Istri Suamiku

Istri Suamiku
Ditinggal di pabrik


__ADS_3

"Teteh bangun teh! Teteh bangun teh! Teteh! Mak teteh!"


"Ada apa sih Sep. Jam berapa ini! Mak kenapa?"


"Mak badannya dingin banget teh. Mak teh."


Maryam bangun pelan-pelan dan melihat Mak yang sudah pucat. Maryam memegang pergelangan tangan Mak. Tidak ada tanda berdenyut.


"Telpon dokter yang diujung jalan itu, suruh kesini atau kamu naik motor, jemput Pak Dokter. Panggilin Ceu Isna juga. Cepatan Asep!


Asep keluar kamar dan membangunkan Ceu Isna dan Uwak Ali dan beberapa saudara yang lain. Asep keluar rumah menyalakan motor dan pergi ke klinik depan untuk memanggil dokter.


10 menit kemudian Asep sudah datang bersama dokter.


Dokter segera memeriksa kondisi Mak. Setelah dicek, dokter bilang bahwa Mak sudah meninggal 1 jam yang lalu.


Asep dan Maryam hanya bisa menangis. Dalam waktu 3 hari Mak menyusul Nurhasanah.


Mereka semua segera menyiapkan untuk memandikan jenasah dan menguburkan Mak.


Mak sudah dikuburkan.


"Teteh, Asep besok masih cuti, tadi Asep sudah telpon orang kantor. Ini jam berapa teh?


"Jam 2, kenapa? Asep mau kemana?"


"Teteh lupa? Hari ini kita sibuk tahlillan teteh Nur hari ketiga dan tahlillan mak. Nah, kemarin Asep minta teteh siapin bajunya Keisha sama Malik. Asep mau titip mereka sama Tyas, istri pertama Mas Ahmad."


"Ngga usah Sep. Takutnya Keisha sama Malik ngga keurus sama Tyas. Kita kan juga tidak tahu Tyas seperti apa orangnya. Biar gimana pun Keisha dan Malik ponakan kita."


"Tapi teh, Asep cuma mau kasih pelajaran sama Ahmad. Udah ayo teteh ikut ke pabrik Tyas bawa Keisha dan Malik juga."


Maryam menuruti keinginan Asep.


"Tante kita mau kemana?"


"Keisha sama Malik mau ketemu ayahkan?"

__ADS_1


"Iya, aku mau cerita sama ayah, bunda tidurnya ngga bangun-bangun. Aku kangen sama ayah dan bunda."


"Nah itu, tante sama om mau ajak Keisha sama Malik ketemuan sama ayah. Oh iya, gelang sama kalung kak Keisha, tante lepas dulu ya, tante simpan nanti tante kasjh ke ayah."


"Ok tante."


"Teh, udah siap?"


"Udah, ayo kita jalan sekarang."


Mereka pamit sama Ceu Isna, Uwak Ali dan saudara yang lainnya.


Malik tertidur karena kena angin. Keisha pun juga tertidur.


"Siang Pak Satpam. Mohon berikan surat ini kepada Bu Tyas. Terus kakak saya boleh masuk ke dalam tempat bapak? Karena bawa anak kecil kasihan."


"Maaf pak, saya tidak bisa meninggalkan pos satpam. Saya telpon saja sebentar. Silakan tunggu di luar pak. Kebetulan ada bangku, jadi kakak dan anak-anaknya bisa duduk."


"Maaf Pak, bisa tolong bawakan tas ini, soalnya yang gede tidur jadi saya mesti gendong dia."


Pak Satpam membantu membawa tas Keisha dan Malik. Dan membantu menggendong Keisha. Sementara Maryam sudah menaruh Malik yang masih tidur di bangku. Dan Pak Satpam meletakkan tas di bangku dan menidurkan Keisha di bangku. Pak Satpam menelpon Tyas. Saat Pak Satpam lengah, Asep dan Maryam segera pergi. Pak Satpam belum sadar karena masih menelpon Tyas.


"Ya sebentar lagi Bu Tyas ke depan ya Pak."


"Baik Pak Joe."


Pak Satpam keluar dari ruangannya. Ia mencari 2 orang yang membawa anak. Ternyata mereka pergi dan 2 anak yang masih tidur ada di bangku depan.


"Astagfirullah Al Adzim, kenapa tinggalin anak ini disini. Mati aku!"


Tyas dan Pak Joe sampai di depan pos satpam.


"Pak Satpam mana orangnya?"


"Aduh, maaf Bu Tyas dan pak Joe, mereka sudah pergi dan mereka taruh 2 anak di sini. Anak-anaknya masih tidur. Aduh mati saya Pak Joe. Bisa dipecat saya ini." Pak Satpam terlihat panik dan takut.


"Pak Satpam coba sini bicara sama saya tenang, tenang, tarik napas. Ceritakan kejadiannya sama saya."

__ADS_1


"Iya Pak Joe, sebentar. Ibu Tyas ini ada surat dari orang yang kemarin datang buat Bu Tyas."


Tyas menerima surat itu sedangkan Pak Joe sedang bicara dengan Pak Satpam.


Tyas melihat muka Keisha dan Malik. Tyas mengenali muka Keisha. Buru-buru Tyas membuka suratnya.


"Bu Tyas, saya, Asep adik dari teh Nur mau menitipkan Keisha dan Malik kepada Bu Tyas. Karena Bu Tyas masih sah sebagai istri dari Mas Ahmad. Dan saya maupun teteh Maryam tidak bisa mengasuh Keisha dan Malik dikarenakan kami bukan orang yang berkecukupan. Karena itu saya mohon agar Keisha dan Malik dirawat oleh Bu Tyas dan Mas Ahmad. Terima kasih. Wassalam Asep"


"Astagfirullah Al Adzim, Ya Allah, kenapa anak-anak yang tidak bersalah ini yang harus merasakan."


Pak Joe yang sudah selesai dengan pak satpam menghampiri Tyas dan mengambil surat yang masih Tyas pegang.


Pak Joe membaca surat tersebut. Pak Joe tidak mengerti jalan pikirannya Asep dan entah kakaknya ataupun adiknya.


Pak Joe melihat Tyas yang hanya bisa memandangi kedua anak yang masih tertidur.


Mobil pak Arif berhenti di pos satpam. Dan pak Arif keluar dari mobil.


"Joe, ada apa ini?"


Joe menceritakan secara cepat kepada pak Arif dan memberikan surat kepada pak Arif. Pak Arif hanya bisa geleng-geleng kepala setelah membaca surat tersebut.


Ia melihat Tyas dan terlihat beban berat dj muka Tyas. Baik Pak Arif maupun Pak Joe tidak bisa membaca kesedihan dan beban yang tergambar di raut muka Tyas.


"Joe, kamu bereskan tas Tyas dan bawa mobil kamu ke rumah saya. Joe bantu Tyas menggendong anak yang besar. Tyas kamu gendong anak yang kecil. Masuk ke mobil saya.


Pak Satpam tolong masukkan tas anak-anak itu ke bagasi mobil. Mumpung belum bel pulang dan pergantian shift. Pak Satpam jangan sampai bocor kemana-mana. Ngerti kamu!"


"Baik pak Arif, siap laksanakan."


Joe dan Tyas segera melakukan yang diminta Pak Arif.


Mobil pak Arif berjalan keluar dari pabrik. Dari kejauhan baik Asep dan Maryam melihat Tyas masuk ke dalam mobil.


"Tyas ternyata orang berada ya Asep. Mobilnya lebih bagus dari mobilnya teh Nur."


"Iya teh, makanya Asep tidak percaya kalau Tyas bilang rumahnya kontrakan."

__ADS_1


"Iya Sep, teteh lega, setidaknya Keisha dan Malik hidupnya tidak akan susah. Dan teh Nur tidak sedih lihat anaknya.


"Ya sudah teh, kita pulang waktunya untuk siapin tahlilan teh Nur dan Mak. Jadi besok teteh bisa pulang ke rumah dan Asep bisa masuk kerja lagi. Dan teteh ngga pusing cari biaya untuk pengobatan mak. Mak sudah tenang sama abah dan teh Nur.


__ADS_2