
Tyas tidak banyak bicara. Ia tidak habis pikir dengan Asep dan keluarganya. Mereka dengan gampangnya menitipkan anak dari kakaknya yang meninggal dan Ahmad suaminya yang entah ada di mana."
Mereka sampai di rumah Pak Arif. Malik Dan Keisha terbangun. Tyas menggendong Malik dan Keisha masih duduk di mobil.
"Keisha, ayo keluar nak, kita sudah sampai."
"Ini tante yang waktu itu kena ice cream Keisha ya."
"Iya Keisha, kamu hebat masih ingat sama tante. Yuk kita keluar dari mobil."
Keisha keluar dari mobil. Joe membantu mengeluarkan tas dari bagasi mobil.
Malik hanya memandangi Tyas. Tidak ada tangisan lagi.
Mereka sudah masuk ke rumah Pak Arif. Tiba-tiba Malik menangis keras.
Tyas bingung menghadapi Malik yang nangis. Pak Arif memanggil pembantunya yang sudah tua dan. Pembantu tersebut segera datang.
"Bi, tolong tenangkan anak kecil. Tyas kasih anak itu sama bibi. Dia lebih tahu cara mendiamkan anak kecil."
Bibi mengambil Malik dari gendong anak Tyas, tetapi Malik merangkul Tyas dengan erat.
"Maaf Bu, sepertinya anak ini tidak mau dengan saya dan anak ini lapar. Saya buatkan susu. Apa Ibu ada susunya?"
"Susu? Saya ngga tahu bii."
"Joe coba buka tasnya ada susu tidak?"
Joe membuka tas, ada kardus susu Malik. Joe memberikan kardus susu kepada bibi.
Bibi membuka kardus ternyata kosong tidak ada isinya.
"Maaf Tuan dan Ibu. Susunya sudah tidak ada hanya kardus."
Keisha yang sedari tadi diam akhirnya bicara.
"Tante, sejak bunda bobo ngga bangun-bangun, Malik tidak dikasih susu hanya dikasih air putih dan teh manis. Juga dikasih makan nasi bukan bubur. Aku juga cuma dikasih air putih dan makan nasi pakai telor tiap hari."
"Bibi, segera buatkan bubur dan makanan untuk dua anak ini ya. Tolong suruh pak Seto belikan susu dan bawa contoh kardusnya sama belikan susu buat yang gede."
__ADS_1
"Kamu namanya siapa? Dan biasanya minum susu apa?"
"Aku biasanya minum susu d****w yang putih, Om."
"Umur Keisha berapa?"
"Umur Keisha 4 mau 5 tahun, Tante."
"Nah, tolong belikan susu untuk yang bayi dan Keisha, susu d****w putih ya Bi. Minta tolong pak Seto biar cepat."
"Baik Tuan."
Malik tidak nangis lagi. Keisha duduk diam.
"Jadi sekarang gimana Tyas? Kamu mau mengasuh anak ini?" Anak dari selingkuhan suami kamu. Ahmad?"
"Pak Arif dan Pak Joe, saya bingung. Jujur saya bingung harus bagaimana?"
"Saya belum pernah punya anak. Tapi mereka anak-anak dari Mas Ahmad dan Nur yang baru saja meninggal. Dan bagaimana saya bekerja kalau harus mengurus dua anak ini? Saya tidak tahu alamat rumah anak-anak ini dan saya juga tidak tahu keberadaan Ahmad dan nomer handphone Ahmad. Saya tidak tega dengan mereka berdua. Mereka masih terlalu kecil dan tidak tahu apa-apa."
"Sekarang gini saja. Biar Keisha dan Malik Saya titipkan di panti asuhan. Sambil nanti saya suruh orang untuk cari keberadaan Ahmad dimana? Karena Ahmad sudah diberhentikan dari kantor kakak saya. Jika sudah ketemu dimana Ahmad tinggal. Anak-anak akan saya kasih ke Ahmad untuk dia urus, karena ini anak-anaknya Ahmad. Gimana menurut kalian?"
"Tyas, kamu sendiri gimana?"
"Iya Pak Arif. Saya setuju dengan Pak Arif. Karena saya takut tidak bisa mengurus kedua anak ini dengan baik. Saya tidak habis pikir, mereka tega sekali dengan anak-anak ini. Dan juga Ahmad. Dia ingin sekali anak tetapi ia pergi entah kemana?"
"Maaf Tuan dan Ibu. Makanan untuk anak-anak sudah siap. Tuan Arif dan Tuan Joe juga Ibu, silakan makan. Anak-anak biar sama saya."
Bibi datang memberitahu bahwa makanan sudah siap. Bibi membawa makanan untuk Malik dan Keisha. Malik yang melihat bibi membawa makanan langsung melepaskan pegangannya dan mau di gendong oleh bibi.
"Ayo kita makan dulu, setelah itu kita ke panti asuhan mengantarkan mereka. Tyas kamu tidak usah kuatir. Panti asuhan itu punya saya."
"Baik Pak Arif, terima kasih banyak."
Pak Joe dan Tyas mengikuti Pak Arif yang berjalan duluan ke ruang makan.
Pak Arif memandang Tyas.
"Saya baru lihat kamu potong rambut. Cantik dan terlihat fresh. Terima kasih Joe kamu sudah merubah penampilan Tyas."
__ADS_1
"Saya yang harusnya berterima kasih sama Pak Arif, karena Pak Arif minta Pak Joe mengantarkan saya ke salon. Baru kemarin saya masuk ke salon. Selama ini saya hanya potong rambut sendiri ataupun minta tolong teman untuk memotong rambut saya."
Mereka makan tanpa banyak bicara. Selesai makan dan jeda sebentar, mereka berangkat ke panti asuhan Pak Arif.
Sampai di panti asuhan. Keisha dan Malik dibawa dan di gendong oleh pengurus panti. Setelah selesai, mereka keluar dari panti.
"Tyas, kamu pulang sama Joe, ya. Oh iya, nanti saya akan buat janji ke dokter obygin untuk memeriksa kamu. Nanti biar Joe yang mengantarkan kamu setelah saya buat janji. Kalau begitu saya duluan. Kalian berdua hati-hati di jalan."
"Baik Pak Arif, terima kasih banyak."
Pak Arif masuk ke dalam mobil dan pergi. Pak Joe dan Tyas masuk ke dalam mobil.
"Gimana Tyas, sudah lega?"
"Alhamdulillah Pak Joe, lega saya. Awalnya saya bingung kenapa mereka tiba-tiba menitipkan anak ke saya?"
"Ya sudah, sekarang kamu tidak perlu kuatir. Anak-anak sudah di tempat yang aman. Dan mereka akan mengurus dan merawat anak-anak dengan baik."
"Iya Pak Joe. Pak, saya mau tanya, dokter obygin itu dokter apa ya Pak? Saya tidak pernah dengar dokter obygin. Itu nama orangnya obygin. Kalau memang itu nama orang, lucu dan unik namanya."
"Hahahaha, Tyas, dokter obygin itu dokter spesialis kandungan."
"Hah, dokter kandungan? Tapi saya ngga hamil. Apa yang mau diperiksa? Berbuat aja sebenarnya ngga pernah. Makanya ngga hamil."
"Maksudnya berbuat aja ngga pernah?"
"Eh, ngga Pak. Ngga papa."
"Kamu memang tidak hamil. Tapi kamu perempuan menikah. Ada masanya perempuan menikah itu harus di papsmear."
"Papsmear itu apa Pak? Banyak kata yang Tyas tidak tahu."
"Papsmear itu mengecek alat vital kamu yang dilakukan oleh seorang dokter kandungan. Untuk mengecek apakah kandungan kamu bail, terus reproduksi kamu ada penyakit atau tidak."
"Oh gitu, maaf Pak Joe, Tyas baru tahu."
"Ya sudah ngga usah dipikirkan. Sebentar lagi sampai rumah. Kamu istirahat. Besok kerja."
"Iya Pak Joe."
__ADS_1