
Tyas tidak bisa tidur. Ia berjalan ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Tyas sholat tahajud mohon diberikan petunjuk untuk pernikahannya. Dan dilanjutkan dengan membaca Al'Quran kemudian sholat subuh. Selesai sholat, Tyas menyiapkan makanan untuk sarapan.
Selesai mandi dan sarapan, Tyas bersiap-siap berangkat kerja. Tyas tidak merasakan ngantuk, dirinya bersemangat untuk memulai kerja di bagian QC hari ini.
Tyas sudah sampai di pabrik dan langsung menuju bagian QC.
"Pagi Pak, kenalkan saya Tyas, dari bagian produksi dan mulai hari ini saya bekerja di bagian QC."
"Pagi Mbak Tyas, saya Joe, ini ada buku petunjuk dan aturan yang harus Mbak Tyas baca agar paham mengenai sistem kerja di QC, karena kita di tuntut agar barang yang kita terima dari bagian produksi kita cek dengan benar baru akan di proses selanjutnya. Apabila ada pertanyaan bisa tanya ke saya atau ke Bu Agnes. Silakan dibaca dahulu. Dan duduk di kursi itu."
"Baik Pak Joe, terima kasih."
Tyas segera duduk di kursi yang ditunjuk oleh Pak Joe.
"Pagi Pak Joe." Agnes dan Lita datang bersamaan
"Pagi Bu Agnes, pagi Mbak Lita. Oh iya Bu Agnes, ini ada orang baru dipindah dari produksi ke QC. Mohon dibantu dan bimbing dia."
"Pagi Tyas, kamu namanya Tyas kan? Saya dengan Agnes dan ini Lita."
"Pagi Bu Agnes dan Mbak Lita. Perkenalkan saya Tyas, Bu."
"Kamu sudah pegang buku aturan dj QC ya, silakan dibaca dan besok kamu akan mulai bekerja langsung. Jadi mohon dibaca dan dipahami. Besok kita start untuk pengecekan karena hari ini barang diantar dari produksi. Dan besok kita akan mengecek semuanya. Kamu siap untuk langsung lembur besok?
"Siap Bu Agnes."
"Baik, tolong dibaca baik-baik dan jadilah karyawan yang aktif dan bertanggung jawab. Jangan jadi karyawan yang kurap dan kudis. Kamu tahu arti dari kurap dan kudis?"
"Kurap dan kudis itu penyakit kulitkan Bu?"
"Bukan, kurap itu ke panjangan dari kurang rapi dan kudis itu kurang disiplin. Bagaimana kamu bisa bertanggung jawan dengan pekerjaanmu kalau kamu kurap dan kudis. Dan harus jadi panu. Panu itu kepanjangan dari pantang menunggu perintah. Saya dan Pak Joe tidak suka menunggu, jika bisa diselesaikan alangkah lebih baik di selesaikan hari itu juga jadi tidak menumpuk-numpuk kerjaan. Sekiranya ada masukan ataupun kritikan mengenai kerjaan bisa disampaikan langsung. Karena kita di bagian QC mempunyai tanggung jawab yang lebih berat dibandingkan dengan produksi. Jika di QC kita tidak melakukan pemeriksaan dengan baik, dampaknya akan kemana-mana. Sampai sini, kamu paham?"
__ADS_1
"Iya Bu, saya akan berusaha semaksimal mungkin."
"Ok, tapi lebih baik optimal bukan maksimal. Karena kalau maksimal, kamu hanya puas dengan jumlah atau hasil akhir atau sesuai target yang baik saja. Sedangkan optimal, kamu akan bekerja dengan baik dan kamu tidak akan pernah puas dengan hasil yang baik saja, tapi kamu akan berusaha untuk mendapatkan jumlah dan hasil yang melebihi target, kami harus bisa berpikir diluar dari pikiranmu atau think out of the box ya."
"Iya Bu, Agnes, terima kasih atas semuanya dan diberikan pandangan dalam bekerja yang baik. "
"Ok, selamat bergabung di divisi QC".
" Ya Bu."
Sepanjang jam kerja, Tyas membaca buku peraturan dan sesekali bertanya kepada Pak Joe ataupun Bu Agnes.
Jam istirahat tiba, beberapa keluar dari ruangan QC dan yang lainnya masih di dalam. Tyas ikut keluar, ia membawa bekal dari rumah nasi dan potongan ayam yang diberikan Ningsih semalam.
"Loh Tyas, kenapa kamu makan di sini kenapa tidak ke kantin saja."
" Iya Pak Joe, tadi saya habis sholat sekalian saja makan disini tidak makan di kantin karena saya bawa makanan dari rumah."
"Baik Pak."
Tyas baru saja menghabiskan makanannya dan ada telpon masuk.
"Assalamualaikum Mas Ahmad."
"Kamu harus siapkan dirimu kamu Tyas, saya tidak mau lagi menanggung hidup kamu. Saya punya tanggung jawab yang lain. Anak saya ada 2 dan mereka lebih butuh biaya daripada kamu."
"Maksudnya Mas Ahmad? Mas Ahmad mau cerai dari Tyas? Tapi Tyas salah apa? Mas Ahmad menikah lagi pun Tyas tidak tahu. Tyas ikhlas Mas Ahmad nikah lagi dan punya anak dari istri Mas Ahmad yang lain."
"Ngga usah sok ikhlas daripada nanti kamu ganggu keluargaku."
"Tapi Mas Ahmad, aku kan juga istrimu, dan aku istri sahmu. Aku tidak tahu apakah istrimu yang sekarang juga istri sah? Karena Mas Ahmad tidak minta ijin untuk nikah lagi sama aku. Dan selama ini aku menurut dan patuh sama Mas Ahmad."
__ADS_1
"Sudah, kamu siap-siap saja terima surat cerai."
"Mas Ahmad apakah tidak ada jalan lain selain cerai? Mas... Mas..."
"Ya Allah kenapa seperti inj? Kamu jarang pulang, apapun yang kamu suruh aku turuti. Aku berusaha untuk jadi istri yang baik walaupun sampai saat ini aku belum bisa kasih anak ke kamu."
Tyas berbicara sendiri dan matanya berkaca-kaca menahan tangis. Tyas segera berjalan ke kamar mandi yang ada di sebelah mushola.
Pak Joe yang baru selesai sholat medengarkan penbicaraan Tyas dengan suaminya dan juga kata-kata Tyas sebelum ke kamar mandi.
Pak Joe pergi ke kantor karena bel masuk untuk mulai bekerja sudah berbunyi.
Tyas berjalan di belakang Pak Joe.
Di dalam kantor Tyas mulai membaca lagi. Tyas ingin segera bekerja besok. Tyas berusaha memahami setiap peraturan yang harus dilakukan pada saat pengecekan barang dan juga mencatatnya. Pak Joe datang menghampiri Tyas.
"Gimana Tyas, sejauh ini apakah sudah mulai paham?"
"Ya Pak Joe, saya mulai paham walaupun ada yang sempat bingung. Tetapi saya tidak tahu nantinya pada saat mulai bekerja besok. Mungkin sambil praktek akan lebih mempernudah saya untuk memahami sistem di bagian QC ini Pak."
"Ok, berarti besok kamu sudah siap untuk mulai masuk dalam pengecekan ya, tetapi mungkin untuk awalmya dulu. Semuanya butuh proses tidak ada yang langsung jadi. Prosesnya mungkin harus sakit dulu, setelah itu kamu akan menikmatinya."
"Maksudnya apa yah Pak Joe? Bukankah setiap kita bekerja untuk mendapatkan hasil yang terbaik harus butuh proses dan tidak ada yang instan walaupun mungkin nanti saya akan merasa putus asa. Tetapi bagaimana saya tahu jika saya tidak mencoba dan berusaha untuk lebih baik lagi. Maaf Pak Joe, jika kata-kata salah."
"Tidak ada yang salah dari ucapanmu dan saya menghargai pendapat ataupun opini orang lain. Ibaratnya berani berbuat berani menerima dan harus berani pula menanggung resikonya untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Tidak hanya dalam pekerjaan saja tetapi dalam kehidupan sehari-hari pun demikian."
"Baik Pak Joe terima kasih."
"Nah sudah bel pulang. Selamat bergabung dan besok kamu sudah mulai bekerja ya."
"Baik Pak Joe, selamat sore."
__ADS_1