
Tyas sudah mulai bisa duduk tanpa harus dibantu dengan menekan tombol tempat tidurnya. Tyas ingin segera keluar dari rumah sakit.
"Tyas, hari ini suster akan lepasin infus kamu dan kateter kamu. Dan kamu harus mulai turun dari tempat tidur apabila ingin ke kamar mandi. Saya akan bantu kamu."
"Iya Pak Joe. Ningsih dan Gege sudah pulang ya Pak? Kok mereka tidak pamit sama saya?"
"Kamu lagi tidur tadi."
"Oh. Saya kangen kerja lagi Pak. Kalau besok sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Lusa saya masuk kerja."
"Ya, kita lihat nanti. Yang penting kamu sehat dulu dan jangan mikir macam-macam. Biar segera pulih dan bisa beraktivitas kembali."
"Pak, saya mau tanya? Bapak ada dapat info siapa yang menabrak saya?"
"Sampai saat ini, masih dicari polisi. Kita tunggu saja ya. Kalau boleh tahu, kamu ingin apa jika sampai tertangkap orangnya?"
"Ya, hanya ingin tahu saja. Setelah itu terserah sama polisi. Saya ikuti saja."
"Ya. Yang penting sekarang kamu harus banyak istirahat. Kalau sudah keluar dari rumah sakit, dan sudah sembuh kamu bisa kerja lagi."
"Ya pak, sama mengurus perceraian saya."
"Nanti setelah selesai sidang. Saya angsur uang pak Joe untuk biaya pengacara dan sidang ya pak."
"Susah sekali ya kamu dikasih tahu. Istirahat, jangan mikir macam-macam dulu. Biar bisa segera keluar dari rumah sakit, pulang ke rumah."
Handphone pak Joe berdering.
"Ya Bu Agnes."
"Pak Joe, ada tamu untuk Tyas bilangnya paman dan bibinya dari kampung namanya pak Akmal dan Bu Zaini. Mereka mau bertemu Tyas."
"Oh. Coba saya infokan ke Tyas dulu. Nanti saya telpon Bu Agnes lagi ya."
"Baik pak Joe."
"Tyas, Bu Agnes kasih tahu saya. Bahwa di pabrik ada tamu buat kamu. Mereka bilang, mereka adalah paman dan bibimu. Namanya pak Akmal dan Bu Zaini. Benarkah?"
"Pak Akmal dan Bu Zaini? Bukan, bukan paman dan bibi saya, tapi paman dan bibinya Ahmad, Pak. Kenapa pak?"
"Mereka mau bertemu dengan kamu. Apakah mereka boleh kesini untuk menjenguk kamu?"
"Pak, kalau boleh, mereka tidak perlu tahu saya dimana. Karena mereka biasanya minta uang. Ahmad selalu bilang kalau butuh uang ke saya saja. Ahmad sendiri tidak mau bertemu dengan mereka. Dan mereka juga yang waktu awal saya menikah dengan Ahmad, tidak setuju. Mereka bilang saya tidak pantas untuk Ahmad."
Tyas berbicara dengan emosi membuat Pak Joe merasa kuatir.
"Tenang-tenang Tyas. Saya akan bicara dengan Bu Agnes. "
Tyas menganggukkan kepalanya.
"Hallo bu Agnes. Apakah masih ada tamu buat Tyas."
"Masih pak Joe, mereka menunggu di pos satpam."
"Jangan kasih tahu mereka dimana Tyas dirawat, karena mereka bukan paman dan bibi Tyas, Tapi paman dan bibi dari Ahmad, suami Tyas. Dan Tyas tidak mau bertemu mereka. Karena saat ini kondisi Tyas juga belum memungkinkan untuk bertemu. Tyas masih merasakan sakit kepala."
__ADS_1
"Baik pak Joe, saya mengertj."
Bu Agnes menelpon satpam.
"Pak Satpam, mereka bukan paman dan bibi Bu Tyas. Dan bilang saja Bu Tyas tidak masuk kantor hari ini."
"Baik bu Agnes. Terima kasih."
"Gimana pak satpam. Tyas ada? Kami ada perlu dengan Tyas dan ini penting."
"Mohon maaf pak dan bu, bu Tyas tidak masuk kantor hari ini."
"Ngomong dari tadi dong pak. Ya sudah saya titip pesan saja. Besok saya kesini lagi. Saya mau minta uang sama Tyas. Dia punya hutang sama saya banyak. Jangan melarikan diri dan ngumpet."
"Baik, nanti saya sampaikan."
Pak Akmal dan bu Zaini meninggalkan pabrik.
"Gimana bu, masih mau cari Tyas?"
"Ya, dari dulu aku tidak suka sama Tyas. Gara-gara Ahmad nikah sama Tyas, sampai Ahmad lupa tidak pernah bantu kita lagi. Semua karena perempuan itu."
"Telpon Ahmad bu, kita ketemu saja sama Ahmad."
"Nomer handphonenya ngga nyala. Di telpon-telpon dari kemarin ngga jawab yang jawab malah tut... tut... tut... kayak kereta api."
"Kita balik pulang saja bu, besok kita kesini lagi. Kejar Tyas saja jangan Ahmad. Sejak nikah sama Tyas, Ahmad lupa sama orang tuanya dan tidak pernah pulang kampung."
"Ya itulah, kenapa waktu itu aku ngga setuju Ahmad nikah sama Tyas. Itu perempuan ngga benar. Sampai Ahmad lupa sama keluarganya. Tyas itu main pelet sampai Ahmad bisa klepek-klepek gitu. Mana kita dengar Ahmad punya anak dari Tyas. Kalau bisa ketemu Ahmad, aku suruh dia nikah sama perempuan lain saja. Huh, kesal aku sama Tyas."
"Pak, pak, itu ada bis jemputan kita nebeng saja sekalian sama tanya sama supirnya dimana rumah Tyas. Jadi kan kita bisa numpang menginao di rumah Tyas dan sekalian juga bisa minta uang sama Tyas."
Pak Akmal dan Bu Zaini segera menghampiri supir bis jemputan.
"Pak, mau tanya. Apa Tyas yang kerja di pabrik itu naik bis ini juga?"
"Iya bu, benar."
"Saya saudaranya dari kampung, tadi pagi ke kontrakan Tyas tapi katanya sudah pindah. Sata sama suami bingung karena harus cari Tyas kemana lagi."
"Naik saja bu, nanti saya antarkan ke rumah bu Tyas."
"Wah, terima kasih pak. Ayo pak, naik kita mau diantar ke rumah Tyas."
Pak Akmal dan Bu Zaini naik ke dalam bis.
Mereka senang akhirnya bisa bertemu Tyas dan mereka bisa minta uang yang banyak sama Tyas.
"Ibu pintar, akhirnya kita bisa ketemu Tyas dan Ahmad dan minta uang sama mereka."
Bu Zaini tertawa senang begitu pula Pak Akmal.
Supir bis mengantarkan mereka di depan rumah Tyas.
Pak Akmal dan Bu Zaini terkejut melihat rumah Tyas yang bagus
__ADS_1
"Pantesan ngga pernah kasih uang lagi ternyata bangun rumah di kompleks. Berarti ini uang Ahmad yang dipakai Tyas. Perempuan itu benar-benar menguras harta Ahmad."
"Tyas, buka pintu! Tyas buka pintu!"
Gege yang sedang menonton TV sampai loncat karena kaget dengan teriak dan ketukan pintu yang keras.
Ningsih keluar kamar
"Ada siapa Ge? Sampai teriak-teriak gitu dan ngetuk pintunya seperti orang kebakaran jenggot."
"Ngga tahu mbak Ning, mungkin memang lagi kebakaran jenggot makanya teriak-teriak. Ngga ada salam pula. Aku kesal ngga mau aku bukakan pintu."
Ningsih akhirnya membuka pintu.
"Ya bu, pak. Mencari siapa ya?"
"Mana Tyas, Kami paman dan bibinya Tyas."
"Nama ibu dan bapak siapa?"
"Saya bu Zaini dan ini suami saya, pak Akmal."
Ningsih ingat bahwa Tyas tidak punya saudara lagi. Jadi bagaimana mungkin ada yang mengaku sebagai paman dan bibinya Tyas.
"Maaf, di tunggu sebentar."
"Mbak, ini rumah Tyas dan Ahmad kan kenapa kami tidak di suruh masuk ke dalam. Kalian siapa! Kenapa ada di rumah Tyas dan Ahmad!"
Gege mendengar omongan ibu itu tidak suka. Gege keluar.
Ningsih berbisik dengan Gege.
"Ge, kamu urus dua orang ini. Aku mau telpon pak Joe dulu."
"Pak Bu, kalian ini siapa? Teriak-teriak di rumah orang, berisik. Kalau mau bertamu yang sopan jangan teriak-teriak. Ada bayi di dalam lagi tidur."
Sementara Gege sedang mengurus dua orang. Ningsih menelpon Pak Joe.
"Pak Joe halo"
"Iya Ningsih, ada apa?"
"Di luar ada dua orang yang mengaku paman dan bibinya Tyas. Cuma seingat Ningsih, Tyas ngga punya saudara lagi."
"Hah, kenapa mereka bisa sampai tahu rumah kalian?"
"Ngga tahu pak, saya belum sempat tanya dan mereka maksa masuk ke rumah. Ini lagi diurus sama Gege."
"Mereka bukan paman dan bibinya Tyas. Mereka paman dan bibinya Ahmad. Dan mereka cari Tyas untuk minta uang sama Tyas."
"Astaghfirullah. Ya sudah pak. Saya urus berdua sama Gege."
"Ya, tolong ya Ningsih. Kasihan Tyas."
"Ya pak Joe, siap jangan kuatir."
__ADS_1
Pak Joe melihat Tyas yang masih tertidur Bagusnya Tyas tidur jadi dia tidak mendengar kalau Ningsih telpon mengenai dua orang itu.