Istri Suamiku

Istri Suamiku
Pulang ke rumah


__ADS_3

Ahmad sampai di rumah Maryam.


Keisha dan Malik langsung menghampiri Ahmad yang baru sampai dan bercerita.


Maryam dan anak-anaknya juga mendekati Ahmad dan mencium tangan Ahmad.


"Mas Ahmad, kenapa tidak kasih kabar kalau mau pulang, jadi aku bisa masak makanan kesukaan mas Ahmad."


"Makan gampang. Aku kangen sama kamu dan anak-anak."


"Iya mas. Anak-anak juga kangen sama mas Ahmad."


"Semua anak-anak atau hanya Keisha dan Malik?"


"Semuanya mas. Kan sekarang anak mas Ahmad ada 8 orang."


"Iya aku tahu, anakku sekarang banyak."


"Maryam, aku di rumah hanya 2 hari ya. Aku harus pergi lagi. Karena aku sedang ada kerjaan. Uang yang kemarin baru aku transfer tolong diirit-irit dulu. Kemungkinan baru awal bulan lagi aku bisa kasih uang. Bisa?"


"Iya mas, bisa."


"Aku mau istirahat dulu. Anak-anak sudah makan semuanya?"


"Sudah mas. Baru nanti sore mereka makan lagi."


Ahmad masuk ke kamar dan merebahkan dirinya.


Sekarang anakku ada banyak. Dan ada 1 di Sekar juga 1 di Mirna. Tyas sudah mengirimkan surat untuk sidang perceraian. Aku belum dapat pekerjaan. Bagaimana ya? Rumah yang satu harus aku jual. Uangku semakin tipis. Dan aku akan tinggalkan Sekar. Gimana caranya agar aku bisa menceraikan Sekar. Dia sudah aku kasih uang. Jadi uangku tidak habis untuk orang tuanya Sekar. Cukuplah Sekar kemarin aku kirim uang 50 juta dan 100 juta untuk ia melanjutkan hidup tanpa aku.


Ahmad pusing memikirkan semuanya. Ahmad tertidur.


Mirna masuk kantor. Dan seperti biasa Mirna masih di ganggu dengan Edi teman kantornya.


"Waduh pengantin baru jalannya sudah ngga benar. Tiap hari dipakai non? Hahahahha."


"Apaan sih. Loe kan tahu gue udah punya suami ngga usah ganggu gue lagi."


"Iya tapi loe nikahin suami orang. Berarti loe pelakor dong. Mirna, Mirna cakep, pintar tapi pelakor buat apa?"


"Jangan sok tahu siapa yang pelakor. Loe ngga tahu mengenai suami gue. Jadi ngga usah banyak omong."


"Mending sama gue masih perjaka."


"Iya perjaka, tapi uang loe ngga banyak kayak laki gue."


"Hahahah, ketahuan jadi istri simpanan."

__ADS_1


"Basi loe Ed. Bercanda loe ngga lucu."


Huft untung cuma berdua aja. Kalau yang lain dengar bisa berabe. Kok Edi bisa tahu ya? Ah terserahlah."


Tyas akhirnya diperbolehkan pulang.


"Pak Joe. Untuk biaya rumah sakit bagaimana?"


"Sudah. Sudah lunas semuanya. Kamu tidak usah kuatir ya."


"Ya pak. Saya sudah selesai. Kita pulang sekarang."


"Ok Tyas. Welcome home ya."


Pak Joe mengambil tas Tyas dan memegang tangan Tyas untuk memakai kursi roda.


Pak Joe mengambil mobilnya dan menggandeng Tyas untuk masuk ke dalam mobil. Pak Joe menjalankan mobilnya dan pulang ke rumah dengan Tyas.


"Akhirnya sampai rumah. Welcome home ya Tyas."


"Iya Pak Joe, terima kasih. Rumah sepi. Ningsih dan Gege masih bekerja."


"Kamu mau makan apa? Biar saya belikan?"


"Ngga usah Pak Joe, saya masih kenyang."


"Taruh saja di depan pintu kamar Pak Joe. Nanti saya yang masukkan ke kamar."


"Tidak papa. Saya permisi masuk ke kamar kamu ya untuk taruh tas yang berisi baju."


"Ng Iya Pak Joe. Maaf kalau kamarnya berantakan belum saya beresin."


Pak Joe masuk ke kamar Tyas. Walaupun hampir 3 minggu tidak ditempati Tyas. Kamar Tyas terlihat bersih dan rapi. Tidak banyak makeup di meja rias Tyas.


"Sudah saya masukkan ke kamar kamu. Saya permisi pulang dulu. Mau ganti baju. Nanti saya ke sini lagi."


"Iya Pak Joe. Terima kasih banyak."


"Ya, sama-sama Tyas. Kamu istirahat."


Pak Joe pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. Sedangkan mobilnya masih di depan rumah Tyas.


Sampai di rumah Joe merebahkan badannya di sofa.


Seandainya Tyas bisa segera sembuh. Dan bisa segera sidang cerai. Tyas akan menjalani hidupnya dengan lebih ringan. Kasihan Tyas. Beban hidup ternyata dari suaminya yang hobi menikah demi mendapatkan banyak anak. Tapi anehnya kenapa Tyas harus dipasang alat kb? Dan Tyas sendiri tidak tahu. Aneh? Ada apa sebenarnya?"


Joe pusing memikirkan hal itu. Ia segera mandi dan akan pergi untuk membeli makanan buat dirinya, Tyas, Ningsih dan Gege. Besok ia harus masuk kerja kembali.

__ADS_1


Ningsih dan Gege sudah di tempat yang baru. Mereka masuk ke kantor bukan ke bagian produksi lagi.


Banyak hal yang Ningsih dan Gege pelajari. Gege yang menjadi resepsionis sempat bingung karena harus menerima telpon masuk dan harus mulai dandan.


Tyas di rumah sendirian masih menunggu kedatangan Ningsih dan Gege.


Sepi. Ningsih dan Gege masih di pabrik. Lebih baik aku tiduran saja.


Tyas bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamarnya.


Tyas kaget saat melihat kamarnya ada bunga mawar di dalam vas bunga.


Siapa yang menaruh bunga mawar dalam vas? Setahu aku tadi pak Joe tidak berhenti membeli bunga mawar. Dan tidak melihat pak Joe memegang bunga mawar. Tapi bunga ini terlihat masih segar dan baru saja. Ah mungkin memang Pak Joe yang meletakkan di kamar saat mrnaruh tasku.


Tyas merebahkan badannya di kasur. Dan tidak berapa lama Tyas tertidur.


Sudah sore, Gege menunggu Ningsih di pos satpam.


"Kamu Gege?"


"Iya mbak Ning, ini Gege."


"Ya amplop ya dukun, loe pakai susuk? Kok cakep amat Waktu di produksi loe kucel, demek, hitam pula. Kok sekarang putih, cantik, ayu tapi sayang antara muka sama leher belang."


"Mbak Ning. loe reseh banget sih. Tadinya muja muji sekarang gue di banting. Gue tadi di dandanin. Mana bisa gue dandan kayak gini. Kan gue sekarang di front office."


"Hah! Loe satpam?"


"Maksud loe? Gue resepsionis bukan satpam. Emang kayak pak Jaka jadi satepam!"


"Lah kan tadi loe bilang front office. Coba gue tanya bahasa Indonesia nya front apa? Terus office apa bahasa Indonesia nya."


"Loe pikir gue ngga tahu bahasa Indonesia nya front itu depan, terus office itu kantor. Kalau di terjemahin jadi depan kantor. Benarkan hebat ngga gue."


"Nah makanya itu gue bilang loe satpam bukan satepam. Karena kan depan kantor. Kalau depan kantor berarti loe di depannya kantor dan jadi satepam bukan resepsionis. Hahahhaha."


Ningsih tertawa puas menggoda Gege.


"Iiiihhh loe mah benar-benar reseh. Gue ngga pernah godain loe sampai urusan posisi di kantor ya. Masih mending Gege ngga kayak loe di purchasing."


"Loh kenapa emang gue. Gue di purchasing."


"Nah itu, loe di purchasing Berarti loe di penjual belikan."


"Lah gimana bisa diperjual belikan. Purchasing itu bagian pembelian. Jadi tugasnya beli-beli bukan jual. Kalau jual itu marketing."


"Aaaah, udahlah ayo pulang keburu ditinggal bis baru tahu rasa loe."

__ADS_1


__ADS_2