Istri Suamiku

Istri Suamiku
Satu Kantor


__ADS_3

"Tyas, kamu tetap bekerja dengan saya. Tapi bukan di pabrik ini lagi tapi di kantor yang sama dengan pak Joe Kamu akan di tempatkan di bagian administrasi."


"Jadi, saya tetap bekerja sama pak Arif?"


"Iya, mulai hari ini. Dan kamu bisa ikut sama Joe ke kantor yang baru."


"Terima kasih banyak pak Arif, terima kasih."


"Kerja yang baik ya. Karena kamu kerja dbawah pimpinan kakak saya. Dan kakak saya tidak suka sama orang yang mencari muka. Kamu harus banyak belajar. Karena kantor itu masih terbilang baru."


"Baik, baik pak Arif."


"Joe, segera berangkat dan tunjukkan di ruang mana nanti Tyas bekerja. Setidaknya untuk berangkat dan pulang kerja kalian bisa bersama-sama."


Joe dan Tyas segera pamit dan keluar dari ruangan pak Arif. Muka Tyas terlihat bahagia karena akhirnya ia bisa pindah kerja walaupun masih dalam lingkup yang sama. Dan mereka langsung berangkat ke kantor.


"Tyas, ini meja kamu. Olivia, ini orang adminstrasi yang baru. Kamu kasih tahu sama Tyas, apa saja yang harus dia kerjakan."


Tyas memperkenalkan diri kepada Olivia.


"Baik pak Joe."


Pak Joe meninggalkan Tyas dan Olivia dan menuju ruangannya.


Setidaknya kita tetap bersama ya Tyas, walaupun pekerjaan kamu saat ini, kamu di tuntut untuk belajar banyak. Semoga Tyas bisa.


Pak Joe tersenyum senang dan mulai kerja.


Terima kasih ya Allah, aku masih bisa bekerja dan di tempat yang baru, suasana baru. Aku harus bisa membuktikan kepada pak Arif, kakaknya pak Arif dan juga pak Joe bahwa aku bisa menjadi karyawan yang baik.


Hari pertama di lalui Tyas dengan banyak bertanya kepada Olivia mengenai pekerjaan. Dan tanpa terasa hari sudah menjelang sore.


"Tyas, aku pulang duluan ya. Tolong meja kamu harus bersih jangan berantakan seperti itu."


"Iya mbak Olivia. Terima kasih buat hari ini karena sudah mengajari Tyas banyak hal."


"Sama-sama."


Tyas sedang membereskan mejanya saat pak Joe datang.


"Tyas, kamu sudah selesai? Kita pulang sekarang."


"Iya pak Joe."


"Gimana kerja hari ini?"


"Ya masih agak bingung ya pak. Karena awalnya kerja di pabrik lalu sekarang di kantor. Jadi ya kaget sih, pak. Banyak yang belum saya mengerti. Alhamdulillah mbak Olivia membantu saya, jadi saya tidak terlalu kelihatan bodoh."


"Pelan-pelan saja, pasti nanti kamu akan terbiasa. Dan mindset kamu mesti di rubah. Maksud saya pola pikir kamu. Saya yakin kamu bisa."


"Iya pak Joe. Semoga."


"Sebelum pulang, kita makan dulu ya. Saya lapar dan tadi saya lihat kamu tidak makan siang."


"Ya, saya bingung saja pak. Mau makan dimana dan tadi sih mbak Olivia ngajak makan siang bareng, tapi saya takut nanti harganya mahal. Kan beda harganya pasti. Jadi lebih baik besok saya bawa makanan dari rumah saja."


"Hahahah, sebenarnya tidak terlalu jauh beda harganya. Gorengan masih sama seperti gorengan yang dijual abang-abang di depan pabrik."

__ADS_1


"Kalau gitu kita tetap mampir untuk makan malam ya."


"Terserah pak Joe saja. Saya ngikut, pak."


"Ok."


Pak Joe dan Tyas berjalan ke parkiran mobil.


Sepanjang perjalanan baik pak Joe dan Tyas diam. Sampai akhirnya pak Joe berhenti di rumah makan padang.


"Tyas, kita makan di sini saja ya. Banyak menu yang bisa kamu pilih."


"Iya pak Joe."


Secara kebetulan Edo dan Maung juga masuk ke rumah makan padang yang sama.


"Loh itu Tyas. Wah kebetulan bisa ketemu Tyas."


"Ung? Elo mau kemana? Ini pesan dululah baru duduk."


"Sebentar Do, ada teman gue, gebetan gue waktu sekolah dulu."


"Siapa? Emangnya elo sekolah hahhahaha."


"Ah, sial elo, Itu loh perempuan yang duduk arah jam 12, 4 meja dari kita diri. Itu namanya Tyas."


"Tyas! Jadi elo kenal Tyas?"


"Iya, Tyas itu teman gue dari SD sampai SMP."


"Tapi Tyas yang elo maksud itu pacar gue waktu SMA sampai akhirnya di rebut sama teman gue terus akhirnya mereka nikah dan sekarang sudah cerai."


"Udah jangan banyak ngomong, elo mau makan apa kagak!"


"Iya."


Maung dan Edo akhirnya makan dan mengambil meja yang tidak jauh dari Tyas dan pak Joe.


"Do, elo serius kalau Tyas pernah jadi pacar elo?"


"Seriuslah ngapain juga gue bohong sama elo. Kalau elo kan cuma gebetan."


"Ah, reseh elo! Kok elo tahu kalau Tyas sudah cerai?"


"Ya selama ini kan gue selalu ngikutin kehidupan Tyas dari jarak jauh. Dan laki yang saat ini makan bareng Tyas itu teman dia di kantor. Namanya Joe."


"Jadi elo masih ada niatan buat dapatin Tyas balik?"


"He-eh. Kalau elo mau berarti kita bersaing sehat ya."


"Oh, jadi elo cerai sama bini elo karena Tyas juga?"


"Urusan gue cerai sama bibi gue, itu urusan gue. Sekarang kita bersaing secara sehat saja, siapa yang nanti akan Tyas pilih. Elo atau gue?"


Maung segera berdiri dan menghampiri Tyas yang baru saja selesai makan.


"Assalamu'alaikum Tyas. Kita ketemu disini ya."

__ADS_1


"Heh, wa'allaikumsalam. Maung! Iya heheheh. Kamu juga makan disini?"


"Iya. Kamu pulang kerja? Sudah dapat kerjaan baru? Aku nunggu telpon dari kamu loh."


"Iya Maung. Oh iya kenalin ini pak Joe. Atasan aku di kantor."


Pak Joe dan Maung saling bersalaman.


"Ya sudah di lanjutkan Tyas. Eh, aku minta no handphone kamu."


"Maaf, Maung handphone aku mati lupa di charge dan aku lupa nomerku berapa. Nantilah kalau sudah sampai rumah dan aku charge aku pasti telpon kamu. Kamu sama siapa?"


"Sama mantan pacar kamu? Tuh! Orangnya lagi kesini."


"Hah! Mantan pacar? Hahhahah, kamu ada-ada saja.


"Tyas, apa kabar. Pak Joe."/


"Edo? Loh, kalian berdua kenal?"


"Iya, aku kenal sama Maung. Dan ternyata Maung atau Rendra ini teman sekolah kamu?"


"Heheheh, iya waktu masih piyik. Masih kecil. Maung, Rendra, aku pulang duluan ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'allaikumsalam. Tyas jangan lupa nanti telpon aku ya. Aku tunggu."


"Ok."


Pak Joe dan Tyas keluar dari rumah makan padang dan masuk ke dalam mobil.


"Tyas, itu Edo temannya Ahmad kan?"


"Iya pak Joe."


"Nah kalau Maung atau siapa tadi namanya Rendra ya. Itu juga temannya Ahmad?"


"Bukan pak. Maung itu teman sekolah saya waktu SD dan SMP."


"Oh gitu. Saya pikir tadi temannya Ahmad juga."


"Hehehhe, bukan pak. Untungnya tadi pak Joe mengajak saya pulang. Karena saya tidak nyaman bertemu dengan Edo."


"Kenapa?"


"Ya, dia berharap saya mau menjadi istrinya dia. Dan Edo tahu kalau saya sudah cerai dari Ahmad."


"Nah kamu sendiri bagaimana?"


"Saya sendiri masih bingung harus bagaimana? Tapi saya sudah bilang sama Edo kalau saya tidak mau menjadi istrinya dia. Saya hanya menganggap dia teman saja."


"Oh, ok. Lalu... "


"Lalu apa pak?"


"Kita sudah sampai."


"Iya pak Joe. Terima kasih untuk hari ini ya pak Joe. Selamat malam."

__ADS_1


"Selamat malam juga Tyas. Istirahat, besok saya jemput jam 7 ya."


"Ok pak Joe."


__ADS_2