
Kepada teman-teman yang setia membaca cerita saya. Mohon maaf sebelumnya bahwa saya lama tidak update cerita dikarenakan saya terkena serangan jantung dan hipertensi. Saat ini kondisi saya sudah mulai membaik. Terima kasih untuk semua teman-teman
Ahmad dan Edo di tengah kerumunan tamu undangan pernikahan Tyas.
"Ahmad, ayo kita ke panggung, kasih selamat buat Tyas untuk pernikahannya."
"Kamu saja Do, aku mau ke toilet dulu. Sudah lama tidak makan enak, perutku bermasalah."
"Sebentar sajalah Ahmad, habis itu kita pulang. Sebentar lagi juga selesai."
"Ramai banget itu, bisa-bisa perut gue berontak." Ahmad berlari keluar, tetapi ia tidak ke toilet.
Edo menunggu Ahmad sampai hanya beberapa tamu yang masih hadir dan keluarga.
Ahmad kemana sih? Kok ngga muncul-muncul. Mana ini sudah selesai pernikahannya. Lebih baik aku tunggu di kamar sajalah. Bisa jadi Ahmad sudah di dalam kamar.
Edo pergi ke kamar hotel dimana ia dan Ahmad berada di hotel yang sama dengan Tyas dan Joe.
Ahmad mengikuti Tyas dan Joe yang menuju ke kamar hotel. Mereka berdua tidak menyadari bahwa sedang diikuti oleh Ahmad.
Joe membuka pintu kamar hotel dan mempersilahkan Tyas masuk terlebih dahulu. Ahmad yang melihat kesempatan langsung berlari dan menabrak Joe sehingga badan Joe membentur tembok. Ahmad segera masuk ke kamar dan memgunci pintu kamar hotel.
"Tyas. Ini aku, Ahmad."
"Keluar, keluar kamu! Saya tidak ada urusan lagi sama kamu! Cepat keluar atau saya akan teriak!"
"Tidak ada yang akan bisa menolong kamu, Tyas!"
Ahmad mendekati Tyas yang berteriak minta tolong dan memanggil Joe.
Joe yang sempat kehilangan keseimbangan karena badannya didorong oleh Ahmad dan membentur tembok berusaha untuk berdiri dan membuka pintu kamar hotel tetapi tidak bisa karena Ahmad sudah mengunci pintu kamar hotel.
Joe mendekatkan telinganya ke pintu, terdengar teriakan minta tolong dari Tyas. Joe segera mengambil handphonenya dan menelpon security hotel juga Jerry dan saudara yang lainnya untuk menolong.
Sementara di dalam, Tyas berusaha menghindar dari Ahmad dan Tyas berusaha berlari ke arah pintu sambil menggedor pintu dan berteriak minta tolong.
"Tyas, jangan menghindar terus, kamu akan capek sendiri. Aku kangen sama kamu Tyas." Ahmad mendekati Tyas yang sudah terdesak di pintu dan tidak bisa lagi menghindar dari Ahmad.
__ADS_1
"Lepasin Ahmad. Kamu dan aku sudah bercerai. Aku sudah menjadi istri mas Joe. Lepasin aku! Tolong-tolong."
"Hahahah, tidak ada yang bisa menolong kamu apalagi suami kamu yang lemah itu. Dan kamu tidak boleh jadi milik orang lain. Walaupun kita sudah bercerai itu hanya formalitas saja secara agama dan hukum dan tidak berlaku untuk aku." Ahmad membelai muka Tyas.
"Lepasin aku. Jauhkan tangan kamu dari aku! Kamu sudah gila Ahmad!"
Ahmad menggendong Tyas dan berjalan ke arah tempat tidur. Sementara Tyas berusaha untuk turun dari Ahmad dan mencakar muka Ahmad.
Ahmad yang merasakan perih dimuka karena cakaran dari Tyas, dengan segera menjatuhkan Tyas ke tempat tidur dan menampar pipi Tyas.
Untungnya pintu kamar hotel segera terbuka. Security hotel dan beberapa orang juga Jerry segera mengamankan Ahmad. Joe menghampiri Tyas dan memeluk Tyas.
"Mas Joe, mas Joe. Tyas takut mas. Tyas takut mas." Tyas menangis dengan histeris dalam pelukan Joe.
"Iya sayang, maafin aku. Tadi aku tidak tahu karena tiba-tiba badan aku di dorong dan saat bangun, pintu kamar sudah terkunci. Kamu tenang ya sayang. Kamu sudah aman. Kamu sudah aman."
Joe ingin menghampiri Ahmad, tetapi Jerry menahannya.
"Joe, biar Ahmad urusan aku. Kamu tenangin Tyas saja. Kasihan dia. Harusnya ini hari bahagia Tyas dan kamu tetapi di rusak oleh Ahmad!"
"Iya Jer, aku serahin urusan Ahmad ke kamu ya. Makasih."
Pak security dan beberapa orang membawa Ahmad keluar dari kamar Joe dan Tyas.
"Mas Joe, Tyas takut mas. Tyas takut mas. Tyas takut sama Ahmad, mas!"
"Tenang ya sayang. Kamu tenang ya. Jerry sudah mengurus. Ahmad sudah dibawa ke kantor polisi dan dipastikan Ahmad akan mendapat hukuman lagi."
Mama Alida mendengar kejadian yang menimpa Tyas dan Joe segera pergi ke kamar Joe diikuti oleh saudara-saudara yang lain.
"Joe, Tyas buka pintu. Ini mama. Joe, buka pintunya Joe. Mama mau lihat Tyas, Joe."
"Itu mama. Aku buka pintu dulu untuk mama ya sayang."
Tyas mengangguk.
Joe membuka pintu kamar hotel dan mama segera masuk dan menghampiri Tyas lalu memeluk Tyas.
__ADS_1
"Tyas sayang, kamu baik-baik sajakan. Jangan takut ya sayang. Maafin Joe ya, maafin Joe. Mama juga minta maaf atas kejadian ini, semua tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini." Mama memeluk Tyas sambil menangis dan melihat wajah Tyas yang memerah karena tamparan dari Ahmad tadi.
"Ane, Tom, minta es batu dan handuk untuk mengompres wajah Tyas yang memerah, cepat!"
"Joe, malam ini biar mama temani kamu dan Tyas. Mama kuatir orang itu akan datang lagi kesini."
"Ngga usah Ma. Mama capek, lebih baik mama istirahat saja. Ahmad sudah dibawa ke kantor polisi Ma, jadi Tyas, Mama dan semuanya tidak perlu kuatir lagi."
"Mama tetap takut Joe. Jangan kamu pikir Mama tidak kuatir! Tyas anak mantu Mama juga istri kamu. Harusnya kamu bisa jaga Tyas dengan baik. Kenapa bisa sampai orang gila itu masuk dan tahu kalau Tyas dan kamu menikah hari ini!"
"Iya Ma, iya. Mama boleh temani Tyas dan Joe di kamar ini. Mama dan Tyas tidur di kasur. Biar Joe jaga Mama dan Tyas. Dan nanti Ane juga Tommy di kamar ini."
"Tante, ini es batu dan handuk kecilnya."
Ane dan Tommy masuk ke kamar Joe dan memberikan mangkok yang berisi es batu dan handuk kecil.
Mama langsung mengompres pipi Tyas yang memerah.
"Ma, sudah Ma. Pipi Tyas sudah tidak sepanas tadi. Makasih ya Ma."
"Iya sayang. Ayo kamu bersihkan muka kamu dulu di kamar mandi Mama bantu. Biar Joe dan Tommy disini. Ane, kamu ambil baju tidur tante dan juga baju tidur kamu. Kita bertiga tidur disini karena tante tidak mau ada kejadian seperti tadi."
"Tapi tante, Ane masih mau."
"Ngga ada tapi, tapi. Ikuti perintah tante. Ngerti kamu! Dan kamu Tommy tidak ada bantah dan complain, apapun itu!"
Ane segera keluar dari kamar Joe. Sedangkan Tommy keluar menuju balkon dan mengambil rokok. Joe menghampiri Tommy.
"Tom, sorry ya, Mama terlalu kuatir sama Tyas."
"Santai saja Joe. Ibaratnya Tyas dan istri Jerry itu menantu yang sudah ditunggu-tunggu lama. Pastilah tante Alida kuatir dan ketakutan. Apalagi sepanjang pesta tadi baru kali ini aku lihat Tante bisa tertawa lepas. Biasanya tertawa tetapi ada beban. Dan dari pagi sampai tadi sebelum kejadian beban itu lepas dari Tante. Tapi tiba-tiba seperti dijatuhkan dari ketinggian saat dengar istri kamu Kenapa-napa."
"Iya, aku pikir Ahmad masih di penjara hari ini. Aku tidak tahu kalau Ahmad sudah keluar dari penjara. Dan bagaimana dia tahu kalau aku dan Tyas mengadakan pesta pernikahan disini."
"Sudah ngga usah dibahas lagi mengenai orang itu. Intinya kamu harus bisa pergi jauh dari orang-orang yang dekat dengan Tyas. Supaya kalian aman. Kasihan kalau Tante kuatir dan ketakutan. Tante sudah tua, Joe."
"Iya tante yang kamu omongin kan Mama aku. Mulai sekarang aku harus lebih over protektif sama Tyas. Bisa trauma terus Tyas kalau berurusan dengan Ahmad. Padahal mereka sudah bercerai."
__ADS_1
"Namanya orang gelap mata, mau kata sudah cerai, kalau orang itu ada niat buruk pasti dijalani dan menghalalkan segala cara. Masuk yuk, nanti tante cari-cari lagi. Kamu tidur saja Joe. Biar aku yang melek, Kamu capek."
"Sama-sama melek lah. Biar Mama, Tyas dan Ane saja yang istirahat."