
Tyas sudah selesai cek up. Dan dokter sudah mengijinkan kalau Tyas bisa masuk kerja minggu depan.
Pak Joe dan Tyas masuk ke dalam mobil.
"Tyas, saya senang mendengarnya bahwa dokter bilang kamu sudah bisa beraktifitas lagi. Dan kamu bisa kerja minggu depan."
"Iya Pak Joe, saya juga senang. Terima kasih karena pak Joe selama ini menemani saya di rumah sakit."
"Saya memang harus menemani kamu, karena saat kejadian itu kamu sama saya."
"Iya Pak Joe. Tapi tidak seharusnya Pak Joe sampai mengorbankan diri tidak masuk kerja hanya untuk menemani saya di rumah sakit."
"Tidak papa Tyas. Sekarang kita makan siang dulu ya baru nanti saya antar kamu pulang."
"Ya pak, terima kasih."
Sekar merasakan kesakitan di perutnya dari semalam. Sampai ia tidak bisa bangun dari tempat tidur.
"Sekar, ini sudah siang, ibu bawakan makanan buat kamu karena dari pagi kamu belum makan dan tidak keluar kamar."
"Ya bu, Sekar lagi ngga ingin makan."
"Loh, kasian bayi yang ada dalam perut kamu kalau kamu tidak makan."
"Ya bu, Sekar akan makan tapi nanti."
Sekar tidak memberitahu ibunya bahwa perutnya sakit dari semalam.
"Eh itu ada suara mobil. Semoga Ahmad datang dan bawa uang lagi. Ibu mau beli kalung emas lagi. Ibu nanti minta uang sama Ahmad ya."
"Ya bu."
Sekar hanya bisa mengiyakan permintaan ibunya. Sejak Ahmad memberikan uang kepada orang tuanya perlakuan mereka terhadap dirinya berbeda jauh. Lebih baik dan perhatian.
"Siang bu. Maaf Ahmad baru bisa datang hari ini."
"Iya ngga papa. Masuk. Sekar dari pagi tidak keluar kamar sepertinya menunggu kamu. Kasihan Sekar. Dia sedang hamil muda harusnya kamu jangan meninggalkan dia terlalu lama."
"Mau bagaimana lagi bu. Ahmad kan bekerja untuk Sekar dan calon anak yang sedang dikandung Sekar."
"Ngomong-ngomong kamu bawa uang tidak? Kalau bawa, ibu mau minta. Kebetulan bapak lagi ngga di rumah kalau ada bapak pasti kamu kasih uang ke bapak."
"Ahmad belum sempat ambil bu. Ada uang di dompet juga tidak banyak. Hanya ada 200ribu. Ibu mau beli apa memangnya?"
"Ibu mau beli kalung emas. Karena kalung ini terus yang ibu pakai. Ibu mau pakai yang baru. Jadi tetangga kalau arisan bisa lihat kalung ibu yang baru."
"Nanti ya bu. Ahmad mau lihat Sekar dulu."
"Iya, sana masuk ke kamar. Oh iya kasih uangnya nanti jangan sampai bapak tahu."
"Iya bu. Ahmad ke kamar dulu bu."
__ADS_1
Ahmad masuk ke kamar Sekar.
"Sekar, kamu bagaimana sih. Suami datang kok tidak disambut. Malah ibumu yang sambut aku."
Ahmad kesal sama Sekar.
"Maaf mas, perut Sekar sakit dari semalam. Mau bangun dari tempat tidur sakit sekali perutnya."
"Ah alasan kamu. Aku mau dilayani. Aku capek cari uang buat kamu dan anak kita. Datang-datang malah di todong uang sama ibumu."
"Aku ngga bisa melayani mas. Perutku benaran sakit."
"Ah, sudahlah jangan sandiwara sama aku. Apa perlu aku minta di layani sama ibumu."
"Mas! Kamu gila ya! Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu."
"Sudahlah. Cepat buka bajumu."
Ahmad masuk ke kamar mandi
Sekar diam saja dan menangis.
Mas Ahmad sudah gila, dengan gampangnya bicara seperti itu. Perut aku sakit. Bagaimana aku bisa melayani mas Ahmad.
"Loh kok belum dibuka bajunya."
Ahmad keluar kamar mandi dengan telanjang, mendekati Sekar dan merobek paksa baju Sekar.
"Mas, perut aku sakit."
Sekar merasa seperti diperkosa oleh suaminya sendiri. Bajunya di robek oleh Ahmad. Sekar berusaha untuk duduk, karena ja merasakan ada cairan keluar dari tubuhnya.
Sekar berteriak saat melihat spreinya di penuhi oleh darah.
"Mas Ahmad! Tolong mas Ahmad! Mas Ahmad!"
Ahmad yang mendengarkan Sekar berteriak dan menggoyangkan badannya berusaha bangun.
"Ada apa sih! Kenapa harus teriak! Biar ibumu tahu kalau kamu dianiaya aku! Gitu!"
"Bukan mas. Aku berdarah mas. Tolong aku mas. Aku takut mas. Tolong aku mas!"
Ahmad bangun dan melihat darah dibawah tubuh Sekar. Ahmad segera masuk ke kamar mandi membersihkan diri dan memakai baju.
Ahmad memakaikan daster ke tubuh Sekar dan menggendong Sekar lalu keluar kamar.
"Loh, loh mau kemana? Kenapa Sekar?"
"Sekar sepertinya pendarahan Bu. Ahmad mau bawa ke rumah sakit. Di kasur banyak darah Bu. Ahmad belum sempat membersihkan."
"Ya sudah cepat bawa Sekar ke rumah sakit. Biar ibu yang bersihkan. Nanti kasih kabar di rumah sakit mana. Ibu akan susul."
__ADS_1
"Iya bu."
Ahmad segera membawa Sekar ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit. Sekar langsung ditangani dokter.
Salah seorang suster keluar dan memberitahu Ahmad bahwa Sekar keguguran dan harus di kuret.
Ahmad segera mengurus biaya administrasi untuk Sekar. Dan menelpon ibunya Sekar.
Ibu dan bapak datang ke rumah sakit.
"Ahmad gimana Sekar."
"Sekar keguguran Bu. Dan harus dikuret."
"Innalillahi kok bisa? Memangnya kamu tadi di kamar ngapain Sekar?"
"Ahmad masuk dan Sekar bilang kalau perutnya sakit terus Ahmad mandi dan tidur. Tidak lama Sekar bangunin Ahmad dan sudah banyak darah di kasur."
"Sekar masih di dalam?"
"Iya bu. Masih di ruang tindakan."
"Semoga Sekar tidak apa-apa."
"Iya bu, pak."
Ahmad, ibu dan bapak menunggu Sekar yang masih di dalam ruang tindakan.
Handphone bapak berdering ternyata Erna menelpon.
"Halo pak. Bapak sama ibu dimana? Erna pulang rumah di kunci."
"Bapak dan ibu sama Ahmad di rumah sakit. Sekar keguguran."
"Oh, baguslah jadi setidaknya bapak sama ibu ngga jadi punya cucu dari Ahmad. Setelah itu suruh Ahmad cerai sama mbak. Biar mbak ngga punya beban pikiran karena suaminya ngga pulang-pulang."
"Erna. Kamu ngerti ngga sih. Kenapa ngomong seperti itu! Ahmad ngga pulang karena kerja."
"Bapak sama ibu sama aja. Giliran di kasih uang sama Ahmad langsung baik, kemarin-kemarin marah."
"Halo Erna. Halo."
"Kenapa pak?"
"Erna nanya ada dimana. Dia pulang rumah terkunci."
"Suruh Erna ke sini pak."
"Handphonenya sudah dimatikan sama Erna."
__ADS_1
Sebenarnya bapak senang saat tadi Ahmad bilang bahwa Sekar keguguran. Jadi rasa malunya selama ini akan hilang. Dan omongan Erna yang tadi tidak ia sampaikan kepada istrinya.
Baguslah Sekar keguguran. Jadi aku tidak perlu lagi ke Bogor. Aku akan tinggalin Sekar tanpa beban karena tidak ada anak. Dan aku di Jakarta saja sama Mirna dan sesekali pulang untuk lihat Keisha dan Malik sama Maryam dan juga anak-anaknya Maryam.