bunda muntah-muntah.


"Ya sudah makanya sekarang bunda istirahat. Besok ayah harus berangkat lebih pagi. Dan mungkin pulang agak malam. Karena ada beberapa meeting. Besok ayah pinjam mobil bunda ya. Daripada harus ke kantor dulu untuk ambil mobil."


"Iya ayah, pakai saja. Sebentar bunda buatkan kopi dan setelah itu bunda tidur."


Nur pergi ke dapur dan membuatkan kopi untuk Ahmad. Setelah kejadian kemarin, Nur tidak percaya sama Ahmad. Nur berencana akan menelpon ke kamtornya Ahmad besok."


"Ayah ini kopinya dan ini roti buat ayah."


"Ya makasih Bunda."


Nur keluar dari ruang kerja Ahmad. Dan menutup pintu tetapi tidak rapat ada sedikit celah.


Ahmad menunggu beberapa saat dan di rasa Nur sudah masuk kamar. Ia menelpon seseorang.


"Do, sorry gue telpon malam-malam. Ada kerjaan ngga buat gue. Gue tadi diberhentikan dari kantor karena Tyas."


"Sorry Ahmad, gue lagi ngga ada proyek. Nah loe sih cari perkara sama Tyas. Dan itu karma loe, udah nikung gue. Harusnya gue yang nikah sama Tyas."


"Yaelah, udah ngga usah ungkit kejadian dulu. Jujur gue nyesal ninggalin Tyas, tapi dia ngga hamil-hamil. Sekalinya sama si Nur, langsung hamil. Sama Laila, gue ngga lanjutin dia tahu gue udah punya istri dan anak."


"Ah, loe gila sih. Perempuan cakep dikit langsung loe libas."


"Ngga, si Tyas ngga pernah gue gauli. Masih perawan kali. Gue mau mulai, dia udah nangis kesakitan, jadi selama ini gue main tangan aja. Makanya dia ngga hamil. Si Nur, udah ngga enak. Udah ngga gigit lagi. Tadi siang gue nungguin Tyas, maksudnya gue mau buat dia hamil dan gue mau paksa malah ngga ketemu.


"Aaaahhh, terserah loe, gue ngga ikut-ikutan."


"Tolongin gue Do, besok gue mau nikah sama Sekar, masih umur 22. Udah gue goyang berapa kali dan sekarang di hamil."

__ADS_1


Nur mendengarkan semua pembicaraan Ahmad. Hatinya menjadi sakit dan hancur. Nur segera ke kamarnya. Suaminya Ahmad besok akan menikah karena telah menghamili perempuan lain yang bernama Sekar."


__ADS_2